
Dengan terengah-engah, Rani melangkah menaiki tangga. Tubuhnya bersandar pada pembatas tangga, dan hampir saja terjatuh kalau saja Ryan tidak dengan sigap menangkapnya.
"Keras kepala! Sudah Hubby bilang, untuk sementara kita pindah ke kamar bawah saja. Kau tak merasa kalau perutmu itu sudah sedemikian besarnya? Bagaimana kalau tadi Hubby tidak ada di sampingmu? Lagian Hubby kan sudah bilang berkali-kali. Kalau butuh apa-apa itu minta sama Hubby, atau panggil Bik Tum lewat telepon biar Bik Tum yang datang ke sini," omel Ryan panjang lebar.
"Kata Dokter Amanda, wanita hamil itu harus banyak gerak, By," kilah Rani, yang masih ngos-ngosan membawa tubuh beratnya dari dasar tangga hingga ke kamarnya.
Ryan memapah Rani mendekati ranjang, kemudian membaringkannya di sana. Setelah Rani terbaring, Ryan mengangkat kaki istrinya dan meletakkannya di atas pangkuannya, sesaat setelah Ryan mendudukkan diri di tepi ranjang. Sedetik kemudian, Ryan terlihat mulai memijit kedua kaki Rani secara bergantian.
"Boleh bergerak, tapi bukan gerakan yang membahayakan. Kau tak ingat bagaimana Lena kehilangan bayinya setelah Lena jatuh dari tangga?" Ryan terus memijit kaki istrinya yang masih berada di pangkuannya.
"Lain kali Rani lebih hati-hati, By," Rani masih mencoba bernegosiasi. Untuk berpindah kamar, memang Rani harus berpikir dua kali. Hal ini karena Rani tergolong orang yang butuh waktu lama untuk menyesuaikan diri dengan kamar baru yang dia tempati. Ya, jika dia harus tidur bukan di kamarnya sendiri, dia bisa tak tidur sama sekali hingga beberapa hari.
"Hubby tidak mau tahu. Malam ini terakhir kalinya kita tidur di kamar ini. Mulai besok, kita akan tidur di kamar bawah. Titik," Tegas Ryan tak bisa di tawar lagi.
"Hubby ...," Rani merengek. Bahkan dia sampai terduduk, dan memohon agar Ryan mencabut keputusannya kembali.
"Hanya pindah kamar, Sayang. Itupun hanya sampai kamu melahirkan. Begitu putra kita lahir, kita langsung kembali lagi ke kamar ini," Ryan mencoba memberi pengertian.
"Tapi Rani kan ...," Rani tidak melanjutkan kalimatnya. Dia membiarkan ucapannya menggantung begitu saja, karena dia pikir percuma. Suaminya itu sudah pasti akan tetap kekeh pada keputusannya.
"Hubby janji, besok pagi kamar bawah sudah ter-setting persis seperti kamar ini. Jadi bisa dipastikan kamu tak akan tahu letak perbedaannya dimana, kecuali beda di balkon kamar saja. Hubby tahu kamu sulit tidur di tempat yang baru. Tapi yang ini beda. Hubby jamin kamu pasti langsung nyaman menempatinya. Bagaimana?" Ryan menurunkan kaki istrinya, kemudian menggeser posisi duduknya demi bisa merangkul Rani yang sudah memasang muka sewotnya.
"Terserah Hubby saja," cibik Rani kesal. Dia langsung merebahkan tubuhnya lagi, membelakangi Ryan yang hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya yang selalu bermanja kepadanya.
"Sayang, jangan ngambek dong. Ini kan demi kebaikanmu dan bayi kita," Ryan terus merayu istrinya.
Hingga tiba-tiba, ponsel Ryan berbunyi. Sebuah notifikasi pesan masuk, membuat Ryan mengerutkan dahi.
"Ya sudah, kamu istirahat, Hubby pergi sebentar. Sebelum makan malam, Hubby usahakan sudah pulang untuk menemanimu makan. Oke?" Ryan mengecup kening Rani, kemudian beranjak pergi.
***
Meysie memandang segelas juice mangga yang ada di hadapannya dengan rasa yang sungguh tak berselera. Dia hanya mengaduk-aduk cairan berwarna kuning itu dengan sedotan di tangannya, tanpa berniat sedikitpun untuk meminumnya.
Meysie menatap iPhone-nya berkali-kali, mengecek barangkali orang yang beberapa saat lalu dia hubungi tak bisa memenuhi janji. Menyadari tak ada pesan atau panggilan yang masuk, Meysie hanya memandang iPhone itu tanpa memainkannya sama sekali.
__ADS_1
"Datanglah, aku hanya ingin bertemu denganmu sekali ini saja. Aku janji, ini yang terakhir," gumam Meysie lirih.
Kini segala rasa sesak, susah, senang, juga rasa yang bahkan tak bisa lagi diterjemahkan dengan kata-kata bercampur aduk menjadi satu.
"Walaupun cinta ini sudah menjadi milik Ega sepenuhnya, tapi izinkan kulihat dirimu untuk yang terakhir kalinya. Kumohon, Ryan. Datanglah!" Meysie terus bergumam lirih.
Diliriknya jam digital di iPhone-nya, satu jam sudah Meysie menunggu di Cafe itu, tapi tak ada tanda-tanda pria spesial yang pernah merajai hatinya itu akan segera datang menemuinya.
“Ah, sudahlah. Begitu bodohnya aku hingga berharap dia sudi datang menemuiku, setelah semua yang kulakukan pada istri dan keluarganya," cicit Meysie sambil beranjak dari tempatnya.
"Sahabat macam apa kamu, hingga aku telat sebentar saja kau tak mau menungguku?" Meysie membalikkan tubuhnya, mendengar suara yang sangat dia kenal tiba-tiba tertangkap oleh telinganya.
"Yan, aku kira kamu tak sudi datang," Meysie berusaha tertawa, tapi air mata itu lolos begitu saja dari ujung matanya.
"Kau sendiri? Mana suamimu?" Ryan mengedarkan pandangannya.
"Ada. Dia menunggu di luar," sahut Meysie sambil mempersilahkan Ryan duduk dan memesan minuman.
"Kenapa dia tidak masuk?" Ryan mengerutkan dahinya.
"Apa dia tidak cemburu?" tanya Ryan sambil terkekeh.
"Dari dulu, dia sudah sangat terbiasa melihatku bersamamu, bukan?" Meysie ikut tertawa.
"Mana istrimu?" Meysie balik bertanya. Bahkan kini dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang, memastikan barangkali Rani ikut datang.
"Aku tak tega mengajaknya. Dia sedang hamil besar," melihat Meysie mencari-cari seseorang, Ryan langsung bilang kalau dia datang sendirian.
"Mmm. Kabari aku jika dia melahirkan," Meysie berbasa-basi.
"Tentu," seulas senyum tulus tersungging di bibir Ryan. Dari ekspresi Meysie, Ryan tahu kalau pernikahannya bersama Ega bahagia. Melihat itu, Ryan merasa lega.
"Kapan kau pulang ke Amrik?" Ryan tahu bahwa ini adalah pertemuan terakhir mereka.
"Lusa," jawab Meysie singkat. Matanya kembali berkaca-kaca.
__ADS_1
"Aku akan menetap di sana, dan mungkin tak akan pernah pulang ke Indonesia. Karena itulah aku ingin bertemu denganmu untuk yang terakhir kalinya," ucap Meysie lirih.
"Jangan bilang yang terakhir. Kita tak pernah tahu bagaimana takdir Allah akan mempertemukan dan memisahkan manusia. Siapa tahu saja, suatu saat nanti kita akan bertemu secara kebetulan ketika aku berkunjung ke sana," sahut Ryan dengan entengnya. Dia tidak mau wanita yang telah lama bersahabat dengannya itu terlalu larut dalam suasana perpisahan dengannya.
"Semoga. Tapi hari ini aku harus bilang kepadamu, bahwa aku menyesal atas semua yang terjadi akibat ulahku. Tolong, maafkan semua kesalahanku," tutur Meysie tulus. Perkataan Hengky dan Nyonya Atmaja juga Ega beberapa saat yang lalu, benar-benar sudah menyadarkannya.
"Aku sudah memaafkan kesalahanmu, Mey. Jangan kau ingat-ingat lagi hal itu, dan bukalah lembaran baru dalam hidupmu. Semoga kau selalu bahagia di sana," Ryan tersenyum hangat.
"Maafkan aku, aku tak bisa berlama-lama di sini, karena Rani sudah menungguku," Ryan melihat jarum jam di tangannya dan langsung undur diri.
"Aku mengerti," Meysie mengangguk.
"Baiklah, jaga dirimu baik-baik," cicit Ryan sambil berdiri.
"Terima kasih," sahut Meysie ikut berdiri.
Ryan pun melambaikan tangannya dan berlalu pergi.
"Yan," mendengar Meysie kembali memanggil namanya, Ryan pun membalikkan tubuhnya. Tapi tiba-tiba Meysie berlari ke arahnya dan memeluk Ryan begitu saja secara tak terduga.
"Mey," Ryan bingung bagaimana harus memperlakukan Meysie saat itu. Karena tak tega, akhirnya Ryan pun membalas pelukannya.
"Terima kasih untuk semuanya. Karena kebaikanmu menarik laporan itu, akhirnya aku bisa hidup bahagia bersama Ega," ucap Meysie di sela-sela isak tangisnya.
Tanpa mereka sadari, Rani tiba-tiba masuk dan berdiri mematung melihat suaminya tengah memeluk seorang wanita yang pernah hadir dalam hidupnya.
"Hubby!" teriak Rani, dengan cucuran air mata yang sudah tak mampu dibendungnya lagi. Begitu Ryan menoleh, Rani pun langsung berlari ke arah mobilnya dan segera berlalu pergi.
"Sayang!" Ryan benar-benar kaget.
"Sayang! Dengarkan Hubby! Ini semua tidak seperti yang kau pikirkan," Rani tak mau mendengar apa-apa lagi.
"Sayang!"
Ryan terus mengejar istrinya, tapi sia-sia.
__ADS_1
BERSAMBUNG