
Ryan langsung mengunci pintu begitu sampai di ruang kerjanya. Bahkan sebelum Rani sempat duduk dan mengistirahatkan tubuhnya, Ryan sudah menarik tubuh Rani yang kian berisi dan menyandarkannya ke dinding dekat pintu itu.
Ryan menempelkan tubuhnya pada tubuh istrinya, hingga tak ada lagi jarak di antara mereka. Kedua tangannya dia tempelkan pada dinding, tepat di samping kanan dan samping kiri telinga Rani, hingga Ryan bisa membatasi gerak dari istri yang sedang dikungkungnya itu.
Ryan menatap kedalaman mata Rani dengan intens, hingga desiran di hatinya pun tiba-tiba hadir bagai terpaan angin yang bertiup perlahan. Seolah ada yang menyuruh, tiba-tiba saja Rani mendongakkan kepalanya, hingga matanya bertemu dengan sepasang mata yang sedang menatapnya seperti orang yang ingin menerkamnya. Rani berusaha tersenyum untuk menutupi gejolak hatinya yang meronta, dia pun berusaha membuang mukanya ke sembarang arah agar suaminya itu tak merasakan kegugupan yang dirasakannya.
Sungguh, Rani betul-betul tak mengerti, mengapa dia masih saja berdebar-debar jika berdekatan dengan suaminya, padahal mereka menikah sudah cukup lama. Bahkan, Rani masih sering malu dan merasa aneh dengan cara Ryan memandang dan memperlakukannya saat mereka akan bercinta.
"Hubby menginginkanmu. Selalu menginginkanmu," Ryan berbisik lirih, tepat di telinga Rani, hingga bisikan itu sukses membuat pori-pori kulit Rani membesar dan hatinya berdesir tak karuan.
Rani hanya menunduk malu, seraya menahan degupan jantungnya yang berdetak lebih kencang dari biasanya. Hingga akhirnya, Ryan meraih dagu Rani dan membuat istri kesayangannya itu membalas tatapannya. Selama beberapa saat, mereka terus bersitatap tanpa kata. Mereka membiarkan hati mereka berbicara dalam diam, dan merasakan getaran cinta yang terus berdesir dalam denyar nadi yang mengalir.
Ryan mendekatkan wajahnya, hingga bibirnya menempel pada bibir ranum milik istrinya. Ryan pun tak mau kesempatan itu sia-sia. Dia terus berselancar dan mengabsen setiap inchi rongga mulut istrinya, sampai-sampai aliran oksigen kesulitan untuk masuk dan menghambat nafas mereka.
Setelah puas beratraksi di sana, Ryan menurunkan tangannya, kemudian meletakkan tangan kanannya di tengkuk leher Rani dan meletakkan tangan kirinya di pinggang istri kesayangannya itu. Dia sedikit berjalan ke arah meja kerjanya, hingga Rani berjalan mundur mengikuti langkah suaminya tanpa melepaskan pagutan mereka.
Merasakan bahwa mereka telah sampai di salah satu sisi meja, Ryan mengangkat Rani dan membuat gadis yang sedang mengandung anaknya itu duduk di atas meja kerjanya. Berbagai atraksi pun mereka lakukan di sana, sebelum akhirnya Ryan menggendong tubuh istrinya dan menggelarnya begitu saja di atas sofa.
"By," suara Rani semakin parau, membuat Ryan bisa menangkap hasrat istrinya yang sudah tak mampu ditahannya.
Ryan pun segera melakukan atraksi terakhirnya, dan mereguk kenikmatan surga yang mampu menyempurnakan ibadahnya, juga memberikan nafkah batin kepada istrinya.
__ADS_1
"Terima kasih, Sayang," ucap Ryan sambil mengecup kening istrinya dengan sayang. Rani yang merasa selalu mendapatkan perlakuan istimewa dari suaminya itu pun hanya menatap suaminya penuh cinta sambil tersenyum penuh makna.
Setelah beristirahat sebentar, Ryan membopong tubuh istrinya ke kamar mandi dan membantunya membersihkan diri. Hingga lima belas menit kemudian, mereka keluar dari kamar mandi dengan wajah segar dan berbinar. Begitu mereka sudah tampil rapi kembali, Ryan membuka kunci pintu ruangan, sekedar berjaga kalau Arya atau anak buahnya yang lain datang untuk urusan pekerjaan.
Karena Ryan mulai sibuk dengan berkas-berkas di atas meja, Rani pun memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di atas sofa dan berselancar dengan ponsel canggihnya. Tak lupa, sebuah lagu dari dalam benda pipih itu dia putar untuk membuang rasa jenuhnya.
Tak seperti biasanya, Ryan merespon positif dengan apa yang dilakukan istrinya. Ryan terlihat manggut-manggut menikmati nada demi nada dari lagu yang terdengar indah dari ponsel Rani, bahkan dia terdengar bersenandung dan ikut menyanyikan lagu itu sesekali.
"Suara Hubby bagus, By," puji Rani, mendengar suaminya bernyanyi.
"Siapa dulu dong. Hubby ...," Ryan menjawab ucapan istrinya dengan bangga.
"Maulah. Gimana caranya?" sahut Ryan sambil tetap fokus pada berkas yang sedang ditandatanganinya.
"Mmm, suara Hubby sudah bagus, By. Tapi akan lebih bagus lagi kalau Hubby bernyanyi dalam hati. Ha-ha-ha-ha," Rani tergelak tanpa bisa berhenti.
Ryan yang menyadari bahwa istrinya itu sedang meledeknya pun tidak tahan untuk tidak mendekati dan mencubitnya dengan gemas.
"Nakal kamu ya," Ryan mencubit hidung istrinya.
"Ha-ha-ha-ha," Rani masih tak berhenti dari tawanya, hingga Ryan justru bernyanyi lagi dengan suara cempreng dan gerak tubuh sangat kaku dan terlihat lucu.
__ADS_1
"Hubby, jangan joget gitu ahh. Nggak malu apa?" Rani memukul bahu Ryan dengan kencang.
"Malu sama siapa?" Ryan seolah tak peduli.
"Ya sama Ranilah. Ninimal jaga image dikit gitu, By," sahut Rani.
"Buat apa jaga image sama istri sendiri? Orang kamunya aja sudah lihat semuanya dari Hubby. Tidak hanya luarnya, tapi juga dalamnya. Jadi nggak ada alasan lagi buat Hubby, malu-malu kucing seperti itu," Ryan terkekeh sambil melanjutkan senandung lagu itu dari mulutnya, dengan gaya tubuh menirukan penyanyi aslinya.
Hingga tiba-tiba, pintu terbuka dengan sendirinya. Arya dan Lena masuk, tepat saat Ryan sedang bernyanyi dan sedikit berjoget demi menggoda istrinya yang merasa geli dengan apa yang dilakukannya.
Arya dan Lena yang melihat adegan itu secara tidak sengaja pun membulatkan mata dan mulutnya, tak menyangka kalau Ryan bisa berbuat hal konyol jika sedang bersama istrinya.
Sementara Ryan yang kini sedang menjadi pusat perhatian, tiba-tiba membenarkan posisinya dan bertindak seolah sedang tidak terjadi apa-apa.
"Upz. Maaf. Maaf. Aku nggak tau kalau kalian sedang asyik-asyikan di sini. Sudah kubilang, kalau istrimu di sini kunci pintunya. Masih beruntung kalian hanya sedang bercanda. Kalau seperti waktu itu bagaimana?" celoteh Arya sambil menahan diri untuk tidak tertawa. Begitu juga dengan Lena.
"Cih, lama-lama kupindahkan kau ke cabang di Kota Y jika kau tak juga mau mengetuk pintu saat masuk ke ruang kerjaku," sahut Ryan sambil berjalan ke arah meja kerjanya, sementara Arya dan Lena justru mendudukkan diri mereka di atas sofa, tepat di samping Rani sedang bersantai di sana.
Rani yang melihat tingkah suaminya hanya tertawa tertahan, mendapati Ryan yang begitu natural jika sedang berdua dengannya, tapi akan berubah seratus delapan puluh derajad jika sedang berada di hadapan orang lain. Ya, bahkan Ryan begitu ja-im (jaga image) saat ada orang lain, apalagi dengan bawahannya.
BERSAMBUNG
__ADS_1