METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
You're My Other Half


__ADS_3

Tidak sabar menunggu kabar dari dokter yang sedang berada di dalam, Ryan terus berjalan mondar-mandir di depan pintu IGD rumah sakit.


"Jika Rani tidak mencintai Mas Ryan, Mas pikir Rani rela jauh-jauh menyetir mobil ke sini, bahkan dengan senang hati harus menyelesaikan perjalanan selama 8 jam sampai ke tempat ini hanya untuk memastikan bahwa Mas Ryan tidak sedang bersama perempuan itu?" kalimat yang sempat Rani ucapkan sebelum dia kesakitan tadi terus terngiang-ngiang di benak Ryan.


"Ternyata dia juga mencintaiku. Kenapa selama ini aku begitu takut hanya untuk mengatakan bahwa aku mencintainya?" batin Ryan merasa bahwa dirinya adalah pria terbodoh di dunia.


Meskipun akhir-akhir ini Rani bersikap manja kepadanya dan menjadi lebih penurut, namun selama ini Ryan masih saja takut bahwa cintanya akan bertepuk sebelah tangan, mengingat pernikahan mereka yang awalnya tidak didasari dengan perasaan cinta satu sama lain.


"Dan di saat kata-kata itu terucap, kenapa dalam kondisi yang seperti ini? Huhhhh," Ryan berdecak kesal. Tangannya mengacak rambutnya berkali-kali dengan kasar.


Tiba-tiba pintu terbuka. Dengan muka tak bersahabat dokter yang memeriksa kondisi Rani keluar.


"Bagaimana kondisi istri saya, Dokter?" Ryan mendekati dokter itu dan bertanya dengan nada sangat cemas.


"Apakah sebelum ini istri Anda sempat terjatuh?" kalimat itu yang pertama keluar dari mulutnya.


"Tidak, Dok," jawab Ryan meski dalam benaknya dipenuhi tanda tanya besar, kenapa dokter menanyakan hal itu.


"Apakah istri Anda sedang terbebani sesuatu sehingga stress atau habis melakukan aktivitas berat atau perjalanan jauh?" cecar dokter itu penuh selidik.


"Dia menyetir sendiri dari Kota X ke Kota Y, Dokter. Bahkan perjalanan yang seharusnya ditempuh 4 jam dia selesaikan selama 8 jam,"


"Seharusnya Anda tidak membiarkan istri Anda menyetir dalam kondisi beliau hamil muda," sesal dokter itu.

__ADS_1


"Istri saya hamil, Dokter?"


"Bagaimana bisa Anda tidak tahu padahal usia kehamilan istri Anda sudah sekitar 12 minggu?"


Ryan hanya diam mematung mendengar ucapan dokter yang ada di depannya. Selama tiga bulan mereka menikah, memang Ryan belum pernah mendapati istrinya datang bulan.


Mungkinkah benih Ryan langsung bersemayam di rahim Rani sejak pertama kali mereka melakukannya? Bahkan Ryan sama sekali tidak menyadari perubahan sikap istrinya yang menjadi sangat manja. Akhir-akhir ini permintaan Rani juga aneh-aneh sampai makan pun harus sepiring berdua dengannya dan harus disuapinya. Mungkinkah itu bagian dari ngidamnya? Ahh, kini perasaan Ryan campur aduk, sambil menunggu dokter itu melanjutkan penjelasannya.


"Dengan sangat menyesal kami katakan, bahwa istri Anda harus di-kuretase untuk mengangkat sisa janin dan ari-ari di dalam rahimnya. Kandungan istri Anda tidak bisa dipertahankan," kalimat dokter itu bagai petir yang menyambar. Ryan langsung duduk dengan lunglai dan tergugu.


Tak berapa lama, seorang perawat keluar membawa berkas persetujuan yang harus ditandatangani Ryan agar Rani bisa langsung di-kuretase. Dengan bergetar, Ryan pun mengambil berkas itu dan mengukir tanda tangan di sana. Berat memang, tetapi dokter tidak memberi pilihan.


***


Ryan terus menggenggam tangan istrinya begitu kuratase selesai dan Rani dipindahkan ke ruang perawatan. Saat itu gadisnya masih dalam pengaruh obat bius, sehingga belum sepenuhnya sadarkan diri.


"Mas," begitu tersadar, tiba-tiba Rani membalas genggaman suaminya.


"Maaf," entah kenapa kata itu yang muncul dari mulut Rani dengan lelehan bulir bening yang terus mengalir di pipinya.


"Sssttt," Ryan menempelkan jari telunjuknya di bibir merah Rani sambil menggelengkan kepalanya. Dikecupnya kening istrinya itu, kemudian Ryan menempelkan keningnya ke arah kening Rani sehingga hidung mereka berpadu. Sambil kedua ibu jarinya mengusap air mata istrinya, Ryan berucap, "Bukan salahmu. Mas yang minta maaf."


"Rani terlalu bodoh hingga tidak mengetahui kalau Rani sedang hamil. Padahal terakhir Rani datang bulan sebelum kita menikah, dan setelah itu Rani belum datang bulan lagi," sesalnya lirih.

__ADS_1


"Mas juga seharusnya tahu kalau kamu sedang ngidam, Sayang. Maafkan Mas Ryan ya, Mas tidak peka sehingga tidak menyadari perubahan sikapmu yang manja dan banyak permintaan yang aneh-aneh. Seharusnya Mas curiga kalau kamu sedang ngidam," Begitulah mereka. Selama beberapa saat, mereka saling menyalahkan diri.


"Kita bisa coba lagi, Sayang. Setelah ini kita buat yang banyak," gumam Ryan, yang sukses membuat Rani membulatkan matanya.


"Kemarin pas kamu belum cinta sama Mas Ryan saja, kita melakukannya sekali bisa langsung jadi. Apalagi sekarang kamu sudah cinta," goda Ryan lagi.


Mendengar ucapan Ryan, muka Rani merona seketika. Dia sungguh tidak sadar bahwa beberapa jam yang lalu sudah mengatakan kata-kata cinta kepada suaminya. Walaupun dalam keadaan mereka bertengkar, tapi kata cinta itu benar-benar sudah keluar dari mulutnya.


"Walaupun...," tiba-tiba Rani menghentikan kalimatnya begitu sekali lagi Ryan menempelkan jari telunjuk pada bibirnya untuk mencegah Rani berbicara.


"Kamu tahu, kenapa waktu itu Allah langsung menitipkan benih Mas ke dalam rahimmu? Karena Allah tahu, bahwa saat itu Mas melakukannya dengan penuh cinta dan kerinduan kepadamu," tutur Ryan lembut.


"Mas tidak tahu, kenapa sebegitu takutnya Mas akan penolakan darimu. Padahal cinta itu perlahan sudah terhembus sejak kamu menawarkan perjanjian agar kita berteman sebelum kita akhirnya menikah waktu itu. Tapi nyatanya, selama ini Mas lebih memilih untuk mencintaimu dalam diam. Tapi sekarang kamu harus tahu, Sayang. Bahwa kebahagiaanku adalah ketika mengukir namamu di dalam hatiku. I Love you, Honey. You're my other half," lanjut Ryan dengan tatapan penuh cinta.


"Tapi," kalimat Rani kembali menggantung.


"Jangan minta untuk menghalalkan perempuan itu lagi karena itu tidak akan pernah terjadi. Apalagi jika kau bilang akan pergi sejauh-jauhnya dariku, itu sungguh akan membunuhku, Sayang. Mas juga tidak tahu kalau perwakilan dari Atmaja Group adalah Hengky dan kakaknya. Dan yang kamu lihat di coffe shop itu tidak seperti yang kau pikirkan. Dia minta bertemu sekali lagi dan berjanji itu untuk yang terakhir, makanya Mas bersedia menemuinya. Mas juga sudah berusaha melepaskan tangannya berkali-kali, tapi berkali-kali itu juga dia meraih tangan Mas. Dan yang terakhir, sebelum Mas sempat melepas tangan itu, kamu sudah datang terlebih dahulu,"


Mereka saling tatap dalam diam. Rani terus mendalami tatapan mata suaminya dengan lekat, mencoba mencari sinar kejujuran dalam mata indah itu.


"Apa kau percaya kepadaku?" Ryan terus menunggu jawaban dari gadis cantik yang telah lama menjadi belahan jiwanya itu.


BERSAMBUNG

__ADS_1


❤❤❤


Jangan lupa tinggalkan like, vote dan rate 5 ya guys. Jangan lupa juga tinggalkan comment positif di kolom komentar. Terima kasih


__ADS_2