METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Ikatan Cinta


__ADS_3

Hari ini adalah hari ke tiga putra mahkota Dewangga melihat dunia. Hari ini juga, Rani diperbolehkan belajar duduk dan berjalan, sebelum dua hari lagi dia diperbolehkan pulang.


Walau Rani merengek takut untuk mencoba bangkit dari tidurnya, namun tim dokter yang menanganinya tetap memaksa agar Rani mau menahan sakit sebentar, agar kepulangannya tidak tertunda.


"Baiklah, Tuan dan Nona. Mulai hari ini infus akan kami cabut, obat untuk Nona akan kami ganti dengan obat oral. Kateter yang terpasang juga sudah waktunya kami lepas saat ini juga, sehingga mau tak mau Anda harus belajar duduk dan mencoba berjalan, agar bisa ke kamar mandi sendiri," ucap seorang dokter, sambil memberi isyarat pada satu perawat yang mendampinginya untuk melepas jarum infus dan kateter yang terpasang di tubuh Rani. Kateter adalah sebuah alat berupa tabung atau selang kecil fleksibel yang biasa digunakan pasien untuk membantu mengosongkan kandung kemih. Nantinya, kateter akan terhubung dengan kantung kecil berisi cairan air kencing yang biasanya terletak di samping ranjang pesakitan.


Akhirnya, tak ada pilihan lain, sehingga pagi itu, president suite room yang ditempati Rani pun penuh dengan cerita drama. Bagaimana tidak? Pagi itu Rani terus merintih kesakitan bahkan sampai menangis seperti anak kecil, saat tim dokter membantunya duduk dari tidurnya.


"Tahan sebentar, Nona. Setelah beberapa menit, sakitnya akan hilang dengan sendirinya," ucap dokter itu, sambil membiarkan Rani menangis dalam duduknya.


Dan setelah beberapa saat, Rani pun mengusap bulir bening di pipinya, karena sakitnya benar sudah tak lagi terasa.


"Apakah sakitnya sudah hilang?" Ryan yang sejak tadi merasa tegang pun terus membelai punggung Rani dengan penuh sayang.


Rani hanya tersenyum penuh makna ke arah suaminya. Tiga hari ini, Ryan betul-betul telah memperlakukannya bak seorang ratu yang teramat berharga. Semakin lama, kondisi hatinya pun semakin menghangat merasakan bahwa dia mendapatkan perhatian penuh dari suaminya, walaupun putra mereka sudah lahir ke dunia.


Begitu Rani duduk beberapa saat, tim dokter pun meminta Rani belajar berdiri. Dengan pelan, Rani menurunkan kakinya dengan sebuh pijakan, sebelum akhirnya mengikuti arahan dokter untuk melingkarkan ke dua tangannya tepat di leher suaminya.


Perlahan, dokter itu mengambil benda yang dijadikan pijakan kaki Rani, dan meminta Rani untuk berdiri.


"Auwww," Rani meringis kesakitan, sambil memeluk suaminya dengan kencang.


"Sakit, By. Sakit," rengek Rani.


"Tahanlah sebentar, Nona. Sakitnya akan hilang secara perlahan," ucap seorang dokter, sambil memberi isyarat pada Ryan untuk melepas pelukannya.


"Hubby," Rani berseru, menyadari Ryan melepaskan pelukannya.


"Sssttt. Ayolah, Sayang. Kamu pasti bisa," Ryan benar-benar melepaskan pelukannya, dan meraih tangan Rani yang melingkar di lehernya, hingga hanya tangannya saja yang menahan tangan Rani, agar Rani berdiri dengan tumpuan kakinya sendiri.


"Oke?" Ryan memastikan.


Rani pun mengangguk pelan, tanda bahwa nyerinya semakin hilang.


"Baiklah, Anda bisa berjalan sebentar-sebentar, untuk melenturkan otot-otot perut yang tegang akibat luka sayatan saat operasi sesar. Meski begitu, Anda tetap harus memperbanyak istirahat agar kesehatan Anda segera pulih," ucap dokter itu dengan senyumnya yang mengembang.


"Terima kasih, Dokter," ucap Ryan dan Rani secara bersamaan.


"Oya, bayi Anda akan segera kami pindahkan beserta incubator-nya ke ruang ini. Dia harus segera mendapatkan asi, dan asi Anda tak akan bisa keluar jika tidak mendapatkan rangsangan dari si bayi," lanjut dokter itu, sambil menelisik bagaimana reaksi Rani saat ini.

__ADS_1


Sebenarnya Ryan dan tim dokter sudah berkonsultasi dengan seorang psikolog untuk menghilangkan baby blues sindrom yang Rani alami, dan satu-satunya jalan adalah dengan mendekatkan Rani dengan sang bayi, walaupun peran Ryan saat itu sangat diperlukan untuk menunjukkan bahwa Rani tidak berjuang seorang diri.


"By ...," Rani menatap Ryan dengan pandangan yang sangat sulit diartikan. Tatapannya nanar dan penuh dengan keraguan.


"Bismillah, Sayang. Hubby akan melakukan apapun demi menjaganya, untukmu. Kita rawat dia sama-sama. Hubby janji, Hubby akan selalu ada untuk kalian berdua," sebuah genggaman hangat terangkai begitu saja.


Tanpa menunggu jawaban, seorang suster pun masuk ke dalam ruang itu dengan mendorong sebuah box kaca besar. Ya, di dalam incubator itulah sang putra mahkota sekarang.


Dengan semangat, Ryan menghampiri jagoan kecilnya kemudian mengangkatnya ke dalam gendongannya. Diciumnya anak lelakinya berkali-kali, kemudian dia dekatkan ke arah Rani.


Rani memejamkan matanya. Hatinya bergejolak luar biasa, bulir bening pun mengalir begitu saja dengan derasnya.


"Sayang, itu Mommy, Nak. Kamu udah pengen banget ketemu Mommy kan?" Ryan mengajak anaknya berbicara.


"Mommy ..., Mommy mau coba menggendongku?" ucap Ryan seolah menirukan suara si jabang bayi.


Rani masih tak bergeming, sehingga dengan terpaksa Ryan memberikan putranya kepada suster yang tadi datang mengantarnya.


"Sayang, cobalah lihat dia sebentar. Dia begitu lucu dan menggemaskan," ucap Ryan, sambil membelai kepala Rani dengan sayang.


Suster pun mendekat, sehingga Ryan bisa meletakkan jari Rani tepat di pipi si bayi.


Ryan tersenyum lega begitu menyadari istrinya sudah mau melihat dan menyentuh putranya.


"Apa kamu ingin menggendongnya?" tanya Ryan hati-hati.


"Rani takut, By," Rani menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kencang. Bahkan kini air matanya mengalir lebih deras lagi.


"Tidak perlu menggendongnya jika Anda masih takut, Nona. Anda hanya perlu memangkunya dengan bantal seperti ini," seorang dokter mengambil sebuah bantal di atas ranjang pesakitan Rani, meletakkan bantal itu di pangkuan Rani, kemudian mengambil si bayi dari tangan suster dan langsung meletakkan bayi tampan mereka di atas bantal yang sudah berada di pangkuannya.


Secara reflek, Rani pun memegang bantal itu karena takut jika putranya menggelinding dari bantal yang sedang ditidurinya.


"Sekarang, Anda bisa coba menyusuinya, Nona," dokter itu semakin bersemangat, melihat perkembangan Rani meskipun baru sedikit saja.


"Tapi, Dok ..., By ...," Rani bingung harus beralasan apalagi, hingga mau tak mau, Rani memasukkan p*ting s**unya ke mulut bayi itu, dan mencoba menyusuinya di balik hijab yang dikenakannya.


Semua bernafas lega, walau Rani belum menunjukkan rasa sukanya. Dan begitu dirasa cukup pun, dokter itu mengambil bayi Rani dan kembali memasukkannya ke dalam incubator untuk memaksimalkan kesiapan berat badan dan penyempurnaan organ tubuhnya.


Tim dokter dan suster itu akhirnya pamit dan meninggalkan sang putra mahkota untuk tetap berada di satu ruang dengan ibunya. Walaupun Rani tetap berada di ranjangnya dan si bayi harus tetap di masukkan ke dalam incubator itu lagi, tapi minimal ikatan cinta di antara mereka akan terbentuk dengan sendirinya seiring dengan waktu dan hilangnya trauma serta depresi yang dialaminya.

__ADS_1


"Terima kasih, Sayang. Terima kasih karena telah melahirkan malaikat kecil ini untukku," Ryan menunjukkan betapa besar rasa bahagia dan terima kasihnya, karena Rani telah bersedia mengandung dan melahirkan darah dagingnya, sang penerus macan Asia.


Rani yang kini duduk di ranjang pun memeluk pinggan Ryan yang sedang berdiri di sampingnya, sambil membiarkan suaminya terus mengelus dan mengecup kepalanya dengan sepenuh jiwa.


Hingga tiba-tiba, sebuah panggilan pun masuk di HP Ryan. Begitu dia mengangkatnya, Ryan sedikit memicingkan matanya dan memandang Rani dengan tatapan yang sarat akan makna.


"Sayang, kolega Hubby menunggu di luar ruangan. Sebenarnya mereka ingin menjenguk kalian. Tapi karena putra kita masih tertidur pulas, biar Hubby temui mereka sebentar di luar ya. Kamu nggak papa kan?" ucap Ryan sambil mengusap lembut punggung Rani.


"Tapi kalau dia bangun dan nangis, terus Hubby belum kembali gimana, By? Rani nggak bisa. Rani takut jika harus mengangkatnya," Rani terus merajuk, tak mau ditinggal suaminya.


"Hanya sebentar, Sayang. Lagian kalau si dedek nangis, pasti juga kedengaran dari luar. Kamu tenang, oke?" Ryan sibuk mencari alasan.


Setelah aksi tawar menawar deal pun, akhirnya Ryan diizinkan keluar, dengan catatan, Ryan akan langsung kembali jika terdengar tangisan bayi.


Tak lama berselang, akhirnya Ryan keluar. Tak lupa, sebelum dia betul-betul membenamkan dirinya dibalik pintu kamar itu, dia mengecup bayinya dan sang Mommy berkali-kali.


Sepuluh menit pun terlewati dengan aman. Si dedek tetap tidur lelap, tanpa sedikitpun suara yang terdengar. Tapi pada menit ke lima belas, apa yang dikhawatirkan Rani pun benar-benar menjadi kenyataan.


Sang putra mahkota menangis dengan begitu kerasnya, sementara Ryan tak kunjung kelihatan batang hidungnya. Rani mencoba menelfon, ternyata ponsel tidak Ryan bawa. Rani coba panggil-panggil dari dalam, sahutan pun tetap tak ada.


Sesaat, Rani tetap membiarkan bayi itu menangis dengan begitu kencangnya. Namun karena Ryan tak kunjung tiba, akhirnya Rani tak tega. Hingga mau tak mau, Rani pun beranjak sambil menahan sakit pada bagian perutnya yang masih terasa, kemudian berjalan perlahan mendekati putranya.


"Cup, cup, cup ..., kamu kenapa, Sayang? Sabar ya, sebentar lagi Daddy pulang," Rani menyentuh pipi mungil putranya.


Sejenak, si dedek diam ketika pipinya di sentuh oleh mommy-nya. Tapi beberapa saat kemudian, dia kembali menangis kejer tanpa bisa didiamkan.


Rani hanya mondar-mandir dengan segala keraguan di hatinya. Selain berharap bayi itu akan diam dengan sendirinya, kehadiran Ryan saat itu benar-benar dinantikannya.


Tapi karena semakin lama tangis putranya semakin kencang, akhirnya mau tak mau Rani kembali menghampirinya dan akhirnya mengangkatnya dengan segala perasaan takut yang masih mendominasi hatinya.


Anehnya, di dedek langsung diam begitu berada di gendongan mommy-nya.


Sementara itu, di balik pintu Ryan dan tim dokter sedang menyaksikan kejadian itu dengan penuh haru. Rupanya ini adalah bagian dari skenario yang mereka rancang, demi membuat sebuah ikatan cinta antara sang penerus tahta keluarga Dewangga dengan mommy-nya.


"Alhamdulillah, Ya Allah," gumam Ryan lirih.


"Terus dekatkan mereka, dan tunjukkan terus betapa Anda sangat peduli dan mencintai mereka, Tuan," ucap seorang dokter dengan pelan.


"Tentu, Dokter,"

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2