
Pagi itu, Pak Rudi melajukan mobilnya dengan kencang. Mereka membelah jalanan yang dipenuhi dengan cahaya matahari yang berkilauan, diantara embun pagi yang membasahi dedaunan. Suara burung yang bernyanyi pun memperindah sinar pagi yang begitu cantik, membuat rasa tenang mendominasi hati mereka yang waktu itu sengaja membuka kaca mobilnya demi bisa menghirup udara segar.
Di kursi penumpang, Ryan terlihat bersandar dengan mata yang terpejam. Rasa kantuk yang semakin menggila, membuatnya tak mampu menahan diri untuk mengistirahatkan tubuh itu barang sebentar saja. Bagaimana tidak? Dia hanya tidur kurang dari satu jam setelah aktifitas seru yang dia lakukan sepanjang malam.
Sebenarnya hari itu dia berniat tidak masuk kerja. Namun karena Arya menelphonnya agar segera datang ke perusahaan, membuat dia merelakan waktu tidurnya, bahkan meninggalkan istrinya yang masih merapatkan selimutnya di peraduan.
"Maaf harus mengganggu waktu tidurmu," ucap Arya begitu Ryan tiba di lobby kantor. Ternyata Arya sudah menunggunya di depan, demi bisa menyambut majikan sekaligus sahabatnya itu.
"Apa yang membuatmu seberani itu mengganggu kesenanganku?" sambil mempercepat jalannya, Ryan menuju lift diikuti Arya yang terlihat tidak terganggu dengan nada bicara Ryan yang terdengar sangat kesal.
"Kelihatannya ada yang mulai mengusik perusahaanmu, Boss" ucap Arya, sambil menatap pintu lift yang baru saja tertutup.
"Maksudmu?" Ryan mengerutkan dahinya, mencoba mencerna apa yang disampaikan Arya.
"Ada yang diam-diam menjual saham mereka di Dewangga group kepada seseorang," Arya menjelaskan masalah yang mereka hadapi, setelah Ryan sampai di ruang kerjanya dan duduk di atas sofa.
Dewangga group adalah perusahaan raksasa yang bergerak di banyak bidang. Area bisnis yang dilayani memang sangat luas, mulai dari bidang konstruksi, pertambangan minyak dan gas, media, infrastruktur, agrobisnis, telekomunikasi, juga properti. Anak cabang perusahaan ini sudah tersebar di puluhan kota, sehingga pundi-pundi kekayaan yang dihasilkan memang sangat fantastis dan membuat siapa saja yang melihat angkanya bisa dipastikan akan menelan salivanya.
"Hah?" Ryan tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Diterimanya berkas-berkas yang diperlihatkan Arya dan dipelajarinya dengan teliti. Dari data yang Arya tunjukkan, total saham yang dibeli sosok misterius itu sudah mencapai angka tiga puluh persen, dan bisa merangkak naik mengimbangi saham miliknya jika banyak pemilik saham yang berkhianat dan terus menjual saham milik mereka.
"Segera lacak siapa dia, dan beri pelajaran buat mereka yang telah berani mengkhianati kita. Jangan lupa, amankan sisanya. Jangan sampai mereka ikut-ikutan melepas saham mereka! Aku ingin tau siapa saja yang sudah berkhianat kepadaku dan siapa saja yang masih memilih setia," perintah Ryan, sambil menghempaskan kertas-kertas di tangannya begitu saja di atas meja. Dia menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa, sembari memijit keningnya sendiri akibat sakit kepala yang tiba-tiba mendera.
__ADS_1
Arya pun tidak mau menunggu lama, dia langsung bergegas keluar ruangan untuk melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya. Arya harus memulai dari siapa saja pemegang saham yang telah melepas sahamnya begitu saja, kemudian mencari sosok yang diam-diam ingin menguasai dominasi saham di perusahaannya. Jika tidak segera tertangani, maka posisi Ryan sebagai Presiden Direktur Dewangga Group bisa dipastikan akan dalam posisi berbahaya.
***
Masih di pagi yang sama di tempat yang berbeda, Rani terhenyak seketika dari tempatnya terlelap. Meskipun cahaya kekuningan yang menusuk melalui tirai jendela terasa hangat di tubuh kecil itu, namun semburat sinarnya tak mampu menghangatkan hatinya begitu tersadar bahwa sang belahan jiwa sudah tak ada disampingnya.
"Ahhh," Rani mendesah dengan kasar. Dilihatnya jam dinding yang menempel sempurna pada tembok di depannya, jarum jam menunjuk angka sembilan.
"Ternyata aku yang terlambat," gumamnya lirih.
Rani segera beranjak dan membersihkan diri, sebelum akhirnya turun untuk sarapan. Di bawah, terlihat Naja sudah siaga menunggu perintah sang nona.
"Kita ke rumah Papa Prabu," perintah Rani, yang langsung diangguki oleh Naja.
Hanya dalam waktu sekitar dua puluh menit, mereka telah sampai di kediaman utama keluarga Dewangga. Rani sempat heran ketika melihat mobil suaminya yang sudah terparkir disana.
"Papa juga meminta Mas Ryan datang ke sini? Sebenarnya apa yang mau beliau sampaikan? Kenapa mendadak seperti ini?" gumam Rani dalam hati.
Tak berapa lama, Rani pun keluar dari mobilnya dan memasuki kediaman mertuanya. Seperti biasa, Mama Titania sudah menyambut menantu kesayangan dengan hebohnya, dan membimbingnya masuk ke ruang kerja sang papa.
"Ayo, Sayang. Papa dan suamimu sudah menunggu di atas" ajak Mama Titania sambil menggandeng tangan menantunya dengan sayang.
__ADS_1
Rani mengerutkan keningnya, begitu mengetahui bahwa mertuanya ingin membicarakan sesuatu di ruang kerjanya. Tidak seperti kebiasaan sang papa, mereka biasa disambut di ruang keluarga setiap kali datang.
"Sebenarnya ada apa ini?" batinnya lagi. Kini jantungnya berdegup kencang, menduga-duga tentang apa yang akan menjadi pembicaraan mereka di dalam.
Setelah mengetuk pintu dan mengucap salam, akhirnya Rani masuk dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan. Rani mengecup punggung tangan mertuanya dengan sopan, setelah itu dia menghampiri suaminya dan mengecup punggung tangannya dengan tatapan meminta penjelasan.
"Maaf Mas tidak bisa menjemputmu dulu karena ada sedikit masalah di kantor," ucap Ryan sambil mencium ujung kepala istrinya dengan sayang, kemudian membimbingnya untuk duduk di sebelahnya, dengan tangan kanan yang terus memeluk bahu istrinya, dan tangan kirinya menggenggam tangan Rani dengan eratnya.
"Masalah apa?" Rani mendongakkan wajahnya melihat dengan serius suaminya.
"Nanti Mas ceritain, Sayang," bisik Ryan lirih.
"Baiklah karena kalian sudah disini, ada yang mau Papa sampaikan. Tolong dengarkan baik-baik dan jangan ada yang menyela sampai Papa selesai bicara," ucap Papa Prabu dengan ekspresi wajah yang sangat serius.
Rani meremas tangan Ryan saking gugupnya. Entah kenapa ada yang berkecamuk dalam hatinya begitu melihat Papa Prabu memanggil mereka dengan wajah seserius itu. Sementara Ryan yang bisa melihat kegelisahan istrinya hanya mengelus pundak Rani untuk sekedar menenangkannya. Namun semakin Ryan mengelusnya, semakin kencang juga Rani meremas tangan suaminya.
"Kenapa perasaanku jadi tidak enak begini ya?" gumam Rani berkali-kali dalam hati.
BERSAMBUNG
❤❤❤
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like, vote, rate 5 dan comment positifnya ya. Terima kasih