METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Wanita Berhati Iblis


__ADS_3

Ryan kembali memasang mode serius dan sibuk dengan berkas di mejanya. Di depannya, Rani, Arya dan Lena masih memandangi Ryan dengan senyum yang tertahan, mengingat sikapnya yang tiba-tiba berubah saat Arya dan Lena masuk ke ruang kerjanya.


Dari arah Ryan, Rani beralih memandang Arya dan Lena. Sesaat, Rani memicingkan matanya, melihat wajah Lena yang begitu sendu. Bahkan mata sembabnya masih terlihat jelas, menandakan bahwa air mata telah mengalir deras dari sana cukup lama.


"Len," Rani mencoba untuk bertanya, tapi tiba-tiba Arya menggeleng pelan, seolah melarang Rani untuk menanyakan sesuatu kepada Lena.


Rani yang langsung bisa menangkap isyarat dari Arya pun segera mengalihkan pembicaraannya.


"Ayo kita ke Cafe sebelah. Kita bisa ngopi dan memesan singkong keju kesukaanmu," ucap Rani asal, demi membelokkan pembicaraan.


"Heh, siapa yang mengizinkanmu pergi ke tempat itu? Sudah begitu mau ngopi lagi," Ryan mendongakkan mukanya dan memandang Rani lekat.


"Rani nyoklat aja, By. Nggak ngopi deh," Rani berdiri dan menghampiri Ryan, kemudian membisikinya sesuatu.


"Pergilah, hanya boleh di Cafe sebelah, dan tidak boleh lebih dari satu jam mulai dari kalian berdua keluar dari ruangan ini," tegas Ryan, yang langsung ditanggapi dengan anggukan, sekaligus kecupan oleh Rani.


Rani pun segera menghampiri Lena dan menarik tangannya, hingga tak berapa lama mereka sudah tak terlihat dari pandangan mata Ryan dan Arya.


"Apa yang terjadi?" Ryan beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Arya yang sudah memasang muka masamnya.


"Tadi kami ke panti. Bunda menghubungi Lena dan meminta kami ke sana. Kangen katanya," cicit Arya, sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.


"Terus?" tanya Ryan. Dari ekspresi Arya dan Lena, dia benar-benar tahu, ada sesuatu yang terjadi pada mereka.


"Bunda bertemu dengan ibu kandung Lena. Si ibu bilang, ingin sekali bertemu dengan Lena dan menjelaskan semua alasan kenapa dua puluh empat tahun yang lalu meninggalkan Lena di panti asuhan itu," Arya menghela nafas kasar.


"Bagaimana reaksi Lena?" tanya Ryan serius.


"Lena tidak bersedia menemui ibu kandungnya. Bahkan dia terlihat begitu terluka, mengetahui bahwa tiba-tiba ibunya muncul dan menginginkan untuk bertemu dengannya," jelas Arya sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


"Apa kau sudah tahu siapa ibu kandung Lena?" Ryan menatap lekat ke arah Arya.


Arya tak menyahut apapun. Hanya gelengan kepalanya yang mengisyaratkan bahwa dia belum mengetahu, siapa ibu kandung Lena yang sebenarnya.

__ADS_1


"Kau ini pikun, bodoh, atau apa sih? Cari tau sekarang juga siapa ibu kandung Lena. Bukankah biasanya ini menjadi keahlianmu?" cibir Ryan.


"Tapi Lena tak mau tahu dan tak ingin bertemu dengannya. Pasti dia akan marah jika mengetahui bahwa aku mencari tahu tentang siapa ibu kandungnya yang sebenarnya," sahut Arya pelan.


"Cari tahu diam-diamlah. Jangan sampai Lena tahu," cicit Ryan sambil melempar sebuah bantal ke arah Arya saking gemasnya.


"Kau benar. Kenapa aku bisa jadi sebodoh ini ya?" ucap Arya sambil beranjak dan keluar menuju ruang kerjanya.


Ryan hanya menggeleng pelan, mendapati sahabat, saudara sekaligus sekretarisnya itu tiba-tiba menjadi bodoh jika itu terkait dengan Lena. Padahal jika sudah bekerja untuknya, Arya adalah orang yang paling jago mencarikan apapun informasi yang dibutuhkannya.


"Bisa jadi, sebodoh itu juga jika aku sedang bersama Rani," gumam Ryan dalam hati.


***


Rani sibuk memilih makanan dan minuman dari buku menu yang disodorkan oleh pelayan Cafe itu. Sesekali, dia melirik ke arah Lena yang masih diam membisu. Dari mimik muka yang ditunjukkannya, sangat terlihat bahwa dia betul-betul sedang tertekan dan memikirkan sesuatu.


"Aku pesankan coklat panas ya, biar pikiranmu lebih tenang?" ucap Rani sambil memanggil seorang waiters dan segera mendekte apa saja pesanan mereka.


Hal ini karena cokelat, khususnya cokelat hitam memiliki enzim dan zat-zat layaknya methyl-xanthine, phenylethylalanine, theobromine, hingga kafein yang diyakini pakar kesehatan bisa membuat pikiran kita menjadi lebih tenang, memperbaiki suasana hati, hingga mengatasi rasa lelah. Jadi, pilihan Rani tidak salah, jika secangkir cokelat panas ampuh mengatasi pikiran Lena yang cukup kacau di hari itu.


Setelah menunggu beberapa waktu, akhirnya datang juga dua cangkir cokelat panas, seporsi singkong keju, seporsi roti bakar cokelat, juga seporsi french fries yang memanjakan mata dan menggugah selera makan mereka.


"Apa kau sudah siap berbagi cerita denganku?" tanya Rani begitu melihat Lena selesai meneguk cokelat panas itu.


"Ibu kandungku tiba-tiba menemui Bunda dan ingin menemuiku," Lena meletakkan cangkir yang ada di tangannya, kemudian mulai bercerita dengan mata berkaca-kaca.


"Terus apa saran Bunda?" tanya Rani lagi sambil meraih tangan Lena dan menggenggamnya erat. Rani benar-benar tahu, bahwa semua ini adalah hal yang sangat berat untuk Lena. Bagaimana tidak? Seorang ibu yang seharusnya hadir sebagai malaikat bagi anak-anaknya, justru meninggalkan dan sengaja membuangnya di sebuah panti asuhan. Kejam bukan? Dan kini, dia dengan seenaknya minta bertemu? Sungguh bukan sebuah hal yang bisa dibenarkan.


"Kata Bunda, sebaiknya aku menemuinya dulu, setidaknya bisa mendengar penjelasannya, kenapa waktu itu dia membuangku begitu saja," kini bulir bening itu meleleh tanpa ada yang bisa membendungnya.


"Kamu sudah memikirkannya?" Rani terus bertanya.


"Hanya memikirkannya saja aku tak sanggup, apalagi harus menemuinya," Lena cepat-cepat menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Setidaknya cari tau dulu siapa ibu kandungmu. Bukan hal yang sulit untuk Mas Arya dan Johan, jika kamu mau," Rani mencoba memberi saran.


"Terlalu sakit, Ran. Lebih baik aku tak mengenalnya sama sekali dari pada harus tau siapa wanita berhati iblis yang telah membuangku," ucap Lena dengan begitu tegasnya.


"Ya sudah, jangan terlalu dipikirkan jika itu memang sudah menjadi keputusanmu. Tapi kalau boleh aku kasih masukan, mintalah petunjuk kepada Allah, dan serahkan semua kepadaNya," seulas senyum Rani berikan untuk memberi kekuatan kepada saudara perempuannya itu.


Lena mengangguk, dan mengeratkan genggaman tangan Rani. Seulas senyum pun akhirnya melengkung di bibirnya, merasa beban pikirannya sedikit berkurang setelah Rani mendengarkan ceritanya.


Hingga tiba-tiba, seorang wanita paruh baya yang sangat Rani kenal masuk ke dalam Cafe dan cukup menyita perhatiannya.


"Tante," sapa Rani begitu melihat Tante Safira masuk. Sungguh, Rani sering sekali merasa bahwa takdir selalu saja mempertemukan mereka berdua tanpa sengaja.


"Sayang, kau di sini?" sahut Tante Safira sambil menghampiri meja mereka.


Seperti biasanya, tiba-tiba wajah wanita yang kini tinggal sebatang kara itu selalu berubah mendung jika bertemu dengan calon menantu yang gagal dinikahi oleh putranya. Sebuah pelukan dan drama penuh dengan air mata pun selalu mewarnai pertemuan mereka, karena kehadiran Rani selalu membuat Tante Safira mengingat Tede, putranya yang telah tiada.


"Hmmm. Hmmm," sebuah deheman keras membuat Tante Safira melepaskan pelukannya, juga menyeka sisa air mata di pipinya.


"Nak Ryan," sapa Tante Safira kaget. Ryan dan Arya tiba-tiba muncul dan menghampiri meja mereka.


"Maaf, Tante. Pesan dokter yang merawat kandungan Rani, dia tidak boleh stress dan banyak pikiran. Jadi Ryan mohon, ngobrolnya yang asyik-asyik saja, Tante," ucap Ryan dengan sopan, takut membuat tersinggung ibu dari pria yang pernah menjadi bagian dari perjalanan cinta istrinya itu.


"Ohh, iya, Nak Ryan. Tante minta maaf," sahut Tante Safira tak enak hati.


"Tak masalah, Tante. Silahkan duduk," Ryan menjawab dengan santainya.


"Oiya, Tante. Perkenalkan ini Lena, saudara perempuan Rani. Dan ini adalah Mas Arya, suaminya. Kalau tidak salah Tante pernah bertemu dengan Mas Arya saat di rumah sakit," tutur Rani memperkenalkan. Lena dan Arya pun mengangguk dengan sopan, dan di balas oleh anggukan dan senyuman yang sama oleh Tante Safira.


Mereka berlima pun akhirnya makan bersama, meski tatapan aneh dari sorot mata Tante Safira tak bisa lepas dari pengamatan Ryan dan Arya.


"Sebegitu terobsesi kah Tante Safira pada Rani? Tapi kenapa tatapan itu juga tertuju pada Lena?" Ryan bertanya-tanya dalam hati


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2