METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Pernikahan Lena


__ADS_3

"Saya terima nikah dan kawinnya Lena Adeeba dengan maskawin seperangkat alat sholat dibayar tunai."


Hari itu, untuk yang kedua kalinya seorang pengantin pria melafalkan ijab kabul di kediaman Mama Davina.


Semua ruang tertata apik persis seperti saat pernikahan Rani ketika itu. Ruang tamu disulap menjadi altar pernikahan yang indah. Seluruh ruangan didominasi warna putih dan dipenuhi mawar merah di setiap sudutnya. Di lantai satu, tempat akad nikah di setting persis di tengah ruangan. Bahkan yang hadir pun adalah orang yang hampir sama dengan tamu yang hadir saat Rani dan Ryan mengikat janji suci.


Seluruh keluarga Dewangga dan keluarga Mama Davina duduk mengelilingi tempat ijab kabul itu. Sama seperti saat Ryan mengucap ijab kabul dulu, pengantin pria terlihat mengenakan stelan jas warna putih, dengan peci warna senada dan bunga melati terlihat mengalungi lehernya.


Setelah make up selesai, Lena yang mengenakan kebaya panjang dan hijab warna putih senada dengan pengantin pria segera duduk dilantai dua didampingi Mama Davina, Rani, Nina dan beberapa pengurus panti asuhan tempat Lena diasuh sejak seseorang meninggalkannya di tempat itu dulu.


"Sayang, ini adalah hari bahagiamu. Nanti cantikmu ilang kalau nangis terus," ucap Mama Davina seraya mengelus punggung Lena dengan lembut, ketika menyadari bahwa sepanjang prosesi akad nikah bulir bening tak henti-hentinya mengalir dari ujung matanya.


Melihat itu, baik Mama Davina maupun Rani sama-sama tahu apa yang saat itu telah mengusik ketegaran hati Lena. Bagaimana tidak? Hari pernikahan yang seharusnya menjadi hari paling bahagia untuk semua perempuan, justru menjadi hari yang membuat Lena meratapi nasib hidupnya.


Ijab kabul tanpa penyebutan nama ayah adalah hal yang paling menyedihkan hati Lena. Meskipun tentu saja Lena sangat mengerti bahwa itu yang harus terjadi karena Lena maupun pengurus panti tidak pernah tahu asal-usul dan orang tua kandung Lena. Bahkan Lena diletakkan begitu saja di halaman panti saat tubuhnya masih merah, menandakan dia baru saja di lahirkan.


"Apakah pernikahanku sah tanpa menyebutkan nama ayah di belakang namaku?" tanya Lena di sela-sela tangisnya.


"Pernikahanmu sah, Sayang. Aku dan Mas Ryan sudah berkonsultasi terlebih dahulu ke KUA. Penyebutan nama ayah dari calon pengantin perempuan tidaklah begitu prinsip untuk sahnya suatu akad nikah. Oleh karena itu, nama ayah pengantin perempuan boleh disebut atau tidak disebut sama sekali selagi perempuan yang dimaksud sudah jelas. Penyebutan nama ayah diperlukan seandainya si perempuan tidak hadir karena dikhawatirkan ada keserupaan nama dengan perempuan lain. Kalau pengantin perempuan itu sudah hadir pada saat akad nikah, maka tidak ada lagi keraguan dan kebingungan tentang pengantin yang dimaksud. Jadi kamu jangan pikirkan itu," Rani menjawab kegundahan hati Lena dengan senyum terindah untuk sahabatnya itu.


Lena menghela nafas dengan lega.

__ADS_1


"Sekarang aku sudah menikah. Beri tahu aku siapa dia?" pinta Lena penuh harap, sambil melihat sosok pria di bawah sana yang baru saja menikahinya.


Sampai saat itu, Lena memang belum mengetahui siapa suaminya karena posisi pengantin pria membelakangi posisi Lena. Saat ijab kabul pun Lena hanya mendengar nama calon suaminya disebut wali hakim sekilas saja sehingga tidak begitu jelas karena Lena justru terlalu larut dalam kesedihannya.


"Ayo, kamu akan segera tahu siapa dia. Kamu sudah diminta bergabung ke bawah untuk menandatangani buku nikah," Rani tidak menjawab pertanyaan Lena. Dia justru membantu sahabatnya itu berdiri dan menuntunnya untuk bergabung ke lantai satu dan duduk di sebelah mempelai pria.


Tak berapa lama, Lena pun duduk disebelah mempelai pria, kemudian pembacaan do'a dan penandatanganan buku nikah. Tanpa melihat wajah suaminya, Lena segera mencium punggung tangan pria di sampingnya dan sebuah kecupan mendarat begitu saja di kening Lena.


"Aku penuhi janjiku, Adeeba," bisik lelaki itu lirih.


Lena tersentak mendengar nama Adeeba disebut. Hanya satu orang yang memanggilnya dengan nama itu, dan dia adalah kekasih impian masa kecilnya yang bahkan sudah tidak pernah ditemuinya lagi sejak usia Lena 7 tahun.


"Mas Arya? Kamu?" Lena kaget sekaligus bingung melihat sosok pria yang menikahinya. Dadanya bergemuruh, antara terkejut, bingung dan tanda tanya besar kini bercampur baur di benaknya.


Flashback


Malam itu, ketika Lena menangis dan mengatakan bahwa dirinya hanya memiliki Rani dan keluarganya, diam-diam Arya menaruh iba kepada Lena.


Setelah Lena tertidur, Arya menelphon Ryan dan meminta agar bisa berbicara dengan Rani untuk membicarakan sesuatu.


Meski malam itu sudah larut, Ryan yang sebenarnya ingin Rani istirahat setelah menempuh perjalanan jauh pun akhirnya menyerahkan handphone itu kepada Rani.

__ADS_1


"Biarkan saya menikahinya, Nona. Biar saya yang menjaganya. Dia akan aman jika tetap bersama saya," pinta Arya begitu Rani menyapanya di ujung telphon.


"Aku sangat berterima kasih jika Mas Arya bersedia melakukannya. Tapi Mas Arya harus tahu siapa Lena terlebih dahulu. Dia anak panti yang bahkan tidak tahu siapa orang tuanya. Saat ini dia hanya punya aku dan mamaku," jawab Rani jujur.


"Bukankah saya juga punya nasib yang sama dengan Lena, Nona. Bahkan saya hanya punya Ryan dan keluarga Dewangga, sejak mereka memungut saya dari jalanan," tutur Arya kelu.


"Baiklah jika Mas Arya sudah mantab. Kalian akan menikah begitu kita pulang dari ibu kota. Biar Lena aku yang urus," jawab Rani bersemangat.


Setelah obrolan malam itu, mereka mempersiapkan pernikahan dalam diam. Anak buah Ryan dan Arya yang menyiapkan semuanya, dibantu Mama Davina, Mama Titania dan Papa Prabu. Akhirnya mereka menjadi besan untuk yang kedua kalinya, karena Mama Davina adalah satu-satunya keluarga Lena dan keluarga Dewangga adalah satu-satunya yang dimiliki Arya.


Dan dalam waktu dua hari semua sudah siap, sehingga setelah Lena keluar dari rumah sakit dan mereka kembali dari ibu kota, prosesi akad nikah bisa langsung dilaksanakan.


Arya pun sudah menata hati ketika memutuskan untuk menikahi Lena. Meski awalnya dia hanya merasa iba dan ingin mengambil alih beban di pundak Rani untuk menjaga Lena pasca insiden persidangan Charles, namun ketika mengetahui bahwa nama mempelai wanita yang harus dia sebutkan saat ijab kabul adalah Lena Adeeba, Arya merasa bahwa Sang Pencipta memang sudah sangat baik kepadanya. Karena Adeeba adalah nama gadis kecil yang ditinggalkannya di panti saat dirinya diambil orang tua asuh, meskipun akhirnya mereka mencampakkan Arya begitu saja hingga dia harus hidup di jalanan sebelum akhirnya ada keluarga Dewangga yang menjadi malaikat penolongnya.


"Adeeba. Apakah kau gadis kecilku yang dulu?" Arya bertanya-tanya dalam hati sebelum dia ikrarkan janji suci itu.


End of flashback


BERSAMBUNG


🌹🌹🌹

__ADS_1


Terima kasih telah membaca cerita ini dengan setia. Jangan lupa like, vote dan rate 5 ya. Ditunggu juga comment positif nya.


__ADS_2