
Alarm Rani berbunyi jam 3 dini hari. Seperti biasa, dia segera beranjak mengambil wudhu dan menunaikan sholat tahajud hingga menjelang shubuh, kemudian membangunkan Ryan untuk sholat shubuh berjama'ah.
Seusai mencium punggung tangan Ryan dan berdo'a, Rani segera beranjak ke kamar mandi kemudian bersiap-siap.
"Mas anter sampai Bandara. Tunggu sebentar. Mas mandi dulu," ucap Ryan sebelum masuk ke kamar mandi.
"Kalau Mas Ryan sibuk, anter Rani sampai kantor aja nggak papa lho, Mas. Biar Rani bareng sama teman-teman yang lain," ucap Rani setelah melihat Ryan keluar dan hendak mengambil baju gantinya.
"Kamu nggak mau mas anter?" tanya Ryan penuh curiga.
"Bukannya gitu, Mas. Maksud Rani, barangkali Mas Ryan lagi sibuk," jelas Rani merasa serba salah. Maklum, Rani tidak tahu apa-apa soal operasi hp semalam.
"Tidak boleh. Mas yang antar jemput kamu ke Bandara," ucap Ryan tidak bisa di tawar.
"Baik," jawab Rani sambil memasang wajah semanis mungkin. "Dari pada nggak boleh berangkat," pikirnya dalam hati.
Setelah Ryan siap, mereka segera turun. Ryan membukakan pintu mobil hingga Rani duduk di kursi sebelah pengemudi, kemudian dia mengambil gerakan memutar dan segera duduk di belakang kemudi. Setelah Bik Tum menaikkan koper Rani ke bagasi, merekapun segera berangkat menuju Bandara.
Mobil melaju, dan tiba-tiba...
Kriiiinggg-Kriiiinggg....,, Ada panggilan masuk.
" Dari siapa?" Ryan bertanya penuh selidik. Sejak operasi HP yang dilakukannya semalam, entah kenapa Ryan merasa harus waspada.
"Dari Mas Hengky. Rani angkat sebentar ya, Mas," jawab Rani santai.
Tanpa menunggu jawaban Ryan, Rani langsung mengangkat telphon Hengky. Dan benar saja, Hengky sudah menunggu Rani di kantor untuk berangkat bersama ke Bandara. Setelah Rani mengabarkan bahwa dirinya langsung berangkat ke Bandara bersama Ryan, akhirnya Rani menutup telphonnya.
Ryan yang mendengar percakapan mereka pun hanya mendengus kesal.
__ADS_1
"Mas Ryan kenapa sih? Dari tadi pagi sewot aja sama Rani?" tanya Rani, yang sedari tadi melihat suaminya sewot, tidak seperti biasanya.
"Pokoknya kamu harus ingat syarat yang kemarin Mas bilang ke kamu. Setiap satu jam sekali, kamu harus kabarin Mas sedang apa, dimana dan dengan siapa. Kalau sampai tidak, besok-besok nggak boleh pergi," jawab Ryan masih sewot.
"Siap laksanakan, komandan," ucap Rani sambil meletakkan tangan kanannya di atas kening seperti gaya orang sedang hormat.
Aksi Rani itupun akhirnya bisa membuat suaminya tertawa geli, sambil mengelus ujung kepalanya dengan sayang.
"Nahhh gitu dong. Masak Rani mau pergi empat malam Mas Ryan nya malah marah-marah aja. Harusnya disayang-sayang dong," ucap Rani kemudian.
"Emang kamu beneran mau Mas sayang-sayang? Kenapa semalam kamu nggak bilang? Kalau kamu bilang kan Mas bisa bikin stempel kepemilikan dulu. Atau sekarang aja yuk, kita berhenti di hotel sebentar," Ryan sengaja menggoda demi melihat wajah merah Rani yang terlihat menggemaskan.
"Ihhh Mas Ryan, apaan sih?" jawab Rani sambil mencubit perut Ryan dengan kencang. Dan benar saja, wajah Rani memerah karena malu. Ryan pun tergelak melihat wajah merah itu.
***
Sesampai di Bali, hari itu Rani dan rekan-rekannya tidak langsung beraktivitas. Mereka baru dijadwalkan melakukan kunjungan kerja keesokan harinya, sehingga hari pertama mereka habiskan untuk bersantai-santai di Hotel.
Meskipun sebenarnya Rani sendiri juga tidak mengerti, mengapa Ryan meminta Rani untuk menghubunginya setiap satu jam sekali. Rani sempat berpikir mungkin Ryan cemburu, atau khawatir, atau apalah. Tapi Rani tidak sepercaya diri itu.
"Mungkin Mas Ryan nggak mau repot aja kalau sampai terjadi sesuatu kepadaku," pikirnya dalam hati.
Dan hari itu, Rani benar-benar memenuhi janjinya untuk menghubungi Ryan setiap satu jam sekali baik melalui pesan, panggilan suara maupun video call.
Ryan pun terlihat tenang dan tidak sesewot tadi pagi ketika melihat istrinya hanya berdiam diri di kamar setiap Rani Video Call, atau Ryan mengecek langsung dengan melakukan Video Call terlebih dahulu.
Dan malam itu, adalah malam pertama mereka berpisah sejak mereka menikah. Walaupun belum pernah sekalipun terjadi malam spesial diantara mereka berdua selain hanya sekedar tidur bersama, tapi entah kenapa baik Ryan maupun Rani sama-sama gelisah. Mereka tidak bisa tidur semalaman karena saling memikirkan.
***
__ADS_1
Ryan POV
Kupikir, ini mudah dan sederhana. Toh Rani pergi hanya untuk empat malam saja. Namun ternyata, Isyarat rindu benar-benar berbeda. Satu malam bahkan belum berlalu, tapi aku terus berharap dia segera hadir dalam pelukku.
Pulanglah sayang..., aku tak lagi sanggup menunggumu. Bagaimana harus kujelaskan rasanya terbelenggu rindu kepadamu? Sedang aku tak tahu bagaimana rasa di hatimu untukku.
Kuharap, rindu ini bukan hanya milikku. Karna aku ingin rinduku juga bertemu mesra dengan rindumu. Kau tahu? Malam ini bahkan aku telah kehilangan arti, dalam ketidakrelaan ketiadaanmu menemani. Sungguh, detik-detik ini benar-benar terasa hampa, karna hatiku masih mengukur waktu dengan rindu yang sama, menunggumu pulang.
Sayang, apakah disana hatimu merasa sendirian? Atau sama sekali tak kau rasa apa yang kurasakan?
Jika memang rinduku bertepuk sebelah tangan, biarlah kujaga malam ini, memikirkanmu seorang diri. Mengusir rindu di relung hati, saat aku kau tinggal pergi.
Dan hari ini, tak juga berganti hari. Malam pun enggan beranjak pagi. Kapan kau pulang? Atau aku yang harus datang?
***
Rani POV
Saat mereka bicara tentang rasa, wajahmu muncul dalam benakku tiba-tiba. Jika itu artinya suka, mengapa rasa ini hadir begitu saja?
Wahai engkau yang disana..., Apakah kau juga tak bisa memejamkan mata? Sungguh malam ini telah menggambar rindu di bibir dan tubuhku saat mengingatmu. Irama jantungmu saat memelukku kini begitu saja muncul di dadaku, mengganti seluruh suara yang masuk dalam qalbuku.
Aku tak mengerti, mengapa aku harus tergelincir di atas rindu yang aku sendiri tak tahu dari mana hadirnya. Apakah karena aku cinta? Aku pun tak berani memikirkannya. Bukankah dalam hatimu masih ada dia?
Biarlah malam ini hanya kupandang kau lewat bingkai layarku, agar dapat kurekam detail garis wajahmu dalam hatiku. Dalam kesendirianku, biarlah aku bisikkan rindu tanpa kau dengar isi jiwaku.
Malam ini aku benar-benar rindu. Namun tak akan pernah kukatakan kepadamu, agar kau tak berat menanggung perasaanku seumur hidupmu. Cukup aku saja yang ukir namamu dalam hatiku, dan ucapkan bahwa aku rindu kamu....
BERSAMBUNG
__ADS_1
Catatan:
jangan lupa vote, like, comment dan love ya...