METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Kisah Prabu dan Aghata (part 2)


__ADS_3

“Lepaskan tanganku! Biarkan aku pergi!” teriak Aghata.


“Pikirkan bayi yang ada dalam kandunganmu, Nona. Sadarlah!” Prabu ikut berteriak, kali ini sambil mengeratkan genggamannya. Dengan sekuat tenaga, Prabu berusaha untuk tetap menahan tangan itu agar tak lepas dari tangannya.


“Tidak ada yang menginginkannya. Biarkan dia pergi bersamaku,” kekeh Aghata.


“Apapun masalahmu, yakinlah bahwa suatu saat nanti pasti akan ada orang yang mencintaimu dengan tulus. Anakmu itu tidak berdosa. Biarkan dia lahir dan hidup di dunia!" Prabu masih terus berusaha mempertahankan tangan itu, sekuat apapun Aghata berusaha untuk melepaskannya.


“Aku tidak percaya. Semua orang membenciku. Semua orang meninggalkanku. Tidak ada gunanya lagi aku hidup. Lepaskan tanganku! Biarkan aku pergi!" Aghata terus berusaha membuat Prabu melepaskan tangannya.


Prabu tak mau lengah. Dia terus mempertahankan tangan Aghata agar tak lepas begitu saja. Namun tanpa sadar, ternyata tangan Aghata makin melemah dengan sendirinya. Prabu lantas memandang wajah perempuan yang kini sedang dipeganginya itu, terlihat dia merasakan sesak dan kesulitan mengambil nafas sebelum akhirnya pingsan seketika.


Dengan gugup, Prabu segera mengangkat tubuh itu dan merebahkannya di kursi penumpang, kemudian langsung melajukan mobilnya dengan kencang.


“Apakah dia istri Anda, Tuan?” tanya seorang dokter begitu mereka sampai rumah sakit dan dokter selesai memeriksanya.


"Bukan, Dokter. Dia teman saya. Bagaimana kondisinya, Dokter?" tanya Prabu dengan terbata.


"Begini. Kelihatannya teman Anda itu adalah seorang pecandu obat-obatan terlarang. Dari gejala yang terlihat, juga melihat banyaknya bekas suntikan di tubuhnya, teman Anda sudah mengkonsumsi heroin dalam waktu cukup lama. Untung bayi yang ada dalam kandungannya kuat. Jika tidak, mungkin dia sudah keguguran sejak lama," dokter itu menjelaskan dengan rinci.


"Terus bagaimana, Dok?" Prabu menunggu dokter itu melanjutkan penjelasannya.


"Paling tepat adalah membawanya ke tempat rehabilitasi, tentunya setelah kondisinya lebih baik. Untuk sementara, saya akan memberi dia sebuah suntikan untuk mengurangi rasa sakitnya, namun besok tetap harus ditangani oleh dokter ahli di pusat rehabilitasi untuk benar-benar menghilangkan ketergantungan dan semua efek yang dia rasakan," tutur dokter itu, memutuskan.


Prabu pun tak ada pilihan lain. Sudah kepalang basah.


"Menolong tidak boleh tanggung-tanggung," gumamnya dalam hati.


Setelah dokter itu memberitahukan bahwa Aghata sudah dipindahkan ke ruang perawatan dan berlalu pergi dari hadapan Prabu, Prabu pun akhirnya masuk ke ruang dimana Aghata dirawat. Dia merasa perlu memberitahu bahwa esok hari mereka akan membawanya ke pusat rehabilitasi.


Dengan pelan, Prabu masuk ke ruang itu dan mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar. Tatapannya pun berhenti di satu titik, ranjang pasien.


"Kenapa kosong? Dimana gadis itu?" gumam Prabu lirih.


Prabu mencoba berjalan masuk dan mencari ke arah kamar mandi, ternyata benar. Kamar mandi terlihat dikunci, itu artinya gadis itu sedang berada di dalam sana. Prabu pun membalikkan tubuhnya bermaksud menunggunya di sofa, namun tiba-tiba langkahnya terhenti ketika menyadari sesuatu yang mungkin terjadi.


Dengan secepat kilat, Prabu langsung membalikkan tubuhnya lagi dan setengah berlari menuju pintu itu dan menggedornya berkali-kali.

__ADS_1


"Nona! Nona! Apa yang kau lakukan di dalam sana?" Prabu terus menggedor pintu itu.


Tak ada sahutan.


"Nona!" Prabu mengulang panggilannya berkali-kali, tak ada tanda-tanda bahwa akan ada jawaban kali ini.


Hingga akhirnya, dengan nekadnya Prabu mendobrak pintu itu dan ternyata apa yang menjadi kekhawatiran Prabu benar.


"Kau memang gadis gila. Dimana kewarasanmu, heh?" umpat Prabu dengan segala rasa yang berkecamuk dalam dadanya, saat melihat di dalam sana Aghata sedang duduk di kloset kamar mandi, dengan sebilah pisau dalam genggamannya.


"Sudah kubilang jangan ikut campur!" teriak Aghata sambil terus berusaha melancarkan aksinya.


"Pikirkan bayi yang ada dalam kandunganmu, Nona. Dia tidak tahu apa-apa. Kasihanilah dia!” Prabu ikut berteriak, kali ini sambil berusaha maju mendekati Aghata dan hendak merebut pisau itu dari tangannya.


“Jangan mendekat! Biarkan aku pergi! Tidak ada yang menginginkannya. Biarkan dia pergi bersamaku,” kekeh Aghata.


“Berpasangka baiklah pada Allah. Yakinlah bahwa akan ada orang yang mencintai kalian dengan tulus. Biarkan anakmu lahir dan hidup di dunia!" Prabu masih terus berusaha mendekati tubuh Aghata.


“Aku tidak percaya. Semua orang membenciku. Semua orang meninggalkanku. Tidak ada gunanya lagi aku hidup. Jangan campuri urusanku! Biarkan aku pergi!" Aghata terus memundurkan tubuhnya, bahkan kali ini menarik pisau itu ke atas dan siap mengeksekusi niatnya.


"Lepaskan aku!" Aghata terus meraung.


"Tidak akan!" Prabu tetap bertahan, meskipun entah kekuatan dari mana, tenaga Aghata tak mudah dikalahkan.


"Lepaskan aku! Akan aku akhiri penderitaan ini. Tidak ada lagi yang menginginkanku di dunia ini," kekeh Aghata, bahkan kini dia menguatkan tekanannya.


“Aku akan menikahimu. Kita rawat bayimu sama-sama,” saking gabutnya karena tak mampu membujuk Aghata agar membatalkan niatnya, akhirnya kata itu yang keluar begitu saja dari mulut Prabu.


“Kamu bohong,” Aghata masih tak percaya.


“Aku tidak berbohong. Demi Allah, aku akan menikahimu,” yakin Prabu tanpa mampu berpikir lebih panjang lagi.


“Bohong! Pasti kau akan seperti Arsen yang pergi meninggalkan aku begitu saja, setelah aku mengikuti kata-katamu. Kalian semua pendusta!" Aghata masih saja tak percaya.


“Aku tidak berbohong, Nona. Demi Allah, aku akan menikahimu begitu bayimu lahir ke dunia,” Prabu terus meyakinkan.


Mendengar ucapan Prabu, Aghata terlihat berpikir sejenak. Dia memandang Prabu, mencoba mencari kebenaran dari sorot mata pria yang kini berada di dalam pandangannya itu.

__ADS_1


Melihat Aghata yang berhenti memberontak dan memandangnya dengan lekat, Prabu pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum, kemudian berusaha menarik pisau itu dari tangan Aghata dan melemparnya begitu saja.


“Huh,” ucap Prabu sambil menghirup udara dalam-dalam, membuat oksigen yang dimiliki udara itu menyegarkan kembali sekujur tubuh serta pikirannya yang sedari tadi terasa berantakan. Prabu sangat lega, akhirnya Aghata luluh dan kini berada dalam pelukannya.


“Aduh, Mas. Perutku sakit sekali. Mungkin aku akan melahirkan,” tiba-tiba Aghata berteriak kesakitan, hingga tangan yang sedari tadi memeluk Prabu beralih memegang perut buncit yang kini benar-benar membuatnya kesakitan itu.


“Apa? Melahirkan?” tiba-tiba Prabu panik lagi. Dia seolah kembali ke masa enam tahun yang lalu, betapa takutnya dirinya saat mendengar bahwa Titania, istrinya akan melahirkan buah cinta mereka, Ryan Dewangga.


Tak butuh waktu lama, Prabu segera mengangkat tubuh Aghata ke atas ranjang pasien dan memanggil suster jaga untuk menolongnya. Dengan sigab pun pihak rumah sakit segera mengambil tindakan operasi atas persetujuannya.


Dan hanya dalam waktu empat puluh menit, seorang suster keluar dengan membawa seorang bayi laki-laki yang sangat tampan, meskipun tubuhnya sangat kecil karena harus terlahir prematur.


“Selamat, Tuan. Bayi Anda laki-laki,” ucap suster itu kepada Prabu.


“Terima kasih, Suster,” bingung dengan ucapan sang suster, hanya itu yang mampu keluar dari mulut Prabu.


Dan pasca Aghata melahirkan itulah masa-masa dimana Prabu benar-benar linglung dengan pikirannya sendiri. Setelah mengikuti suster itu dan mengadzani bayi Aghata, Prabu sama sekali tak bisa berkata apa-apa. Fikirannya seolah buntu tanpa arah harus kemana dan bagaimana.


“Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku menikahinya? Tidak-tidak. Aku tak mau mengkhianati Titania. Tapi jika aku tak jadi menikahinya, bagaimana kalau perempuan itu berniat bunuh diri lagi? Hah!” Prabu terus mengutuki dirinya yang tak mampu memilih kata lain saat berbicara kepada Aghata ketika tragedi bunuh diri itu hampir terjadi.


Hari itu Prabu terus memutar otaknya, tapi selalu gagal. Ujungnya hanya satu, sebuah pernikahan. Bahkan Prabu sempat bersimpuh di hadapan Tuhannya demi mendapatkan ketenangan akan keputusan yang diambilnya, dan entah kenapa kata hatinya sangat mantap mengambil sebuah keputusan, bahwa dirinya akan menikahi Aghata.


“Apa yang kau lakukan?” ucap Wisnu Raharja, begitu tiba di ruang perawatan Aghata, sesaat setelah Prabu menelphonnya dan memintanya untuk datang. Waktu itu Rani, buah cinta antara Wisnu dan Davina baru berusia satu tahun dan Ryan berusia enam tahun.


“Ceritanya panjang. Besok aku ceritakan,” jawab Prabu dengan ekspresi yang sulit di artikan.


Dalam waktu singkat pun semua terjadi. Setelah Aghata mengatakan bersedia seiman dengan Prabu, dengan mas kawin seperangkat alat shalat yang disediakan oleh Wisnu, akhirnya pejabat Kantor Urusan Agama (KUA) menikahkan mereka. Wisnu dan Pak Mamad supir Prabu pun menjadi saksi atas pernikahan Prabu dan Aghata.


“Tolong rahasiakan ini dari Titania, sampai aku siap mengatakannya sendiri kepadanya,” ucap Prabu, sesaat setelah dia menikahi Aghata.


“Terserah kamu sajalah,” jawab Wisnu kesal, kemudian pergi meninggalkan Prabu begitu saja. Dia benar-benar kecewa dengan keputusan yang diambil Prabu tanpa sepengetahuan Titania. Pak Mamad pun mengikuti Wisnu dan pergi meninggalkan Prabu di rumah sakit itu seorang diri.


BERSAMBUNG


❤❤❤


Pembaca setia, karena beberapa hal, mohon maaf episode 100 s.d. 104 ceritanya author ganti ya. Semoga tetap menarik dan bisa dinikmati. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2