METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Rahasia Perusahaan


__ADS_3

Ega sangat merasakan perubahan sikap Meysie dari hari ke hari. Ketika dia menggenggam tangannya erat, Ega pun berusaha meyakinkan diri bahwa cinta itu telah bersemi di hati Meysie.


Ya, cinta itu telah hadir dan merasuki jiwanya, terlihat dari ketenangan hatinya ketika mereka sedang bersama. Cinta itulah yang membuat Ega terbuai dan merasa lega. Apalagi saat kedua tangan itu bersatu, cinta mereka bisa dilukiskan dalam kanvas kehidupan nyata. Bahkan, perhatian itu kini jelas-jelas bisa ditangkap oleh mata hati Ega, seiring dengan tatapan mata istrinya yang berbinar penuh cinta.


"Apakah ini keajaiban?" Ega bertanya-tanya dalam hati.


Ya, sangat wajar jika Ega justru merasa aneh secara tiba-tiba. Mengingat perjalanan cintanya yang penuh dengan air mata sejak sekian lama, dan berakhir dengan sebuah pernikahan dengan gadisnya dalam keadaan koma. Tapi takdir itu lebih indah dari rencananya. Ternyata sang gadis akhirnya tersadar, dan secara perlahan mulai mencintainya.


"Apa kau tak apa-apa?" Ega bertanya. Saat itu mereka sudah berada di dalam pesawat yang akan membawa mereka pulang ke Amerika.


"Meysie selalu baik-baik saja, asal tangan Abang masih setia menggenggam tangan ini dengan penuh kehangatan," ucap Meysie, dengan mata berbinar.


Seketika, Ega mengeratkan genggamannya.


"Bang, malam itu Meysie memeluknya bukan karena Meysie masih mencintainya," cicit Meysie tiba-tiba.


Ega hanya mendengarkan, tanpa ada komentar satu pun yang keluar dari mulutnya. Walaupun dalam hati, justru Ega merasa bahagia, karena Meysie memberi jawaban atas pertanyaan Ega yang tidak pernah tega dia lontarkan kepada istrinya.


"Meysie mohon, Abang jangan salah paham. Abang tahu kan, bagaimana kedekatan kami saat sama-sama kuliah dulu? Tapi hubungan kami tak pernah lebih dekat dari sekedar seorang sahabat. Walau kami sempat saling mencintai, Abang kan tahu sendiri kalau Meysie lebih memilih perjodohan kita dari pada menerima cintanya. Dan ketika akhirnya kita berpisah, dia sudah menikah," melihat suaminya yang terus saja terdiam, Meysie semakin ingin menjelaskan. Dan Ega betul-betul menikmati ekpresi Meysie yang berusaha meyakinkan dirinya.


"Tapi meskipun begitu, banyak sekali yang telah sama-sama kami lalui. Hidup sendiri di negeri orang, bukan hal yang mudah kan? Karena itulah kami saling mengisi. Dan untuk malam itu, entah kenapa Meysie tak bisa menahan untuk memberikan pelukan perpisahan. Betul, Bang tidak lebih dari itu. Hanya sekedar sebuah pelukan untuk yang terakhir kali saja," jelas Meysie panjang lebar.


"Tak ada masalah, untukku. Dan semua clear, tak ada pikiran negatif sedikitpun di hatiku," Ega berucap dengan begitu santainya.


"Abang nggak marah?" Meysie mengerutkan dahinya.

__ADS_1


"Buat apa marah?" Ega tersenyum tenang.


"Abang nggak cemburu? Dia kan ...," Meysie menggantungkan kalimatnya.


"Dia kan apa? Pria yang pernah kamu cinta, sampai membuatmu berbulan-bulan koma?" tegas Ega, membuat Meysie semakin merasa tak enak dibuatnya.


Meysie pun tertunduk, bahkan matanya mulai berkaca-kaca.


"Semua orang punya masa lalu, Sayang. Biarlah Ryan tetap menjadi priamu di masa lalu," ucap Ega, sambil meraih dagu Meysie hingga mereka saling bertemu pandang.


"Abang ...?" Meysie mengalihkan pandangannya. Dia tak kuat memandang pria yang kini menempati ruang khusus dalam hatinya itu, dengan sebuah kekhawatiran bahwa pria itu akan marah dan meninggalkannya.


"Tapi aku adalah masa depanmu. Biarlah juga dia menjadi orang yang kau cintai dulu. Yang penting, aku tahu bahwa sekarang kau benar-benar mencintaiku," Ega mengembangkan senyumnya.


Mendengar kata-kata suaminya, Meysie pun langsung menghambur ke pelukan Ega, bukan hanya dengan mata yang berkaca-kaca, tapi sudah dipenuhi dengan air mata.


"Terima kasih juga telah membuka hatimu, dan bersedia mencintaiku," Sebuah kecupan hangat kini mendarat di kening Meysie, dengan kecupan bertubi-tubi.


***


"Felix Adinata," di ruang kerja Ryan, Rudi menyerahkan rekaman CCTV Cafe tempat pertemuan Ryan dengan Meysie, satu jam setelah Ryan menelponnya dan menyerahkan nomor misterius yang mengirimkan sebuah gambar kepada istrinya.


Ryan memperhatikan rekaman CCTV itu dengan muka yang tak bisa diterjemahkan dengan kata-kata.


"Apa benar nomor itu adalah nomornya?" Ryan kembali memastikan.

__ADS_1


"Tidak salah lagi, Tuan," sahut Rudi mantap.


"Apa yang dia inginkan? Istriku? Jangan harap," Ryan benar-benar emosi, bahkan mukanya sudah berubah menjadi merah padam.


Rudi hanya terdiam, menyaksikan majikannya begitu murka. Hingga tiba-tiba, Arya datang dengan muka yang terlihat tidak senang.


"Kelihatannya ada yang tidak beres dengan kerahasiaan proyek Green Canyon milik kita. Ada proyek lain yang konsepnya sama persis dengan konsep yang kita pakai di sana, bahkan mereka mengerjakannya lebih sempurna," ucap Arya sambil menyerahkan beberapa kertas berisi gambar dan data-data.


"Bagaimana bisa sama persis seperti ini?" bentak Ryan sambil membanting berkas itu di atas mejanya.


"Pemilik tempat itu adalah keluarga Adinata," Arya terlihat ragu untuk mengatakannya.


"Bagaimana bisa? Bukankah kau sudah membuat perusahaan mereka hancur berkeping-keping dalam waktu semalam saja? Bagaimana bisa mereka bisa bangkit secepat ini?" Ryan menatap Arya dan Rudi dengan penuh tanda tanya.


"Kelihatannya ada yang diam-diam membantunya, termasuk memasang orang untuk mencuri rahasia perusahaan kita," sahut Arya tak kalah khawatirnya.


"Kalian harus bekerja keras untuk mengusut semuanya. Ajak Naja dan Johan untuk sama-sama bekerja. Bagaimana dengan Indra? Apakah adik laki-laki Naja itu sudah siap jika kita memberi tugas padanya?" Ryan memasang mode serius.


"Indra? Bisa kita coba. Kita memang butuh tokoh baru yang belum dikenal oleh musuh-musuh kita. Apalagi mereka berhasil membuat kita kecolongan dengan memakai orang dalam. Dilihat dari cara kerjanya yang begitu rapi, orang yang mereka tanam bukanlah orang yang sembarangan," Rudi ikut menimpali.


"Kalau begitu tak usah libatkan Naja dan Johan. Indra kita beri kepercayaan penuh untuk menyelesaikan semuanya," putus Ryan yang membuat Rudi dan Arya saling bertatap mata. Sebuah keraguan, jelas terlihat dari sorot mata mereka berdua.


"Tapi usianya masih sangat muda, Tuan," ucap Rudi ragu.


"Untuk kasus sebesar ini, apalagi dia masih baru, kalau aku sih masih ragu," sahut Arya.

__ADS_1


"Jangan pernah ragukan kemampuan anak muda, karena contohnya sudah ada di depan mata. Kau tahu berapa usia Daniel sekarang? Usianya dua puluh empat tahun. Dan apa kau tahu, pada usia berapa dia mulai merintis usahanya? Sejak dia usia tujuh belas tahun, tanpa bantuan seorang pun, dan tanpa suntikan modal dari luar sepeser pun. Dan apa kau tahu juga? Dalam waktu tujuh tahun saja, dia telah berhasil menjadi pengusaha ternama di ASIA. Jadi, kenapa kita tidak percaya bahwa Indra bisa melakukan hal besar dalam usianya yang masih belia?" perkataan Ryan tak mampu Arya dan Rudi bantah, dengan pendekatan apapun dan dengan logika seperti apapun juga.


BERSAMBUNG


__ADS_2