METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Apa Sih Yang Enggak Buat Istri Hubby?


__ADS_3

"Rani pengen yang asem dan seger, By. Bisakah Hubby cariin rujak bebek untuk Rani?" pinta Rani dengan binar mata penuh harap.


"Beneran rujak, Sayang?" Ryan memastikan. Dia benar-benar tidak ada bayangan, dimana harus mencari rujak bebek pada tengah malam semacam ini .


"Iya, Hubby," jawab Rani polos.


"Kamu benar-benar mau rujak bebek di tengah malam seperti ini?" Ryan memastikan lagi.


"Harus berapa kali lagi Rani bilang iya?" Rani bersungut kesal.


"Mana ada warung rujak yang buka jam segini, Sayang. Besok pagi saja Hubby belikan ya? Anak Daddy yang di dalam sabar nunggu rujaknya sampai besok pagi kan?" Ryan memegang perut Rani yang masih rata kemudian menciumnya dengan sayang.


"Siapa bilang Hubby harus beli?" Rani mulai mengerucutkan bibirnya.


"Terus?" tanya Ryan bingung.


"Rani pengen rujak bebek bikinan Hubby," oceh Rani tanpa beban. Dia memandang suaminya penuh harap, bahkan mulai ada genangan air di sudut matanya.


"Rujak bebek. Oke kita lihat bagaimana cara membuatnya," tak tega, Ryan menyerah. Dia mulai berselancar dengan ponsel miliknya, kemudian mencari resep rujak bebek ala Tante G***le.


"Yupz. Ini dia resepnya sudah ketemu. Ibunda Ratu duduk manis di sini, tunggu Baginda Raja bikin rujak bebek sesuai yang Ibunda Ratu minta. Oke?" Ryan beranjak dan mengacak rambut Rani sembarangan.


"Nggak mau, By. Rani mau lihat bikinnya," rengek Rani lagi.


"Baiklah. Lets go," Ryan berjalan menuju pintu, hendak keluar kamar.


"Hubby!" panggil Rani.


Mendengar ibu hamil yang lagi ngidam itu memanggil namanya, Rani langsung menoleh ke arah ranjang.


"Lho, kenapa masih di situ? Ayo, jadi ikut apa enggak?" Ryan mengerutkan dahinya.


"Gendong, By," Rani mengangkat ke dua tangannya minta gendong.


"Gendong ya? Baiklah-baiklah," dengan sigap, Ryan langsung balik kanan dan menghampiri istrinya, kemudian mengangkat dan menggendongnya ala bridal style hingga mereka sampai di dapur.


"Tunggu di sini sebentar ya, Sayang. Daddy bikinin rujak dulu sesuai request anak Daddy yang pinter ini," cicit Ryan sambil mengelus dan mengecup perut Rani, setelah mendudukkannya di kursi dekat meja makan.


Rani tersenyum saja melihat tingkah suaminya yang begitu memanjakannya. Dilihatnya Ryan yang sibuk memilih bahan di dalam kulkas, sambil sesekali mengintip resep rujak bebek yang tertulis di benda pipih miliknya. Sesekali dia terlihat memikirkan sesuatu dengan mengerutkan dahinya, sesekali dia tersenyum bahagia ketika menemukan apa yang dicarinya.

__ADS_1


Setelah semua bahan terkumpul di meja, dia segera mengupas buah satu demi satu dengan telatennya.


"Sini biar Rani bantu, By," Rani beranjak, mengambil pisau, lalu menghampiri Ryan dan mengambil satu buah mangga setengah matang kemudian mulai mengupasnya.


"Hey, apa yang kamu lakukan? Berikan pisau itu pada Hubby!" Ryan membelalakkan matanya begitu melihat Rani memegang pisau di tangannya, lalu segera merebutnya.


"Kok Hubby marah sih, By?" rajuk Rani.


"Bukan marah. Kamu tahu nggak ini apa?" geram Ryan.


"Ya pisaulah. Memangnya apaan?" Rani menjawab dengan polosnya.


"Pisau itu benda tajam. Kalau kamu terluka bagaimana?" Ryan membawa pisau itu dan menyembunyikannya.


"Kembali duduk manis, tunggu Hubby bikinin rujak bebek yang anak Hubby minta. Oke?" Ryan membimbing istrinya untuk duduk dan hanya memandangi suaminya yang mulai sibuk menghaluskan bumbu, mengiris buah dan menumbuknya.


"Nggak sampai segitunya juga kali, By," batin Rani dalam hati.


Akhirnya dua mangkuk rujak bebek pun tersaji di meja makan, siap memanjakan lidah ibu hamil yang sedang ngidam.


"Gimana rasanya? Enak?" tanya Ryan melihat Rani langsung memakan rujak yang dia hidangkan.


"Sama-sama, Sayang," Ryan mengusap kepala istrinya dengan sayang.


"Hubby nggak makan?" Rani melihat ke arah semangkuk rujak yang belum disentuh barang sesendok pun oleh Ryan.


"Sayangnya Hubby mau lagi? Makan aja punya Hubby. Hubby juga tidak terlalu suka," Ryan menggeser mangkuk itu dan menyodorkan pada istrinya.


"Apa nggak papa, By?" mata Rani berbinar.


"Makan aja, Sayang. Biar anak Daddy di dalam perut Mommy ini kenyang," Ryan tersenyum sambil mengelus perut istrinya, lagi dan lagi.


"Yey, asyiiik," seru Rani girang.


Jadilah dua mangkuk rujak itu Rani habiskan seorang diri.


"Baru kemarin aku bingung kenapa dia tidak juga ngidam seperti yang sering diceritakan orang-orang. Eh, ternyata malam ini aku merasakannya juga," batin Ryan dalam hati, sambil menikmati pemandangan indah di depannya dimana seorang gadis cantik sedang memakan dua mangkuk rujak sekaligus yang ada di depannya.


Ryan pun tersenyum senang, malam itu dia lolos dari ujian pertama yang anaknya inginkan. Ya, seorang Ryan Dewangga, pengusaha muda kaya raya yang sejak lahir sudah banyak pelayan yang menyiapkan semua kebutuhannya, malam ini harus terjun langsung di dapur demi istri dan buah hati yang sedang dikandungnya.

__ADS_1


Begitulah ngidam yang dialami ibu hamil, tak jarang bikin suami geleng-geleng kepala. Selain yang diinginkan terkadang tidak masuk akal, ngidam juga sering terjadi di waktu yang tak diinginkan.


"By, Rani ngantuk," Rani mulai merengek lagi begitu rujak di depannya sudah habis tak tersisa.


"Siap, Tuan Putri," Ryan langsung mengangkat tubuh Rani dan mengembalikannya tidur di atas ranjang.


"Hubby," lirih Rani.


"Hmmm," jawab Ryan sambil menebak permintaan apa lagi yang akan istrinya ucapkan.


"Maafkan Rani ya, By," mata Rani berkaca-kaca.


"Maaf untuk?" Ryan mengerutkan dahinya.


"Maaf telah merepotkan Hubby," kini air mata yang menggenang itu tak bisa lagi Rani tahan.


"Hubby senang melakukannya, Sayang. Sungguh, Hubby tidak merasa direpotkan. Menuruti ngidam seorang istri yang sedang hamil adalah tanda kasih sayang. Apapun rela Hubby lakukan untuk membahagiakan istri dan anak Hubby," jawab Ryan sambil mengusap air mata yang meleleh di pipi Rani.


"Sudah jangan nangis. Nanti nggak cantik lagi," hibur Ryan sambil mencubit hidung mancung istrinya dengan gemas.


"Terima kasih telah menuruti apapun permintaan Rani," cicit Rani melo.


"Iya, Sayang. Apa sih yang enggak buat istri Hubby yang cantik ini," gombal Ryan.


"Cih, padahal aku sudah deg-degan aja tadi," batin Ryan dalam hati.


Jadilah malam ini menjadi malam yang panjang bagi Ryan. Mulai dari Rani yang pindah kamar, kaki kram, sampai rujak bebek yang sungguh melelahkan. Semua Ryan lakukan dengan penuh pengkhayatan, sebagai calon ayah yang ingin dibanggakan.


Ya, begitulah Islam mengajarkan, untuk memenuhi keinginan istri yang sedang ngidam. Hal ini karena memenuhi permintaan istri yang ngidam berarti menunjukkan kasih sayang kepadanya, dan juga sebaliknya, selama tidak membahayakan dan tidak melanggar norma.


Memang, tidak ada dalil yang mewajibkan seorang suami memenuhi permintaan istri yang sedang ngidam sebagaimana tidak adanya pelarangan untuk memenuhinya pula.


Namun, mempertimbangkan kepayahan perempuan yang sedang hamil, tentunya pemenuhan itu bisa menjadi dukungan moral tersendiri bagi istri yang sedang berjuang mengandung buah hati mereka berdua.


BERSAMBUNG


💖💖💖


Terima kasih telah setia membaca novel Metafora Cinta Legislator Muda. Jangan lupa dukung author dengan mengklik tombol like, vote dan rate 5, juga comment positifnya. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2