METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Kisah Prabu dan Aghata (Part 4)


__ADS_3

Dada Titania terasa begitu sesak. Dia benar-benar merasakan bahwa seorang pendusta sedang ada di depan matanya. Lidah yang selalu manis ketika berbicara makna setia, kini tak lebih dari seorang pengkhianat yang telah menelan kembali ludah yang keluar dari mulutnya.


“Bahkan sudah ada seorang bayi di tengah-tengah kalian, Mas?” gumam Titania begitu pilu.


Titania terus menatap foto itu dengan tatapan yang begitu sendu. Setelah puas menangis sejadi-jadinya, dengan segala rasa yang berkecamuk di dalam dada, juga penat yang bergemuruh dan menggerus pertahanan hatinya, Titania berusaha menghentikan tangisnya dan menghapus sisa air mata yang membasahi pipinya.


Dengan tekad kuat, Titania memutuskan untuk menemui perempuan yang telah merebut suaminya itu ke alamat yang telah dikirimkan oleh orang suruhannya. Dengan perasaan tidak menentu, Titania terus menekan pedal gas di bawah kaki kanannya itu, hingga dengan kencang bisa melaju ke tempat yang dia tuju.


Setelah Titania sampai, dia turun dari mobilnya dan menghampiri Aghata di rumahnya. Biar bagaimanapun, dia harus segera memastikan sebuah kebenaran akan takdir yang Allah gariskan.


Setelah mengetuk pintu, segera saja wajah cantik Aghata muncul dengan rambut pirangnya yang terurai. Mata hijau itu pun sedikit membulat melihat wajah istri pertama yang beberapa kali dilihatnya melalui handphone Prabu tiba-tiba muncul di hadapannya.


“Kak Tita?” ucap Aghata terbata-bata.


“Baguslah kalau kau sudah mengenal diriku. Jadi aku tak perlu memperkenalkan diriku lagi kepadamu,” timpal Titania sambil melewati Aghata yang masih mematung di depan pintu, kemudian duduk begitu saja di sebuah sofa panjang ruang tamu rumah itu.


Menyadari bahwa Titania sudah masuk, Aghata pun dengan gugup ikut masuk dan duduk di hadapan wanita yang untuk saat ini sebenarnya sangat ditakutinya itu. Bahkan, ketika tak sengaja mereka bertemu mata, mereka saling membuang tatapan mata mereka begitu saja ke sembarang arah, untuk menghilangkan rasa canggung, marah, tidak enak atau apapun perasaan yang sedang berkecamuk di hati keduanya.


“Sudah berapa lama kalian menikah?” sebuah pertanyaan dengan nada ketus keluar begitu saja dari mulut Titania.


“Belum lama, Kak. Baru dua bulan,” Aghata menjawab dengan terbata.


“Ohh, bahkan kalian telah berzina sekian lama rupanya,” sebuah pernyataan tajam sengaja Titania hujamkan di depan madunya itu.


“Eh, bukan begitu, Kak,” sergah Aghata.

__ADS_1


“Terus bagaimana? Bagaimana mungkin ada seorang bayi diantara kalian tanpa kalian berzina terlebih dahulu,” sekali lagi pernyataan pedas Titania lontarkan kepada Aghata.


Tak mau Titania larut dalam kesalahpahaman yang lebih dalam, Aghata pun menceritakan secara detail bagaimana dan kenapa Prabu akhirnya menikahinya. Meskipun, Titania yang mendengar cerita Aghata tidak memberikan ekspresi apapun ketika itu. Dia tetap menunjukkan wajah datar dan wajah tidak sukanya kepada Aghata, sampai dia meninggalkan rumah itu dengan segala perasaan hancur, apapun alasan yang melatarbelakangi suaminya mengkhianati ikatan suci diantara mereka.


Sebenarnya, di hati kecil Titania ada sedikit rasa iba mendengar cerita Aghata. Namun biar bagaimanapun, kini hatinya terlanjur bergemuruh bagai gulungan ombak yang tak pernah lelah mengguyur bibir pantai. Jiwanya begitu perih bagai disayat pisau, bahkan tulangnya begitu nyeri ketika menyadari bahwa Prabu telah membungkam segala harapan dan mencampakkan segenggam kesetiaan yang begitu mudahnya dia pupuskan.


“Ajarkan aku tentang sebuah keikhlasan, Ya Allah. Ajarkan aku bagaimana menerima takdir yang telah kau tasbihkan dengan dada yang penuh kelapangan. Jika dia memang harus pergi dariku, kuatkanlah diriku tanpa aku harus terus mengeluh kepadaMu,” do’a Titania dalam hati.


***


Seperti biasa, pada jam-jam sibuk seperti di hari itu, Prabu selalu terjebak pada tumpukan pekerjaan yang harus segera dia selesaikan. Dering telphon yang sedari tadi berbunyi pun tak lantas membuat fokusnya beralih pada benda pipih yang dia letakkan di meja kerjanya itu. Prabu justru terus berkutat pada dokumen-dokumen yang ada di hadapannya, seolah dokumen itu mampu menghipnotis dan mengalihkan seluruh alam sadarnya.


Di waktu yang sama di tempat yang berbeda, Aghata terus menempelkan handphone miliknya di telinganya, sambil berjalan mondar-mandir pasca kepergian Titania dari kediamannya. Dengan cemas, dia sungguh berharap suaminya itu segera mengangkat telphonnya dan segera menemui Titania untuk menyelesaikan segala permasalahan mereka.


“Ayo angkat, Mas,” gumam Aghata berkali-kali.


“Maaf, Tuan. Di bawah ada seorang wanita bernama Aghata ingin bertemu dengan Anda. Dia belum ada janji dengan Tuan terlebih dahulu. Apakah Anda akan menemuinya, Tuan?” ucap seorang karyawan melalui sebuah telephon.


“Antarkan dia ke ruanganku,” jawab Prabu datar. Sebenarnya dalam hatinya Prabu bertanya-tanya, ada apakah gerangan hingga Aghata sampai pergi menemuinya di kantor. Namun untuk menampakkan kesan sealami mungkin, akhirnya jawaban itu yang Prabu pilih untuk menghindari pikiran lebih dari karyawannya itu.


Dengan perasaan cemas, Prabu pun segera menyambar benda pipih yang ada di atas meja kerjanya. Sekilas, dia melihat ada puluhan panggilan tak terjawab tertera disana.


“Ada apa sih, Aghata?” gumam Prabu sambil menunggu istri keduanya itu masuk ke dalam ruangannya.


Tak butuh waktu lama, Aghata pun telah sampai dan masuk ke dalam ruangan.

__ADS_1


“Assalamu’alaikum, Mas,” sapa Aghata dengan nada cemas yang tak mampu disembunyikannya.


“Wa’alaikumsalam. Kamu kenapa, Sayang? Kenapa sampai menyusulku ke tempat ini? Mana Daniel? Dia tak kenapa-kenapa kan?” cecar Prabu, terdengar sangat khawatir.


“Tadi Kak Titania menemuiku, Mas. Entah dari mana dia tahu semuanya,” jelas Aghata yang lebih terdengar seperti petir yang menyambar tubuh Prabu berkali-kali.


"Apa?” kata itu yang keluar dari mulut Prabu. Dia lantas pergi begitu saja meninggalkan Aghata di ruang itu seorang diri, berlari sekencang mungkin keluar ke arah mobilnya.


Dengan secepat kilat, Prabu pun melajukan mobilnya membelah jalanan kota yang cukup ramai dengan kendaraan yang sedang berlalu lalang. Sesekali terdengar bunyi decit rem yang ditekan secara mendadak saat tak sadar Prabu hampir menabrak mobil di depannya. Sesekali pula terdengar suara klakson yang memperingatkan Prabu saat dengan nekadnya Prabu menyelip kendaraan hingga mengagetkan mobil yang berjalan berlawanan arah dengannya.


Jarak yang biasanya Prabu tempuh dalam waktu empat puluh menit pun berhasil Prabu selesaikan hanya dalam waktu separuhnya, hingga akhirnya sampai juga dia di kediamannya.


Di halaman, terlihat mobil Titania telah terparkir cantik di tempatnya, menandakan bahwa sang pemilik sudah berada di dalam sana. Prabu menghela nafas panjang, menyiapkan diri akan semua yang akan Titania katakan.


“Nyonya dimana, Bik?” tanya Prabu saat Bik Tum menyambutnya di depan pintu.


"Nyonya ada di kamarnya, Tuan. Sejak pulang tadi Nyonya terus menangis dan tidak mau keluar dari kamar,” jawab Bik Tum ketakutan.


Prabu pun mengelus punggung wanita paruh baya itu dan segera berlari menuju kamarnya. Sampai di depan pintu kamar, Prabu kembali menarik nafas panjang kemudian dengan hati bergetar segera membuka pintu itu.


“Sayang?”


BERSAMBUNG


❤❤❤

__ADS_1


Pembaca setia, karena beberapa hal, mohon maaf episode 100 s.d. 104 ceritanya author ganti ya. Semoga tetap menarik dan bisa dinikmati. Terima kasih.


__ADS_2