METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Bertahanlah


__ADS_3

Tubuh Zara semakin tak terkondisikan. Dia semakin menggigil karena hawa dingin yang semakin merasuk dalam tubuh kecilnya, membuat Indra berinisiatif untuk menariknya dan membuat Zara berada dalam dekapannya.


Zara tak menolak. Alam bawah sadarnya menerima perlakuan Indra, bahkan tak sadar tangannya pun kini melingkar di tubuh Indra. Melihat respon Zara, Indra benar-benar sudah tak tahan untuk bisa berbuat lebih pada gadis yang diam-diam sudah merajai hatinya itu, hingga tiba-tiba muncul keberanian dari dalam dirinya untuk mengecup kening Zara.


Zara tak bergeming. Jangankan marah. Dia justru semakin mengeratkan pelukannya, saat Indra semakin manis memperlakukannya. Merasa mendapatkan angin segar, Indra pun sedikit menundukkan kepalanya, kemudian menempelkan bibirnya pada bibir ranum Zara, hingga kini tak ada jarak lagi di antara keduanya.


Ya, selama beberapa saat, Indra terus memperdalam ciumannya, membuat angan keduanya melayang entah kemana.


Namun tiba-tiba, terlihat sebuah cahaya sangat terang yang muncul dari arah belakang, membuat Indra melepaskan pagutan bibirnya.


"Huh, kenapa mereka datang disaat-saat seperti ini sih," gerutu Indra dalam hati.


"Apa yang kulakukan tadi? Kenapa aku justru menikmatinya saat dia menciumku?" batin Zara sambil membenarkan posisi duduknya.


"Mereka menemukan kita, Tuan," ujar Zara untuk menutupi rasa malunya.


"Jika mereka datang dari arah belakang kita, berarti mereka anak buah Felix Adinata, karena mereka melacak posisi terakhirmu sebelum kau melepaskan alat pelacak itu. Tapi kalau mereka datang dari depan kita, berarti bantuan datang," kata Indra, seraya menarik Zara untuk berdiri bersamanya.


"Mari kita selesaikan ini, Tuan. Jika bantuan tak juga datang, mungkin ini adalah akhir dari perjuangan yang bisa kita persembahkan," ucap Zara tak gentar.


Cahaya itu pun semakin mendekat, membuat Zara dan Indra bersiap-siap. Dan ternyata benar, puluhan anak buah Felix datang menggunakan jet ski mereka masing-masing, membuat daratan kecil di tengah danau itu ramai seketika tak seperti biasanya.


"Apa Anda punya rencana, Tuan?" Zara memastikan.


"Melanjutkan yang tadi," sahut Indra menggoda.


"Sempat-sempatnya Anda bercanda di saat-saat seperti ini," keluh Zara.

__ADS_1


"Kau ini yang aneh, Zara. Sudah seperti ini masih bertanya juga rencanaku apa. Ya jelas melawan merekalah. Kau pikir aku akan membiarkanmu mati atau tertangkap mantan bossmu itu?" kata Indra sambil menarik sebuah pisau dari saku celananya.


"Terima kasih, Tuan," Zara benar-benar terharu dengan ucapan Indra kepadanya. Untuk pertama kalinya, dia yang selama ini hidup sebatang kara, akhirnya ada yang memperhatikannya juga.


"Kau harus membayar mahal untuk semua ini, Zara," Indra menyeringai. Dia sudah mulai merancang apa yang akan dia lakukan begitu mereka berdua selamat dari anak buah Felix yang mengancam.


"Hmmm," Zara seolah tak peduli.


"Kau bergerak ke kanan, aku ke kiri, Zara. Ingat, berhati-hatilah karena mereka membawa senjata api, sedangkan kita hanya bermodalkan sebilah pisau ini," titah Indra serius.


"Baik, Tuan," sahut Zara tanpa protes atau berkata apapun lagi.


Sedetik kemudian, mereka berdua berpencar. Seperti yang Indra katakan, dia bergerak ke kiri sedangkan Zara bergerak ke kanan, sementara musuh sudah berpencar juga hendak mencari mereka.


"Ini tidak akan sesulit yang kau kira, Zara," Zara menyemangati dirinya sendiri.


Namun karena jumlah musuh sedemikian besar, akhirnya Zara dan Indra kwalahan. Tenaga mereka tidak sebanding dengan anak buah Felix yang begitu banyaknya, sehingga beberapa bagian tubuh Indra maupun Zara harus terluka baik karena pukulan maupun goresan senjata tajam.


"Mungkin ini adalah akhir dari hidupku," gumam Zara dalam hati. Dia tersenyum miris dalam kegelapan, sambil melawan beberapa orang di depannya sekaligus. Bahkan, posisinya saat ini harus tangkis kiri, pukul kanan, tendang depan dan belakang, karena yang harus dia hadapi sekaligus beberapa orang.


Indra langsung menghambur ke dekat Zara dan melawan musuh mereka secara bersama-sama. Namun lagi-lagi karena kalah jumlah, musuh yang mengelilingi mereka menjadi semakin banyak saja.


Hingga tibalah di titik akhir. Luka mereka sudah menganga dimana-mana, darah sudah lagi tak jelas mengucur dari bagian tubuh yang mana, bahkan tubuh mereka kini limbung di tengah-tengah kepungan para musuh yang kini melingkar mengerubungi mereka.


"Ha-ha-ha," gelak tawa yang memekik telinga pun terdengar dari mulut musuh di depannya.


Indra masih berusaha bangkit, ingin kembali melawan mereka, tapi sia-sia. Luka di tubuhnya sudah tak bisa diajak kompromi lagi. Sementara Zara, kini sudah terkulai lemas tak berdaya, dengan darah yang membanjiri seluruh tubuhnya.

__ADS_1


"Zara!" Indra memanggil-manggil Zara, tapi tak ada sahutan sedikitpun yang keluar dari mulutnya.


"Zara!" Indra memanggilnya lagi, kini sambil menyeret tubuh lemahnya mendekati gadis yang telah berhasil merebut hatinya itu.


"Ha-ha-ha," anak buah Felix kembali tergelak, melihat dua musuhnya kini sama sekali tak punya daya untuk melawan mereka.


"Kita bawa mereka hidup-hidup atau mati?" tanya salah seorang dari mereka sambil menyeringai ngeri.


"Tidak ada gunanya mereka hidup. Kau tak lihat, berapa jumlah teman kita yang mereka lumpuhkan dengan sadisnya? Kini biarkan mereka merasakannya juga. Ha-ha-ha," sahut anak buah Felix yang lainnya, sambil mendekati Zara.


"Tapi sebelum kita habisi, kita nikmati tubuhnya dulu. Bagaimana, apa kalian setuju?" yang lain menimpali, disambut gelak tawa dan suara riuh dari puluhan orang yang masih tersisa.


Setelah salah seorang memunculkan ide gila itu, dua orang diantara mereka pun mendekati Zara dan hendak menyentuhnya. Hal itu sontak membakar kemarahan di hati Indra, hingga kekuatannya yang tadi sempat hilang, seolah muncul begitu saja.


Ya, walau tubuhnya sudah penuh dengan luka, Indra bergegas beranjak dan menyingkirkan dua orang yang mendekati Zara dengan tangannya. Pukulan membabi-buta pun tak elak dia layangkan pada dua orang yang berusaha menyentuh gadisnya.


Melihat apa yang dilakukan Indra, anak buah Felix yang lain pun maju dan segera melawan Indra. Pukulan demi pukulan, tendangan, juga serangan lain, kini tertuju kepada Indra dari puluhan orang yang ada di hadapannya, namun Indra tetap berusaha menangkisnya dan melindungi Zara dari jamahan pria-pria tak bermoral yang kini tengah mengeroyok mereka berdua.


Namun sekuat-kuatnya Indra, pertahanannya tetap tak mampu menandingi jumlah musuhnya yang sangat banyak jumlahnya. Apalagi melihat kondisi tubuh Indra yang sudah penuh dengan luka dan kini tanpa senjata, membuat dia tak punya daya lagi untuk menghalau serangan musuh yang semakin menggila.


Hingga akhirnya, Indra tumbang tanpa bisa lagi memberi perlawanan terhadap serangan demi serangan yang kini dia terima. Ya, dia terkulai tak berdaya. Bahkan sesaat sebelum semua menjadi gelap, dia sempat melihat ke arah Zara yang tak bisa lagi melawan musuh-musuhnya saat puluhan pria tegap itu mendekatinya.


"Zara! Bertahanlah, Zara! Bertahanlah!" Indra terus berteriak dalam hati, sebelum akhirnya semua benar-benar gelap dan Indra tak lagi ingat apa-apa.


Apa yang mereka lakukan kepada Zara? Apakah Zara tetap bisa mempertahankan kesuciannya dan terlepas dari pria-pria yang sudah tak sabar ingin mereguk kenikmatan dari tubuh Zara?


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2