
Setelah Rani dan Ryan pergi, disusul Hengky dan juga Fisha yang diminta Nyonya Atmaja untuk tidur di rumah saja, kini tinggallah Meysie hanya ditemani ibunya. Sebenarnya bukannya Hengky terlalu tega, tapi mengingat ini adalah bagian dari permintaan ibunya, maka Hengky hanya bisa menurut saja dengan apa yang ibunya minta.
"Setidaknya temani Fisha dulu sampai beberapa hari ke depan. Kalian kan baru saja menikah dan belum saling mengenal. Kalian butuh banyak waktu untuk bersama dan saling bertukar pikiran," alasan itu yang selalu Nyonya Atmaja sampaikan.
Dan seperti malam-malam sebelumnya, Nyonya Atmaja selalu mengajak Meysie bercerita tentang apa saja. Walaupun tidak ada sedikitpun respon yang Meysie berikan, tapi bagi Nyonya Atmaja, menyerah adalah sesuatu yang wajib menjadi sebuah pantangan.
Ceklek.
Tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka.
"Ini sudah jam dua belas malam, kenapa Hengky tetap saja datang?" batin Nyonya Atmaja dalam hati.
Nyonya Atmaja pun menyapukan pandangan dan berhenti pada satu titik ke arah dimana suara pintu dibuka itu dia dengar. Sedetik kemudian, terlihat seorang pemuda tampan, dengan tinggi sekitar 187 cm, kulitnya putih, alisnya pun tebal. Dilihat dari T-shirt press body yang dia kenakan, dipadu padankan dengan jaket yang pas di tubuhnya, dadanya terlihat bidang, ototnya bisep dan pundaknya sangat kokoh.
"Sungguh pria yang sempurna jika Meysie tak menjadi budak cinta Ryan Dewangga," batin Nyonya Atmaja lagi.
Hingga akhirnya, Nyonya Atmaja tersadar siapa yang telah datang.
"Nak Ega?" Nyonya Atmaja sampai berdiri saking tidak percayanya.
"Iya, Ma," sahut pria itu dengan senyum tipis di bibirnya.
"Kenapa datang di malam-malam begini?" tanya Nyonya Atmaja penasaran.
"Aku baru pulang dari Amerika, Ma. Aku langsung ke sini," jawab Ega sambil mendekati Nyonya Atmaja dan mencium punggung tangannya.
Setelah itu, Ega segera mendekati Meysie dengan ekspresi yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Bulir-bulir bening dari ujung matanya kini tak bisa tertahankan. Bahkan kini dia sudah menangis sesenggukan dan memeluk wanita cantik yang terbaring lemah itu dengan erat seolah tak bisa dilepaskan.
Ya, dia adalah Ega Rahardian. Tunangan Meysie yang akhirnya gagal naik ke pelaminan karena sebuah perselingkuhan. Dan kini tiba-tiba dia kembali dari Amerika, setelah orang tuanya menceritakan bagaimana kacaunya keluarga Meysie akibat cinta Meysie yang tidak pernah terbalaskan.
"Ma," sekali lagi Ega memanggil Nyonya Atmaja. Dia sama sekali tidak mengubah panggilannya kepada wanita yang hampir menjadi mertuanya itu. Mama, begitu dia selalu memanggilnya.
__ADS_1
"Ya, Nak," Nyonya Atmaja mendekati Ega dan mengusap punggungnya dengan lembut.
"Biarkan aku melakukan sesuatu yang dulu hampir aku lakukan, tapi berakhir dengan sebuah kegagalan," dengan mantap, Ega mengatakan apa yang menyeruak di dalam dadanya.
"Maksud Nak Ega apa?" Nyonya Atmaja tidak mengerti.
"Biarkan aku menikahi Meysie," pinta Ega penuh harap.
"Tidak mungkin, Nak. Kau lihat sendiri kondisi Meysie," kini tatapan sedih Nyonya Atmaja tertuju pada Meysie yang masih bertahan dengan komanya yang panjang.
"Aku tahu, Ma. Tapi aku sama sekali tidak keberatan menikahi Meysie dengan kondisi seperti sekarang," tutur Ega tanpa sedikitpun keraguan.
"Tapi bagaimana mungkin?" kekeh Nyonya Atmaja, merasa pemuda di hadapannya itu sama sekali tidak berpikir tanpa logika.
"Aku mencintai Meysie seperti apapun kondisinya, Ma. Biar aku yang menjaganya seumur hidupnya, Ma," Ega berusaha meyakinkan.
"Cinta? Kenapa dulu kau mengkhianatinya?" gumam Nyonya Atmaja dalam hati, tapi dia sudah memutuskan untuk tidak membahasnya lagi.
"Aku sudah menghubungi Hengky lewat telepon sebelum akhirnya aku ke sini, Ma. Dan terkait Papa Atmaja, papaku sudah menemuinya siang tadi di penjara. Semua sudah memberikan restunya, Ma. Tinggal restu Mama yang aku minta," ucap Ega sambil mendudukkan diri di kursi samping ranjang pasien Meysie.
"Apa kau yakin dengan keputusanmu, Nak? Menikah itu bukan hanya sehari dua hari, tapi seumur hidup. Apalagi melihat kondisi Meysie saat ini, dokter pun belum bisa menjamin kondisinya akan bisa segera baik atau tidak dengan pasti," Nyonya Atmaja menelisik.
"Aku sudah mantap, Ma. Jika Mama merestui kami, aku mau pernikahan dilaksanakan besok pagi. Dan Hengky yang akan menjadi wali nikahnya Meysie," cicit Ega dengan semangat yang membara.
"Baiklah, Nak. Ternyata kau sudah mempersiapkan semuanya," seulas senyum tersungging dari bibir Nyonya Atmaja.
"Hikmah apa yang sedang ingin kau tunjukkan, Ya Allah? Apakah ini adalah salah satu jalan yang sudah Kau siapkan untuk Meysie sebelum dia menuju kesembuhan?" batin Nyonya Atmaja dalam hati.
"Terima kasih, Ma," Ega mencium punggung tangan Nyonya Atmaja.
"Sama-sama, Nak," Nyonya Atmaja menepuk bahu Ega dengan hati penuh kelegaan.
__ADS_1
"Mama beristirahatlah. Mulai malam ini, aku yang akan menjaga Meysie siang dan malam," kata Ega sangat mantap. Dia kemudian memapah Nyonya Atmaja menuju sofa, dan membantunya membaringkan tubuh ringkihnya di sana. Setelah menutupi tubuh Nyonya Atmaja dengan selimut hingga di batas lehernya, Ega pun mendekati Meysie dan duduk di kursi sebelahnya.
***
Jika telah terukir sebuah takdir, rindu yang sekian lama bersarang kini mengalir. Tak ada kata lain selain untaian rasa syukur yang terpanjang, karena Sang Pencipta pun menjadi saksi sebuah ikatan dan janji suci.
"Aku mencintaimu, Mey. Aku mencintaimu seperti apapun kondisimu. Aku akan setia menunggu hingga kau sadarkan diri dan kembali melihat dunia. Izinkan aku mencintaimu sepanjang hidupku, dan jadilah pengantin sejatiku hingga maut memisahkan kita," gumam Ega dalam hati.
Ya, akhirnya pagi pun datang. Atas persetujuan tim dokter, Meysie dipindahkan ke ruang VVIP dengan semua peralatan yang Meysie butuhkan disediakan di dalam ruangan.
Agar prosesi pernikahan hari itu dan perawatan selama Meysie belum sadar bisa lebih nyaman baik untuk yang sakit maupun bagi Ega yang akan menungguinya, maka berpindahnya Meysie dari ruang ICU ke ruang perawatan biasa adalah satu-satunya pilihan.
Kini Meysie sudah dirias dan didandani layaknya seorang pengantin pada umumnya. Di ruang itu pun kini terlihat beberapa orang. Ega bersama kedua orang tuanya, seorang penghulu, Nyonya Atmaja, Hengky, Fisha, dan Ryan serta Rani yang memang sengaja diundang untuk datang.
Selama di Amerika, Ega dan Ryan memang sudah saling mengenal. Meysie dan Ega yang waktu itu sudah bertunangan, tentu sangat sering bertemu dengan Ryan atas nama persahabatan. Adapun ketika ada sebuah cerita dimana suatu pengkhianatan menjadi topik utama hingga menjadikan pernikahannya gagal, itu adalah bagian dari masa lalu yang harus dijadikan pelajaran.
"Apa bisa kita mulai sekarang?" sang penghulu mengambil bagian.
"Tentu saja," ucap Ega sudah tak sabar.
Hengky yang merupakan satu-satunya saudara lelaki Meysie pun segera bersiap duduk untuk menjadi wali dalam pernikahan suci itu. Tapi tiba-tiba terdengar pintu diketuk dari luar, hingga mereka harus menunda prosesi akad nikah yang hampir akan mereka ikrarkan.
Tok-tok-tok.
"Siapa?"
BERSAMBUNG
♥️♥️♥️
Rate 5, like dan vote ya kak.
__ADS_1