METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Mie Ayam Tanpa Mie


__ADS_3

“Eh-eh-eh-eh. Aduuuuh ...,” Aghata, Davina, Arya, Daniel, Lena dan juga Naja hampir jatuh tersungkur ke lantai begitu pintu dibuka. Rupanya sejak Ryan masuk ke ruang perawatan Rani dan mereka mulai bicara, jiwa kepo mereka meronta-ronta hingga akhirnya mereka semua mengintip adegan sepasang suami istri itu.


“Apa yang kalian lakukan? Kalian menguntit? Dasar kurang kerjaan. Kayak anak kecil tau nggak?” gerutu Ryan sambil mengelus dada. Dia sungguh terkejut melihat pemandangan di depannya. Ekspresi geram segera saja terlukis di wajahnya yang kini sudah memerah menahan marah.


“Apa sih, Sayang? Mommy hanya ingin menjenguk menantu dan calon cucu Mommy saja kok. Memangnya tidak boleh?" menutupi rasa malunya, Aghata berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Dia langsung saja masuk dan menghampiri Rani, diikuti Davina, Lena dan juga Naja.


“Santai, Bro. Kami hanya ingin mengucapkan selamat. Bukankah sebentar lagi kau akan menjadi seorang ayah?” cicit Arya sambil merentangkan tangannya, sebuah kode bahwa dia ingin memeluk sahabat sekaligus saudaranya itu.


Mendengar ucapan Arya, seketika wajah Ryan berubah. Untung saja suasana hatinya sedang berbunga-bunga, jadi kemarahannya langsung hilang begitu saja. Jika tidak, pasti akan panjang urusannya.


“Ayolah, kita harus merayakan ini. Sebentar lagi kau akan menjadi seorang ayah, dan kami akan mempunyai seorang keponakan. Bukankah begitu?” oceh Arya, masih merentangkan tangannya.


Dalam hitungan detik pun mereka saling berpelukan secara bergantian, menggambarkan betapa bahagianya mereka menerima berita kehadiran buah cinta Rani dan Ryan. Ya, buah cinta mereka hadir di saat mereka telah siap menerimanya. Tak ada yang bisa mempercepat, tak ada juga yang mampu memperlambat jika memang sudah waktunya. Semua sudah Allah gariskan, sesuai dengan kesiapan hamba dan kehendakNya.


Kini mereka berdiri melingkar di sekeliling ranjang pasien itu dengan penuh rasa bahagia. Sesekali gelak tawa mengiringi obrolan ringan mereka, sesekali juga mereka menggoda Daniel dan Naja yang seolah sudah tidak betah berada di tempatnya, dan ingin segera melanjutkan adegan ranjang mereka tanpa ada rasa puas dalam diri mereka. Hingga tiba-tiba, Ryan mengingat sesuatu dan membulatkan matanya. Bahkan mulutnya sedikit menganga, dan tangan kanannya menutupi mulut yang hampir membentuk huruf O itu.


"Ya Allah," tiba-tiba Ryan berseru. Kini tangan yang tadi dia gunakan untuk menutup mulutnya sudah mendarat manis di kepalanya dan menepuk dahinya sendiri berkali-kali.


Kaget, semua yang mendengar pekikan Ryan menoleh dengan tatapan penuh kebingungan.


"Kenapa?" tanya mereka hampir secara bersamaan.

__ADS_1


"Sayang, soal rendang jengkol itu, Hubby minta maaf. Hubby tidak tau kalau kamu sedang ngidam, jadi waktu itu Hubby melarangmu untuk memakannya. Pantesan kamu terus teringat rendang itu sampai membawanya ke dalam mimpimu. Maaf ya! Hubby janji besok akan membelikannya untukmu. Apa kamu masih menginginkannya, Sayang? Besok kita kesana ya, apa kamu mau?" cecar Ryan, dengan tatapan penuh penyesalan. Ryan yang awalnya berdiri di samping Rani pun beranjak duduk di ranjang pasien itu dan mengecup dahi Rani berkali-kali.


Rani hanya tersenyum dan mengiyakan semua perkataan suaminya. Sesungguhnya Rani juga tidak yakin perihal ngidam ini. Benarkah ngidam itu fakta? Atau mitos belaka? Bahkan beberapa penelitian belum ada yang mampu menjelaskan bagaimana ngidam bisa terjadi secara ilmiah. Namun, ada satu teori yang pernah ditemukan, bahwa biasanya ibu hamil mengalami ngidam karena tubuhnya sedang membutuhkan nutrisi tertentu dalam makanan yang diidamkannya. Tapi ngidam rendang jengkol? Rani benar-benar geli. Yang jelas bayangan rendang jengkol itu memang terus menari-nari di depan matanya hingga saat ini.


"Tega banget sih kamu? Masih mending Rani cuma ngidam rendang jengkol. Istriku lebih parah," timpal Arya sambil melirik Lena yang hanya cengar-cengir mendengar ocehan suaminya, sambil mengelus perutnya yang buncit.


"Memangnya Lena ngidam apa?" tanya Rani polos. Drama pengkhianatan Arya benar-benar membuat mereka terpisah sekian lama, sehingga Rani harus melewatkan cerita seru ngidamnya Lena begitu saja.


"Aneh-aneh ngidamnya. Yang paling parah, dia pengen makan mie ayam, tapi tanpa mie. Jadi hanya sayur, ayam sama kuahnya doang. Gimana malunya coba pas bilang sama abangnya? Ha-ha-ha," jawab Arya, yang di sahut gelak tawa seluruh penghuni ruang itu.


Wajah Lena yang sedang menjadi pokok pembahasan pun berubah menjadi merah merona saking malunya.


"Terus akhirnya kamu turutin juga?" wajah Ryan tiba-tiba serius. Kilasan-kilasan kekhawatiran bahwa istrinya akan ngidam yang aneh-aneh segera saja muncul dan mengganggu pikirannya.


Semua orang menggeleng mendengar pertanyaan Arya, sekaligus menunggu Arya menyelesaikan cerita yang membuat mereka penasaran itu.


"Dia hanya makan mie itu tiga sendok saja. Setelah itu bilang sudah kenyang katanya. Huh, sungguh tidak sebanding dengan malunya," lanjut Arya dengan ekspresi kesalnya.


"Kok manyun gitu ceritanya? Nggak ikhlas banget," protes Lena sambil mengerucutkan bibirnya.


"Bukan nggak ikhlas, Sayang. Aku hanya sedang berbagi pengalaman saja, biar Ryan siap memenuhi apapun yang Rani mau saat dia ngidam, meski kadang hal itu sungguh sangat menyebalkan," elak Arya, sambil merangkul istrinya agar tidak salah paham. Maklum, sejak Lena hamil, perasaannya jadi lebih sensitif. Bukan hanya berubah menjadi manja, tapi gadis yang selama ini sangat kuat itu, tiba-tiba berubah menjadi gadis egois yang bahkan bisa meronta-ronta hanya karena ingin suaminya memenuhi seluruh keinginannya.

__ADS_1


"Jadi menurut Kak Tama, aku menyebalkan?" wajah Lena kini berubah menjadi marah.


"Tuh kan salah," batin Arya.


"Bukan gitu, Sayang. Maksud aku ...," Arya menggantungkan kalimatnya.


"Ahh sudahlah. Lain kali kalau aku ingin apa-apa aku cari sendiri saja. Nggak bakal lagi deh aku minta sama Kak Tama," Lena bersungut kesal meninggalkan kerumunan di sekitar ranjang pasien yang Rani tempati, menuju Sofa yang tak jauh dari tempat itu.


"Sayang, jangan begitu," Arya mengikuti Lena dan berusaha menenangkan calon ibu dari anaknya itu.


"Apaan sih, Kak Tama. Sana jauh-jauh jangan deket-deket aku. Dan ingat, nanti malam Kakak tidur di luar," ancam Lena.


"Sayang," Arya terus merajuk.


Davina, Aghata, Rani dan juga Naja hanya tertawa geli melihat adegan sepasang kekasih itu, sementara Ryan dan Daniel terus menatap drama ibu hamil dan suaminya itu dengan segala rasa yang berkecamuk dalam hatinya, membayangkan seperti apa nasib mereka saat menghadapi fase ngidam istri mereka nanti.


"Ngidam oh ngidam. Apakah seekstrim itu?" gumam Ryan dan Daniel dalam hati.


BERSAMBUNG


❤❤❤

__ADS_1


Jangan lupa like, vote and rate 5. Comment positifnya juga ya. Terima kasih


__ADS_2