
Angin pagi yang berhembus perlahan di hari itu masih terasa basah. Dingin yang kian menikam pun, membuat jiwa-jiwa manusia menggigil dalam dekapan nyanyian alam. Di saat itulah rasa cinta dua orang anak manusia sedang dalam pengembaraan. Hempasan gelombang yang menghantam, kini saling menerkam gejolak hati dengan sejuta pertanyaan yang berkecamuk dalam bimbang.
Kamar itulah yang menjadi saksi, betapa Daniel dan Naja kini tengah berseteru dengan hati dan benaknya sendiri. Naja yang begitu percaya dengan apa yang ditangkap netranya melalui CCTV itupun langsung mengambil kesimpulan sepihak tanpa melalui proses klarifikasi kepada sang suami. Sementara Daniel, masih menerka-nerka mengapa istrinya tiba-tiba menjadi emosi dan naik pitam.
"Apakah karna dia bosan menjadi seorang istri dari laki-laki yang kehilangan penglihatan?" Daniel menerka-nerka dalam hati.
"Hukuman. Hukuman. Hukuman apa? Bukankah kau sudah tahu bahwa hukuman yang aku berikan kepadamu adalah dengan memberikan seluruh cinta dan hidupmu untuk menjadi istri dan wanitaku seumur hidupmu, Sayang?" Daniel belum menemukan kemana arah istrinya berbicara.
"Saya sudah mengatakan bahwa saya menerima semuanya, Tuan. Walaupun saya baru tersadar, bahwa ada hukuman berat yang Anda berikan kepada saya, tanpa saya ketahui sebelumnya," ketus Naja.
"Apa hal berat yang aku berikan kepadamu, Sayang? Katakan! Apa kau begitu terpaksa menjadi istri dan wanitaku selamanya? Apa kau tidak mencintaiku?" Daniel mulai menebak-nebak apa yang membuat istrinya tiba-tiba berubah menjadi sedingin itu kepadanya.
Sesaat, suasana menjadi hening. Baik Naja maupun Daniel sama-sama mengembara dalam pikirannya masing-masing. Kini, hanya desahan nafas yang terdengar di telinga mereka.
"Sayang, sekali lagi aku bertanya kepadamu. Apa kau tidak mencintaiku? Atau kau sudah tak tahan menjadi seorang istri dari pria buta seperti diriku?" Daniel meninggikan suaranya.
"Apa Anda tak bisa merasakan ketulusan cinta saya, Tuan Daniel? Demi apapun saya rela bersumpah bahwa saya mencintai Anda dengan sepenuh jiwa dan raga saya. Justru Anda yang telah menodai cinta itu dalam rumah tangga kita. Teganya Anda berpura-pura mencintai saya, padahal sebenarnya Anda sedang menghukum saya dengan hukuman yang paling menyakitkan untuk saya. Kenapa waktu itu tidak Anda ambil saja nyawa saya sebagai penebus akan pengkhianatan yang telah saya lakukan? Kenapa harus dengan cara seperti ini?" Naja mulai terisak. Kini dia benar-benar tidak tahan, dengan kenyataan yang telah suaminya sembunyikan.
"Apa maksudmu, Sayang? Kau ini berbicara apa?" Daniel bertambah bingung.
"Cukup, Tuan Daniel Yang Terhormat! Jangan berpura-pura tidak melakukan apa-apa. Atau perlu saya ingatkan, bahwa selama ini Anda telah menyekap ibu saya di kediaman Anda? Hebat sekali, Tuan. Anda tidak mentolelir sebuah pengkhianatan, tapi Anda sendiri mengkhianati kesepakatan yang telah kita ikrarkan. Saya menikah dengan Anda, dan Anda akan membebaskan keluarga saya dari persembunyian mereka. Itulah kesepakatan kita. Apakah Anda sudah ingat sekarang? Saya sungguh kecewa kepada Anda, Tuan. Sangat kecewa," ucap Naja panjang lebar. Bahkan Naja tak menunggu Daniel menanggapi kemarahannya. Setelah mengucapkan kalimat terakhirnya, dia langsung bergegas keluar dengan membanting pintu kamarnya dan segera menuruni tangga, kemudian berlari menuju mobilnya. Ya, sekarang hanya ada satu tujuan untuk Naja, yaitu bertemu dengan ibunya.
"Sayang! Sayang! Dengarkan aku dulu! Ini semua tidak seperti yang kamu pikirkan," seru Daniel begitu suara bantingan pintu sampai ke telinganya.
__ADS_1
"Sayang!" Daniel terus memanggil istrinya, sambil meraba dinding terdekat yang bisa diraihnya, agar dia bisa berjalan dan mengejar Naja yang sudah jauh meninggalkan dirinya.
Daniel pun semakin mempercepat langkahnya. Apapun yang ada di sekelilingnya dia pegang agar dia tak terjatuh saat berjalan. Namun sayang sungguh sayang, saat dia mulai meninggalkan kamar hendak menuju tangga, tak ada satu pegangan pun yang bisa diraihnya. Hingga saat kakinya mulai menyentuh anak tangga teratas, Daniel pun kehilangan keseimbangannya. Akhirnya dia terjatuh dan menggelinding dari anak tangga tertinggi sampai ke lantai dasar, hingga dia hilang kesadarannya seketika.
"Tuan Daniel!" teriak Bik Tum begitu mendengar suara teriakan dan menyadari bahwa majikannya telah berlumuran darah di dasar tangga.
"Tolong! Tolong!" teriak Bik Tum sambil menghampiri tuannya.
Semua orang pun kini menghambur ke sumber suara, dan sangat terkejut begitu mengetahui apa yang ada di depan mereka.
"Daniel!" seru Aghata dan Arsen secara bersamaan, begitu mereka keluar dari kamar mereka.
Begitu juga dengan pasangan Arya dan Lena, juga Johan dan Nina, semua langsung berlari ke arah Daniel, diikuti beberapa orang penjaga yang sedang bertugas di dalam kediaman utama. Sementara Ryan, turun pelan-pelan sambil menggandeng istrinya yang perutnya sudah mulai membola.
"Tenang, Sayang. Kita urus Daniel dulu, sembari kamu hubungi menantumu itu," timpal Arsen sambil menatap Johan dan Ryan secara bersamaan.
Dengan sigap, mereka pun menggotong tubuh Daniel yang sudah berlumuran darah ke sebuah mobil dan segera melarikannya ke rumah sakit.
***
Naja terus menekan pedal gasnya semakin dalam, hingga mobil itu melaju dengan kecepatan maksimal. Tak terhitung lagi berapa kendaraan yang membunyikan klaksonnya sebagai aksi protes atas brutalnya Naja dalam berkendara, tapi tak satu pun yang menyadarkan Naja bahwa hal gila yang dia lakukan itu bisa berakibat fatal untuknya, juga untuk pengendara yang lainnya.
Kini, yang ada di benak Naja hanya satu, pergi ke rumah Daniel dan menyelamatkan nyawa ibu dan adik yang telah lama dia rindukan. Matanya yang terus saja membasah, bahkan hanya bisa menatap jalanan dengan tatapan nanar. Lain dengan kaki dan tangannya yang terus aktif mengendalikan dua pedal gas dan rem, juga setiran mobil untuk menyeimbangkan laju kendaraan.
__ADS_1
Hingga tak butuh waktu lama, akhirnya sampai juga Naja di kediaman suaminya.
Thet-thet. Thet-thet.
Naja terus membunyikan klaksonnya agar Satpam rumah segera membuka gerbang utama.
Satpam rumah pun dengan tergopoh-gopoh langsung berlari dan membukakan pintu untuk Naja, begitu tahu bahwa Nyonya besarnya ingin masuk dan tampak tergesa-gesa.
Begitu gerbang utama terbuka, Naja segera masuk dan memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu utama. Sedetik kemudian, dia langsung keluar dan berlari menuju rumah belakang demi segera membebaskan ibu yang sangat berarti dalam hidupnya.
Dan dalam sekejab, Naja bisa masuk ke rumah belakang dengan begitu bebasnya. Para pelayan yang bertugas di rumah itu pun hanya mampu membungkuk dan memberi hormat kepada Nyonya besarnya, walaupun mereka begitu terkejut dengan kehadiran Naja, mengingat Ranti selalu berpesan kepada mereka untuk menyembunyikan keberadaannya dari putrinya yang tak lain adalah Nyonya besar mereka.
"Dimana ibuku?" teriak Naja.
Semua pelayan itu hanya diam membisu. Mereka terus tertunduk, tanpa berani menatap wajah Naja yang sudah sangat murka.
"Baiklah jika kalian tak mau menjawab pertanyaanku. Aku bisa mencarinya sendiri," ucap Naja penuh amarah, kemudian langsung berlari ke lantai atas, tepatnya ke arah kamar dimana dia melihat ibunya melalui rekaman CCTV yang dia temukan.
Dengan hati bergetar, Naja pun memutar gagang pintu yang ada di depannya. Sedetik kemudian, Naja membulatkan mata dan mulutnya, mendapati ibunya yang kini benar-benar ada di depan mata.
"Ibu!"
BERSAMBUNG
__ADS_1