
“Siapa itu?” anak buah Atmaja yang menyadari ada seseorang yang datang langsung berseru dan mencari sumber suara.
Dari arah berlawanan, dua orang di antara mereka lantas menghampiri Johan dengan sebuah senjata laras pendek di tangannya. Pergerakan mereka yang cukup cepat, bisa terlihat dari bunyi yang timbul akibat gesekan kaki mereka dengan permukaan air.
Johan mempercepat langkahnya, maju ke depan dengan segala resiko yang akan dia dapatkan. Jika saja anak buah Atmaja melepaskan satu peluru ke arahnya, sudah pasti sebuah luka tembakan akan mengenai tubuhnya, mengingat tak ada satu spot pun yang bisa mereka gunakan untuk bersembunyi dan melindungi tubuhnya.
Untung saja anak buah Atmaja tidak berani menarik senjatanya karena takut bunyi yang menggema akan menimbulkan kecurigaan di luar sana. Hal ini membuat Johan tak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada di depannya. Dengan cepat, Johan segera berlari mendekati dua pria kekar yang juga sedang berlari ke arahnya. Daniel yang melihat itupun langsung memberikan aba-aba kepada anak buahnya yang lain untuk membantunya. Dan dalam hitungan menit, Johan bisa menumbangkan lawannya tanpa senjata.
“Siapa itu?” anak buah Atmaja yang lain mengambil suara begitu menyadari dua rekannya tak kembali juga.
“Biar kulihat. Kau jaga mereka!” ucap salah satunya kepada rekannya.
Dan lagi-lagi, Johan melakukan hal yang sama. Tak ada kesempatan yang Johan berikan sedikitpun pada pria kekar itu, hingga akhirnya dia tumbang dan diikat bersama dua teman yang lainnya.
“Ada satu lagi, Tuan. Dia pasti tidak akan ambil resiko menghampiri kita, menyadari 3 temannya tak kembali ke tempat itu juga,” cicit Johan kepada Ryan.
“Mau tidak mau kita harus ke sana apapun resikonya,” sahut Arya.
“Baiklah kita ke sana sekarang,” putus Ryan tanpa sedikit keraguan pun di hatinya.
Kini mereka berjalan mendekati sinar senter yang tertangkap retina mereka. Dilihat dari kilatan cahayanya, mereka dapat menyimpulkan bahwa di sana hanya ada satu orang saja.
“Nyalakan lampu kita dan bergerak cepat ke sana. Jangan sampai dia menyakiti Nona,” Daniel memberi perintah kepada seluruh anak buahnya.
Mereka pun segera berlari, menghampiri anak buah Atmaja yang tersisa. Dan ketika jarak mereka sudah sangat dekat, alangkah kagetnya mereka melihat pemandangan yang kini tepat berada di depannya.
__ADS_1
“Lepaskan senjata kalian, atau kutarik pelatuk senjataku tepat di kepala perempuan ini,” ancam pria kekar itu sambil mengarahkan senjatanya ke kepala Rani.
“Santai, Bro. Jangan kau sakiti dia. Kami tidak bersenjata,” ucap Johan sambil mengangkat kedua tangannya. Matanya menatap Nona dan istrinya secara bergantian, memberikan isyarat kepada keduanya untuk tetap tenang.
“Kau pikir aku bodoh? Cepat lempar senjatamu!” pekik pria itu hingga menggema di seluruh ruangan.
“Baiklah. Jangan sakiti dia. Kami akan turuti kemauanmu," sahut Johan sambil melempar senjata tajam yang dia kenakan.
Setelah Johan dan anak buahnya melempar senjata mereka, satu tangan pria itu tetap mengarahkan senjatanya ke kepala Rani sedangkan satu tangannya yang lain melepas tali yang mengikatnya. Setelah tali terlepas, dia langsung menarik Rani dan menyeretnya ke arah pintu keluar lorong dengan cara berjalan mundur agar tidak lengah dengan pergerakan Johan. Sementara Nina dia tinggalkan begitu saja, hingga salah seorang anak buah Johan segera melepas tali dan menolongnya.
Selama beberapa waktu, Johan membiarkan pria itu terus berjalan mundur dengan membawa Rani sebagai pelindungnya. Sesaat, pria itu merasa menang dengan Johan yang terus mengikuti kemauannya. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa Ryan, Arya, Daniel, Rudi dan Naja sudah di belakangnya. Hingga tiba-tiba, Rudi memukul pria itu dari belakang. Senjata yang dia pegang pun terlepas, dan dengan secepat kilat Rudi membuat pria itu bertekuk lutut.
Disaat yang bersamaan, Ryan menarik tubuh istrinya dalam pelukannya.
"Sayang, apa kau tidak apa-apa?" tanya Ryan sambil memeriksa seluruh bagian tubuh istrinya.
"Kamu demam, Sayang?" Ryan memastikan.
Tak ada sedikitpun kata-kata yang keluar dari tubuh Rani. Dia bahkan hanya bisa menggeleng dan mengangguk saja karena getaran hebat pada tubuhnya.
"Jo, urus istrimu, biar pria-pria kekar itu Rudi yang mengurusnya," Ryan memberi perintah, sambil membawa Rani dalam gendongannya.
"Baik, Tuan," jawab Johan sambil meraih Nina dan merengkuhnya dalam pelukannya.
"Untuk Charles dan Atmaja bagaimana?" Daniel bersuara.
__ADS_1
"Kau urus dia bersama Arya. Naja biar ikut aku ke rumah sakit," putus Ryan.
"Mari, Tuan. Kita berkejaran dengan waktu. Terlalu berbahaya untuk janin dalam kandungan Nona dalam kondisi demam seperti itu," sahut Naja.
Ya, demam saat hamil memang tidak boleh dibiarkan begitu saja. Ketika suhu tubuh perempuan hamil naik, maka suhu tubuh janin juga ikut naik. Hal ini bisa menyebabkan detak jantung janin di dalam kandungan ikut meningkat.
Apabila tidak segera ditangani, demam saat hamil dapat meningkatkan risiko janin mengalami keguguran dan cacat bawaan lahir, seperti kelainan tabung saraf, kelainan jantung, serta bibir dan mulut sumbing. Semakin tinggi suhu demam dan semakin lama demam berlangsung, maka semakin tinggi pula risiko terjadinya hal-hal itu.
***
Meskipun Rani dan Nina sudah ditemukan, tapi bukan berarti masalah sudah selesai. Bagaimana tidak? Charles dan Atmaja masih bebas melenggang di luar sana.
Oleh sebab itulah akhirnya mereka berpencar dan menyelesaikan masalah dengan tugas masing-masing. Ryan bersama Naja membawa Rani ke rumah sakit, Johan mengantarkan Nina pulang ke rumah mengingat kondisi Nina sangat stabil, sedangkan Daniel, Arya, bersama dengan Rudi membawa empat orang anak buah Atmaja ke kantor polisi, untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya dan memberi kesaksian atas kejahatan Charles dan Atmaja.
Untung saja pihak pengelola museum bisa diajak bekerja sama sehingga begitu aksi penyelamatan Rani dimulai, museum langsung steril dari pengunjung, sehingga ketika mereka keluar tidak perlu ada banyak pasang mata yang menatap mereka dan sibuk bertanya-tanya.
Dalam waktu singkat pun, mobil mereka sudah bergerak ke tujuan masing-masing. Tepat di persimpangan jalan di depan gerbang utama museum, mereka berpisah. Ryan melaju dengan kencang menuju rumah sakit diikuti satu mobil pengawal, Johan bersama dengan Nina tanpa pengawalan, sedangkan Arya, Daniel dan Rudi mengikuti satu mobil pengawal yang membawa empat orang anak buah Atmaja dari belakang, dan di belakang mereka masih ada satu mobil pengawal lagi untuk berjaga-jaga jika dari pihak Atmaja ada perlawanan.
"Apakah ada yang mengikuti kita?" gumam Arya sambil menoleh ke belakang.
Mendengar pertanyaan Arya itu, sontak membuat Daniel ikut menoleh ke belakang, sementara Rudi memeriksa dari kaca spion mobil yang di kendarainya.
"Ada beberapa mobil mengikuti kita," suara yang terdengar dari earpeace yang terpasang di telinga mereka membuat mereka semua menajamkan mata.
BERSAMBUNG
__ADS_1
❤❤❤
Hallo Kakak. Jangan lupa like, vote dan rate 5 ya. Terima kasih.