
Daniel terpaku menatap keindahan sempurna yang kini ada di hadapannya itu. Tangan lentiknya yang begitu terampil memindahkan lipatan baju, menggambarkan betapa gesitnya dia ketika mengerjakan sesuatu.
Penampilannya yang bisa dibilang sangat sederhana dengan hanya mengenakan pakaian khas seorang supir pribadi pun tidak lantas mengurangi kecantikannya. Apalagi wajah itu tak terpoles make up sama sekali, membuat aura kecantikan yang keluar dari dalam dirinya benar-benar tampak alami. Ya, kini Daniel sedang begitu terkesima dengan Naja yang masih terlihat sibuk merapikan pakaiannya.
Hal inilah yang membedakan Daysie dengan Naja. Daysie jelas menyukai kehidupan glamor, karena sejak masih menjadi seorang ballerina, pekerjaannya memang sudah cukup menuntut untuk terlibat dalam dunia semacam itu. Apalagi ketika Daysie bekerja untuk Daniel, dimana jaringan bisnis cafe plus-plus yang dimilikinya hampir berada di seluruh Asia, membuat Daysie harus berpenampilan menor dengan pakaian minim yang wajib dikenakannya. Bagaimana tidak? Salah satu tugas Daysie adalah mendekati pengusaha-pengusaha kaya yang menjadi pesaing Daniel ketika itu. Dan yang harus Daysie hasilkan, mendapatkan sebuah rahasia perusahaan atau mendapatkan kerjasama dengan sebuah tawaran besar. Hebat bukan? Hanya ketika mengeksekusi Prabu Dewangga saja dia harus menelan kegagalan, hingga nama Daysie pun tiba-tiba menghilang tanpa ada kabar.
"Berapa lama kamu bekerja untuk keluarga Dewangga?" tanya Daniel penuh selidik. Matanya masih terus mengawasi setiap gerakan Naja yang tak meliriknya sama sekali.
"Maaf, Tuan. Silahkan tanyakan kepada majikan saya saja jika Anda memang perlu tahu jawabannya," walaupun kaget dengan pertanyaan Daniel, jawaban itu tetap keluar dari mulut Naja. Seperti latah, siapapun yang bertanya kepadanya, tanpa pikir panjang selalu itu yang keluar dari mulutnya.
Daniel mengerutkan dahinya. "Tinggal jawab saja apa susahnya sih?" Daniel menggerutu.
"Maaf saya sudah selesai, Tuan. Jika tidak ada yang Anda butuhkan lagi saya izin keluar," Naja tak berniat meladeni mantan majikannya itu, hingga langsung beranjak pergi.
"Tunggu!" seru Daniel, yang sukses membuat Naja menoleh dan menghentikan langkahnya.
"Ada apalagi, Tuan?" kesal Naja.
"Apa kau punya keluarga? Ibu atau adik laki-laki misalnya?" Daniel berusaha memancing. Dia menunggu jawaban Naja sambil memperhatikan sorot matanya.
"Tidak, Tuan." Jawab Naja kemudian berlalu begitu saja. Jujur dalam hatinya, Naja bergetar mendengar pertanyaan Daniel itu. Namun sebagai seorang yang dididik untuk piawai dalam sebuah penyamaran, Naja cukup bisa mengendalikan hati dan ekspresinya saat itu.
__ADS_1
"Aku yakin, kau pasti mengenaliku, Tuan. Tapi kau tak akan pernah bisa membuatku mengakuinya di hadapanmu," gumam Naja dalam hati.
"Meski kau tak akan pernah mengakuinya didepanku, tapi akan ku buat kau menyesal karena telah mengkhianatiku. Percayalah, suatu saat nanti kau yang akan berjanji setia lagi kepadaku seumur hidupmu," batin Daniel. Wajahnya tersenyum penuh teka-teki.
Keluar dari kamar Daniel, wajah Naja terlihat muram. Sejak Daniel menanyakan apakah dia punya ibu dan seorang adik laki-laki, tiba-tiba kerinduan di hatinya untuk dua orang yang sangat dicintainya itu muncul dan membuncah tak tertahankan. Tak sadar, air matanya menganak sungai, sesaat sebelum akhirnya sukses membanjiri wajah cantiknya itu.
***
Siang itu, Rani memilih menyendiri. Dia memandang gumpalan kapas putih yang berarak, di garis batas cakrawala. Kini dia sedang mengagungkan ciptaanNya. Meski dia sedang memandang langit yang sama dengan langit yang dia pandang sebelum-sebelumnya, namun Rani selalu merasa bahwa wajah langit hari ini sungguh berbeda dengan hari kemarin saat dia menatapnya.
Ya, langit memang selalu berubah. Dia bilang, dia mencintai pagi, namun dia sangat merindukan siang. Dia selalu memberikan keindahan di kala sore datang, tetapi menaburkan jutaan bintang di saat malam.
"Sayang, kenapa melamun disini?" tiba-tiba Ryan menghampiri Rani dan memeluknya dari belakang. Aroma shampo yang keluar dari rambutnya, masih bisa tercium bebas di hidung Ryan meski kepala itu tertutup rapat dengan hijab yang Rani kenakan.
Rani hanya menoleh ke wajah suaminya, kemudian bersandar sambil mengelus tangan yang masih menempel lekat di pinggangnya itu dengan senyum mengembang.
"Maafkan Mas. Akhir-akhir ini Mas banyak pikiran jadi kamu terabaikan. Pasti kamu kesepian ya, Sayang," tuturnya pelan, sambil berkali-kali mengecup pipi istrinya dengan penuh kecintaan.
"Kenapa Mas minta maaf? Mas sungguh tidak perlu mengatakan itu. Rani sangat mengerti kok, Mas. Ini sangat berat buat Mas Ryan. Justru Rani maunya kita bisa saling berbagi beban," sahut Rani sambil membalikkan tubuhnya dan merengkuh tubuh suaminya dalam pelukannya.
"Berjanjilah untuk tidak meninggalkan Mas, seperti Mama, Papa dan Azzura yang telah pergi tanpa menunggu! Sekarang, tidak ada lagi orang yang Mas miliki selain kamu, Sayang. Mas benar-benar seorang diri jika tidak ada kamu. Jadi Mas mohon. Jangan pernah sekali-kali meninggalkanku! Jangan pernah sekali-kali pergi dariku!" pinta Ryan pilu. Matanya kembali terlihat sendu, mengingat kepergian orang-orang yang sangat dia cintai itu.
__ADS_1
"Sssstttt," Rani melepaskan pelukannya dan menempelkan jari telunjuknya ke bibir suaminya. Matanya menatap lekat pria yang ada di hadapannya dengan pandangan penuh cinta.
"Berjanjilah akan selalu berbagi dengan Rani tidak hanya ketika senang, tapi juga ketika Mas Ryan dalam keadaan susah. Berjanjilah tidak akan menyembunyikan apapun dari Rani seperti kemarin lagi. Kebahagiaan Mas Ryan adalah kebahagiaan Rani. Begitu juga dengan kegelisahan dan kesedihanmu, Mas. Sungguh, Rani dengan sangat rela akan merasakan apapun yang sedang Mas Ryan lalui. Jadi berjanjilah untuk terus berbagi hingga maut memisahkan kita nanti," ucap Rani sambil mengalihkan tangannya, kemudian mengapit kedua pipi suaminya.
"Mas janji," Ryan tersenyum sembari menempelkan dahi dan hidungnya ke dahi dan hidung istrinya dengan segala rasa yang masih berkecamuk dalam hatinya. Tak lama kemudian dia mengecup kening, kedua mata, kedua pipi dan seluruh bagian wajah istrinya tanpa ada yang tersisa.
"Mas kangen," cicit Ryan sambil merengkuh kembali Rani dalam pelukannya.
"Rani juga kangen sama Mas. Banget," dengan manja, Rani mengimbangi perlakuan suaminya.
Sejenak, mereka membiarkan detik demi detik berlalu dengan tetap berpelukan seperti itu. Mereka bertahan dalam diam, merasakan detakan jantung yang berdegup kencang, menikmati keajaiban cinta yang masing-masing mereka berikan hingga membentuk sebuah kekuatan .
Hingga setiap detik kehidupan yang diselimuti kehampaan pun berubah bagai mantra dan sihir yang sirna dengan setiap huruf yang mereka lantunkan.
"Ya. Cinta itu aku. Cinta itu kamu. Cinta itu kita. Sesederhana itu." Batin Ryan dan Rani dalam hati.
BERSAMBUNG
❤❤❤
Mau lanjut dengan episode teromantis pasangan ini? bagi jempol dan vote nya dulu dong...
__ADS_1