
Hembusan angin dari lubang AC kamar itu, merasuki seluruh tubuh gadis belasan tahun yang terlihat makin mungil, dengan balutan gaun santai tanpa lengan warna maroon yang sangat kontras dengan kulitnya yang terlihat putih bersih. Dia membaringkan tubuhnya di atas ranjang yang hampir selalu dia tiduri seorang diri, mengingat suaminya yang bisa dibilang sangat jarang masuk, apalagi menyentuhnya di peraduan. Tatapannya kosong ke arah langit-langit kamar, pikirannya melayang-layang entah kemana.
Dia meletakkan kedua tangannya di bawah kepala yang sedang tak mengenakan hijab itu. Sedetik kemudian, bayangan wajah suaminya berkelebat dan terlihat jelas di dalam pikirannya. Tanpa dia sadari, kristal-kristal bening itu pun jatuh tak tertahan, hingga mengalir deras dan membasahi pipinya.
Ya, dia adalah Nina. Sumpah setia Johan kepada Daniel membuat suaminya itu sangat jarang menemani hari-harinya, apalagi mengingat kondisi Daniel saat ini begitu bergantung kepadanya. Bukan hanya siang, malam pun Johan masih harus bekerja. Apakah dia tidur? Bahkan Nina pun tak tahu pasti, kapan suaminya itu mengistirahatkan tubuhnya. Karena nyatanya, Johan memang selalu tidur larut hingga selalu mendapati istrinya sudah sangat lelap dalam tidurnya, dan bangun dini hari saat Nina belum membuka mata.
"Beginikah hidup berumah tangga?" gerutu Nina dalam hati.
Nina semakin tergugu, membawa rasa rindu yang kini telah menusuk-nusuk dan kian menggebu. Isak tangis pun kini menggema, memecah kesunyian yang selalu mencekam di dalam kesendiriannya.
Hingga tiba-tiba, melodi indah dari arah ponselnya mengakhiri pengembaraan dirinya yang mulai berpikir macam-macam di luar kendalinya. Diraihnya benda pipih yang terus berdering itu dari atas nakas, walau tangannya begitu ragu untuk menekan icon hijau dan menerima sebuah panggilan suara yang sudah meronta-ronta minta ditekannya.
Beberapa saat, Nina diam terpaku. Tak ditanggapinya panggilan itu, hingga beberapa panggilan yang sama terus berulang tanpa mau lagi menunggu.
"Assalamualaikum," akhirnya Nina menyerah. Dengan suara sendu, diterimanya juga telepon dari pria yang sedang dipikirkannya itu.
"Wa'alaikumsalam. Kenapa lama sekali? Tak tahukah bahwa aku sudah sangat merindukanmu?" cecar Johan di ujung telepon.
"Maaf," lirih Nina. Dia benar-benar sudah tak sanggup menguasai dirinya. Air matanya pun tumpah, walau dia sangat berusaha menekan suaranya agar isakan tangis itu tak mampu ditangkap oleh suaminya.
“Sayang …, kau kenapa? Apa kau menangis?" ternyata Johan mampu menangkap nada sendu yang ke luar dari mulut Nina.
"Aku baik-baik saja," suaranya makin tersengal.
Merasa ada yang tidak beres dengan istrinya, Johan pun mengakhiri panggilan suaranya, kemudian menekan icon bergambar video untuk melakukan video call dengan istrinya.
__ADS_1
Dan benar saja, permintaan panggilan video segera masuk ke ponsel Nina.
"Jawab panggilanku, please," sebuah pesan whatsapp masuk, setelah beberapa kali Johan mencoba melakukan video call dan tidak ditanggapi istrinya.
Nina hanya memandangi ponselnya yang terus berdering, tanpa berniat sedikit pun untuk menanggapi permintaan suaminya.
"Jika kau memang mencintai dan mengkhawatirkan aku, maka pulanglah," gumam Nina dalam hati.
Dan Nina sungguh tak main-main dengan ucapannya. Puluhan kali Johan mencoba untuk melakukan panggilan video kepadanya, puluhan kali itu juga Nina tak menanggapi permintaan suaminya. Bahkan Nina juga masih diam saja, ketika Johan mengganti panggilan suara lagi seperti sebelumnya.
Kini Johan terdiam dalam bimbang. Dia yang saat ini sedang duduk di depan ruang perawatan Daniel, hanya memandangi ponsel yang ada di tangannya, sambil menghentak-hentakkan kakinya ke arah lantai seolah dengan begitu bisa sedikit mengurangi kegelisahannya.
"Kau kenapa, Sayang?" gumamnya lirih. Johan mulai frustasi memikirkan sedang apa istrinya saat ini.
Hingga tiba-tiba, Johan terlihat mencari nomor seseorang. Tak lama berselang pun, benda pipih canggihnya itu sudah menempel dengan manis di telinga kanannya.
"Kau mau ke ...," tak ada pilihan buat Rudi selain menuruti permintaan Johan. Bahkan pria itu benar-benar tak punya kesempatan untuk bertanya, apalagi menolaknya.
Lima belas menit kemudian, Johan pun langsung berlari ke luar begitu melihat Rudi telah datang. Tak dia hiraukan sama sekali pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari mulut Rudi, bahkan sekedar menyapa dan berterima kasih pun Johan seolah tak punya waktu lagi.
"Sampai nanti," kata Rudi sambil memandang punggung Johan yang berlalu pergi semakin jauh dari tempat dirinya berdiri, bersama beberapa anak buah Johan yang terlihat berjaga di sekeliling ruangan.
"Mereka saja sudah banyak. Kenapa masih harus memanggilku?" gerutu Rudi sambil mengacak kepalanya dengan kasar.
***
__ADS_1
Johan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Mode kecemasannya kini hidup, membuat irama kekhawatiran di hatinya terus berhembus bagai hembusan angin yang berkelebat, membawanya berlari menuju ke lembah kegalauan yang kini tak berbatas.
"Kau kenapa, Sayang? Apa kau marah kepadaku?" gumam Johan berkali-kali selama dalam perjalanan.
Sebenarnya Johan sudah merasa ada yang tak beres dengan hubungan mereka berdua. Walaupun selama ini dia selalu berhasil memberi pengertian kepada istrinya, tapi tetap saja kesabaran istrinya pasti ada batasnya.
Dan kali ini, Johan tersadar. Selama ini dia membuat istrinya sangat jarang mendapatkan perhatian apalagi cinta dari dirinya. Menjumpainya, memang sudah seperti ketika berjumpa dengan angin saja. Dia tak pernah benar-benar jauh dari istrinya, tapi hampir selalu tak tersentuh oleh kasih sayangnya. Dia benar-benar berada sangat dekat dengannya, tetapi jarak membentang dengan begitu jauhnya.
"Maafkan aku, Sayang. Buka kesempatan itu untukku," Johan terus bergumam lirih.
Hingga suara mendecit pun akhirnya terdengar, ketika Johan tersadar bahwa gerbang utama kediaman Dewangga sudah terlihat tepat di depan matanya.
"Sial. Masih beruntung aku tidak menabraknya," umpat Johan sambil memukul setiran mobilnya hingga suara klakson pun berbunyi dengan begitu nyaringnya.
Johan langsung membawa mobilnya ke garasi rumah, sesaat setelah satpam membukakan gerbang untuknya. Tanpa mau membuang waktu, dia pun segera turun dan berlari menuju ke kamar dimana Nina sekarang berada.
Anak tangga demi anak tangga yang harus dia naiki pun kini terasa sangat panjang, hingga membuat kerinduan terhadap istrinya menjadi semakin tak karuan.
"Sayang," panggil Johan begitu dia membuka handel pintu kamar.
Tak ada sahutan. Kamar itu benar-benar gelap karena tak ada satu pun sumber penerangan yang sengaja dinyalakan. Hari memang masih sore, tapi rupanya Nina sengaja menutup gorden kamarnya dan mematikan lampu agar hatinya lebih tenang.
Klik.
Johan menekan sebuah saklar yang terletak di samping pintu, hingga beberapa lampu pun menyala menerangi kamar itu. Di saat yang bersamaan, matanya mencoba menyapu seluruh sudut ruang.
__ADS_1
"Sayang," Johan segera menghampiri Nina, begitu matanya menangkap gadis yang sudah sangat dia rindukan itu sedang berbaring di satu sisi ranjang, membelakangi pintu dimana Johan sedang berdiri dengan tatapan yang begitu sulit diartikan.
BERSAMBUNG