METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Akhir Kisah Tuan Atmaja (Part 1)


__ADS_3

Waktu terus mengalir bagaikan air, jiwa-jiwa manusia pun melangkah mengemas takdir masing-masing. Sekuntum kamboja berguguran, lalu angin pun menghempaskannya ke pintu kubur. Adakah jarak antara hidup dan mati? Semua sungguh tak ada batas, bagai dua denyar nadi yang denyutnya berasa, dan satu denyut lagi terhempas begitu saja.


"Innalillahi wa inna ilaihi roji’un, Allahumma ajirhum fii mushibatihim, wa akhlif lahum khoiron minha. Sesungguhnya kita milik Allah dan sungguh hanya kepada-Nya kita akan kembali. Ya Allah, berilah mereka pahala dalam musibah mereka dan berilah ganti yang lebih baik," ucap Rani setelah menutup mulutnya yang membulat seketika, mendengar kabar yang sangat begitu mengejutkannya.


"Bagaimana ini semua bisa terjadi?" Ryan yang juga kaget dengan jawaban Hengky pun tak mampu menahan rasa keingintahuannya.


***


Flashback


Di balik jeruji besi itu, ingatan Atmaja mengembara pada kisah demi kisah usang yang hadir bagai sebuah slide yang berputar-putar. Matanya tiba-tiba menggenang, menyadari waktu yang berlalu tak bisa terulang.


"Andai waktu bisa kutebus," gumam Atmaja lirih.


Kini rasa sesal di hatinya mampu membakar hangus kekhilafan yang sempat memberangus akal sehatnya. Besi hitam yang berjejer rapat di depannya itu pun, bukan hanya menutup kebebasannya untuk menikmati dunia luar, tapi juga membuat Atmaja benar-benar merasa menjadi seorang pendosa.


Selama berada dalam masa hukuman, Atmaja terus larut dalam kesedihan. Kabar bahagia dari Hengky yang akhirnya mampu menemukan tambatan hatinya, juga putri kesayangannya yang kini juga telah bahagia bersama suami yang sangat mencintainya, nyatanya tak juga mampu membuat dia bangkit dari keterpurukannya di balik jeruji besi yang kini mengungkung kebebasan hidupnya.


Ya, dia terus merasa berdosa dengan kebusukannya yang bahkan telah menghilangkan nyawa seorang anak manusia yang belum punya dosa. Bahkan penglihatan Daniel pun hilang karena kejahatan yang telah dilakukannya.


"Masih adakah kata pengampunan?" batin Atmaja meronta.


Di tempat itu, pagar besi berdiri menjulang, menutup indahnya cinta dan kebebasan. Hanya rasa rindu yang kini tak tertahan, bersama senyap dalam kesendirian. Kini, hati Atmaja seolah beku tak bernyawa. Kali ini dia benar-benar tersadar, bahwa kebebasan mutlak hanyalah milik dari Sang Maha Pencipta.


"Aku harus bangkit dari keterpurukan ini. Bukankah ada masa depan?" Atmaja mencoba untuk menyemangati diri.


Tapi semakin dia mencoba, semakin terpuruk pula hati Atmaja. Lingkaran sepi dibalik jeruji besi itu, betul-betul mampu merajai hati yang bahkan kini menabur rasa sesal bersamaan dengan diri yang menjadi mudah tergugu. Kini, hanya tarian dosa yang tertawa di dalam dirinya, membuat hidupnya dirajai oleh nestapa.


Hingga sore itu, dadanya terasa sesak tiba-tiba. Atmaja terus memegangi dadanya, akibat nyeri yang tak lagi mampu ditahannya.


"Tolong! Tolong! Tuan Atmaja sakit!" teriak tahanan lainnya, yang kebetulan berada dalam satu ruang dengan Atmaja. Dia menangkap tubuh ringkih pria setengah baya itu, sambil menunggu para penjaga datang dan memberikan pertolongan kepadanya.


***

__ADS_1


Di waktu yang sama di tempat yang berbeda, Hengky tengah terengah bersama istri kesayangannya. Lain dengan Johan yang jarang menyapa dan menyentuh Nina karena kesibukannya, Hengky selalu punya cara untuk selalu membuat istri yang secara mendadak dia nikahi itu berada dalam kungkungannya. Bahkan istrinya yang sudah merajuk karena Hengky tak juga melepaskannya setelah mereka bermain berkali-kali pun tak Hengky hiraukan, hingga sebuah gedoran keras dari balik pintu akhirnya memaksa Hengky untuk turun dari tempat favoritnya.


"Hengky! Fisha! Bisakah Mama masuk, Nak?" seru Nyonya Atmaja sambil terus menggedor pintu kamar Hengky dan Fisha.


"Iya, Ma. Bentar," jawab Hengky sambil bersungut kesal. Dia segera turun dan memunguti pakaiannya yang sudah berserakan di lantai, sama berantakannya dengan ranjang yang selalu menjadi tempat mereka saling mereguk kenikmatan.


Fisha hanya tersenyum melihat suaminya yang terus menggerutu karena kegagahannya terganggu. Dengan secepat kilat, Fisha ikut turun dan berlari ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri, sebelum mama mertuanya menyadari apa yang baru saja mereka lakukan sesaat tadi.


Ceklek.


Hengky membuka pintu. Kini di hadapannya, ibunya sudah berdiri dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Mama kenapa, Ma?" tanya Hengky, kaget dengan kondisi mamanya yang terlihat sangat sedih berada di depannya.


"Papa masuk rumah sakit, Nak. Serangan jantung. Sekarang Papa di ICU," kini Nyonya Atmaja tak mampu menahan bulir bening itu menetes dari pelupuk matanya.


"Mama tenang, ya. Kita langsung ke sana, Ma. Mama siap-siap, sebentar lagi kita berangkat," ucap Hengky, sambil mengusap punggung ibunya.


Setelah sang ibu berlalu dari hadapannya, Hengky menutup pintu dan langsung menyusul Fisha ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


"Jangan berpikiran mesum melulu dong, Sayang. Kita pasti akan melakukannya lagi tapi tidak sekarang. Cepatlah selesaikan mandimu, kita harus ke rumah sakit sekarang juga," sahut Hengky yang langsung ikut mandi bersama Fisha di bawah shower dan membersihkan tubuhnya.


"Ke rumah sakit?" tanya Fisha sambil mengoleskan sabun dan menggosok punggung suaminya.


"Hmmm, Papa terkena serangan jantung. Sekarang di ICU. Ayo, percepatlah mandimu. Jangan lupa berdo'a dan mandi besarlah. Kemungkinan kita akan tinggal di rumah sakit selama beberapa lama," titah Hengky yang langsung dijawab dengan sebuah anggukan oleh Fisha.


Fisha pun langsung mengambil air wudhu, sebelum akhirnya berkomat-kamit melafazkan do'a dan segera mandi janabah untuk mensucikan kembali dirinya dari hadats besar akibat aktifitas yang baru saja dia lakukan bersama suaminya. Setelah dirasa seluruh tubuhnya terbasahi dengan air tanpa ada yang terlewat sama sekali, Fisha keluar kamar mandi meninggalkan Hengky yang sedang mengucap do'a dan menghilangkan hadats besarnya juga.


***


Tak butuh waktu lama sampai Hengky dan Fisha menyelesaikan ritual mandi besarnya. Mereka bergegas menghampiri Nyonya Atmaja di kamarnya, dan langsung berangkat menuju rumah sakit dengan tergesa-gesa, tak sabar ingin segera melihat kondisi Tuan Atmaja yang sudah pasti sedang menunggu kedatangan mereka bertiga.


Setelah perjalanan kurang lebih dua puluh menit, akhirnya mereka sampai juga. Ketiganya bergegas turun, begitu mobil telah terparkir dengan sempurna. Hengky meraih tangan ibunya, dan menggandengnya saat setengah berlari menyusuri lorong demi lorong rumah sakit itu, diikuti Fisha di belakangnya yang berjalan dengan cepat mengikuti langkah suami dan ibu mertuanya.

__ADS_1


Dengan nafas tersengal, ketiganya tak menyerah dengan panjangnya lorong yang menghadang. Mereka sudah sangat hafal dengan tempat itu, karena beberapa bulan Meysie juga di rawat di kamar ICU dimana saat ini Tuan Atmaja telah menunggu.


"Apakah keluarga Tuan Atmaja sudah datang?" tanya dokter yang baru saja keluar, menghampiri dua orang polisi yang sedang berjaga di luar ruangan.


"Kami, Dok," Hengky yang mendengar pertanyaan dokter itu dari kejauhan, langsung menyahut dan menghampiri mereka dengan penuh ketegangan.


"Syukurlah, Anda sudah datang," tutur dokter itu lega.


"Bagaimana kondisi papa saya, Dokter?" Hengky tak mampu menyembunyikan rasa khawatirnya.


"Ayah Anda terkena serangan jantung, Tuan," dokter itu terlihat menarik nafas panjang.


"Tapi terakhir saya menemuinya, Papa baik-baik saja, Dokter. Tidak ada hal-hal yang membuat dia terkejut juga bukan?" ucap Hengky pada dokter itu, kemudian memandang dua orang polisi yang menjaga ayahnya dengan tatapan penuh tanya.


"Terakhir, kondisi Tuan Atmaja baik-baik saja. Bahkan menurut petugas yang berjaga, beliau masih mengikuti kegiatan keagamaan di lembaga pemasyarakatan seperti hari-hari biasanya. Walaupun ...," kalimat salah satu dari polisi itu menggantung.


"Walaupun apa, Pak?" tanya Hengky tidak sabar.


"Walaupun menurut teman yang berada dalam satu ruangan dengan beliau, akhir-akhir ini Tuan Atmaja terlihat murung dan seperti banyak pikiran," lanjut polisi itu menjelaskan.


"Jadi begini, Tuan Hengky. Kondisi stres yang tidak dapat ditangani dengan baik memang dapat memicu banyak dampak buruk untuk kesehatan, termasuk menyebabkan seseorang rentan mengalami serangan jantung. Jadi, sangat dimungkinkan bahwa serangan jantung yang tiba-tiba itu diakibatkan kondisi stres yang dialami ayah Anda, Tuan Hengky," jelas dokter itu panjang lebar.


"Lalu, bagaimana kondisi suami saya sekarang, Dokter?" Nyonya Atmaja sudah merasa tak sabar.


"Belum stabil untuk saat ini, Nyonya. Tapi kami akan berusaha," jawab dokter itu sedikit lesu.


"Apakah kami boleh menemuinya?" sahut Nyonya Atmaja lagi, sudah penuh dengan derai air mata.


"Untuk itulah saya mencari Anda semua. Tuan Atmaja menanyakan kalian bertiga, dan ingin Anda semua segera menemuinya di dalam sana," jawab dokter itu dengan ekspresi yang sangat sulit diartikan dengan kata-kata.


Tak mau menunggu lama, Nyonya Atmaja, Hengky dan Fisha pun segera masuk dan menemui Tuan Atmaja. Begitu mereka masuk, mereka benar-benar tak tega melihat pria yang biasanya terlihat sangat gagah itu tiba-tiba terbaring lemah di sana.


"Papa!"

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2