METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Kedatangan Hengky


__ADS_3

"By, Rani pengen ke kamar mandi," rengek Rani manja. Baik Rani maupun Ryan sama sekali belum menyadari jika Hengky berada di depan pintu menyaksikan kemesraan mereka berdua.


"Oke. Hubby gendong ya, Sayang," dengan semangat empat lima, Ryan beranjak dari duduknya dan segera mendekati istrinya. Tanpa aba-aba, Ryan memposisikan tangan kirinya dipunggung Rani, dan tangan kanannya di belakang lutut hingga dalam waktu beberapa detik saja Rani sudah berada dalam gendongan Ryan dengan gaya bridal style seperti yang biasa Ryan lakukan.


"Pelan-pelan, By. Kaki Rani sakit," terdengar suara manja dari arah kamar mandi.


"Ya terus gimana? Tahan dikit dong, Sayang. Hubby kan harus melepas ini dulu biar kamu bisa buang air kecil," sahut Ryan terdengar sayup-sayup dari luar.


"Ihh, Hubby. Jangan ambil kesempatan dalam kesempitan dong. Bantuin ya bantuin aja, jangan macam-macam," rajuk Rani terdengar sangat manis.


Hengky memejamkan mata mendengar percakapan sepasang suami istri yang sedang bermanja dan bermesra itu. Hatinya begitu pilu, bagai ditusuk beribu sembilu. Sebenarnya dia sudah sangat muak dan ingin segera pergi dari tempat itu, bahkan dia ingin berteriak sekencang mungkin untuk menghilangkan rasa sakit yang kini menyesakkan hati. Namun, mengingat maksud dan tujuannya datang ke tempat itu belum terlaksana, akhirnya dengan segala rasa sakit di hatinya, dia mencoba menebalkan telinga dan matanya agar tetap mampu berdiri tegak di tengah badai yang bergejolak, tidak hanya dalam dirinya, tapi juga pada tubuh keluarganya.


"Aku harus membayar sangat mahal untuk semua ini, Ran. Hanya karena kebersamaan kalian, keluargaku harus berantakan dan hancur berserakan," batin Hengky dalam hati.


Menyadari ada suara berisik dari arah kamar mandi yang semakin mendekat, Hengky yang masih berdiri mematung di tempat itu pun berniat menutup pintu dan keluar sebentar agar tak melihat lagi adegan mesra yang akan mengoyak hatinya. Namun sebelum Hengky menutup sempurna pintu itu, mata dan telinganya masih sempat menangkap drama percintaan yang mengiris-iris jiwanya.


"Hubby, jangan gitu, By. Nanti Rani terjatuh," suara manja Rani terdengar begitu manja, saat Ryan sudah mengangkat tubuhnya dan hendak memagut bibirnya.


"Suka-suka Hubby dong. Ini semua milik Hubby," Ryan terus menggoda istrinya yang berusaha menghindar dan protes dengan kelakuan suaminya yang tidak kenal tempat dan waktu.


"Ihh Hubby, kayak nggak pernah aja, By," protes Rani yang justru semakin membuat Ryan bersemangat untuk menggoda istrinya.


"Ssst, bisa diam nggak," ucap Ryan sambil meraih bagian yang sangat ingin dikecupnya itu tanpa ampun, meski Rani masih berada dalam gendongannya.

__ADS_1


"By, Hmmm," Rani sudah tidak bisa menolak lagi semua perlakuan suaminya, bahkan ketika Ryan melanjutkannya sampai ketika Rani sudah dia baringkan lagi di tempat tidur pasien ruang rawat inap itu.


"Huhhh," Hengky mendesah kasar. Tangannya terlihat mengusap ujung matanya yang sedikit menggenang karena tak mampu menahan air mata.


Setelah beberapa kali dia menarik nafas panjang dan melepasnya kembali dengan pelan, Hengky mengetuk pintu dengan segala rasa yang kini sudah menyeruak dalam hatinya.


Tok-tok-tok.


Begitu mendengar suara ketukan pintu, Ryan segera mengakhiri aktifitasnya dan membenarkan posisi hijab istrinya serta menyelimutinya hingga sebatas dada. Setelah di rasa semua terlihat normal seolah tidak ada yang baru saja terjadi diantara mereka berdua, Ryan duduk di samping ranjang pasien kemudian meminta orang yang sudah mengganggu kemesraan suami istri itu untuk masuk.


"Ya, masuk!" seru Ryan sambil mengarahkan pandangannya ke arah pintu.


"Assalamu'alaikum," Hengky mengucap salam dan berjalan mendekati Ryan dan Rani dengan senyum yang sedikit dipaksakan.


"Wa'alaikumsalam," sahut Rani dan Ryan secara bersamaan.


"Hengky!"


"Mas Hengky!"


Ryan dan Rani berseru secara bersamaan.


Hengky tersenyum simpul melihat ekspresi wajah Rani dan Ryan begitu menyadari dirinya datang. Namun, menurut Hengky semua itu adalah hal yang sangat wajar, setelah apa yang sudah kakak dan ayahnya lakukan.

__ADS_1


"Aku datang untuk melihat kondisi Rani. Bagaimana kondisimu?" tutur Hengky, sambil melihat ke arah Ryan, kemudian mengalihkan pandangan ke arah Rani secara bergantian.


"Alhamdulillah baik," Rani masih berusaha menjawab pertanyaan Hengky sebiasa mungkin.


"Hari ini aku akan membawanya pulang. Aku tak mau ambil resiko, jika dia harus dirawat di tempat ini. Aku tak mau ada yang mencoba mencelakainya lagi untuk yang ke sekian kali," ucap Ryan dengan wajah datarnya, yang sukses membuat wajah Hengky memerah karena merasa sebuah sindiran sedang Ryan layangkan untuk ayah dan kakaknya.


"Aku atas nama pribadi dan keluarga, benar-benar memohon maaf atas apa yang telah kakak dan ayahku lakukan kepada kalian," Hengky menunduk, merasakan dadanya yang bergemuruh, dan mata yang memanas ketika kata itu terucap dari bibirnya.


"Dengan memaafkan, akan membuat kita mampu menghadapi beban masa silam. Dengan pengampunan, akan membuat kita lega dan terbebas dari segala rasa sakit dan segala dendam. Tentang semua kejahatan yang telah Meysie dan Om Atmaja lakukan, kami sudah memaafkan. Semua maaf yang kami berikan, itu karena kami masih menghargaimu sebagai teman, Hengky. Tapi dengan berat hati harus kami katakan, bahwa kami melakukan itu karena memandang hubungan persahabatan kita ke depan, bukan karena kami alpa atas segala kejahatan yang telah mereka lakukan," setelah mengucapkan itu, Ryan berdiri dan menepuk bahu Hengky, kemudian menuju sofa dan menjatuhkan tubuhnya di sana.


Hengky yang mengerti maksud Ryan, segera menjauh dari Rani dan ikut duduk di atas sofa, bersebelahan dengan posisi dimana Ryan berada.


"Terima kasih atas maafmu, dan kesediaanmu untuk tetap menganggapku sebagai sahabatmu. Terkait Kak Meysie dan ayahku ...," Hengky menggantungkan kalimatnya.


"Terkait Meysie dan Om Atmaja, secara pribadi kami sudah memaafkan mereka. Tapi untuk masalah hukum, kami tidak bisa menariknya. Biar bagaimanapun ada Lena dan Arya yang telah kehilangan bayi mereka, ada Nina dan Johan, juga Naja, Daniel dan Rudi yang hampir kehilangan nyawa, juga Rani yang bahkan dua kali sebuah senjata tajam nyaris merenggut jiwa dan raganya. Dan semua itu tidak bisa kembali," Ryan mengeluarkan isi hatinya dengan tatapan tajam kepada pria yang kini duduk tepat di sampingnya.


"Aku mengerti. Aku akan membantumu untuk mencari ayahku, agar dia bisa mempertanggungjawabkan semuanya dan kalian bisa hidup dengan tenang. Tapi jika aku boleh meminta, tolong jangan batalkan kerjasama perusahaan kita. Biar bagaimanapun, sekarang keluargaku sepenuhnya menjadi tanggung jawabku. Bahkan setelah ini, aku akan fokus mengurus perusahaan dan akan mundur dari Anggota Dewan," sahut Hengky, sembari menatap Ryan dengan segala harapan.


Ryan dan Rani terlihat kaget dengan keputusan yang Hengky sampaikan. Apalagi selama ini Hengky adalah patner kerja yang sangat baik bagi Rani, sehingga sangat disayangkan jika Hengky harus mundur demi perusahaan yang harus tetap dia jalankan.


"Kau tidak berniat memutuskan kerja sama kita kan?"


BERSAMBUNG

__ADS_1


❤❤❤


Jangan lupa like, vote dan rate 5 ya kakak-kakak sayang.


__ADS_2