
Hengky terdiam. Matanya menatap jauh hingga garis batas cakrawala. Sepenggal kisah patah hati pun melambai-lambai pada warna jingga yang mewarnai ujung senja.
“Ahhh,” Hengky menarik nafas panjang, kemudian melepaskannya pelan-pelan, seolah ingin membebaskan diri dari rasa sakit di hatinya dan membuangnya pada lembaran putih yang baru.
Tak lama, dia meraih ponselnya dan segera berselancar di sana. Dia pandangi sebuah foto pada layar handphone-nya, yang masih setia memajang wajah cantik Rani pada pengunci layar itu. Pikirnya, dengan melihat gambar gadis itu hatinya akan lebih tenang. Namun, ternyata salah. Gambar yang terpampang disana justru semakin menggores luka itu hingga semakin menyadarkan bahwa dirinya harus segera ******* habis penantian yang selama ini sungguh sangat menyiksa jiwa dan raganya.
Ya. Sudah saatnya Hengky tinggalkan seluruh rasa sakit itu, meraih ikhlas, dan melukis lembaran kisah dalam kanvas baru meski masih penuh rindu.
Kriing-kriing.
Sebuah panggilan masuk membuyarkan Hengky dari sebuah lamunan panjang. Dia periksa nomor yang tertera di ponsel itu, tak ada nama siapapun di sana. Yang muncul hanyalah sebuah nomor asing yang belum pernah dia kenal sebelumnya.
“Assalamu’alaikum,” sapa Hengky begitu dia menekan icon hijau.
“Wa’alaikumsalam. Tuan Hengky, saya tidak tahu bagaimana caranya saya meminta maaf dan berterima kasih kepada Anda. Yang jelas, saya sungguh menyesal telah menuduh Anda yang bukan-bukan, padahal malam itu Anda telah menolong istri saya,” mendengar ucapan pria di seberang sana, Hengky langsung menangkap dengan siapa dia sedang berbicara.
“Jangan sungkan-sungkan, Tuan Ryan Dewangga. Sungguh saya tidak mempermasalahkannya,” jawab Hengky berbasa-basi.
“Sebagai bentuk permohonan maaf saya, sudilah kiranya Tuan Hengky bersedia menghadiri undangan saya untuk makan malam di rumah kami malam nanti,” tutur Ryan hangat.
“Bukannya saya menolak, Tuan. Namun, sungguh Anda tidak harus sampai serepot itu. Saya sangat mengerti jika waktu itu Anda sangat emosi karena belum tahu cerita yang sebenarnya,” sahut Hengky. Dia sungguh sangat tidak siap jika harus duduk satu meja kembali dengan Rani, di saat dia sedang belajar untuk melupakannya dan mengikhlaskan hatinya yang masih sangat terluka.
“Tidak repot, Tuan. Sekalian kami mengundang Anda untuk merayakan kehamilan istri saya,” Ryan berkata tanpa beban, tidak memahami betapa kata-kata itu sangat menghancurkan hati Hengky yang bahkan sudah menjatuhkan handphone-nya begitu saja mendengar kabar yang baginya sangat menusuk dan menggores luka di hatinya.
“Tuan! Tuan Hengky! Hallo,” panggil Ryan begitu menyadari bahwa lawan bicaranya tidak merespon.
Untungnya Hengky segera tersadar sehingga meraih handphone itu kembali dan menyetujui tawaran makan malam di kediaman utama keluarga Dewangga malam nanti.
__ADS_1
***
Malam ini adalah malam pertama kediaman keluarga Dewangga ramai dengan canda tawa setelah kepergian Titania Rosmanda dan Prabu Dewangga. Davina hadir bersama Lena dan Arya juga Nina, yang sudah Davina anggap sebagai putrinya sendiri. Daniel dan Naja yang baru pulang berbulan madu, sudah bisa ikut bergabung, didampingi Johan yang selalu setia dan bersiap siaga melayani dan mematuhi apapun titah majikannya. Rani, Ryan dan Aghata sebagai tuan rumah sudah pasti bersiap lebih awal untuk menyambut kedatangan mereka semua. Yang terakhir datang adalah Hengky, yang waktu itu memberanikan diri untuk datang sendiri.
Hengky berjalan memasuki rumah itu dengan perasaan yang tidak menentu. Apalagi ketika dia datang, seluruh keluarga besar Dewangga sudah menyambutnya di depan pintu, membuat satu tarikan nafas saja terasa begitu berat, apalagi ketika melihat seorang gadis berhijab yang bergitu dia rindu.
“Selamat datang, Tuan Hengky,” sapa Ryan ramah. Ryan mulai berdamai dengan rasa cemburu yang selama ini menguasai dirinya.
“Terima kasih, Tuan Ryan. Jangan terlalu formal dengan saya. Panggil Hengky saja,” sahut Hengky berbasa-basi.
“Baiklah, Hengky. Kalau begitu panggil saya Ryan saja,” Ryan menimpali.
Setelah berbasa-basi dan mengucapkan selamat atas kehamilan Rani pun, mereka segera makan malam dengan santai. Namun, tiba-tiba mereka dikagetkan dengan kedatangan seorang tamu tak di undang.
“Apa kalian tidak mengundangku?” suara Meysie terdengar dari arah pintu.
Semua saling beradu pandang menyadari siapa tamu tak diundang yang baru saja datang. Tatapan tidak suka Rani, tatapan bingung Ryan dan tatapan tidak enak dari Hengky dilengkapi tatapan-tatapan aneh dari semua orang yang ada di tempat itu segera saja bercampur menjadi satu.
“Aku hanya ingin mengucapkan ikut berduka cita atas meninggalnya Nyonya Titania dan Tuan Prabu,” jawab Meysie dengan santainya.
“Kakak, ini sungguh bukan saatnya. Jangan merusak suasana bahagia mereka!” Hengky berusaha menarik Meysie keluar ruangan.
“Terima kasih sudah datang, Meysie. Silahkan nikmati makan malam Anda bersama kami. Jangan sungkan-sungkan,” Rani menimpali, sehingga Hengky pun melepas tarikan tangannya pada lengan Meysie. Mata Rani kemudian beralih memandang ke arah suaminya yang sedari tadi hanya diam saja, bingung mau bersikap seperti apa.
“Terima kasih,” ucap Meysie dibuat seramah mungkin menanggapi ucapan Rani.
Dengan tidak tahu malu, Meysie segera mengambil posisi duduk di dekat Johan, hingga posisi mereka melingkari meja makan. Rani yang sebenarnya sudah ingin pergi dari tempat itu, berusaha menahan diri agar tidak merusak suasana makan malam yang sudah dipersiapkannya sejak tadi pagi.
__ADS_1
“Datang bersama siapa Anda, Nona?” suara Naja tiba-tiba mengejutkan.
“Tentu saja aku datang seorang diri. Adikku saja tidak mengajakku,” jawab Meysie santai.
“Anda bisa berkata seperti itu, Nona. Tapi sungguh sayang, rekaman CCTV di HP saya berkata lain,” seru Naja dengan lantang.
Tak lama, Naja menunjukkan sebuah rekaman CCTV kepada suaminya, dimana Meysie datang diikuti dua mobil lain di belakangnya yang terparkir di luar gerbang.
“Apa maksudmu?” Meysie terlihat kebingungan.
“Justru aku yang seharusnya bertanya kepadamu, kenapa kau sampai datang ke tempat ini bersama mereka? Aku lihat dua mobil ini mengintai rumah ini sejak kemarin kami datang. Apa ini semua rencanamu, Meysie? Hal jahat apa yang sedang kau rencanakan?” cecar Naja sambil menyerahkan rekaman CCTV itu ke tangan Ryan. Ryan yang melihat rekaman itu hanya terdiam, walaupun mukanya seketika menjadi merah padam.
“Sungguh, aku hanya datang seorang diri ke tempat ini. Dan pengintai yang kau maksudkan itu, aku benar-benar tidak tahu menau,” sangkal Meysie.
“Kalau begitu mari kita buktikan,” Johan berdiri dan keluar menuju dua mobil itu diikuti Pak Rudi yang mengekor di belakang.
Naja yang sedari tadi geram pun ikut berdiri bermaksud keluar menyusul Johan, tapi sayang Daniel segera menarik tangan Naja dan melarangnya untuk ikut keluar.
“Biar Johan dan Pak Rudi yang bereskan,” titah Daniel tidak bisa ditawar.
Naja terduduk kembali sambil melihat CCTV melalui layar ponselnya. Namun tiba-tiba Naja membulatkan mata.
“Mereka lari,” seru Naja hingga membuat Johan dan Pak Rudi menoleh seketika, kemudian langsung berlari menuju mobil untuk mengejarnya.
“Siapa mereka?”
BERSAMBUNG
__ADS_1
💖💖💖
Bintang 5 nya dong guys. Jangan lupa juga kasih like, vote, dan commen positif. oke?