
Johan terus memandangi gadis yang kini terbaring lemah di depannya dengan tatapan datar. Sesaat kemudian, dia melirik pria yang telah terlelap di sofa ruang perawatan itu, kemudian matanya pun berlari menuju jam dinding yang terpampang gagah di salah satu sisi tembok ruang.
"Gadis ini benar-benar selalu merepotkan," gumam Johan dalam hati.
Bagaimana tidak? Masih tergambar jelas dalam ingatan Johan, ketika Nina membuat dia harus menangani kasus Diego dan Charles, juga membuat tuannya kehilangan sebuah Cafe di Bali kala itu. Bahkan saat Johan membantu Charles melarikan diri, dia hampir tertembak saat bersiteru dengan Arya dan anak buahnya, dan semua itu berawal dari kelakuan gadis yang kini sedang tak berdaya dengan luka tusukan dan tubuh penuh ruam-ruam merah akibat racun di tubuhnya.
"Tapi nasibmu memang selalu beruntung, Gadis Kecil. Waktu itu Nona Rani menyelamatkanmu, bahkan selama ini memungutmu dan menjadikanmu bagian dari keluarganya. Dan saat ini pun, dengan racun yang hampir menjalar ke seluruh tubuhmu, aku bisa membawamu ke rumah sakit tepat waktu dan menyelamatkan nyawamu," batin Johan.
Johan pun tersenyum getir mengingat bagaimana dia dan Rudi sampai bertaruh nyawa demi menyelamatkan Nina. Dan ternyata aksi kebut-kebutan mereka di jalan sebelum mereka sampai ke rumah sakit itu membuahkan hasil. Mereka bisa sampai di rumah sakit pada waktu yang tepat, hingga Nina bisa selamat.
"Untung kalian segera membawa gadis ini ke rumah sakit. Lima menit saja kalian terlambat, mungkin racun akibat tusukan pisau yang melukai perutnya sudah menyebar dan bisa jadi nyawa gadis ini tak akan lagi bisa terselamatkan," Johan mengingat-ingat perkataan dokter saat di IGD tadi.
***
Berbeda dengan kondisi Nina yang sudah relatif stabil, kini Meysie masih berjuang untuk tetap hidup di ruang operasi.
Ya, masih beruntung peluru itu tidak mengenai organ vital dalam tubuhnya, sehingga harapan hidupnya masih besar. Jika tidak, mungkin cerita hidupnya kini sudah berakhir.
"Apa yang terjadi?" tanya kedua orang tua Meysie kepada Hengky, begitu mereka sampai ke rumah sakit.
Hengky pun menceritakan apa yang terjadi kepada orang tuanya, mulai sejak Meysie dan Ryan masih bersahabat dan akhirnya saling cinta, hingga saat mereka terpisah karena drama perjodohan yang menjadi skenario orang tuanya. Hengky juga terlihat sangat serius saat menceritakan bagaimana terlukanya hati Meysie ketika harus menerima kabar pernikahan orang yang sangat dia cintai, tepat di saat Meysie memutuskan untuk kembali. Dan semua cerita Hengky ini membuat kedua orang tuanya cukup terperanjat, mengingat mereka tidak pernah mengetahui cerita itu sebelumnya.
Sungguh, kini segala penyesalan benar-benar sang Ayah rasakan. Bahkan jika boleh memilih, Tuan Atmaja, ayah Hengky dan Meysie tidak akan pernah menjodohkan Meysie dengan lelaki manapun jika tau kejadiannya akan menjadi sekacau ini.
"Apa yang harus kita lakukan?" gumam Tuan Atmaja lirih.
__ADS_1
Hingga ketika seluruh keluarga Atmaja larut dalam pengembaraan pikirannya masing-masing, lampu warna merah di atas pintu ruang operasi yang sudah hampir 5 jam menyala, akhirnya mati tanda operasi telah selasai.
Tak berapa lama seorang dokter pun segera keluar dan menemui seluruh keluarga Meysie juga polisi yang kini tepat berada di depan ruang operasi itu.
"Bagaimana kondisi putri saya, Dok?" tanya Tuan Atmaja begitu dokter sampai di hadapan mereka.
"Alhamdulillah operasi berjalan dengan lancar. Tapi ...," dokter itu terlihat ragu.
"Tapi apa, Dok?" serasa tak sabar, Nyonya Atmaja ingin segera mendengar dokter itu melanjutkan ucapannya.
"Tapi dengan sangat menyesal, saya harus mengatakan bahwa putri Anda saat ini dalam kondisi koma," lanjut dokter itu dengan segala rasa sesal yang menyeruak di dalam dadanya.
"Koma? Sampai kapan kakak saya akan dalam kondisi seperti itu, Dokter?" Hengky menyahut.
***
Empat hari telah berlalu, Meysie masih tak bergeming dan berada dalam ruang ICU. Ya, setiap penderita koma memang wajib dirawat di ruang ICU, agar kondisinya dapat terpantau secara intensif. Hal yang sama juga berlaku untuk Meysie, yang sampai saat ini masih belum juga sadarkan diri.
Menurut dokter yang menangani Meysie, hal yang dialami Meysie wajar, mengingat koma merupakan tingkatan paling dalam ketika seseorang tidak sadarkan diri. Bahkan seperti yang dialami kebanyakan pasien koma, Meysie sama sekali tidak dapat merespons terhadap lingkungan sekitarnya, tidak melakukan gerakan apapun, tidak mengeluarkan suara, apalagi membuka mata, meskipun Hengky sudah mencoba mengajak berbicara dan mencubit tangan kakaknya untuk memberikan rangsangan terhadap tubuhnya sesuai saran yang diberikan dokter kepada mereka.
Bahkan kini, Meysie dipenuhi kabel-kabel yang dipasangkan di beberapa bagian tubuhnya. Alat bantu pernapasan terlihat menutupi mulut dan hidungnya agar laju pernapasannya dapat terjaga, di bagian tangan kirinya dipasang selang makan dan infus untuk memasukkan nutrisi dan obat-obatan yang dibutuhkannya, selain itu dokter juga memasang kateter urine serta monitor denyut jantung untuk memantau perkembangannya.
Hingga suatu saat, tiba-tiba mata Tuan Atmaja membulat.
"Ry ... Ryan," sebuah suara keluar dari mulut Meysie.
__ADS_1
"Ryan," kata yang sama keluar, namun mata Meysie masih saja terpejam.
Tuan Atmaja yang saat itu sedang duduk di samping ranjang pasien pun segera berlari keluar dan meminta Hengky yang berada di luar bersama ibunya agar memanggil dokter untuk memberitahukan bahwa Meysie mengeluarkan suara kemudian kembali tak sadarkan diri.
Tak lama, dokter dan beberapa perawat menghambur dan memeriksa kondisi Meysie.
"Bisakah Anda pertemukan dengan orang yang disebut-sebut oleh pasien, Tuan? Dengan rangsangan suara atau sentuhan dari seseorang yang saat ini sedang dalam pikirannya kemungkinan akan sangat membantu memulihkan kesadarannya," tutur dokter itu dengan sangat serius.
"Tapi dokter, kami tidak yakin bisa menghadirkan pria itu mengingat semua yang telah putri kami lakukan kepadanya. Tidak adakah cari lain yang bisa kita lakukan, Dokter?" sahut Tuan Atmaja, sembari mengedarkan pandangan ke arah Hengky dan polisi yang sedang ditugaskan untuk berjaga.
"Kami sudah melakukan tindakan sesuai apa yang seharusnya kami lakukan. Sejauh ini, respon pasien sangat lambat terhadap beberapa obat yang kami suntikkan. Namun, melihat kali ini pasien menyebut nama seseorang, kami menyimpulkan bahwa kemungkinan jika orang yang disebut-sebut pasien dapat dihadirkan, mampu merangsang kesadaran pasien dari tidurnya yang panjang," jelas dokter itu penuh harap.
"Baiklah akan kami coba, Dokter," jawab Tuan Atmaja sambil menghela nafas panjang.
Setelah itu, dokter kembali berlalu. Tinggallah Tuan dan Nyonya Atmaja bersama Hengky dan seorang polisi itu.
"Temuilah Ryan dan bantu kakakmu!" pinta Tuan Atmaja penuh harap. Sorot matanya menunjukkan permohonan yang tulus kepada Hengky, satu-satunya putra yang saat ini benar-benar sangat diharapkannya.
"Tapi bagaimana mungkin, Pa?"
BERSAMBUNG
💖💖💖
Jangan lupa rate 5, like, juga vote dan comment positifnya. Terima kasih.
__ADS_1