
"Bagaimana kondisi istri saya dan janin dalam kandungannya, Dokter? Mereka baik-baik saja kan? Mereka tidak kenapa-kenapa kan, Dok?" cecar Ryan sebelum dokter itu menyampaikan hasil pemeriksaannya.
"Mohon tenang dulu, Pak Ryan. Kami sudah memeriksa kondisi istri Anda dan hasilnya tak ada yang perlu Anda cemaskan. Untung saja Anda segera membawanya ke rumah sakit. Jika tidak, demamnya mungkin akan cukup lama dan itu akan berpengaruh terhadap janin dalam rahimnya. Untuk saat ini, kami akan memindahkan istri Anda ke ruang perawatan, agar Anda dan istri Anda bisa lebih nyaman," jelas sang dokter.
"Baik, Dokter. Terima kasih," Ryan tersenyum lega setelah dokter itu memberi penjelasan.
Tak berapa lama, Rani pun dipindahkan ke ruang perawatan. Ryan meraba keningnya, alhamdulillah suhu tubuh Rani sudah turun. Wajahnya juga sudah tidak semerah saat tadi dia di bawa ke rumah sakit. Begitu juga dengan baju tidur dan mukena yang Rani kenakan sudah diganti dengan pakaian dan hijab dari rumah sakit karena pakaian yang tadinya Rani kenakan basah karena air yang ada di ruang bawah tanah itu.
"Hubby," panggil Rani lirih.
Mendengar istrinya memanggil, Ryan pun naik ke atas ranjang pasien dan memeluknya erat. Waktu itu mereka hanya berdua, karena Naja berada di luar kamar bersama para penjaga. Naja masih fokus dengan ponsel miliknya, mencoba berspekulasi untuk menemukan Charles dan Atmaja.
"Iya, Sayang. Apa ada yang sakit?" tanya Ryan menelisik.
Rani menggeleng pelan. Tak ada satu kata pun yang terucap, namun senyum manis di bibirnya sudah cukup menunjukkan bahwa saat ini dia bahagia.
"Maafkan Hubby," wajah Ryan sendu, bahkan kini matanya sudah berkaca-kaca.
"Kenapa Hubby minta maaf?" tanya Rani dengan polosnya.
"Karena gara-gara Hubby kamu harus menderita seperti ini. Untung istri dan anak Hubby ini tidak kenapa-kenapa. Kalau sampai ...," Ryan menggantungkan kalimatnya.
__ADS_1
"Sssstttt ..., tidak boleh berandai-andai, Hubby," Rani meletakkan ibu jarinya untuk menutup mulut suaminya.
"Mmm, By. Kenapa Hubby menolaknya? Bukankah Hubby punya alasan kuat untuk mendua, mengingat barter yang Om Atmaja tawarkan kemarin adalah nyawa Rani dan Nyawa Meysie?" tanya Rani penasaran.
"Karena Hubby lebih memilih untuk setia. Menikahimu, berarti menikah dengan kesetiaan itu," sahut Ryan sambil mengusap kepala istrinya dengan mesra.
"Kasihan Om Atmaja. Sebenarnya dia tidak jahat. Dia hanya seorang ayah yang sangat mencintai putrinya," cicit Rani sambil membenamkan kepalanya di leher suaminya.
"Tapi caranya salah, Sayang. Mau dilihat dari sudut pandang manapun, menggunakan segala cara untuk mendapatkan keinginannya, itu tidak bisa dibenarkan," Ryan menatap Rani sekilas kemudian mengecup keningnya.
"Apa kita egois, By? Apa kita tidak terlalu kejam pada Meysie?" Rani terlihat gelisah. Sejahat-jahatnya Meysie, semuanya tidak akan dia lakukan jika motifnya bukan karena cintanya kepada suaminya.
"Apakah kamu tidak ingat kenapa dia koma seperti itu? Dia ingin menyakitimu," cicit Ryan.
"Bukan salah Hubby kan, kalau Meysie mencintai Hubby? Bukan salahmu juga kalau Hubby mencintaimu. Apa kamu pernah baca novel Ayat-Ayat Cinta karangan Habiburrahman El-Shirazy? Novel itu pernah difilmkan juga. Disana diceritakan tentang Naura dan cinta posesifnya yang berujung pada fitnah besar yang dia buat hanya karena cinta mendalam yang tak pernah terbalaskan. Kalau kita baca sejarah nabi, ada cerita juga tentang cinta posesif seorang wanita kepada Yusuf, yang karena keterpesonaannya, dia menggoda Yusuf dan mengajaknya untuk bermaksiat. Dan ketika ajakan itu bertepuk sebelah tangan, dia melontarkan fitnah yang begitu keji, sebagaimana Naura di novel itu menuduh Fahri memperkosanya. Semua yang mereka lakukan itu memanglah cinta, tapi cinta dalam versinya yang ke berapa. Cinta yang sangat posesif. Begitu juga dengan cinta yang Meysie miliki. Karena cinta posesifnya, dia sampai rela ingin menyakitimu bahkan menghilangkan nyawamu hanya demi merebut cinta Hubby. Dan apakah itu dibenarkan? Tidak, Sayang. Semua yang dia lakukan itu salah," oceh Ryan sambil terus membelai kepala istrinya.
"Jadi gimana, By?" Rani mendongakkan kepalanya.
"Apanya?" tanya Ryan seolah tak mengerti.
"Soal Meysie," sahut Rani sambil mengerucutkan bibirnya. Dia sungguh merasa kesal mendengar suaminya yang terus berputar-putar jika diajak bicara terkait Meysie.
__ADS_1
"Biar dia belajar memaknai cinta dalam versi yang sesungguhnya. Seperti do'amu ketika itu," ucap Ryan tanpa beban. Sebenarnya ada perasaan iba di hatinya. Namun setelah melihat apa yang dilakukan Meysie juga ayahnya kepada istrinya, rasa iba itu hilang begitu saja dan berubah menjadi rasa waspada.
"Do'a yang mana, By?" Rani tidak mengerti.
"Do'a saat kamu sholat malam dulu, di malam pertama kita menikah. Kau begitu tulus mengucapkannya. Hubby sampai ikut meneteskan air mata saat mendengarnya," Ryan tersenyum tipis, mengingat kilasan demi kilasan cerita saat-saat pertama mereka menikah dengan kelucuan sikap mereka yang masih saling menyembunyikan cinta.
"Waktu itu Hubby tidak tidur? Hubby mendengarnya?" Rani membulatkan mata, bahkan kini mukanya sudah merah merona.
"Jika dia bukan untuk ku, jika dia bukan jodohku, aku meminta kepadaMu agar Kau beri ganti yang lebih baik buatnya dan buatku, sambil aku memperbaiki diriku. Sampai kemarin aku masih meminta kepadaMu. Jika ini bukan masanya, jika ini belum saatnya, aku sungguh memohon agar Kau memberi jarak dan memisahkan kami sejauh pandangan mataku. Namun Kau memberikan jawaban yang lain pada setiap munajatku. Kau terus mendekatkanku dengannya dari segala yang telah memisahkan, Kau juga terus menghancurkan tembok yang selama ini telah merenggangkan. Ya Alloh, yakinkan sekali lagi bahwa dia memang jodoh yang Kau pilihkan. Yakinkan aku sekali lagi bahwa dia adalah orang yang kau tambatkan, untuk menjadi imam terbaik dalam hidupku di dunia dan hidupku di hari setelah kematian. Bantulah aku menjalani hari ini dan hari-hari yang akan datang, dengan menjalani ketentuanMu dengan penuh keikhlasan. Ya Allah, sungguh dalam hatiku tidak ada kesedihan dan kekecewaan, karena aku tau Kau lebih tahu dengan apa yang kubutuhkan. Tapi aku ingin sekali lagi Kau yakinkan Ya Allah, bahwa dia benar-benar imam yang Kau takdirkan." Ryan mengulang untaian do'a yang Rani panjatkan ketika itu.
"Hubby nguping?" sebuah cubitan sukses mendarat di perut Ryan.
"Auw, sakit, Sayang," teriak Ryan sambil meringis.
"Rasain. Siapa suruh nguping? Orang lagi do'a juga," oceh Rani sambil menyembunyikan mukanya yang merona.
"Tapi sekarang kita tahu jawaban apa yang Allah berikan kan, Sayang? Allahlah yang menyatukan cinta kita, dan biarkan tetap seperti itu hingga sampai ke surgaNya," Ryan memasang wajah yang sangat serius sambil menatap lekat istri yang kini masih dalam dekapannya.
"Aamiin. Terima kasih karena telah memilih untuk tetap setia, Hubby," seulas senyum tulus kini hadir, seiring dengan ketulusan cinta yang selalu ada di antara mereka berdua.
BERSAMBUNG
__ADS_1
❤❤❤
Hallo kakak. Dukung tetus author dengan memberikan like, vote juga rate 5 ya. Terima kasih.