
Johan merebahkan dirinya di atas sofa panjang dekat jendela kamarnya. Setelah semalaman tidak tidur karena harus mencari Rani di seluruh penjuru kota, sinyal yang ditunjukkan anggota tubuhnya menuntut agar sejenak Johan bisa beristirahat untuk memenuhi hak raganya, yang sudah memberi isyarat agar dia bisa tidur walau sebentar saja.
Nina yang waktu itu sedang berada di dapur bersama Bik Tum pun langsung menyusul suaminya begitu sadar bahwa Johan melangkah masuk, dengan muka yang terlihat sangat capek dan mata sayu yang tak mampu disembunyikannya.
Nina langsung mendekati suaminya begitu masuk dan melihat Johan sudah mulai memejamkan mata. Dengan telaten, Nina membantu Johan melepaskan sepatu dan pakaian formalnya, agar dia bisa beristirahat lebih nyaman.
"Sayang, apa yang kamu lakukan? Aku bisa sendiri, jadi jangan pernah coba-coba lakukan hal itu lagi. Aku menikahimu untuk membahagiakanmu, bukan menjadikanmu sebagai pembantu," Johan terlihat kaget begitu Nina mulai melepas sepatu yang dikenakannya. Hingga dengan spontan, dia langsung menarik kakinya menjauhi Nina yang sudah bersimpuh di lantai, tepat di depan sofa.
"Sayang, bukan begitu. Kau terlihat sangat capek, jadi akan lebih baik jika kau melepas sepatumu dan mengganti pakaianmu. Akan lebih baik lagi jika kau mandi dulu sebelum kau mengistirahatkan tubuhmu. Kau belum mandi sejak semalam, Sayang. Aku tak mau kau memelukku jika tubuhmu masih bau seperti itu," cicit Nina sambil menutup hidungnya.
"Sekarang saja bilang nggak mau dipeluk. Giliran jablai (jarang dibelai), ngambek," goda Johan sambil melepaskan sepatunya sendiri.
"Mana ada seperti itu?" Nina mulai memanyunkan bibirnya. Mukanya sudah memerah, menahan malu akibat ledekan suaminya.
"Yang kemarin sampai nangis-nangis siapa? Pakai ngancem-ngancem mau pergi lagi," Johan terus meledek istrinya. Melihat Nina yang semakin cemberut dengan muka merona seperti yang saat ini dilihatnya, membuat rasa lelah dan kantuknya hilang seketika.
"Kan sudah aku jelasin, bukan hanya karna hal itu," Nina berdecak kesal.
"Tapi benar kan, salah satunya karena itu?" Johan terkekeh sambil masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Sayang, bukan begitu. Kau harus dengarkan aku dulu," Nina yang melihat Johan tertawa begitu lepasnya, semakin kesal dan mengejar suaminya.
Klik.
Sebelum Nina berhasil mengejarnya, tiba-tiba terdengar suara kunci diputar dari dalam.
"Ihh, Sayang," merasa suaminya kali ini menang, Nina pun dengan sabar menunggu sampai suaminya keluar.
Sepuluh menit kemudian, Johan pun terperanjat kaget mendapati Nina sudah berdiri tepat di depan pintu begitu dia keluar.
__ADS_1
"Perjelas dulu soal yang tadi," rengek Nina kepada Johan.
"Ya ampun, Sayang. Kau tak lihat aku masih setengah telanjang seperti ini? Setidaknya biarkan aku berpakaian dulu, dong. Atau kau sengaja mau ...," sebelum Johan melanjutkan kalimatnya, Nina sudah menyela.
"Tidak. Tidak. Biar aku ambilkan baju gantimu," sela Nina, mengetahui arah pembicaraan suaminya.
Johan pun hanya terkekeh melihat tingkah istrinya. Di usianya yang masih belasan tahun, terkadang Nina sangat dewasa, tak seperti pemikiran gadis-gadis seusianya. Tapi jika sifat kekanak-kanakannya sedang kambuh, dia akan berubah menjadi luar biasa manja.
Nina langsung balik kanan, tak menghiraukan ledekan suaminya. Dia bermaksud menuju lemari untuk mengambilkan baju ganti, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti.
Kepalanya mendadak berat, dadanya pun sedikit terasa nyeri. Nina meringis kesakitan, sambil memegang kepalanya yang sudah berdenyut kencang.
"Sayang!" Johan bergegas menghampiri Nina dan merengkuh tubuhnya.
"Kamu kenapa?" tanya Johan sambil menggotong istri kecilnya itu dan membaringkannya ke tempat tidur.
"Kepalaku sakit sekali," keluh Nina, sambil menangis karena tak tahan dengan nyeri di kepala yang terus berdenyut tanpa jeda.
Sebenarnya ini bukan kali pertama Nina merasakan sakit yang sama. Sejak beberapa pekan terakhir, Nina memang sudah sering merasakannya. Tapi karena takut jika suaminya jadi terlalu memikirkannya, akhirnya Nina memilih untuk diam saja, dan meminum obat yang sempat dibelinya melalui ojek online dengan aplikasi di handphone-nya.
"Sabarlah sebentar, aku panggil Dokter Amanda," Johan langsung meraih ponselnya dan segera melakukan panggilan dengan dokter keluarga Dewangga.
Nina tak protes sama sekali mendengar nama Dokter Amanda. Meski dia adalah seorang dokter kandungan, toh spesifikasi dokter umum sebelum dia mengambil pendidikan spesialisnya, dia juga sudah menguasainya.
Johan langsung mengenakan pakaiannya, kemudian mengambil posisi duduk di samping istrinya sembari menunggu kedatangan Dokter Amanda. Bahkan karena begitu khawatirnya, Johan berkali-kali menyentuh kepala Nina dengan telapak tangannya, lalu menempelkan keningnya sendiri ke kening Nina untuk mengecek suhu tubuhnya.
"Kau tidak demam, Sayang. Lalu kenapa kamu bisa pusing seperti ini? Apa kau jatuh atau salah makan?" Johan terlihat begitu panik.
"Aku nggak papa, Sayang. Nanti juga sembuh. Beberapa kali aku sakit kepala seperti ini, lama-lama sembuh sendiri," jawab Nina di sela-sela rintihannya.
__ADS_1
"Apa? Beberapa kali sakit seperti ini dan kau diam saja? Kenapa kau tak bilang kepadaku, heh? Kalau bahaya bagaimana?" Johan panik, hingga ucapannya sudah terdengar seperti teriakan untuk Nina.
"Maaf," lirih Nina, dengan air mata yang sudah mengalir deras di pipinya.
"Kenapa minta maaf? Maafkan aku. Aku hanya begitu panik melihat kau sakit seperti itu," Johan langsung naik ke atas ranjang dan merengkuh Nina ke dalam pelukan.
"Sabar ya, Sayang. Sebentar lagi Dokter Amanda datang. Apa sakit sekali?" Johan melembutkan suaranya dan mencium kening istrinya beberapa kali. Di elusnya kepala Nina penuh cinta, seolah dengan cara itu bisa sedikit mengurangi sakitnya.
Untung saja Dokter Amanda segera datang, setelah beberapa kali ketukan terdengar dari dalam kamar.
"Apa yang terjadi? Kenapa Dokter Amanda tiba-tiba di panggil ke sini?" Aghata dan Davina yang berada di ruang keluarga saat Dokter Amanda datang, ikut masuk ke kamar Johan.
"Nina sakit kepala. Beberapa kali dia sakit seperti ini, tapi tidak pernah bilang kepadaku," Johan bangkit dari duduknya
"Jangan-jangan hamil?" celoteh Davina, yang langsung mengagetkan semua orang yang ada di sana, termasuk Nina.
"Hamil?" tiba-tiba ekspresi Johan berubah menjadi girang.
"Aku kan melakukannya baru akhir-akhir ini. Apa bisa hamil dan menampakkan gejala secepat ini. Atau jangan-jangan, saat malam pertama kami melakukannya langsung jadi? Ya Tuhan," batin Johan sambil senyum-senyum sendiri.
"Coba saya periksa dulu," ucap Dokter Amanda dengan tenang. Dia mendekati Nina, dan memintanya untuk mengulurkan tangannya agar Dokter Amanda bisa mengecek kondisi kesehatan Nina. Setelah mengecek tangan Nina dengan teliti, Dokter Amanda beralih memencet beberapa bagian perut Nina, juga mulut dan matanya.
"Bagaimana kondisi Nina, Dok?" tanya Johan dengan khawatir.
BERSAMBUNG
Hai Kak, Yuk baca karya terbaru aku.
__ADS_1