METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Raja putra Dewangga


__ADS_3

Raja putra Dewangga. Ryan menyematkan sebuah nama untuk putranya. Nama itu sengaja Ryan pilih untuk sang putra mahkota, agar kelak dia bisa menjadi seorang pemimpin bagai seorang Raja yang memimpin negeri yang dimilikinya. Ya, nama yang dipilihnya tak lepas dari harapan besar Ryan kepada putranya.


Ryan percaya bahwa nama yang dia berikan akan membentuk kepribadian dan mempengaruhi perkembangan emosi dan sifat putranya, karena sadar atau tidak sadar, sebenarnya setiap orang akan terdorong untuk memenuhi citra yang terkandung dalam namanya.


Karena itulah, Ryan memanggil putranya dengan nama Raja, agar kelak dia memiliki citra positif tentang dirinya, dan menempatkan dirinya sebagai seorang pemimpin bagi keluarga, masyarakat, juga bangsanya.


Kehadiran Raja di tengah-tengah keluarga Dewangga juga menjadi magnet tersendiri bagi seluruh penghuni kediaman Dewangga, karena itulah di hari ke lima dia lahir ke dunia, pesta penyambutan pun sudah mereka siapkan untuk menyambut kedatangan keluarga baru mereka, yang memang sudah ditunggu-tunggu sejak awal kelahirannya.


Pagi itu, seluruh penghuni rumah sedang sibuk-sibuknya. Mulai dari menyulap kamar utama menjadi kamar bayi, mendekor ruangan untuk pesta, juga menyiapkan macam-macam hidangan yang akan memanjakan lidah mereka begitu sang Raja kecil benar-benar akan mulai membuat rumah itu penuh warna.


Naja yang hampir setiap hari minta diantar untuk menemui si Raja kecil di rumah sakit pun menjadi orang yang paling bersemangat karena tak perlu jauh-jauh lagi ke rumah sakit, untuk bisa bertemu dengan malaikat kecil yang telah membuat dia jatuh cinta sejak pandangan pertamanya.


Ya, Raja bagaikan candu bagi siapapun yang pernah menemuinya, apalagi menggendongnya. Hanya Rani saja yang masih belum begitu dekat dengan Raja kecil, meski kondisinya tak separah lima hari yang lalu tepat saat Rani harus bertaruh nyawa demi mengeluarkannya.


"Aku sudah tak sabar menunggu baby Raja pulang. Pasti setiap hari rumah ini akan ramai karena baby Raja jadi rebutan," Naja yang sedang bersiap di depan cermin, memastikan bahwa dirinya sudah rapi dan cantik untuk bergabung dengan pesta di bawah sana.


Daniel yang kini sudah bersiap dan duduk di sofa dengan sebuah buku bisnis di tangannya pun meletakkan bukunya dan menghampiri Naja, kemudian melingkarkan tangannya ke perut istrinya.


Sedetik kemudian, Daniel membalikkan tubuh Naja, dan puluhan kecupan mendarat manis di setiap inchi wajahnya.


"Hentikan, Sayang. Nanti makeup ku berantakan," Naja menggelinjang, tapi berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Daniel karena takut kebablasan.


"Biarin. Aku maunya cium kamu terus sih. Gimana kalau di lem aja, hemmm?," ucap Daniel sambil menempelkan bibirnya ke bibir istrinya.


"Halu aja sih, Yang?" cibik Naja sambil menggelengkan kepalanya.


"Habisnya, aku nggak bisa jauh-jauh dari kamu," kata Daniel lagi, saat kecupan mesra mendarat di mata kanan istrinya itu.

__ADS_1


"Kamu kesambet apa emang? Kok jadi suka ngegombal gini?" Naja masih tak mau masuk dalam jebakan suaminya.


"Kesambet bidadari turun dari kayangan,," sebuah kecupan di mata kiri pun meluncur dengan begitu indahnya.


"Hoek," Naja memanyunkan bibirnya.


"Ya ampun, Yang. Orang lagi romantis gini kok di hoek-horkin sih?" Daniel tak peduli. Kecupan mesra justru segera menempel di pipi kanan, pipi kiri, dan hidung mancung Naja.


"Biasanya kalau manis gini lagi ada maunya," Naja memastikan kebenaran ucapannya, dengan menelisik kedalaman mata suaminya.


"Tapi boleh kan?" Daniel menghentikan ucapannya, begitu bibirnya berada tepat di depan bibir ranum milik istrinya.


Naja mengerutkan keningnya, mencoba mencerna ucapan Daniel kepadanya.


"Apa?"


"Jangan pura-pura nggak tahu gitulah, Yang," ucap Daniel, kemudian berselancar mengabsen setiap inchi rongga mulut Naja dengan mahirnya.


"Tapi, Yang. Kalau mereka datang kita belum di sana gimana? Nggak enak ngamar di jam-jam seperti ini," protes Naja dengan nafas yang sudah tak beraturan.


Daniel tak menghiraukan perkataan istrinya. Dia justru semakin mendekat. Digelarnya begitu saja tubuh istrinya di atas peraduan mereka, membuat hasrat keduanya tak mampu mereka kendalikan lagi.


Daniel segera melepaskan dua kain berenda yang tersisa dengan hasratnya yang menyala-nyala, dan melemparkannya ke sembarang arah hingga tubuh polos itu tak punya sehelai benang pun yang tersisa.


Naja sempat menyilangkan kedua tangannya di depan dada, hingga bukit indahnya bisa dia tutupi dari suaminya. Tapi dengan buru-buru, Daniel segera melepas tangan itu dan meletakkan dua tangan istrinya di atas kepalanya sendiri.


Daniel memegang dua tangan Naja dengan tangan kirinya agar tak berpindah posisi, sementara tangan kanannya aktif melepas helaian benang yang masih juga menutupi dirinya yang sebenarnya sudah sangat rapi. Tak perlu waktu lama, helaian benang itu pun bernasip sama dengan pakaian Naja yang lainnya, dan segera terhempas ke lantai begitu saja.

__ADS_1


Daniel mulai merayap dan membuat stempel kepemilikannya di beberapa tempat. Mendapat perlakuan suaminya yang lebih menggelora dari sebelum-sebelumnya, Naja pun mulai mendesah, hingga ceracau tak jelas pun lolos dari mulutnya begitu saja. Setelah puas bermain-main di area favoritnya, baru mereka melakukan atraksi yang sesungguhnya, hingga mereka berdua terkulai tak berdaya.


Dalam lelah, Daniel terus melengkungkan bibirnya, memikirkan kembali pertempuran sengit di antara mereka berdua. Mengingat itu, membuat hasrat kelaki-lakiannya kembali membara dan meronta-ronta, padahal baru beberapa menit yang lalu mereka selesai melakukannya.


Lain dengan Daniel yang sudah terjaga lagi setelah melakukan perhelatan yang panjang, mata Naja justru masih saja terpejam. Selain karena dia kelelahan dan tubuhnya remuk redam, akhir-akhir ini memang Naja lebih suka tidur dan merasa kantuk berkepanjangan.


Melihat kelakuan istrinya yang selalu tampak menggemaskan itu, Daniel segera duduk di samping ranjang dan mengelus puncak kepala Naja dengan sayang.


"Mandi lagi, Yang. Sebentar lagi baby Raja datang," ucap Daniel dengan penuh kehangatan.


"Ngantuk," sahut Naja tanpa mau membuka matanya.


"Kamu kan sudah tidur terus semalaman. Kok masih ngantuk aja sih? Akhir-akhir ini kamu jadi suka banget tidur loh," oceh Daniel sambil terus menggoyang-goyangkan tubuh Naja.


Dengan terpaksa, Naja pun membuka matanya dan akhirnya membersihkan dirinya lagi agar segera bisa bergabung dengan yang lainnya.


"Uwuw, pengantin lama kayak pengantin baru aja," cicit Arya sambil bersiul di depan Daniel dan Naja.


"Berisik," sahut Daniel, tanpa melihat ke arah Arya.


"Kalau Kakak mau seperti mereka bilang aja. Enggak usah resek gitu ahh," Lena yang mendengar ucapan suaminya, segera nimbrung dan menggamit lengan Arya.


"Maulah, mau banget malah," sahut Arya, hingga semua orang yang mendengarnya langsung tertawa, memenuhi seluruh sudut ruang dengan begitu gaduhnya.


Sepuluh menit kemudian, yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang. Baby Raja masuk dalam gendongan Ryan, sementara Rani hanya mengekor dari belakang.


Suasana riuh pun kini memenuhi seluruh sudut ruang, membuat suasana kediaman Dewangga menjadi semakin ramai dengan kehadiran Raja.

__ADS_1


Lalu, sudah bisakah Rani menerima kehadirannya?


BERSAMBUNG


__ADS_2