METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Musuh Tapi Mesra


__ADS_3

Indra menatap kakak dan kakak iparnya yang terus saja berdebat untuk urusan yang sama sekali tak penting itu dengan begitu jengahnya. Pemandangan yang sudah sangat biasa dilihatnya, memang. Tapi tetap saja, keributan-keributan yang mereka lakukan selalu untuk urusan remeh temeh dan tak berfaedah. Walaupun jika sudah berkolaborasi untuk sebuah misi mereka akan berubah menjadi sangat kompak sekali, tapi untuk hari-hari biasa, tetap saja mereka menjadi musuh tapi mesra.


"Sssttt, kalau mau ribut, ribut aja tuh di luar. Ganggu orang istirahat saja," gerutu Indra, terlihat malas melihat adegan musuh tapi mesra di depannya.


"Kualat tau rasa kau, dhek?" akhirnya Naja menyudahi drama dengan suaminya sore ini dan menghampiri Indra sambil mengacak rambut adiknya. Bagi Naja, Indra adalah adik yang tidak pernah dewasa di matanya. Adik yang terus menjadi anak kecil dan tidak pernah tumbuh menjadi tua, meskipun secara fisik Naja sudah kalah jauh darinya.


Indra yang selalu protes mendapati dirinya terus diperlakukan seperti anak kecil oleh kakaknya pun hanya mendengus kesal.


"Manyun aja," cibik Naja.


"Biarin," sahut Indra pura-pura tak peduli.


"Dasar. Gimana kondisimu? Sakit?" Naja membuka selimut yang menutupi tubuh adiknya dan memeriksa tiga luka operasi dibalik perban yang melilit di beberapa bagian tubuh Indra.


"Sakitlah. Tapi lebih sakit melihat dia menahan sakit seperti ini," tiba-tiba Indra menatap Zara yang masih meringkuk di tempat tidur sebelahnya, dengan tatapan sendu.


Naja mengerutkan dahinya dan melangkah mendekati Zara, sementara Daniel memilih duduk di kursi sebelah ranjang pesakitan Indra.


"Zara kenapa? dia sakit?" Naja menyentuh kening Zara dengan telapak tangannya. Zara yang disentuh tak bergeming sedikitpun dari tidurnya. Sebelum itu Zara meminum obat yang diresepkan dokter itu padanya, hingga rasa kantuk tiba-tiba tak bisa dia kendalikan walau sebentar saja.


"Ternyata di sekujur tubuhnya penuh dengan luka. Karena semalaman dia di hutan, luka-lukanya pun tak sempat mendapat perawatan. Al hasil, ada infeksi yang membuat dia demam dan suhu tubuhnya panas sekali," jelas Indra dengan nada pilunya.


"Kenapa tidak di rawat sekalian saja sih?" Naja masih memegang-megang kening dan bagian leher Zara.


"Dia bersikukuh ingin tetap di sini menjagaku. Bahkan ketika dokter yang memeriksanya tadi bilang kalau obat dosis tinggi yang dia butuhkan hanya bisa dimasukkan melalui infus, dia menolaknya mentah-mentah dan malah meminta obat oral dengan dosis seadanya. Untung saja obat yang dia minum sedikit mengandung obat tidur. Jika tidak, dia akan memilih tetap terjaga walau kondisinya sudah di luar kendalinya," Indra yang dingin dan datar, berubah menjadi sosok yang banyak bicara jika itu sudah terkait dengan Zara.


"Calon istri yang baik dia, Ndra. Jangan lepaskan dia. Kamu beruntung mendapatkan gadis seperti Zara," cicit Daniel, yang disambut anggukan dengan cepat oleh Naja. Kali ini mereka berdua benar-benar kompak. Untuk satu hal ini, mereka sepakat dan tidak perlu berdebat.


"Entahlah ...," tiba-tiba ada kabut di mata Indra. Keraguan dan kegalauan, jelas sekali terpancar dari raut wajahnya saat ini.


Naja dan Daniel pun langsung saling tatap menyadari ada ketidakberesan dalam diri Indra.


"Kenapa sih, dhek? Mau cari yang kayak gimana lagi coba? Udah cantik, pinter, energik, dan yang penting dia mencintai kamu kayak gitu kok masih ragu?" Naja mendekati Indra dan mengusap lembut kepala adiknya.


"Dia memang sempurna. Tapi ...," Indra menggantungkan kalimatnya.


"Tapi?" Naja belum bisa menebak arah pembicaraan adiknya. Biasanya Indra selalu mantap dalam setiap mengambil langkah dan keputusan dalam hidupnya. Tapi kali ini, entah kenapa Naja melihat ada keraguan sangat besar yang sedang mengganggu pikiran Indra.


"Bagaimana dengan ibu?" Indra mendesah kasar.


"Memangnya ada apa dengan ibu?" kebiasaan Naja, menjawab pertanyaan dengan sebuah pertanyaan yang lainnya.


"Dalam kamus hidupku tidak pernah tertuliskan nama perempuan lain selain Ibu dan dirimu, Kak. Tapi tiba-tiba saja dia masuk tanpa kuundang dan tanpa bisa kutendang," sahut Indra sambil menatap Naja nanar.

__ADS_1


"Apalagi yang kau pikirkan tentang kakakmu ini, Ndra. Aku sudah bahagia mempunyai suami paket lengkap seperti Daniel. Mau cari kebahagiaan seperti apa lagi coba? Orang suamiku saja super tampan, super kaya, dan yang paling penting aku tahu betul sebesar apa cintanya. Lalu, apa lagi yang kau khawatirkan dariku, heh?" Naja bisa menangkap kekhawatiran adiknya itu. Dibalik sikap acuh dan datarnya, Indra memang seorang pria yang begitu menyayangi keluarganya.


"Aku sudah bersumpah akan menggantikan seluruh beban yang kau tanggung," ucap Indra dengan begitu tegasnya.


"Dan kau sudah berhasil melakukannya, saat misi pertama yang diberikan Tuan Ryan berhasil kau jalankan. Kau sudah menggantikan bebanku, Indra. Termasuk menggantikan tanggung jawabku pada Ibu," Naja terus berusaha meyakinkan.


"Dan Ibu?"


"Kenapa?"


"Ibu menginginkan seorang menantu yang bisa menemani hari-harinya. Seorang menantu yang hanya sibuk di rumah, dengan segala urusanku dan cucu-cucunya. Dan kau tahu sendiri bagaimana dengan Zara. Dia ...," Indra benar-benar merasa galau tingkat dewa. Ketakutannya jika ibunya akan menolak Zara, menjadi beban tersendiri untuknya.


"Itu adalah perjuangan laki-laki, Dhek. Kenapa kau segalau itu jika kau belum mencoba?" Naja justru menanggapi kekhawatiran Indra dengan begitu santainya. Meskipun dalam hati, dia benar-benar tahu bahwa meluluhkan hati ibunya bukanlah suatu perkara yang mudah.


"Belajarlah padaku, bagaimana cara meluluhkan hati ibu," Daniel terkekeh sambil melirik ke arah Naja. Bukan suatu hal yang mudah memang, tapi sudah terbukti bahwa Daniel bisa mempunyai tempat tersendiri di hati mertuanya.


***


Dari kamar Indra, Naja dan Daniel memutuskan untuk menjenguk Rani yang kamarnya hanya berselang dua kamar saja dengan kamar Indra. Seperti saat masuk tadi, Naja terus menutup hidung dan mulutnya dengan kedua telapak tangannya, begitu keluar dari kamar Indra dan akhirnya masuk ke president suite room tempat Rani berada.


"Mulai deh," Daniel geleng-geleng kepala melihat Naja yang terus menutupi mulut dan hidungnya.


"Suka-sukalah. Berisik," ketus Naja, kesal.


"Ada apalagi sih, Yang?" Naja semakin bersungut kesal.


"Ingat pesan Mommy tadi. Sementara, jangan menyinggung-nyinggung soal bayi mereka dulu pada nonamu itu. Karena dia masih mengalami trauma dan sidrom apa itu?" Daniel terlihat mengingat-ingat.


"Baby blues, Yang," sahut Naja spontan.


"Iya, itu dia. Sindrom Baby blues, yang membuat emosi Rani masih sulit terkendali,"


"Iya, iya. Udah ahh. Ayo," Naja kembali melangkahkan kakinya dan mengetuk pintu kamar perawatan nonanya.


Tapi saat mereka akan masuk, mereka melihat Rani tengah tertidur dengan begitu pulasnya dalam dekapan suaminya, hingga Naja pun mengurungkan niatnya untuk masuk dan kembali menutup pintunya dari luar.


Ya, setelah membersihkan tubuh Rani tadi, Ryan membersihkan dirinya sendiri di dalam kamar mandi, lalu naik ke tempat tidur Rani hingga akhirnya mereka pun sama-sama tertidur pulas dengan senyum di bibir yang tersungging alami.


"Kenapa, Yang?" Daniel mengernyitkan dahinya, melihat Naja mengurungkan niatnya untuk menjenguk sang nona.


"Lihat aja sendiri," Naja membuka pintu itu lagi dan membiarkan Daniel melihat pemandangan indah di depannya.


"Mesra sekali," gumam Daniel sambil menutup pintu itu kembali.

__ADS_1


"Memangnya kamu, Yang?" Naja menimpali sambil mengambil posisi duduk di sebuah sofa yang terletak tak jauh dari ruang president suite itu berada.


"Kita juga mesra, bahkan dunia serasa milik kita berdua kalau sudah di ...," Daniel mengerlingkan matanya.


"Dasar mesum," Naja membulatkan matanya, mendengar perkataan suaminya. Dia benar-benar tak habis pikir, bisa-bisanya dia mengatakan hal seperti itu, sementara di sekeliling mereka banyak anak buahnya yang sedang berjaga-jaga.


"Mesum tapi kamu suka kan? Aduh, Yang. Aku jadi ingin segera pulang nih. Pulang aja yuk, kita jenguk mereka lagi lain kali," Daniel tak peduli dengan senyum tertahan dari para anak buah yang mendengar obrolan mesumnya.


"Ehh, udah dikasih kode, masih aja bahas begituan," Naja meletakkan tangan ke jidatnya.


"Masa bodoh. Ayo, Yang. Kita pulang," Daniel sudah merengek seperti anak kecil.


"Tunggu dulu, kamu nggak penasaran sama si putra mahkota?"


"Ya udah, tapi setelah lihat dia, aku mau ya?" Daniel menaikkan kedua alisnya.


"Ya sudah. Ayo!" Naja beranjak sambil menarik tangan suaminya.


"Yes," seru Daniel, mengikuti kemana langkah Naja membawanya.


Sebelum ke ruang NICU dimana sang putra mahkota di rawat di sana, Naja memutuskan untuk singgah sebentar ke apotik rumah sakit. Saat ini dia benar-benar butuh sebuah masker untuk menutupi hidung dan mulutnya dari bau obat yang benar-benar mengganggu penciumannya, bahkan sampai seolah membolak-balikkan perutnya hingga Naja hampir saja memuntahkan semua makanan yang beberapa saat lalu dimakannya.


"Sudah?" tanya Daniel dengan malas.


"Nggak ikhlas banget sih nganterinnya?" rasanya memang tak asyik jika hari-hari mereka sepi dari adu mulut.


"Habis kamunya lebay sih," Daniel masih tahan meladeni Naja.


"Beneran bau, Yang," Naja menghentak-hentakkan kakinya saking merasa sebalnya.


"Iya, iya, jadi lihat si baby nggak?" Daniel meninggalkan Naja yang masih merajuk itu begitu saja, hingga mau tak mau Naja pun berlari mengikuti suaminya.


Dan di sinilah mereka sekarang. Di sebuah ruang, dimana di hadapan mereka seorang malaikat kecil sedang tertidur pulas dengan begitu lucunya. Walau ukurannya lebih kecil dari ukuran bayi pada umumnya, tapi tetap saja, si putra mahkota terlihat tampan dan begitu menggemaskan.


"Dia ganteng banget, Yang. Lucu," Naja meletakkan telapak tangannya pada incubator di depannya.


"Aku juga mau yang kayak gitu, tapi versi ceweknya. Sepertinya seru jika kita jodohkan saat mereka besar nanti," Daniel tersenyum geli dengan lintasan pikirannya sendiri.


"Iya, Yang. Seru. Aku juga mau. Kita bikin sekarang yuk," tiba-tiba Naja menarik tangan Daniel keluar dan segera meninggalkan ruang itu.


"Kok jadi kamu yang mesum gini sih, Yang?"


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2