METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Memulai Rutinitas Kerja


__ADS_3

Ryan membuka jendela kamarnya, dan membiarkan angin di pagi yang sejuk itu masuk membelai tubuhnya. Sudah menjadi kebiasaan Ryan, dia akan mematikan AC kamar begitu pagi datang.


Sejenak, Ryan memejamkan mata menghirup udara segar yang menyapu manja hidungnya. Dia melihat sang surya di ufuk timur, ternyata masih malu-malu dan masih enggan membulat dengan sempurna.


Namun, selalu saja warna mentari pagi itu sama dengan pagi-pagi sebelumnya. Dia berwarna keemasan menyilaukan mata dan terpampang mesra di langit pagi tanpa bergerak seperti terperangkap dalam bingkai jendela.


Ryan masih memandangi pusat tata surya itu beberapa saat, sambil menunggu sang pujaan hati yang masih sibuk di kamar mandi, usai mereka beribadah dan menikmati indahnya surga dunia.


"Hubby! Mandi," terdengar suara lembut dari depan pintu kamar mandi berseru.


Ryan hanya menoleh sebentar, sambil melepaskan senyum termanisnya, kemudian menyambar handuk yang telah tersedia dan memulai ritual paginya, seperti biasa.


Ya, pagi ini aktifitas mereka kembali seperti sedia kala, karena setelah pajak terbayar lunas, jadilah hari ini mereka bersepakat untuk memulai menjalani rutinitas kerja mereka masing-masing, dengan rentetan pesan dari Ryan tentunya.


"Ingat ya, Sayang. Naja harus ikut kemanapun kamu pergi. Kamu tidak boleh jauh-jauh darinya!" oceh Ryan sambil meraih kemeja biru muda dan celana warna navy yang telah disiapkan oleh Rani saat Ryan membersihkan diri di kamar mandi tadi.


"Siap, By," jawab Rani sambil mendekat ke arah suaminya. Sedetik kemudian, tangannya sudah memasangkan dasi di leher Ryan dengan begitu cekatannya.


"Manis banget sih jawabnya?" Ryan mendekatkan wajahnya dan mencium kening istrinya.


"Siapa dulu dong? Sayangnya Hubby," cicit Rani dengan nada manjanya.


"Cih, kalau ada maunya aja nurut sama Hubby," cibir Ryan sambil melingkarkan tangannya di pinggang istrinya.


"Emangnya kalau lagi nggak ada maunya, nggak manis gitu, By?" Rani mengerucutkan bibirnya.


"Ya manis juga sih, tapi nggak senurut ini," akhirnya satu cubitan kecil mendarat di pipi Rani.


"Ihh, Hubby," sahut Rani sambil mencubit perut suaminya.


"Auwggt, ampun. Sakit, Sayang," Ryan meringis.


"Oke. Perfect," seru Rani begitu dasi itu terpasang dengan rapi.

__ADS_1


"Terima kasih, Sayang," ucap Ryan sambil mengecup kening istrinya sekali lagi. Rani tersenyum renyah.


"Karna hari ini senyummu cantik sekali, maka Hubby kasih satu ciuman lagi," Ryan kembali memberikan kecupannya, kali ini tidak hanya di kening, tapi juga di kedua mata, pipi dan bibir Rani.


Setelah puas menyusuri wajah istrinya, Ryan meraih jas yang sempat diletakkan Rani di sandaran sofa, kemudian menyambar tas kerja di atas meja.


"Hubby berangkat dulu," ucap Ryan.


"Hubby nggak sarapan dulu?" sahut Rani sambil meraih jas dan tas kerja suaminya.


"Nggak usah, Hubby sarapan di sana saja. Hari ini Hubby dan Daniel mau rapat evaluasi proyek pembangunan Green Canyon. Nanti ketemu sama Hengky juga di sana," ucap Ryan yang langsung disambut dengan sebuah anggukan yang menandakan bahwa Rani paham dengan perkataan suaminya.


"Jika kakimu masih sakit, Hubby tidak keberatan jika kamu tidak mengantar Hubby sampai depan," tutur Ryan lembut.


"Nggak papa, By. Sudah enakan kok," Rani tersenyum ke arah suaminya, kemudian mereka berjalan bersamaan ke luar kamar. Saat mereka menuruni tangga, di ruang tamu sudah ada Arya, Daniel, Johan dan Naja yang sudah menunggu.


"Hubby berangkat dulu. Nanti hati-hati ke kantornya. Ingat, tidak boleh jauh-jauh dari Naja dan hubungi Hubby setiap satu jam sekali," pamit Ryan sambil memeluk dan mengecup kening Rani, begitu mereka sampai di depan pintu utama dan Rani membantunya mengenakan jas warna navy yang senada dengan warna celananya.


"Baik, By. Kangenin Rani, ya. he-he-he," sahut Rani sambil meraih tangan Ryan dan mencium punggung tangannya.


***


Setelah semua pergi, mendadak rumah menjadi terasa sepi. Sejak mereka semua tinggal bersama, memang jadi terasa ada yang kurang jika salah satu di antara mereka ada yang pergi, atau di rumah tetapi tidak ikut berkumpul.


"Apakah Anda sudah siap, Nona?" tanya Naja yang melihat Rani masih tak beralih dari pandangannya ke arah jalan.


"Mmm, aku ganti bajuku dulu, Naja. Setelah kita sarapan, baru kita berangkat," Rani menyahut sambil berbalik dan berjalan ke arah tangga. Kamar, tentu menjadi tujuan satu-satunya.


Setelah dirasa siap dan sarapan pun di rasa cukup, akhirnya Rani dan Naja berpamitan kepada Mama Davina dan segera keluar dan melaju menuju kantornya.


Sebenarnya tidak ada yang istimewa dengan suasana Kantor Dewan hari itu. Tidak ada moment spesial juga yang membuat suasana kerja berubah semeriah itu. Yang berbeda hanya satu, semua rekan kerja Rani heboh dengan kehadirannya, setelah dua minggu tak bersua. Maklum saja, Rani selalu bisa menjadi warna untuk setiap orang yang ada di sekelilingnya. Tak heran jika kehadirannya sudah ditunggu oleh teman-temannya, apalagi Rani hadir dengan berita kehamilannya yang sukses membuat semua orang memberikan ucapan selamat kepadanya.


Lain Rani, lain pula dengan Naja. Hari itu memang bukan hari pertama bagi Naja bekerja setelah pernikahannya. Tapi tak seperti biasanya, hari itu Naja benar-benar gelisah. Dia sendiri tak tahu apa penyebabnya, yang jelas tiba-tiba hatinya seolah melayang, terhempas oleh angin yang menerjang.

__ADS_1


Naja terlihat menarik nafas panjang berkali-kali, berharap dengan begitu ketenangan jiwanya akan kembali. Namun, semakin Naja memejamkan mata, semakin menggelap juga hati dan fikirannya. Bahkan kini dadanya tiba-tiba berdesir, tak tau apa yang menjadi penyebabnya.


Sedetik kemudian, bibir Naja berkomat-kamit melafalkan do'a, tak henti mengharap dan meminta, agar semuanya baik-baik saja.


"Naja!" suara Rani tiba-tiba mengagetkan Naja.


Mendengar Rani memanggilnya, Naja pun segera beranjak dan menghampiri Nonanya.


"Ya, Nona. Apakah Anda sudah selesai?" cicit Naja menyembunyikan kegelisahannya.


"Hmmm," jawab Rani singkat.


"Apakah tidak apa-apa jika setelah ini kita ke Thalassemia Center?" tanya Rani sedikit ragu. Selain karena pesan Ryan sebelum berangkat dia hanya diperbolehkan pergi ke kantornya saja, Rani juga dapat menangkap kegelisahan yang dirasakan Naja.


"Tentu saja, Nona. Anda tinggal menelpon Tuan untuk meminta izin kepadanya. Setelah mendapatkan izinnya, nanti kita langsung meluncur ke sana," jawab Naja, dengan gaya khasnya.


"Tapi aku melihatmu tidak sedang baik-baik saja, Naja. Kau terlihat murung tak seperti biasanya. Apa kau tidak apa-apa?" sahut Rani.


"Saya baik-baik saja, Nona. Terima kasih sudah mengkhawatirkan saya," Naja tersenyum simpul.


Setelah yakin dengan jawaban Naja, akhirnya Rani meraih ponsel dari dalam tasnya, dan segera berselancar mencari nomor seseorang di sana.


Tapi sebelum Rani menemukan nomor suaminya, panggilan Ryan tiba-tiba masuk.


"Kebetulan," ucap Rani girang, sambil menatap Naja dengan senyumnya.


"Assalamu'alaikum, Hubby," sapa Rani kemudian terlihat sangat serius mendengarkan ucapan suaminya di seberang sana.


"Kenapa, By?"


"Apa?"


BERSAMBUNG

__ADS_1


❤❤❤


Kenapa lagi sih ini? Mau tahu? Vote, like dan rate 5 ya akak...


__ADS_2