METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Siapa Dia?


__ADS_3

Pahitnya hidup sebatang kara membuat Lena lebih dewasa dari usianya. Gadis itu terlalu sering berhadapan dengan kesepian dan ketakutan, menjalani kisahnya bagai meloncat dari satu opera ke opera lainnya. Semua berputar berulang-ulang. Kadang seindah senja yang menjingga, kadang segelap gumpalan kapas cakrawala yang menghitam. Semua Lena jalani seorang diri sampai semuanya usai ditelan nestapa.


"Atas permintaan Rani, Ryan memintaku memegang mega proyek ini, untuk menghindari Meysie dari Atmaja group yang juga terlibat di dalamnya. Itu artinya, kamu akan sering Kakak tinggal-tinggal. Apakah kau tak apa-apa?" tanya Arya ketika itu.


Lena hanya tersenyum simpul mendengar pertanyaan itu. Persoalan demi persoalan yang terus mengeras dalam hidupnya sejak dia masih kecil tak pernah membuatnya menjadi seorang gadis yang manja. Jadi bagaimana mungkin masalah sekecil itu Arya tanyakan kepadanya.


"Kak Tama lupa kalau aku sudah terbiasa hidup sendiri? Bisa bertemu denganmu saja sudah menjadi impian yang tak pernah kubayangkan bisa menjadi kenyataan. Masa aku harus merajuk hanya karena ditinggal urusan kerjaan," Lena menyeringai, menjawab pertanyaan galau dari suaminya dengan begitu santainya.


Mendengar jawaban Lena, Arya tersenyum lega. Dia sungguh beruntung mendapatkan gadis kecilnya kembali. Gadis malang yang tidak pernah meratapi kemalangan hidupnya, meskipun rasa sakit akibat jatuh bangun harus rela dilaluinya.


***


Walau masih tampak pucat, seperti biasa dengan sedikit memaksa Rani meminta untuk segera pulang ke Kota X. Herannya, seorang Ryan yang dikenal dengan sifatnya yang dingin, acuh juga tegas itu selalu saja luluh dengan rajukan istrinya. Apapun yang menjadi permintaan Rani, hampir tidak pernah ditolaknya.


Waktu itu mereka bertiga pulang dari Kota Y menggunakan mobil Ryan, setelah mobil Rani dibawa pulang terlebih dahulu oleh Pak Mamat, sang supir keluarga Dewangga. Arya sendiri sengaja datang dengan diantar sekretarisnya agar ketika pulang bisa mengemudikan mobil untuk tuan dan nonanya.


"Kamu fine, Sayang? Perjalanan masih sekitar tiga jam lagi. Apa kau kuat kita lanjut?" Ryan yang duduk di samping Rani di kursi penumpang terlihat khawatir melihat wajah pucat istrinya.


"I am fine," Rani tersenyum kemudian memiringkan tubuhnya, dan menjadikan paha suaminya sebagai alas kepalanya.


"Apa perutmu masih terasa sakit? wajahmu pucat sekali," selidik Ryan sambil mengelus ujung kepala Rani yang kini berada di pangkuannya.


Rani hanya menggeleng pelan kemudian memejamkan matanya.


Dua jam lebih Rani tertidur, membuat Ryan tidak bisa bergeming dari posisinya. Bahkan kini kakinya sudah kesemutan. Arya yang bisa menangkap ketidaknyamanan Ryan, segera meraih bantal yang ada di sampingnya kemudian menyerahkan kepada tuannya itu.


"Pakailah ini untuk istrimu, setidaknya sampai kakimu nyaman,"

__ADS_1


"Tidak perlu. Setengah jam lagi kita sudah sampai rumah. Aku tak mau membangunkan istriku," kekeh Ryan, menolak saran dari Arya yang akhirnya hanya mengangkat bahu mendengar jawaban dari tuannya itu.


Benar saja. Sampai akhirnya mereka memasuki area kediaman Ryan, Rani masih tertidur di pangkuan suaminya.


"Apakah mereka semua tahu bahwa kami kehilangan bayi kami?" Ryan mengerutkan dahinya, melihat kedua orang tua dan beberapa orang lainnya berhamburan keluar menyambut kedatangan mereka.


"Seharusnya mereka tidak tahu. Tapi entahlah," Arya mengangkat bahu dan kedua tangannya tanda tidak mengerti.


Ryan pun pasrah saja jika ternyata kedua orang tuanya akhirnya tahu, meski sudah bisa dipastikan dirinya akan dimarahi habis-habisan karena telah menyakiti sang menantu kesayangan.


"Hmhmm. Sudahlah. Ayo kita turun," perintah Ryan. Mendengar itu, Arya langsung turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Ryan.


Dengan posisi membungkuk, Ryan menghujani wajah Rani dengan puluhan kecupan hingga istrinya itu terbangun.


"Mas, kita sampai mana?" Rani duduk sambil mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.


Mendengar jawaban Ryan, sontak Rani membulatkan matanya.


"Lama sekali Rani tertidur. Mas pasti sangat capek. Maaf," lirih Rani.


"Kenapa minta maaf. Mas senang melakukannya. Ayo kita turun. Sudah ada pasukan yang menyambut kita," Ryan memberi isyarat mata, mengarahkan pandangan matanya menuju barisan keluarga yang sudah menunggu mereka di depan pintu.


"Apakah mereka tahu?" bisik Rani, sambil turun dari dalam mobil dan bersiap menuju barisan orang yang telah menunggu.


"Tentu saja kami tahu. Biar Papa hajar anak nakal ini jika dia masih menyakitimu lagi, apalagi sampai membuat Papa kehilangan cucu," Papa Prabu menghampiri mereka dan mengacak rambut Ryan dengan kasar.


"Dari mana Papa tahu?" Ryan menerima dengan pasrah omelan sang papa.

__ADS_1


"Kamu lupa kalau Papa punya banyak mata dan banyak telinga? Dasar anak nakal," ekspresi Papa Prabu masih tidak bersahabat.


"Sudah-sudah. Biarkan menantu Mama istirahat. Ayo kita masuk, Sayang. Jangan dengarkan mereka," timpal Mama Titania sambil memapah Rani masuk ke dalam rumah. Rani hanya tersenyum mendapat perlakuan mama mertuanya yang selalu mengistimewakannya itu.


Rani mengedarkan pandangannya pada orang-orang yang menyambutnya di depan pintu. Selain Papa Prabu, Mama Titania, Nina dan juga Bik Tum, ada beberapa orang yang tidak dikenalnya.


"Masuklah, nanti Papa perkenalkan mereka semua," ucap Papa Prabu, seolah bisa mengerti pertanyaan di hati Rani.


Mereka semua pun akhirnya masuk dan duduk di ruang tamu.


"Papa sengaja membawa mereka semua agar bisa membantu mengurus rumah ini. Ini Pak Sam, suami Bik Tum yang akan mengurus taman dan kebun di rumah ini. Yang ini Pak Rudi yang akan membantu keamanan bersama satpam yang sebelumnya. Pak Rudi ini juga bisa menjadi sopir pribadi Ryan jika kalian mau, biar Pak Mamat yang ikut Papa. Yang ini Mbak Indah, yang akan membantu bersih-bersih. Untuk Nina dan Bik Tum biar fokus urusan dapur," jelas Papa Prabu panjang lebar.


Sebenarnya Rani merasa berlebihan harus mempekerjakan orang sebanyak itu di rumah mereka. Namun melihat ekspresi Ryan yang biasa saja ditambah semangat Papa Prabu yang luar biasa, akhirnya Rani lebih memilih untuk diam.


"Ada satu orang lagi yang mau Papa perkenalkan," Papa Prabu menunjuk pada satu orang terakhir yang belum dikenalkannya.


Seorang gadis cantik, dengan tinggi 180 cm. Usianya lebih tua dari Rani, mungkin sekitar 25 tahun. Penampilannya yang elegan, dengan balutan kemeja panjang warna navi yang dipadukan dengan celana panjang senada dengan atasannya, membuat kulit putihnya begitu tampak mempesona. Apalagi rambut panjangnya yang diikat tinggi di atas kepalanya, membuat aura kecantikannya benar-benar nampak dominan sehingga seluruh mata tertuju padanya.


"Namanya Naja. Hari ini Papa sengaja membawanya kemari untuk bertemu dengan kalian," ucap Papa Prabu singkat. Sementara Naja yang merasa bahwa dirinya sedang di perkenalkan, hanya menganggukkan kepalanya sambil melempar senyum indahnya.


"Siapa dia?"


BERSAMBUNG


❤❤❤


Kira-kira siapa sih Naja itu? Penasaran? Kasih jempol dan vote nya dulu dong, biar author semangat lanjutin ceritanya.

__ADS_1


__ADS_2