METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Berjuanglah Bersamaku


__ADS_3

Rasa itu terus menyeruak saat mereka saling tatap. Tak ada rasa lelah, memang. Walau kini, warna pelangi seolah hanya menjadi bayang semu yang melenakan. Bisakah tuk tetap bertahan di tengah kepungan badai cobaan? Atau justru harus melupakan semua kenangan dan janji-janji indah yang pernah diucapkan?


Indra benar-benar bimbang. Hatinya sungguh tak sanggup jika harus merelakan apa yang selama ini telah dia perjuangkan. Seandainya doa dan restu tak akan dia dapatkan, sudah pasti dunianya akan penuh dengan kegelapan. Semua harapan pun memudar, jika cerita cintanya hanya akan menjadi mimpi semalam. Akankah Tuhan tunjukkan jalan?


"Selamat tinggal, Tuan. Semoga Anda mendapatkan gadis manis sesuai yang Anda dan ibu Anda inginkan," ucap Zara, sambil menoleh ke arah Indra. Sedetik kemudian, hendel pintu pun Zara putar.


"Zara! Auuuuw," Indra berusaha beranjak dari tidurnya dan berniat menghalangi Zara, namun sayang sungguh sayang. Tiga bagian tubuh Indra yang baru dalam hitungan hari dioperasi, sama sekali belum bisa di ajak kompromi. Hingga karena Indra terlalu memaksa untuk duduk dan mengejar Zara, tubuh Indra pun jatuh tersungkur ke lantai, dengan perban yang masih terpampang nyata, juga botol infus yang jatuh mengikuti tubuhnya. Darah pun mengucur deras dari arah tangan Indra, akibat jarum infus yang terlepas dengan sendirinya.


Melihat hal menakutkan itu, Zara membulatkan matanya dan berlari ke arah Indra. Bahkan barang-barang yang dia bawa pun dia buang begitu saja, demi bisa menghambur ke tubuh pria yang sungguh sangat dia cinta.


"Indraaaa ..., hiks ..., hiks ..., hiks ...," Zara meletakkan kepala Indra di atas pangkuannya dan menangis sejadi-jadinya.


"Tolong ..., tolong Indra ....," teriak Zara, merasa tak mampu membopong tubuh kekasihnya itu seorang diri.


Hingga para pengawal yang berjaga di depan ruangan pun berhamburan masuk ke dalam, mendengar Zara berteriak minta tolong dengan suara yang begitu memilukan. Sedetik kemudian, mereka sudah mengangkat tubuh Indra kembali ke ranjang pesakitannya.


"Tangannya berdarah ..., panggilkan dokter!" Zara berteriak lagi, menyadari banyak noda darah di sprey saat Indra sudah terbaring di tempat semula.


"Jika kau pergi, kau akan melihat aku terluka lebih dari ini," lirih Indra, sambil menatap nanar ke arah Zara.


Zara tak mempedulikan apa yang dikatakan Indra kepadanya. Dia justru sibuk memegangi bekas jarum infus di tangan Indra yang masih saja mengeluarkan darah segarnya. Kali ini Zara benar-benar menangis, sebuah pemandangan yang sangat jarang dilihat oleh semua orang yang pernah mengenalnya.


Hingga akhirnya, dokter dan beberapa orang perawat datang, untuk memasang kembali jarum infus di tangan Indra dan memeriksa bekas luka operasi di bagian atas dan kedua kakinya.


"Tolong jangan banyak bergerak dulu, atau akan membahayakan diri Anda, Tuan. Kami pasti akan menjadwalkan terapi untuk kaki Anda, tapi ini belum saatnya. Luka bekas operasi di paru-paru Anda, juga beberapa luka dalam yang Anda alami belum memungkinkan untuk banyak bergerak. Tunggu sampai luka dalam Anda membaik, baru kaki Anda akan kami terapi hingga Anda bisa berjalan kembali," ucap dokter itu sebelum berjalan ke luar meninggalkan Indra dan Zara di dalam ruang perawatan, diikuti perawat dan para pengawal yang sudah beberapa hari ini memang sengaja di tugaskan Ryan untuk menjaga Indra dan Zara di luar ruangan.


Zara menatap pria yang kini berada tepat dihadapannya itu dengan lekat. Sesekali dia mengangkat tangannya, dan mengusap sisa-sisa air mata di pipinya.


"Jangan tinggalkan aku," ucap Indra lirih. Hanya melihat Zara menangis sambil keluar dari kamar itu saja, Indra benar-benar tak sanggup. Apalagi jika harus berpisah untuk selama-lamanya. Sudah bisa dipastikan bahwa Indra tak akan bisa.


"Aku tidak bisa bertahan dengan seorang pria yang tidak mau mempertahankanku," Zara membuang pandangannya ke sembarang arah. Dia tidak mau Indra tahu bahwa sekarang dia sedang berada pada titik terlemahnya.


"Aku akan mempertahankanmu dan membuatmu bertahan bersamaku," ungkap Indra, meyakinkan kekasih hatinya.


"Aku tak ingin berjuang untuk seorang pria yang tidak mau berjuang untukku," Zara masih mencoba untuk bertahan.

__ADS_1


"Aku akan berjuang untukmu, Zara. Maka berjuanglah untukku," sahut Indra mantap.


"Selama kamu tidak yakin terhadap diriku dan dirimu sendiri bahwa kita mampu melewati semuanya bersama-sama, maka semua percuma, Ndra. Kau bisa mempertaruhkan nyawamu untuk menyelamatkan aku, tapi kau tak bisa mempertaruhkan semuanya untuk memperjuangkanku di hadapan ibumu. Kamu ini belum mencoba, Indra. Bahkan mempertemukan aku dengan ibumu saja kau belum melakukannya. Bagaimana bisa kau sudah mau mundur sementara maju saja belum ada satu langkah pun?" Zara tak bisa menahan emosinya.


"Sebenarnya aku sudah mencoba. Tapi ...," Indra menggantungkan kalimatnya.


"Tapi apa?" Zara semakin mengerutkan dahinya.


"Sebelum aku memberitahu siapa gadisku, ibu sudah berpesan banyak kepadaku," lirih Indra, sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


***


Flashback


Sesudah Naja menjenguk Indra setelah operasi


"Itu adalah perjuangan laki-laki, Dhek. Kenapa kau segalau itu jika kau belum mencoba?" ucapan Naja terus terngiang-ngiang di telinga Indra.


Indra menoleh ke arah ranjang penunggu pasien. Saat itu Zara telah tertidur dengan pulasnya, dengan selimut yang menutupi hampir seluruh tubuhnya. Rupanya obat yang diberikan dokter sedikit mengandung obat tidur agar Zara bisa istirahat, sehingga sejak kedatangan Naja dan Daniel hingga mereka berdua pulang pun, dia tak mendengarnya.


"Benar kata kakakku. Ini adalah perjuangan laki-laki. Aku tidak boleh menyerah sebelum aku mencobanya," gumam Indra lirih.


Dengan susah payah, Indra pun meraih ponselnya yang kebetulan berada di atas nakas samping tempat tidurnya. Sedetik kemudian, dia sudah berselancar dengan benda pipih canggih miliknya, sebelum akhirnya memencet icon warna hijau dan menempelkan benda itu ke telinganya.


"Hallo, anak nakal. Kau sesibuk apa hingga beberapa hari ini tak menjenguk ibumu, heh?" Indra langsung kena semprot ibunya begitu panggilannya di angkat.


"Ibu, apa Ibu tidak kangen dengan anakmu yang tampan ini? Bukannya disayang-sayang juga, malah langsung diomelin," sahut Indra, dengan suara yang dia buat sebiasa mungkin. Ya, ibunya hanya tahu bahwa Indra bekerja di perusahaan tempat majikan Naja. Itu saja, tidak lebih. Ibunya tidak tahu bahwa kedua anaknya itu adalah seorang agen mata-mata, dengan kerja penuh resiko tinggi bahkan sangat membahayakan nyawanya.


"Kamu mau ibu jewer, heh? Dasar penggila kerja," omel ibunya lagi.


"Maaf Indra belum sempat jenguk ibu karena sedang banyak kerjaan," jawab Indra mulai serius.


"Sibuk kerja atau sibuk dengan kekasihmu itu?" nada ketus terdengar jelas di telinga Indra.


"Bagaimana Ibu bisa tahu?" Indra bertanya-tanya dalam hati.

__ADS_1


"Kenapa diam? Jadi benar, kamu sudah menemukan tambatan hatimu? Kakakmu pernah bilang pada Ibu kalau kau sedang dekat dengan seorang gadis. Benar begitu? Dengarkan baik-baik, Nak. Ibu tidak melarangmu untuk mendekati dan menikahi gadis manapun di dunia ini, tapi bukan gadis penggila kerja seperti kamu dan juga kakakmu itu," tutur Ibunya, seolah sudah tahu bagaimana gadis yang sedang dekat dengan putranya.


"Ibu harus bertemu dengannya dulu, Bu. Ibu pasti suka," Indra mencoba untuk masuk lebih dalam pada substansi yang memang sedang ingin dia bicarakan.


"Jika dia adalah teman kerjamu, bisa dipastikan dia tidak memenuhi kriteria calon menantu Ibu. Bagaimana bisa seorang wanita karier bisa merawat ibu yang lumpuh ini," cibik sang ibu, langsung menjustifikasi.


"Bu ...," nego Indra.


"Kamu, kakakmu, juga suaminya tidak mungkin bisa menemani dan merawat Ibu, Nak. Apa kamu akan menyerahkan Ibu kepada pembantu jika istrimu juga wanita pekerja seperti kalian bertiga? Kenapa tidak sekalian saja kalian titipkan Ibu di panti jompo?" suara di ujung telepon itu sangat mengiris hati Indra. Dari nada bicaranya, ucapan sang ibu benar-benar menyiratkan ketidaksukaannya terhadap sosok gadis yang sedang dekat dengan Indra.


"Bu ...,"


Indra masih terus mencoba, tapi ibunya tak membiarkan Indra mengambil hatinya. Sang Ibu langsung menutup telepon Indra tanpa mau mendengar lagi penjelasan putranya, hingga Indra pun tak lagi bisa berbuat apa-apa.


End of flashback


***


Zara hanya diam seribu bahasa. Bahkan dia tidak mempunyai satu pilihan kata pun untuk menimpali cerita Indra tentang keinginan ibunya.


"Kenapa kau diam saja?" tanya Indra, menyadari Zara tak berniat menimpali satu pun cerita Indra.


"Lalu aku harus bilang apa? Bukannya kamu ingin aku menyerah?" lirih Zara.


"Siapa bilang aku ingin kamu menyerah?"


"Kepesimisanmu itu yang membuat aku berpikir bahwa aku harus menyerah. Tak ada gunanya kan, jika aku memilih untuk bertahan sementara pikiranmu semakin jauh dari kata berjuang?"


"Aku akan berjuang, Zara. Aku janji," ucap Indra dengan begitu mantapnya.


"Aku tidak butuh janjimu, Ndra. Aku butuh bukti," ketus Zara. Bahkan saat itu dia sama sekali tak mau menatap Indra, demi menahan bulir bening yang terus menerobos pertahanannya.


"Kalau begitu, berjuanglah bersamaku. Berjuanglah untuk bisa menaklukkan ibuku,"


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2