METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Penjelasan


__ADS_3

Warna gelap malam itu berangsur-angsur memudar, berganti dengan larik-larik mentari yang tetiba datang. Langit pun semakin membiru, seiring dengan irama rindu yang mulai bergelut di dalam kalbu.


"Ahhh," Rani mengambil nafas panjang, kemudian melepaskannya lagi secara perlahan. Dia kemudian sedikit menggeliat untuk merilekskan otot-ototnya yang terasa memberat, setelah semalaman tidur dengan beban pikiran yang hampir membuatnya merasa tak kuat.


Meski semua bukan hanya mimpi, tapi sakit itu sedikit terobati seiring dengan waktu yang terus berjalan. Setelah tidur sebentar, setidaknya pikiran Rani agak sedikit tenang, meski kemarahan akan sebuah kata pengkhianatan masih terus terngiang dalam ingatan.


Secangkir teh pun telah tersedia, begitu Rani membuka mata. Siapa lagi kalau bukan Dokter Dina yang menyiapkannya. Sebagai seorang sahabat juga seorang dokter, dia memang sangat mengerti dengan apa yang dibutuhkan Rani saat itu. Apalagi dengan kondisi Rani yang sedang hamil besar, membuat Dokter Dina betul-betul memahami bahwa yang dibutuhkan Rani adalah perhatian.


"Gimana, sudah lebih enakan?" tanya Dokter Dina, dengan beberapa lembar roti bakar di tangannya, juga beberapa selai aneka rasa yang bisa dipilihnya.


"Alhamdulillah lebih baik. Terima kasih," Rani sedikit memaksakan senyumnya.


"Makanlah, kau dan bayimu belum makan dari semalam," tutur Dokter Dina lembut. Bahkan kini dia menyodorkan piring berisi roti itu kepada Rani, juga secangkir teh yang telah dia sediakan sesaat tadi.


"Aku tak lapar," kilah Rani. Dia sungguh tidak berselera makan sama sekali. Perutnya terasa penuh, bahkan cenderung mual, hingga secangkir teh pun berusaha dia singkirkan.


"Ayolah, Ran. Sedikit saja. Demi putramu yang ada di dalam," Dokter Dina mencoba merayu sahabatnya itu sekali lagi.


"Din, please," Rani menatap Dokter Dina dengan mata sendunya, hingga Dokter Dina pun tak lagi tega untuk memaksa.


"Aku hubungi Pak Ryan, ya. Biar bagaimanapun kalian tetap harus bicara. Bisa jadi apa yang kamu lihat dan pikirkan, tak sejalan dengan kenyataan yang sebenarnya. Jadi, dengarkanlah dulu penjelasannya," ucap Dokter Dina lembut. Dia meletakkan roti dan teh yang masih berada di tangannya itu di atas meja, kemudian duduk dan menggenggam tangan Rani untuk sekedar menguatkannya.


"Wanita itu telah lama mengisi hatinya, Din. Dan ini bukan yang pertama. Ini untuk yang kesekian kalinya mereka ketahuan sedang bermesra. Bahkan, di depanku sendiri, mereka berpelukan erat, Din. Tak seperti sebelum-sebelumnya yang hanya saling menggenggam tangan. Mana ada berpelukan tanpa sengaja," air mata Rani meleleh.


"Mungkin ada alasan lain kenapa mereka sampai melakukannya," ucap Dokter Dina lagi.

__ADS_1


"Menurutmu, apa alasan seorang pria memeluk seorang wanita yang pernah dicintainya?" Rani memandang Dokter Dina dengan tatapan nanar.


Dokter Dina pun jadi bingung, harus berkomentar apa. Selain karena dia sendiri belum berumah tangga, dia tak berani memberi masukan karena tak tahu kondisi yang sebenarnya. Salah-salah, bisa-bisa dia sendiri yang kena masalah. Karna dia benar-benar tahu, siapa suami dari sahabatnya itu.


Hingga tiba-tiba ...,


"Sayang!" dari arah luar pintu kamar, Ryan tiba-tiba datang. Dokter Dina pun akhirnya keluar, membiarkan dua sijoli itu menyelesaikan segala permasalahan. Ketika Dokter Dina ke luar kamar, tempat itu sudah penuh dengan para penjaga dan pengawal, yang tak lain adalah anak buah Ryan, tak terkecuali Rudi dan Johan.


"Sayang," panggil Ryan sekali lagi. Kali ini Ryan mendekat dan berusaha memeluk Rani.


"Pergi dari sini! Rani nggak mau ketemu Hubby lagi! Pergi! Temui saja perempuan itu!" usir Rani. Hanya tatapan dingin dan penuh amarah yang Rani tunjukkan saat itu.


"Sayang, dengarkan Hubby dulu. Hubby bisa jelaskan semuanya. Yang kamu lihat itu tak seperti yang kamu pikirkan, Sayang. Tolong dengarkan Hubby, sekali ini saja," Ryan meraih tangan Rani dan menggenggamnya, tapi Rani menghempaskannya begitu saja.


Ryan langsung menarik tubuh Rani dan membuat istrinya berada dalam pelukannya. Rani terus memberontak, tapi dengan sekuat tenaga Ryan semakin mengeratkan pelukannya hingga Rani terus meronta.


"Kenapa Hubby setega itu sama Rani, By. Kalau memang Hubby tak mencintai Rani bilang saja, Rani akan pergi dari kehidupan Hubby selamanya. Kalau memang dari dulu hanya perempuan itu yang Hubby cintai, pergi saja Hubby dengan dia. Jangan ikat Rani seperti ini. Hubby jahat. Benar-benar jahat," Rani tak mampu mengendalikan emosinya. Bahkan tangannya sudah memukul-mukul tubuh Ryan dengan sekuat tenaga.


"Pukullah Hubby sepuasmu, Sayang. Hubby memang jahat. Hubby memang salah. Maafkan Hubby," Ryan terus mendekap Rani dengan erat, dan membiarkan istrinya itu memukulinya dan menumpahkan segala kesedihan dan kekecewaannya sampai puas.


Rani pun terus meronta dan menangis sejadi-jadinya di pelukan suaminya. Hingga tiba-tiba, Rani terdiam. Tangisnya berubah menjadi rintihan kesakitan.


"Aow," Rani meringis, merasakan sakit luar biasa di bagian perutnya.


"Kamu kenapa, Sayang?" Ryan mulai panik dan kelimpungan. Bahkan kini tangannya ikut memegang perut istrinya dengan sangat tegang.

__ADS_1


Mendengar Ryan berteriak, Johan pun langsung masuk dan melihat keadaan.


"Panggil Dokter Amanda!" titah Ryan dengan begitu tegangnya.


"Ada beberapa dokter yang tinggal di sini, Tuan. Salah satu di antara mereka ada yang dokter kandungan," sahut Johan tak bergeming.


"Kalau begitu tunggu apa lagi? Panggil mereka semua ke sini!" teriak Ryan dengan emosi yang sudah tak bisa dikendalikan.


Beberapa menit kemudian, Dokter Dina dan beberapa dokter yang tak lain adalah teman-teman Rani pun masuk ke dalam.


"Rani tidak boleh stress dan banyak pikiran, Pak Ryan. Apalagi dalam kondisi emosi dan bad mood seperti ini, akan sangat membahayakan janin juga ibunya," kata dokter itu yang diikuti oleh anggukan kecil dari kepala Ryan.


"Tolong tinggalkan Rani, By. Rani mohon," pinta Rani di sela-sela tangisnya.


Mengingat kondisi Rani dan janinnya, akhirnya Ryan mengalah. Dengan terpaksa, dia meninggalkan kamar Rani dan keluar dengan rasa bersalah yang terus menyelimuti hatinya.


Di luar, Ryan duduk tertunduk dengan segala rasa yang berkecamuk di dalam dada. Dia merogoh dan mengambil sebuah ponsel dari saku celananya, sebelum akhirnya berselancar dan terlihat menghubungi seseorang.


Ya, Ryan meminta Meysie dan Ega datang dan membantunya untuk menjelaskan semuanya kepada Rani. Untung saja Ega dengan senang hati bersedia membantu Ryan, dan berjanji akan sampai ke tempat itu dalam waktu beberapa menit ke depan.


Sekitar empat puluh lima menit berselang, yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang. Meysie berjalan masuk ke dalam ruangan sambil bergelayut manja di tangan Ega, sambil tersenyum ke arah Ryan.


"Syukurlah akhirnya kalian datang. Istriku ada di dalam," Ryan sampai berdiri menyambut kedatangan Ega dan Meysie.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2