
Cantiknya larik mentari memperindah rona cakrawala saat kuncup fajar mulai merekah. Tanpa membuang waktu, sepasang kekasih itu pun menggelar sajadah, menunaikan kewajiban dan membawa sejuta harapan yang hendak dilantunkan kepada Sang Pemberi Cinta, Kehidupan dan Harapan.
Ruang serba putih berukuran 6 m x 8 m itu menjadi saksi kekhusyukan dalam shubuh dan setiap lantunan do'a yang terpanjat. Meskipun di rumah sakit, tak sedikitpun mengubah kebiasaan mereka dalam sholat berjama'ah, seperti hari-hari biasa yang sudah menjadi rutinitas mereka setiap gelap malam tersingkap berganti warna merah merekah di ufuk timur.
Setelah salam kedua, Ryan menengadahkan tangan meminta kepada Sang Pencipta, sebelum akhirnya bangkit menuju ranjang pasien tempat Rani mengamini setiap do'a yang terpanjat oleh imam yang sedari tadi memimpin sholat di depannya.
Rani mencium punggung tangan suaminya dengan takdzim dan seperti biasa Ryan mengecup ujung kepala istrinya dengan hangat. Tak lama, Rian menaikkan tubuhnya di ranjang kecil itu dan membiarkan istrinya bersandar pada dada bidangnya, dengan tangan yang melingkar erat pada pinggangnya.
"Mas, Rani mau pulang hari ini, boleh ya?" pinta Rani setengah merengek.
"Nanti Mas konsultasikan dengan dokter dulu," jawab Ryan datar. Dia betul-betul tahu jika tidak di rumah sakit, istrinya itu pasti tidak mau beristirahat di rumah.
Rani pun mengerucutkan bibirnya, namun akhirnya mengangguk dan kembali menenggelamkan kepalanya pada dada bidang suaminya yang kini ikut terbaring di sebelahnya itu.
"Apa kamu mau mengunjungi Tede lagi sebelum kita pulang nanti, Sayang?" tanya Ryan tiba-tiba.
Rani mendongakkan kepalanya melihat wajah suaminya. Mata mereka saling memandang, dengan arti tatapan masing-masing.
"Jangan bahas Tede lagi, seperti yang Mas Ryan minta untuk tidak membahas Meysie lagi. Jadi kita impas," jawab Rani sambil mengeratkan pelukannya.
"Iya, iya, Sayang. Terus Tante Safira gimana? Tidak enak kan, kalau kita tidak pamit?" tanya Ryan kemudian.
"Nanti Rani pamitan lewat telphon saja. Berarti Rani boleh pulang kan hari ini?" tanya Rani dengan mata berbinar.
"Hanya ketika dokter mengizinkan, Sayangku," jawab Ryan sambil mencubit hidung mancung istrinya dengan gemas.
Di dalam lubuk hatinya, Ryan cukup berbangga dengan cara Rani menyikapi masa lalunya di depan suaminya. Ryan tahu, istri kecilnya itu sangat ingin menjaga perasaannya.
***
Setelah drama tawar menawar dengan dokter, akhirnya Rani diperbolehkan pulang, dengan syarat di rumah harus banyak istirahat. Dan seperti biasa, Rani akan menyiyakan semua syarat asal keinginannya terpenuhi.
Dengan semangat, Rani bersiap dan ingin bergegas pulang. Ryan pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan istrinya yang seperti anak kecil.
__ADS_1
"Gimana nggak ngangenin kalau sikapnya selalu kayak gitu," gumam Ryan dalam hati. Senyum tipis tiba-tiba tersungging di bibirnya.
"Ayo Mas, Rani sudah nggak sabar pengen sampai rumah,"
"Memangnya mau ngapain di rumah?"
"Ada deh. Memangnya Mas Ryan nggak kangen apa sama Rani?"
Mendengar ucapan istrinya yang menggodanya itu, Ryan langsung bersemangat.
"Kalau begitu Mas ngebut biar segera sampai rumah. Mas sudah tidak sabar untuk memakanmu," ucap Ryan kemudian.
Mereka pun tergelak, bersamaan dengan pedal rem yang tiba-tiba ditekan ke dalam sehingga mobil mereka melaju semakin kencang.
Kring-kring...,
Tiba-tiba HP Rani berbunyi. Dilihatnya nama yang tertera di benda pipih itu, ternyata dari Tante Safira.
"Tede kenapa, Tante?" tanya Rani setelah suara Tante Safira di seberang sana menjawab dan mengatakan sesuatu.
Dan tiba-tiba tak terdengar percakapan mereka lagi. Handphone yang tadi menempel di telinga Rani terlepas begitu saja dan terjatuh. Butiran air bening itu pun segera mengalir deras dari ujung mata indahnya.
***
Dalam pesona sinar jingga, Ryan membiarkan istrinya menatap getir gundukan tanah basah di depannya, melepas kasih yang pernah menyapa dan telah pudar bersama takdir yang membawa Tede pergi dan tak akan pernah kembali lagi.
Rani terdiam, namun Ryan benar-benar tahu bahwa jiwanya sungguh terguncang. Tiga tahun hidup dalam kebencian kepada seseorang yang meninggalkannya bukan karena tak sayang, bukan juga karena benci yang menghadang. Tapi karena muara kasih yang tak mungkin lagi mengukir cerita indah di masa depan, tentu bukan hal yang mudah.
Meskipun Ryan tahu, air mata itu menetes bukan karena Rani sedang merajut serpihan kenangan atau menyusun kembali memori kebersamaan yang pernah ada, namun karena sesal akan kebencian yang sudah membutakan hatinya hingga tak mampu melihat ketulusan orang yang kini telah pergi jauh dari kehidupannya.
Entah kenapa, tiba-tiba dada Ryan terasa sesak.
"Kenapa ini? Pantaskah aku cemburu pada orang yang bahkan kini telah pergi dari dunia ini?" gumam Ryan dalam hati.
__ADS_1
Ryan mengusap kepala istrinya dengan lembut, kemudian mengulurkan tangannya agar Rani tidak terlalu larut dalam sesal yang mendalam.
"Kamu tidak apa-apa, Sayang?" tanya Ryan sambil mengeratkan genggaman tangannya.
Rani menghapus sisa air mata di pipinya, dengan senyum yang sedikit di paksa. Dia menggelengkan kepalanya, dan memandang lekat suaminya.
"Rani bukan hanya akan menjaga diri dari laki-laki lain, tapi juga akan menjaga hati ini dari memikirkan laki-laki lain," bisiknya lirih di telinga Ryan, seolah bisa memahami kegundahan suaminya yang telah merelakan Rani untuk menemui masa lalunya kembali.
Ada binar bahagia di mata Ryan mendengar kata-kata itu. Setidaknya ucapan Rani bisa menenangkan dan meyakinkan hatinya, bahwa masa lalu itu tak akan memberi celah apapun yang akan menodai cerita indah masa depan mereka.
***
Sejak mereka pulang dari pemakaman Tede, Ryan tidak banyak bicara. Dilihat dari sikap dan ekspresi wajahnya, seolah ada beban berat yang saat itu sangat mengganggu pikirannya.
Sungguh, Rani merasa serba salah dengan apa yang kini ada di hadapannya.
"Apakah Mas Ryan masih memikirkan aku dan Tede? Ahhh, padahal aku sudah berusaha setegar mungkin seolah tidak terjadi apa-apa dengan diriku saat tahu kenyataan yang sebenarnya. Tapi kenapa Mas Ryan masih berpikir seberat itu?" batin Rani dalam hati.
Rani pun mendekati suaminya yang kini sedang duduk bersandar di sofa kamar mereka dengan tangannya yang memijit ujung hidungnya.
"Mas Ryan kenapa? Apa masih kepikiran soal Tede?" akhirnya Rani memberanikan diri untuk bertanya. Jika suaminya mengiyakan pertanyaannya, Rani sudah bertekad akan mengatakan kepada suaminya tentang perasaan hatinya yang sebenarnya.
"Sebenarnya ada yang mau Mas tanyakan kepadamu. Tapi janji ya, kamu jawab dengan sejujur-jujurnya," ucap Ryan dengan ragu.
Mendengar ucapan Ryan, entah kenapa dada Rani tiba-tiba bergemuruh. Ada ketakutan disana, mencoba menebak apa yang akan keluar dari mulut suaminya.
"Apa yang mau dia tanyakan? Kenapa aku jadi takut begini?" gumam Rani dalam hati.
BERSAMBUNG
🌹🌹🌹
Terima kasih telah membaca cerita "Metafora Cinta Legislator Muda" dengan setia. Jangan lupa tinggalkan like, comment, rate 5 dan favorit ya..., terima kasih.
__ADS_1