
Daniel sudah berada di dalam kamar, saat Naja akhirnya pulang. Begitu kondisi Rani sudah dinyatakan aman, Daniel, Arya dan semua yang menemani Ryan di rumah sakit itu memang sengaja diminta pulang, yang tersisa hanya para pengawal yang berjaga di luar ruangan.
Begitu juga dengan Johan, Rudi, Naja dan seluruh anak buahnya, semua pulang untuk mengistirahatkan tubuh mereka sebentar. Pencarian Indra dihentikan, sampai hari mulai terang dan kondisi alam sudah memungkinkan.
"Sayang, kau sudah pulang?" Daniel yang waktu itu sedang duduk di sofa sambil menunggu kedatangan istrinya langsung beranjak, begitu melihat pintu kamar terbuka dan Naja muncul dengan tiba-tiba.
Naja hanya menatap suaminya dengan pandangan Nanar. Matanya sudah berkaca-kaca, hatinya pun begitu terluka. Semalaman sudah berhasil dia tahan agar tak ada yang menangkap kepedihan yang dirasakannya, namun saat bertemu mata dengan suaminya, semua langsung ingin dia tumpahkan dalam pelukannya.
"Sayang ..., hiks ..., hiks ..., hiks ...," Naja langsung menghambur ke arah suaminya, begitu Daniel mendekat dan merentangkan tangannya.
"Tidak apa-apa, Sayang. Menangislah! Menangislah, agar beban di hatimu bisa sedikit berkurang," Daniel mengeratkan pelukannya, dan membelai lembut kepala istrinya. Ujung kepala Naja pun berkali-kali diciumnya, seolah dengan begitu kekuatan berlipat akan Naja rasakan atas kasih sayang penuh dari suaminya.
Momen langka memang, melihat Naja menangis di depannya, yang hampir tak pernah sekalipun dia tunjukkan. Begitulah pribadi Naja yang dilihat semua orang. Dia dikenal sebagai sosok perempuan hebat, yang begitu kuat dan tak pernah mengeluh seberat apapun dia menanggung beban dalam hidupnya.
Tapi kali ini, dia benar-benar butuh teman untuk berbagi. Dan Daniellah satu-satunya orang yang mengetahui seperti apa seorang Naja dari ujung rambut hingga ujung kaki, termasuk bagaimana sedihnya kondisi hatinya saat ini.
"Harus dengan cara apa aku menjelaskan semua yang terjadi kepada ibu, jika sesuatu benar-benar terjadi pada adikku?" suara Naja terdengar tersengal, akibat isak tangisnya yang tak kunjung bisa dihentikan.
"Hey, sejak kapan seorang Kaylee Naja jadi pesimis seperti ini? Selama kita tak menemukan jasad Indra, itu artinya masih banyak harapan bagi kita untuk bisa menemukannya," Daniel merenggangkan pelukannya, kemudian menangkupkan kedua tangannya hingga menggapit dagu Naja.
"Tapi koordinat dimana alat pelacak itu kita tangkap, tak memperlihatkan petunjuk apa-apa. Indra tak berada di tempat itu, walaupun sinyal di alat itu sama sekali tak berpindah ataupun bergeser sedikitpun," Naja terdengar mengadu. Kali ini dia benar-benar menunjukkan sisi lemahnya.
"Mereka semua sudah mencari benda kecil yang ditanam di tubuh Indra barangkali sengaja dilepas dari tubuhnya dan dibuang di sana, tapi sia-sia. Di tempat itu sama sekali tak ditemukan apa-apa. Bahkan sampai mereka menyisir dasar jurang hingga jauh meninggalkan titik koordinat yang ditunjukkan, tetap saja nihil. Indra tidak ada dimana-mana," lanjut Naja sambil menangis sejadi-jadinya.
"Sssttt. Besok aku akan ikut terlibat dalam pencarian. Aku akan menemani kamu hingga Indra ditemukan. Oke?" sahut Daniel menenangkan.
"Tapi kalau Indra benar-benar tak ditemukan gimana, Sayang? Atau jika dia ditemukan dalam kondisi yang tak bisa diselamatkan, apa yang harus kulakukan? Kau tahu sendiri kan, hanya karena ibuku dan Indra aku rela berjuang agar kami bisa bertahan? Lalu jika sekarang terjadi sesuatu dengannya, untuk apa pengorbanan yang selama ini aku persembahkan? Untuk apa? Hiks ..., hiks ..., hiks ...," Naja masih saja tergugu.
"Hey, hey, hey. Najaku tak pernah seperti ini. Istri kesayanganku selalu optimis sampai apa yang dia inginkan bisa tercapai, dengan cara apapun sampai keinginannya bisa dia tuju. Sekarang, kamu bersihkan dirimu, setelah itu beristirahatlah. Besok kita akan kembali mencari Indra sampai ketemu. Oke?" Daniel menghapus air mata di pipi Naja dengan kedua ibu jarinya.
"Tapi, Sayang .. ," Naja masih terlihat tidak tenang. Bayangan wajah Indra dan juga ibunya masih saja terus berseliweran.
"Tidak ada tapi-tapian. Bagaimana kamu bisa mencari adikmu jika kondisimu saja sekacau ini, heh?" kali ini Daniel mengacak rambut Naja dengal asal, membuat Naja terlihat begitu kesal.
"Masih lebih baik cemberut seperti itu, dari pada nangis seperti tadi," senyum Daniel mengembang, melihat bibir istrinya yang sudah mengerucut karena rambutnya yang kini acak-acakan.
"Malam ini aku tak mandi ya, Sayang. Seperti yang kau bilang tadi, aku harus segera tidur walau sebentar," Naja melepaskan tangan Daniel yang masih berada di kepalanya, lalu bergerak sedikit menjauh menuju tempat pembaringan yang seolah sudah menunggunya.
"Siapa bilang aku mengizinkanmu tidur tanpa mandi terlebih dahulu," Daniel mengikuti langkah Naja dan segera menarik tubuhnya, sebelum akhirnya membawa tubuh Naja dalam gendongannya.
"Sayang, apa yang kau lakukan?" jerit Naja saking kagetnya.
Daniel tak menjawab pertanyaan Naja. Dia terus menggendong tubuh istrinya hingga masuk ke dalam kamar mandi, menurunkannya di bawah shower, dan melepas semua helaian benang hingga terpampang nyata tubuh polos yang selalu menjadi candu untuknya.
"Sayang, kau mau apa?" Naja sudah melihat gelagat tak baik dari pandangan suaminya.
"Memandikanmu. Memang kau pikir aku mau apa? Jangan bilang kalau kau mau ...," Daniel mengerlingkan satu matanya, membuat Naja mulai bergidik ngeri jika harus melayani hasratnya malam ini juga.
"Tidak, tidak, tidak, Sayang. Aku akan mandi, lalu kita akan beristirahat sebentar seperti yang kau bilang tadi," Naja langsung menyalakan kran air di dekatnya, membuat tubuhnya dan tubuh suaminya menjadi basah seketika.
"Naja! Benar-benar, kau ya? Kau sengaja membuatku mandi bersamamu? Lihat, kau membuat seluruh tubuhku ikut basah karena ulahmu," cibik Daniel, berpura-pura.
__ADS_1
"Salahmu sendiri, Sayang. Siapa suruh kau ikut masuk ke dalam," Naja terus membasahi tubuhnya dan tubuh suaminya, hingga akhirnya malam itu mereka benar-benar mandi bersama. Untuk yang lain-lainnya mereka melakukan apa saja, itu sudah tidak perlu ditanya dan diduga. Semua pasti sudah terjadi di antara mereka, dengan kondisi mereka berdua yang sudah tanpa penghalang apa-apa.
***
Dingin ....
Sunyi ...
Sepi ....
Malam ini Zara berada di tengah hutan seorang diri. Kelam, seperti itulah hatinya sekarang. Apalagi saat makhluk-makhluk malam mulai bermunculan, membuat bulan dan bintang yang bersinar pun seolah tak menjadi penerang. Hanya kekelawar yang beterbanganlah yang menemani suara longlongan serigala yang membuat malam itu semakin mencekam.
Misterius, begitulah suasana hutan di tengah malam, semisterius keberadaan Indra yang seolah di telan alam. Dimanakah Indra sekarang?
"Raga kita memang jauh terpisah, Tuan. Tapi cinta kita, membuatku yakin bahwa kita akan kembali dipertemukan. Tunggu aku, dan bertahanlah untukku," gumam Zara dalam hati.
Kini, Zara benar-benar berada di tengah hutan itu seorang diri. Johan, Rudi beserta seluruh anak buahnya pun sudah berhenti mencari dan akan kembali esok pagi. Begitu juga dengan pasukan aparat kepolisian yang membantu pencarian, semua di tarik mundur karena situasi malam ini sudah tidak bersahabat lagi.
Zara tetap tak peduli, atas nama cintanya kepada sang belahan jiwa, dia bulatkan tekad dan seluruh keberaniannya untuk terus mencari Indra.
Hingga tiba-tiba, langkahnya terhenti. Titik koordinat dimana alat pelacak Indra terdeteksi, kini adalah titik dimana dia berdiri saat ini.
"Tuan! Apakah Anda berada di sini sekarang?" Zara berteriak-teriak sambil mengedarkan pandangan ke sekelilingnya.
"Tuan, ini Zara. Apakah suara saya Anda dengar?" seru Zara sekali lagi.
Tak ada suara sahutan sedikitpun yang tertangkap indra pendengaran Zara, namun dia tak menyerah. Baginya, jika di titik itu sebuah sinyal menunjukkan keberadaan Indra, pasti ada sesuatu yang bisa dia dapatkan sebagai petunjuk, walau Zara tak tahu petunjuk itu apa dan dimana.
Hingga tiba-tiba, Zara membelalakkan matanya ketika telinganya menangkap sesuatu yang begitu sangat dikenalnya.
"Zara!" sayup-sayup terdengar seseorang memanggil namanya.
"Tuan, Andakah itu?" Zara berputar-putar dan melihat ke arah sekelilingnya, tapi tak ada Indra dimanapun dia memfokuskan pandangannya.
"Tuaaaan! Tuaaaan!" Zara terus memanggil nama Indra, namun suara itu hilang begitu saja.
Merasa frustasi dan berhalusinasi, Zara pun menjatuhkan dirinya dan terduduk di atas tanah dengan tangisnya yang pecah begitu saja.
"Kau dimana, Indra? Jangan tinggalkan aku sendiri di dunia yang kejam ini! Aku baru sadar bahwa ternyata cinta ini sudah terlalu dalam. Tegakah kau membuatku tak punya siapa-siapa lagi di dunia ini jika kau tinggalkan? Indra! Dengarkan aku! Jika kau pergi, aku pun tak akan mau untuk tetap hidup di dunia ini!" Zara meronta-ronta. Tangisnya memecah keheningan hutan yang semakin mencekam ditengah langit yang menghitam. Bahkan dia memanggil-manggil nama Indra tanpa predikat Tuan yang sering dia sematkan sebelum dia memanggil namanya, berharap dengan begitu Indra akan tiba-tiba muncul di hadapannya.
Tapi harapan sekedar harapan. Jangankan muncul dan berdiri di hadapan Zara. Suara Indra yang seolah terdengar di telinganya pun kini hilang tanpa ada jejak dan juga kabar.
Hingga tiba-tiba ...,
"Zara!" suara itu sayup-sayup kembali terdengar.
"Indra! kaulah itu?" Zara mengusap air matanya dengan kasar. Dia langsung berdiri, dan kembali mengedarkan pandangan.
"Zara!" satu panggilan lagi, kali ini terdengar lebih kencang.
Zara menajamkan pendengarannya, mencoba memastikan apakah benar-benar ada yang memanggilnya, bukan hanya sekedar ilusinya.
__ADS_1
"Zara!"
Tak salah lagi, itu bukan hanya sebuah ilusi. Itu benar-benar suara Indra yang sedang memanggil-manggil namanya.
Zara pun segera memeriksa titik koordinat dimana sebuah sinyal menunjukkan dimana Indra berada melalui ponselnya, dan mendekati titik itu, kemudian memeriksa dengan teliti tanah datar yang tak terdapat apa-apa. Hanya potongan kayu tumbang berikut dengan ranting dan rerumputan saja yang terdapat di sana.
"Suara dan titik itu benar ada di sini. Tapi dimana dia?" Zara terlihat berpikir keras.
"Zara!" suara itu sayup-sayup terdengar lagi.
Zara mencoba berjongkok, dan meraba-raba tanah di sekelilingnya. Dia singkirkan rumput-rumput tak beraturan yang menutupi tanah itu. Begitu juga dengan ranting dan pohon lumayan besar yang terlihat berjejer, coba dia geser. Bahkan karena begitu beratnya, Zara hanya bisa mendorong pohon itu hingga menggelinding dan sedikit berpindah dari tempatnya.
Serasa ingin menangis, Zara melakukan semuanya hanya demi menemukan Indra. Bahkan sebuah tempat yang secara kasat mata terlihat normal-normal saja tanpa ada satu hal pun yang mencurigakan bagi siapa saja yang melihatnya, rela Zara periksa dengan seksama, dengan sebuah harapan bahwa Tuhan akan menunjukkan keajaibannya.
"Jika Allah menunjukkan keajaibannya dengan mengembalikan detak jantung Nona dan mempersatukan kembali keluarga Dewangga, bukan hal mustahil keajaiban itu juga akan Dia berikan kepadaku dan Indra," gumam Zara dalam hati.
Hal itulah yang Zara tanamkan betul dalam hati, hingga apapun akan dia lakukan dengan sebuah harapan bahwa keajaiban itu akan benar-benar terjadi.
Begitu rumput, ranting, dan beberapa pohon itu berhasil dia geser dari tempatnya, alangkah kagetnya Zara ketika melihat sebuah lubang kecil terlihat menganga.
Lubang itu berbentuk persegi empat berukuran tujuh puluh centi meter untuk lebarnya, dan sekitar satu setengah meter untuk panjangnya. Ranting dan rumput pun berjejal di sana.
"Zara!" suara itu benar-benar terdengar dari dalam lubang itu. Meski semakin melemah, tapi Zara yakin bahwa yang memanggilnya adalah Indra.
"Indra?" Zara tak berpikir lagi apakah betul itu suara kekasihnya ataukah hanya sebuah ilusi belaka. Dia terus mengambil rumput dan ranting dari dalam lubang itu dan mengeluarkannya dari sana.
Hingga tiba-tiba, ada sesuatu yang terlihat bergerak, seiring dengan matanya yang menangkap sosok pria yang sedang di carinya.
"Indra!" tangis Zara pecah. Dengan serta merta, tubuhnya pun langsung turun ke dalam lubang dengan kedalaman sekitar satu meter itu.
Zara meraih tubuh Indra yang sudah terkulai lemas di dalam sana, dan mendudukkannya dengan posisi bersandar pada tubuhnya. Kepala Indra pun berada di bahu Zara, membuat tak ada jarak lagi di antara keduanya.
"Indra! Apa kau baik-baik saja?" tanya Zara sambil menggoyang-goyangkan wajah Indra.
Tak ada sahutan yang terucap dari mulut Indra. Bahkan matanya tetap terpejam, tanpa sedikitpun melihat ke arah gadis yang karena cinta dan keyakinan di dalam hatinya, akhirnya bisa menemukan dirinya.
"Indra, kau dengar aku?" tanya Zara sekali lagi. Suaranya terdengar lebih keras dari sebelumnya.
"Indra, bicaralah! Jangan membuatku takut," Zara mulai panik. Air matanya kembali menetes, menyadari kekasih hatinya tak merespon apapun ucapannya.
"Ndra! Indraaaa!" tangis Zara pecah. Ketakutan yang tiba-tiba muncul saat mendapati Indra diam saja, kini mengalahkan segala keberanian dan keyakinannya yang sejak awal dia bertekad untuk menemukan Indra begitu menyala-nyala.
"Kau tidak boleh meninggalkanku, Ndra! Bangun kubilang! Atau aku akan memarahimu seumur hidupku," Zara semakin tergugu. Otaknya seolah berhenti berpikir, karena yang ada dibenaknya hanya satu, dia tak rela jika pria yang begitu dicintainya itu akan pergi meninggalkannya saat itu juga.
Lama Zara menangis sambil terus menyebut nama kekasih hatinya. Ya, hanya itu yang bisa Zara lakukan, tanpa berani memastikan apakah pria itu benar masih hidup atau sudah pergi dari dunia ini.
Hingga setelah dia menangis cukup lama dengan terus mendekap tubuh Indra, akhirnya dia memberanikan diri untuk mengecek denyut nadi dan nafas Indra melalui lubang hidungnya.
Dengan ragu, Zara memegang pergelangan tangan pria itu, kemudian mengarahkan jarinya ke dekat hidung Indra. Menyadari kondisi Indra saat itu, Zara pun menangis sejadi-jadinya. Karena ternyata ...,
BERSAMBUNG
__ADS_1