
"Nona!" panggil Hengky, berusaha membangunkan Fisha.
"Nona!" Hengky mengulang-ulang panggilannya, tapi Fisha hanya sedikit menggeliatkan tubuhnya, tanpa membuka mata. Ya, dia justru melanjutkan tidurnya.
"Nona!" panggil Hengky sekali lagi, kali ini dengan nada sedikit lebih keras.
Dan ternyata usaha Hengky berhasil. Menyadari bahwa ada yang memanggil namanya, Fisha pun terperanjat karena kaget. Seketika, dia langsung menyadari bahwa malaikat penolongnya itu sudah terbangun dari tidurnya.
"Eh, Tuan. Anda sudah bangun?" tanya Fisha sambil merapikan hijabnya yang sedikit berantakan.
"Hmmm," jawab Hengky datar. Dia sudah tidak merasakan matanya yang berkunang-kunang, nyeri di perutnya pun sudah hilang. Tinggal lemas saja yang dia rasakan.
"Biar saya panggil perawat itu agar segera membawakan makanan untuk Anda," Fisha beranjak dan langsung memencet tombol yang berada di atas kepala ranjang yang Hengky tempati, setelah itu dia mulai berbicara melalui alat itu.
"Assalamu'alaikum ada yang bisa kami bantu?" suara seorang perawat keluar dari speaker alat itu.
"Wa'alaikumsalam. Em itu, Mas. Tuan Hengkynya sudah bangun. Bisakah makanan untuk beliau diantar ke ruangannya sekarang?" pinta Fisha di depan alat itu.
"Baik. Mohon tunggu sebentar," suara perawat itu terdengar lagi.
Sepuluh menit berselang, seorang perawat pun datang, dengan sebuah nampan di tangannya.
"Silahkan," ucap perawat itu dengan ramah, kemudian pergi.
"Apa perlu saya bantu Anda duduk, Tuan?" tanya Fisha dengan ragu.
"Tidak perlu. Aku hanya donor darah, Nona. Bukan pesakitan," sahut Hengky sambil beranjak dan duduk di tempat tidur pasien itu.
Melihat Hengky sudah duduk dan siap makan, Fisha berdiri kemudian menggeser overbed table dan mendekatkannya ke arah Hengky. Setelah posisi overbed table itu dirasa pas, Fisha segera meraih nampan yang berisi aneka lauk pauk lengkap dengan sayur, buah dan segelas susu yang perawat letakkan di atas nakas tadi, lalu segera meletakkannya di atas overbed table yang sudah tepat berada di depan Hengky.
"Perlu saya suapi atau mau makan sendiri, Tuan?" tawar Fisha sambil membuka plastik penutup makanan Hengky.
"Sudah kubilang, aku bukan pesakitan, Nona. Biar aku makan sendiri," Hengky langsung meraih sendok dan garpu yang ada di depannya, kemudian langsung melahap semua makanan yang tersedia.
__ADS_1
Setelah Hengky selesai makan, Fisha pun membereskan bekas makan Hengky, meletakkannya kembali di atas nakas, kemudian menggeser overbad table yang mereka gunakan. Setelah semua rapi, Fisha kembali duduk di samping ranjang pasien menunggui Hengky yang kini sudah sibuk dengan ponsel di tangannya.
Menyadari Fisha tidak bergeming dari tempatnya, Hengky menatap gadis itu lekat sambil mengerutkan dahinya.
"Apa kau tidak menjaga ibumu? Kenapa kau malah di sini menunggui aku? Aku baik-baik saja," tutur Hengky masih dengan tatapannya yang lekat.
"Saya belum sempat mengucapkan terima kasih untuk segala yang telah Tuan lakukan dan berikan untuk saya dan ibu saya, Tuan," ucap Fisha lirih. Bahkan kini air matanya menggenang, setelah kata-kata itu berhasil dia keluarkan.
"Tidak perlu seperti itu, Nona. Saya senang bisa melakukannya. Oya, siapa namamu?" Hengky bertanya sekedar untuk berbasa-basi.
"Panggil saya Fisha, Tuan," jawab Fisha singkat.
"Baiklah, Fisha. Kamu masih sekolah? Atau kerja?" lama-lama Hengky penasaran.
"Saya mahasiswa Jurusan Ilmu Politik semester akhir di Universitas BCD, Tuan," Fisha menjawab sambil membalas tatapan Hengky sebentar, kemudian membuang pandangannya ke sembarang arah.
"Waow, keren. Itu Universitas favorit. Jurusanmu juga jurusan yang istimewa. Semester akhir berarti sebentar lagi wisuda dong ya?" timpal Hengky sangat bersahabat.
"Lho kenapa?" Hengky mengerutkan dahinya.
"Beasiswa saya mensyaratkan, saya harus bisa lulus dalam waktu tujuh semester, Tuan. Setelah lewat dari itu, beasiswa saya akan dicabut. Melihat kondisi ibu saya, saya tidak yakin bisa menyelesaikan skripsi saya tepat waktu, walaupun semua mata kuliah sudah saya selesaikan. Dan jika beasiswa itu tidak saya dapatkan lagi, bisa dipastikan saya tidak akan bisa menyelesaikan kuliah saya sampai lulus, Tuan," jelas Fisha dengan suara parau.
"Ahh, kamu kan bisa kuliah sambil kerja paruh waktu, Fisha. Tinggal skripsi saja kan?" Hengky mencoba memberi semangat.
"Sejak ibu saya sakit-sakitan, saya memang sudah kerja paruh waktu, Tuan. Jika tidak, bagaimana saya bisa hidup? Tapi ketika ibu saya semakin parah, saya tidak bekerja lagi. Tempat saya bekerja memberhentikan saya karena terlalu lama tidak masuk kerja," oceh Fisha sambil berusaha untuk tetap tersenyum.
Hengky hanya mendengarkan cerita Fisha dengan banyak rasa yang berkecamuk di dalam dadanya. Rasa kagum, iba, juga sedih ketika mendengar cerita Fisha membuat dia sangat bersyukur karena sejak lahir telah berada dalam keluarga yang kaya raya, sehingga tidak pernah merasakan penderitaan yang dirasakan Fisha.
"Jika kau mau, kau bisa bekerja di perusahaanku, Fisha. Kapanpun kau merasa sudah siap, kau temui aku di alamat yang tertera di kartu namaku itu," putus Hengky tanpa pikir panjang.
"Benarkah, Tuan? Tapi kuliah saya ...," Fisha menggantungkan kalimatnya.
"Kau boleh izin ke kampus saat jadwal bimbingan, Fisha. Akan kuatur agar kau dapat menyelesaikan dua-duanya," sahut Hengky dengan entengnya.
__ADS_1
"Ahh, lagi-lagi saya merepotkan Anda, Tuan. Terima kasih atas segalanya," Fisha menganggukkan kepalanya penuh hormat.
"Tapi ada syaratnya," cicit Hengky kemudian.
"Ada syaratnya? Apa itu, Tuan?" Fisha mengerutkan dahinya.
"Traktir aku begitu kau wisuda. Oke?" Hengky mencoba mencairkan suasana.
"Deal, Tuan," Fisha tertawa menanggapi permintaan Hengky.
"Anda ada-ada saja, Tuan. Tidak mungkin orang kaya seperti Anda minta traktiran dari orang miskin seperti saya," batin Fisha dalam hati.
Setelah Hengky yakin dengan kondisinya, akhirnya mereka keluar dan menuju ruang ICU, untuk melihat kondisi ibu Fisha.
"Demi kenyamanan, pasien tidak boleh ditinggui di dalam ya, Nona. Anda boleh menemui ibu Anda pada jam-jam tertentu saja, selebihnya Anda dipersilahkan menunggu di ruang khusus yang telah kami sediakan," ucap seorang suster begitu Fisha ingin menemui ibunya.
"Baik, Sus," jawab Fisha, sambil menuju ke sebuah kaca dimana dia bisa melihat kondisi ibunya dari sana.
Ruang ICU yang ditempati ibu Fisha bersebelahan dengan ruang ICU tempat Meysie dirawat. Ruang ICU yang Meysie tempati hanya terdiri dari satu ranjang pasien khusus, dengan tim dokter khusus juga, sedangkan ruang ICU yang ditempati ibu Fisha terdiri dari beberapa ranjang pasien, dengan satu tim medis yang bertanggung jawab pada seluruh pasien yang ada di sana.
Hengky pun masih menemani Fisha di ruang tunggu itu. Bahkan Hengky masih belum bisa move on dari rasa ibanya pada gadis itu, hingga begitu enggan untuk meninggalkannya.
Hingga tiba-tiba ...,
"Hengky?" suara Nyonya Atmaja membuat Fisha dan Hengky menoleh seketika.
"Ma," Hengky menghampiri ibunya.
BERSAMBUNG
❤❤❤
Like, vote dan rate 5 ya, Guys.
__ADS_1