METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Bukan Pahlawan


__ADS_3

Semua yang menyaksikan siaran langsung penyelamatan itu meneteskan air mata melihat Arania Levana pingsan dengan darah di keningnya. Saat itu mereka masih menyaksikan live report perjalanan Rani ke rumah sakit dan ingin mengetahui kondisi Rani secara langsung.


Sementara itu, Rani yang masih berada di pangkuan suaminya tiba-tiba tersadar. Dia mencoba mengingat-ingat apa yang baru saja terjadi padanya, kemudian dilihatnya wajah suami yang dinanti-nantikannya sepanjang hari untuk menyelamatkannya.


Tangan Rani meraba wajah itu, takut bahwa apa yang dilihatnya hanya mimpi semu. Saat tangannya menyentuh pipi Ryan, tangan itu basah karena ada air mata di sana.


Merasakan tangan Rani bergerak di area wajahnya, Ryan reflek memegang tangan itu.


"Kau sudah sadar, Sayang? Alhamdulillah...," seru Ryan girang melihat istri yang dirindukannya terbangun dari pingsannya.


"Apa Mas Ryan menangis?" tanya Rani sambil meraba kembali wajah itu.


"Kamu membuat Mas khawatir. Bahkan jantung Mas hampir saja berhenti berdetak saat melihat darah di kening mu itu," ucap Ryan sambil memeluk erat istri yang masih berada di pangkuannya. Bahkan semakin lama, pelukan itu semakin erat, seolah jika mereka melepasnya, mereka akan saling kehilangan lagi.


Arya yang masih jomblo, tidak berani menoleh ke belakang dan hanya fokus pada jalan yang mereka lewati. Dia sudah bisa membayangkan adegan seperti apa yang sedang berlangsung di kursi penumpang saat itu.


"Apa keningmu sakit, Sayang?" tanya Ryan sambil melepas pelukannya saat teringat bahwa kepala istrinya terluka.


Rani hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Meskipun sebenarnya terasa perih dan sedikit berat, namun dia tidak mau membuat suaminya lebih khawatir lagi.


***


Satu jam sudah mobil Rani melaju kencang membelah jalanan yang saat itu mulai lengang. Rani menoleh ke kanan dan ke kiri, mereka sudah hampir sampai pusat kota.


Setelah melewati lampu merah, Rani menoleh ke arah kantornya. Rani mengerutkan dahinya melihat ratusan orang masih berkerumun disana.


"Kita mau kemana? Kenapa kita tidak berbelok ke kantor Rani?" tanya Rani saat mobil itu melewati kantornya begitu saja.

__ADS_1


"Ke rumah sakit." Jawab Ryan singkat. Dia sudah menebak arah pembicaraan Rani.


"Putar!" seru Rani terdengar serius.


"Lanjut ke rumah sakit!" Ryan tak mau kalah.


"Putar balik!" Rani kembali berseru, kali ini nadanya lebih keras.


Mereka saling tatap, dengan pandangan saling memohon. Bahkan kini mata Rani sudah berair menahan tangis, dengan kedua tangan menelungkup di depan dadanya.


"Setidaknya biarkan dokter mengobati lukamu dulu," ucap Ryan sambil menghela nafas.


"Minta dokter untuk mengobatiku di kantor!" pinta Rani masih dengan tatapan penuh harap.


"Setidaknya isi perut kosongmu dulu,"


Ryan hanya menarik nafas panjang, kemudian melepasnya kembali pelan-pelan.


Tanpa komando, Arya yang sedari tadi hanya mendengarkan perdebatan pasangan di belakangnya itu langsung berputar arah, diikuti seluruh mobil yang ada di belakangnya.


Hanya dalam waktu beberapa menit, mobil Rani sudah memasuki gerbang gedung Dewan. Semua mata tertuju padanya. Mereka yang tadinya terduduk menunggu kabar kondisi Rani dari rumah sakit tiba-tiba berdiri. Seluruh Anggota Dewan yang berada di dalam gedung juga segera beranjak dan bergegas keluar. Aparat keamanan pun dengan sigap membelah kerumunan agar mobil Rani bisa berjalan, hingga akhirnya bisa parkir tepat di lobby depan.


Rani menghela napas panjang, kemudian mengeluarkannya kembali dengan pelan. Setelah Ryan turun dan mengulurkan tangannya, Rani meraih tangan itu dan segera turun dengan luka di kening yang masih menganga.


Semua nasabah Era Bank yang masih bertahan dan seluruh yang ada di gedung itu pun bertepuk tangan menyambut sosok yang mereka nantikan. Awak media juga langsung mengerumuni Rani menunggu sesuatu yang akan dia sampaikan.


Setelah mengambil posisi duduk, akhirnya Rani berbicara, di dampingi suami dan Ketua Dewan Kota X.

__ADS_1


"Hari ini saya berbicara di depan Anda semua bukan karena saya adalah seorang pahlawan. Bukan juga karena saya adalah sosok jagoan yang selalu ingin menang di setiap pertempuran seperti tokoh-tokoh serial, meskipun kisah saya hari ini hanya mungkin ditemukan dalam banyak kisah drama. Malam ini saya hanya akan menyampaikan kepada Anda, bahwa penyekapan saya selama hampir 12 jam adalah bukti bahwa saya dan seluruh teman-teman saya adalah pelayan Anda dan dalam rangka memperjuangkan hak Anda semua. Oleh karena itu, biarkan malam ini juga kami bekerja untuk menyusun rekomendasi kami atas kasus Era Bank, dan saya mohon Anda semua kembali pulang. Setelah semua yang terjadi hari ini, bukankah tidak ada alasan bagi Anda semua untuk tidak mempercayai kami?" ucap Rani mantab, walaupun semua terkejut dengan pernyataan Rani, yang dengan kondisinya selemah itu, Rani kekeh ingin melanjutkan penyusunan rekomendasi Panja (Panitia Kerja) Dewan atas kasus Era Bank malam itu juga.


**"


Waktu itu, jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Tapi karena perjuangan Rani bukan tanpa pengorbanan, semua anggota Panja dengan semangat menghabiskan malam di ruang sidang.


Setelah makan dan lukanya diobati, Rani yang kondisinya semakin lemah dengan suhu tubuh yang semakin tinggi itu pun tetap memimpin jalannya sidang hingga pagi menjelang.


Ryan dan Arya menunggu di lobby kantor dengan setia. Para aparat tetap berada di luar gedung untuk berjaga, sedangkan para nasabah Era Bank bersedia membubarkan diri dan segera pulang. Sementara itu, awak media tetap di perbolehkan untuk siaran dan mengikuti jalannya sidang.


Menjelang subuh, sidang penyusunan rekomendasi itu pun selesai. Dalam rekomendasi itu disebutkan bahwa Panja menemukan ketidakberesan manajemen di Era Bank. Dalam rekomendasi itu, Panja juga meminta seluruh pihak terkait dengan Era Bank diperiksa, termasuk para auditor internal yang selama beberapa tahun terakhir tidak menemukan ketidakberesan yang hari itu terungkap. Sedangkan untuk uang para nasabah akan di-cover seluruhnya oleh Pemerintah Kota.


Setelah sidang selesai, seluruh rekan Rani pun beranjak dan bergegas pulang. Namun entah kenapa, saat itu Rani hanya diam dan terus bersandar, dengan mata yang terpejam.


Ryan yang tak mendapatkan istrinya keluar bersama teman-temannya pun akhirnya masuk ke dalam. Dilihatnya wajah istrinya yang merah padam dengan mata terpejam masih bersandar di kursi bagian depan. Ryan mencoba mengusap ujung kepala istrinya, dan betapa kagetnya ketika saat itu suhu tubuh Rani sangat tinggi.


Dengan sigap, Ryan pun langsung membopong istrinya menuju mobil. Arya yang melihat gurat wajah majikannya langsung tanggap, dan segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


Sesampai di IGD, dokter tidak mengizinkan Ryan masuk dan membiarkannya menunggu di luar dengan gurat penuh kekhawatiran.


"Jangan ambil dia Ya Allah," do'anya dalam hati.


BERSAMBUNG


🌷🌷🌷


***Hallo Readers*...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalin jejak ya. Kasih vote, like, comment dan favorit. Jangan lupa juga kasih rate 5. Oke? Terima Kasih**.


__ADS_2