
Setelah pajak terbayar lunas, Ryan dan Rani mengemasi barang mereka dan segera keluar kamar untuk mencari makan siang sekaligus kembali pulang.
“Tahu cuma mau semalam menginap di sini, aku tak perlu membayar pajak sampai berkali-kali,” gumam Rani dalam hati.
Ryan malah menyeringai senang, melihat gadisnya itu mengerucutkan bibirnya begitu tersadar bahwa suaminya telah berhasil mengerjainya habis-habisan di hari spesial mereka.
“Kalau kamu mau, kita bisa tinggal di sini lebih lama, Sayang. Dengan senang hati Mas akan menyiapkan semua keperluan kita selama di sini,” cicit Ryan sambil mengerling nakal.
“Enggak! Enggak! Kita pulang aja. Tidak enak dengan Mommy Aghata,” Rani beralasan.
“Baiklah,” jawab Ryan sambil meraih tangan Rani dan menggandengnya keluar, menuju lobby utama.
***
Tidak seperti biasanya, kali ini Rani hanya menurut saja ketika Ryan mengajaknya makan di restoran Padang langganan suaminya. Sebenarnya Rani tidak terlalu suka. Bukan karena cita rasanya yang tidak enak di lidahnya, namun karena suaminya itu terlalu sering makan di sana dengan menu yang sama pula.
“Benar kamu nggak papa kan, kita makan di sini, Sayang?” Ryan memastikan.
“Nggak papa sih. Yuk!” ajak Rani, sambil meraih tas nya yang dia letakkan di kursi belakang.
Tak butuh waktu lama, mereka sudah keluar dari mobil dan menginjakkan kaki mereka di pelataran parkir restoran Padang terfavorit di kota itu. Seketika, wajah ayu dan tampan itu terpapar terang akibat terik mentari yang menggelorakan panas pada apapun yang terpapar olehnya, membuat butiran peluh segera saja tercecer di antara kain yang telah menutupi tubuh mereka.
“Mas, buruan! Rani tidak tahan sama panasnya,” rengek Rani kepada suaminya.
Paham betul bahwa sang istri tercinta paling tidak tahan dengan udara panas yang menerpanya, Ryan pun segera merangkul Rani dan mempercepat langkah mereka. Hingga dengan secepat kilat, mereka bisa masuk dan seketika udara AC mendinginkan raga yang sudah penuh dengan tetesan peluh itu.
Ryan pun menyapukan pandangan ke seluruh sudut ruang, mencari tempat ternyaman untuk mereka makan. Begitu matanya menemukan satu titik yang menurutnya pas, dia segera menarik tangan istrinya dengan lembut dan mengajaknya duduk di tempat yang dia temukan.
“Ayo kita pilih dulu menu yang mau kita makan,” Rani menunjuk etalase kaca yang terletak di bagian depan restoran.
“Biar pelayan saja yang bawa semua menunya ke meja kita, Sayang,” Ryan masih berusaha menarik tangan istrinya, namun Rani menahannya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tanda kemauannya tak bisa di tawar.
__ADS_1
“Ya sudah. Yuk,” pasrah Ryan.
Mereka kemudian menuju etalase kaca yang menjadi ciri khas setiap rumah makan Padang, selalu terletak di bagian depan restoran. Begitu semua menu terlihat, segera saja Ryan menelan salivanya. Ya, masakan padang memang menjadi menu terfavorit dan paling pas di lidah Ryan. Di mulutnya, makanan Minang tak pernah sekalipun gagal meningkatkan nafsu makannya hingga berlipat-lipat. Apalagi kini di depan matanya, beragam menu pilihan khas Minang, tersaji cantik dalam etalase kaca, dengan tatanan apik yang semakin menggugah selera.
“Bawakan saya rendang daging, balado ikan, pangek juga rempeyek udang, Pak. Jangan lupa sambal hijau dan sayur daun singkongnya,” pinta Ryan tak sabar ingin melahap semua makanan yang telah dia sebutkan.
“Kamu mau makan pakai apa, Sayang,” setelah menyebutkan makanan yang sebentar lagi akan memanjakan perutnya, Ryan menoleh ke arah istrinya dan membiarkan istri yang tergolong suka pilih-pilih dalam hal makanan itu memilih sendiri menu yang menarik seleranya.
“Mm, aku minta sate padang sama itu boleh nggak, Mas?” dengan ragu, Rani menunjuk ke arah sebuah hidangan.
Jika Rani sudah bertanya boleh atau tidak kepada suaminya seperti itu, artinya makanan yang dia tunjuk adalah bagian dari deretan makanan favorit Rani yang dilarang oleh sang suami tercinta. Maklum saja, Rani adalah salah satu gadis pencinta junk food dan deretan makanan tak sehat lainnya. Jadi, sudah pasti sebagai suami siaga, Ryan benar-benar menjadi satpam yang sangat galak memantau apa saja yang berada di piring istrinya dan akan masuk ke dalam mulut dan perut gadisnya itu.
Ryan membulatkan mata dan mulutnya begitu menyadari apa yang diminta istrinya. Ya, Rani meminta suatu makanan, yang sangat dicintai karena rasanya, namun sangat dibenci karena aromanya.
“Rendang jengkol? Yang bener aja, Sayang,” Ryan berucap sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Bagaimana tidak? Ryan adalah salah satu dari sekian banyak orang yang memiliki persepsi negatif terhadap jengkol. Bahkan saking antinya, dia bilang kalau dia tidak suka, padahal mengaku sama sekali tak pernah mencicipi jengkol seumur hidupnya. Ya, Ryan berpikir sama seperti kebanyakan persepsi orang, bahwa aromanya yang sangat menyengatlah yang menempatkan jengkol dalam urutan makanan kelas menengah ke bawah. Bahkan jutaan orang masih malu untuk jujur mengakui dirinya sebagai penggemar jengkol dikarenakan hal semacam ini, termasuk Ryan.
“Nggak boleh ya?” Rani menampakkan wajah kecewanya.
“Ya sudah Rani makan sate padang aja,” pasrah Rani langsung membalikkan badannya dan menuju meja yang telah Ryan minta sebelumnya.
Ryan menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum geli.
“Katanya ibu pejabat, tapi begitu banyak pilihan makanan di tempat ini, bisa-bisanya yang kamu minta justru rendang jengkol sih, Sayang?” batin Ryan dalam hati.
“Kamu nggak tahu aja kalau jengkol itu sekarang sudah jadi makanan mahal, Mas. Harga per kilo saja sekarang sudah sejajar dengan sekilo daging,” guman Rani dalam hati.
Akhirnya sate padang pesanan Rani, juga semua makanan favorit yang di sebutkan Ryan pun terhidang di meja, ditambah dengan juice buah yang menambah selera. Dengan secepat kilat, Ryan melahap semua yang terhidang tanpa sisa, sementara Rani meraih dan melahap tusuk demi tusuk daging pipih tanpa lemak yang diberi bumbu khas, kemudian di bakar hingga matang, lalu disiram dengan kuah kuning yang rasanya sangat menyatu dengan daging yang bumbunya sangat terasa baik dari dalam hingga bagian luar daging itu.
Setelah dirasa perut mereka terisi penuh, acara makan rendang jengkol yang gagal itu pun akhirnya berakhir tanpa kata. Mereka keluar restoran dengan perut mereka yang sudah kenyang.
Dalam waktu singkat mereka sudah berada dalam mobil, untuk menghindari panasnya terik mentari yang menyapu kulit tipis mereka, dan langsung melajukan mobil yang mereka naiki itu dengan kecepatan sedang, menikmati jalanan kota yang tak pernah lengang dengan padatnya laju kendaraan.
__ADS_1
“Kok diem aja kenapa, Sayang?” tanya Ryan, begitu menyadari istrinya tak sebawel biasanya.
“Enggak papa. Emang kenapa?” ujar Rani sambil terus memandang ke arah luar melalui kaca mobil di sebelah tempat duduknya.
“Biasanya udah bawel aja,” Ryan mengelus kepala istrinya dengan lembut.
“Enggak papa,” kekeh Rani.
“Bener?” Ryan mencubit hidung Rani dengan sayang.
“Bener,”
“Masa sih? Apa? Hm?”
“Sebenarnya..., mmm...,” Rani menggantungkan kalimatnya. Sekelumit ragu tiba-tiba muncul saat dia ingin mengatakan apa yang sedang menari-nari dalam benaknya.
“Sebenarnya apa?” kejar Ryan.
“Sebenarnya, entah kenapa bayangan rendang jengkol tadi masih saja menari-nari di pikiran Rani,” akhirnya kalimat itu lolos dari mulut manisnya.
Ha-ha-ha....
Tawa Ryan menggelegar begitu saja, memenuhi seluruh sudut mobil yang sedang ditumpanginya.
“Ketawa aja terus,” Rani bersungut kesal.
BERSAMBUNG
❤❤❤
***Like, vote, rate* 5 dan comment positifnya jangan lupa ya kakak... 😍**
__ADS_1