
Meysie merengek minta berhenti di sebuah taman kota, tempat biasanya dia menghabiskan waktu saat dia masih di Amerika dulu. Mau tak mau, ingatannya kembali pada sebuah kenangan masa lalu, ada satu nama yang kini masih terpahat indah di hatinya.
"Aku tak akan membiarkanmu mengingatnya lagi, Sayang," gumam Ega dalam hati.
Ega pun meremas tangan Meysie, hingga Meysie tersadar sedang bersama dengan siapa dia sekarang. Sedetik kemudian, Ega menggendong tubuh Meysie ala bridal style, dan menurunkannya di sebuah kursi besi panjang, tempat dua sijoli biasanya menghabiskan malam.
"Abang, Meysie malu," cicit Meysie begitu sadar apa yang sudah suaminya lakukan.
Ega hanya tersenyum tipis. Dia justru merangkul Meysie, dan membuat kepala gadisnya itu bersandar pada bahunya. Di sore itu, kini mereka benar-benar menjadi dua sejoli yang sedang asyik menghabiskan waktu, sembari mengamati anak-anak kecil yang berlarian bersama dengan orang tuanya, juga beberapa pasang anak muda yang sedang memadu kasih, seperti mereka berdua. Di hadapan mereka, taman bunga membentang, membuat suasana saat itu sangat romantis bagi siapapun yang datang bersama dengan seseorang yang teramat spesial.
"Sayang," lirih Ega. Sebuah panggilan yang kini Meysie sudah mulai terbiasa mendengarnya.
“Hmmm,” Meysie membenarkan kepalanya dari bahu suaminya, kemudian menoleh ke arah Ega dengan senyumnya yang menawan.
“Kita tak bisa berlama-lama disini, karena malam ini Abang sudah menyiapkan makan malam khusus untuk kita,” kata Ega sambil menatap mata indah Meysie dengan lekat.
"Makan malam?" Meysie memastikan. Bahkan keningnya mengernyit, mendengar penuturan suaminya yang terkesan dadakan.
Bibir Ega tersenyum, hingga menampakkan barisan gigi putih yang tersusun rapi. Pupilnya menampakkan keseriusan, tak lama pun kepalanya mengangguk, membenarkan semua yang Meysie tanyakan.
Ega sadar, bahwa dirinya tak boleh membuat ada jeda waktu yang bisa membuat Meysie kembali teringat pada masa lalu dan pria yang teramat dia cinta itu. Ega ingin membuat setiap waktu hanya ada dirinya dalam hati istrinya, sehingga lama-lama cinta itu akan tumbuh dan bersemi agar indahnya berumah tangga bisa mereka rasakan bersama. Ya, Ega benar-benar yakin bahwa Meysie adalah cinta sejatinya, sekaligus cinta pertama dan terakhirnya, tempatnya melabuhkan hati, dan calon ibu bagi anak-anaknya suatu saat nanti.
Ega meraih tangan Meysie dan menggenggamnya, membuat jantungnya berdegup tak terkendali, meski dia sungguh sangat menyadari, bahwa belum muncul juga debaran spesial di dalam hati Meysie sama sekali.
"Kita kembali ke hotel, untuk bersiap-siap. Oke?" Ega berdiri dan menengadahkan tangan kanannya, berharap Meysie meraih dan menyambutnya.
Senyum Ega pun kembali merekah ketika mendapati gadis yang sangat dia cintai itu menyambut uluran tangannya. Tak lama, mereka sudah berjalan menghampiri mobil dan bersegera kembali ke hotel tempat mereka tinggal untuk sementara.
Di lobby, telah berjejer beberapa pelayan yang sudah menunggu kedatangan mereka. Tiga orang pria tampan berseragam serba hitam dan tiga perempuan cantik dengan pakaian khas seperti seorang beautician menyambut mereka dengan sangat sopan.
"Pergilah ke kamar bersama tiga wanita ini. Mereka akan membantumu mempersiapkan diri. Abang akan menunggumu di sini," tutur Ega lembut. Dia melepaskan genggaman tangannya dan mengelus rambutnya dengan penuh cinta.
__ADS_1
Meysie memandang tiga orang perempuan itu dan suaminya secara bergantian. Saat mata mereka bertemu, Ega hanya tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya, untuk meyakinkan istrinya bahwa semua memang sudah disiapkan khusus untuknya.
"Baiklah," kata yang keluar dari mulut Meysie itu membuat Ega merasa lega.
Meysie pun berjalan diikuti tiga orang wanita yang akan membantunya berdandan.
"Silahkan baringkan tubuh Anda di sini, Nona," ucap salah seorang beautician itu begitu mereka sampai ke dalam kamar. Bahkan dua orang diantara mereka menggelar sebuah kain di atas ranjang, sementara satu orang membantu Meysie meletakkan tasnya, melepas sepatunya dan membantu memakaikan kimono kain untuk menutupi tubuh mulusnya.
Beberapa saat kemudian, Meysie sudah terlihat menikmati pijitan lembut dari ketiganya. Mereka memijit seluruh bagian tubuhnya, sebelum akhirnya membalurkan lulur ke setiap inchi tubuh mulus yang dia punya. Setelah semua selesai, mereka melakukan manicure dan pedicure treatment pada kuku tangan dan kaki Meysie, dan setelah semuanya selesai mereka membimbing Meysie untuk berendam dalam bathtub yang sudah diberi aroma terapi.
"Apakah Anda menginginkan ratus v treatment dulu sebelum berendam, Nona?" tanya seorang beautician kepadanya.
Sadar atau tidak, Meysie menganggukkan kepala sehingga ketiga perempuan itu sibuk menyiapkan alat untuk melakukan salah satu jenis perawatan tradisional pada organ intim wanita yang dilakukan dengan penguapan atau pengasapan di area **** * milik Meysie. Ya, tanpa sadar Meysie sudah mempersiapkan area termahal pada dirinya untuk Ega nikmati malam ini.
Setelah ratus selesai, Meysie pun berendam untuk membersihkan sisa-sisa lulur dalam tubuhnya, sembari menikmati aroma terapi yang memanjakan dan menenangkan dirinya.
"Sudah waktunya Anda bersiap, Nona," tutur seorang beautician dengan sopannya.
Dibantu ketiganya, Meysie pun beranjak, mengeringkan tubuhnya dan keluar dari kamar mandi untuk berganti baju dan memoleskan make up pada wajahnya.
Setelah riasan di wajahnya dirasa sempurna, dengan rambut yang dibiarkan terurai, Meysie ke luar dari kamarnya, bermaksud menuju lobby hotel untuk menemui suaminya. Tapi alangkah terkejutnya dia, ketika mendapati suaminya sudah menunggunya tepat di depan pintu kamarnya.
“You are so beautiful, Honey,” Ega sampai tak mengedipkan matanya, melihat istrinya yang terlihat begitu cantik, lebih dari biasanya.
“Kita makan malam dimana, Bang?” Meysie tidak menanggapi pujian Ega. Dia justru sibuk memperhatikan Ega yang sudah begitu tampan dengan stelan jas warna hitam yang serasi dengan gaun yang dikenakannya.
"Sebentar lagi kau akan tahu, Sayang," bisik Ega lirih, sambil menyodorkan sikunya, berharap Meysie akan segera menggamit lengannya dengan manis.
Gayung pun bersambut, tanpa Ragu Meysie menggamit lengan Ega tanpa ada rasa canggung lagi di dalam hatinya. Sesaat kemudian, Ega membukakan pintu mobil layaknya Meysie seorang tuan putri. Setelah Meysie duduk di kursi samping pengemudi, Ega pun mengambil gerakan memutar dan segera duduk di kursi pengemudi. Ya, waktu itu Ega tak membiarkan siapapun mengganggu mereka, sehingga sopir pun tak dia biarkan mengantar kepergian mereka berdua. Dia memilih mengemudikan mobilnya sendiri, dengan mobil super mewah keluaran terbaru Amerika. Sebuah mobil Acura NSX yang merupakan kendaraan berperforma tinggi, yang dilengkapi dengan mesin V-6 3.5-liter twin turbo hybrid dan transmisi 9 kecepatan dual clutch. NSX ini dibuat sedemikian canggih terutama dalam menggapai kecepatan-kecepatan maksimal, tentu dengan harga fantastis yang harus rela Ega keluarkan.
“Tutup matamu dulu ya, Sayang," lirih Ega sambil mendekatkan dirinya dengan wajah istrinya.
__ADS_1
“Untuk apa, Abang?” tanya Meysie tak mengerti.
“Abang mau kasih kamu kejutan,” Ega tak menanggapi Meysie yang protes. Dia justru langsung memakaikan penutup mata berwarna hitam, dan Meysie hanya menuruti saja kemauan Ega tanpa berniat menolaknya.
Setelah cukup jauh menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai ke tempat tujuan. Meysie ke luar dari mobil dibimbing Ega menuju ke tempat yang sudah dia persiapkan.
“Apakah kita sudah sampai, Bang?” tanya Meysie tak sabar.
Ega pun segera membuka penutup mata gadisnya, dan begitu Meysie membuka mata, rasa takjub benar-benar tidak bisa Meysie sembunyikan.
Kini mereka sudah berada di resort super mewah di sekitar Park City Utah, yang memiliki pemandangan indah disekelilingya. Ya, tempat ini menawarkan pemandangan keindahan alam yang selalu terjaga keaslianya, membuat Meysie tak dapat berkata apa-apa. Dia benar-benar tahu sedang berada di mana mereka sekarang. Kepalanya menelusuri setiap beluk tempat itu, dan seketika dia menyadari bahwa Ega sudah mempersiapkan semua ini dengan persiapan yang sangat matang tanpa dia ketahui.
Di luar resort, telah tertata sebuah meja dengan dua kursi khusus untuk mereka tempati. Lilin-lilin kecil yang mengelilingi mereka berbentuk hati, membuat suasana romantis tercipta sempurna saat berpadu dengan semerbak wangi yang muncul dari bunga-bunga yang memenuhi tempat mereka berdua saat ini.
"Apa kamu suka, Sayang?" bisik Ega tepat di telinga Meysie, hingga membuat sensasi luar biasa muncul membuat hasrat Meysie meninggi.
Meysie hanya mengangguk, menyembunyikan hal aneh yang tiba-tiba muncul saat jarak keduanya sedemikian dekat. Ega pun tersenyum senang, melihat gelagat Meysie yang sudah mulai merespon pancingan demi pancingan yang sengaja dia suguhkan.
Kini, Ega membimbing Meysie untuk duduk di kursi yang telah tersusun dengan rapi, sesaat setelah menariknya khusus untuk gadis yang sangat dia cintai. Ketika mereka duduk, makanan sudah siap dan tersaji, tinggal mereka nikmati. Sebuah lilin yang diletakkan di tengah meja itu pun sungguh menambah romantis suasana malam itu.
"Buka mulutmu, Sayang," Ega mengiris sepotong daging dan mengarahkannya pada mulut gadisnya.
Meysie pun hanya menurut saja, bahkan membalas suapan Ega dengan suapan serupa. Begitu seterusnya, sampai makanan yang tersaji di hadapan mereka habis tak tersisa.
"Apakah kita akan menginap disini, Bang?" tanya Meysie penasaran.
"Aku sungguh tak sabar menikmati apa yang sudah kau persiapkan untukku saat bersama dengan ketiga beautician itu, Sayang. Bahkan aku tak mengira kalau kau sudah mempersiapkan mahkotamu itu untukku malam ini," Ega mengembangkan senyumnya, ketika mengingat laporan treatment apa saja yang sudah istrinya lakukan di dalam kamarnya.
"Bang, Meysie ...," wajah Meysie sudah sangat merah padam. Dia mengutuk kebodohannya, kenapa tidak berpikir kalau ketiga perempuan itu akan melaporkan semua hal yang mereka lakukan kepadanya saat perawatan di kamar sebelum mereka mendandaninya.
Ega bisa menangkap kegelisahan istrinya, hingga seketika dia beranjak dari duduknya dan menghampiri istrinya yang kini sudah tidak nyaman karena saking gugupnya.
__ADS_1
Ega sedikit menarik tangan Meysie hingga mereka sama-sama berdiri berhadapan. Bahkan kini Ega merapatkan tubuhnya dengan tubuh istrinya, membuat sebuah melodi indah di rongga mulut mereka sedemikian sempurna.
BERSAMBUNG