
Semilir angin yang keluar dari lubang AC kamar tipe presidential suite hotel milik Dewangga Group yang kini diakuisisi oleh You And Me Group itu terus menyapu raga dari jiwa-jiwa yang sedang di mabuk asmara.
Suhu AC yang sengaja di setel dengan mode dingin, tak lantas membekukan dua tubuh polos yang kini masih saling merapatkan diri di balik selimut putih yang senada dengan kain yang menutupi ranjang hingga menjuntai ke lantai kamar itu. Justru tetes demi tetes peluhlah yang mengiringi mereka ke alam mimpi, setelah perhelatan panjang tanpa henti.
Namun sama seperti hari - hari yang telah lalu, panggilan adzan kembali mengusik tidur sepasang kekasih yang bisa dibilang baru memejamkan mata dalam hitungan menit itu.
Ryan mengerjapkan matanya berkali-kali, untuk menghilangkan rasa kantuknya yang masih mendera. Tak lama kemudian, dia mengambil handphone yang dia letakkan di atas nakas samping tempat tidurnya.
Setelah sekilas melihat jam yang tertera di benda pipih canggih itu, Ryan mengalihkan pandangannya pada bidadari yang kini berada di sebelahnya.
Ryan tersenyum melihat gadis cantiknya yang masih lelap tertidur, mungkin karena terlalu capek setelah semalaman habis dikerjainya.
"Bangunlah, Sayang. Ini sudah pagi. Kita sholat shubuh dulu yuk!" ajak Ryan, sambil menciumi setiap inchi tubuh istrinya yang sudah seperti candu itu. Bahkan aroma yang berasal dari tubuh Rani pagi itu, menjadi semakin menggoda ketika berpadu dengan semerbak wangi dari arah taburan mawar yang masih berserakan di atas peraduan mereka.
Rani menggeliat, merasakan geli yang berpindah dari setiap bagian ke bagian tubuhnya yang lain. Mendapat perlakuan seperti itu, dalam kondisi setengah sadar pun Rani mengedip-kedipkan matanya dan mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruang yang sejak semalam telah membuat imajinasi mereka semakin menggila hingga sampai di puncaknya.
"Hmmm," Rani hanya bergumam pelan dan memejamkan matanya kembali, sambil menenggelamkan kepalanya pada dada bidang suaminya.
"Eh, kok malah bobok lagi?" Ryan menghujani istrinya dengan ciuman, mulai dari ujung kepala hingga ke tempat-tempat yang sudah menjadi tempat favoritnya.
"Ayo bangun, Sayang," kini Ryan mengusap kepala Rani.
"Satu menit lagi," Rani justru mengeratkan pelukannya ke pinggang suaminya.
"No. No. No. Kita bisa terlambat sholat shubuhnya. Ayo kita mandi terus sholat. Setelah itu baru kita bermain-main lagi," rayu Ryan.
Rani tak bergeming. Nafasnya kini justru kembali teratur. Dan benar saja, dia kembali tertidur.
__ADS_1
Melihat kelakuan istrinya yang tak biasa itu, Ryan pun hanya menggelengkan kepalanya kemudian beranjak dan mengangkat tubuh polos istrinya begitu saja, membopongnya ala bridal style hingga memasuki kamar mandi.
Karena mata Rani tak juga terbuka, Ryan pun menidurkan Rani pada bathtub kemudian mengisinya dengan air hangat.
"Secapek itukah, Sayang?" cicit Ryan saat mendapati istrinya masih juga memejamkan mata meski air telah penuh merendam tubuhnya.
Akhirnya Ryan memutuskan untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu, setelah itu mengangkat tubuh istrinya dan meletakkannya begitu saja di bawah shower dengan menjadikan tubuh kekarnya sebagai penyangga.
Dalam posisi berdiri semacam itu, mau tak mau Rani pun akhirnya membuka matanya sambil tersenyum malu.
"Lafalkan do'a dan mandi besarlah! Setelah ini kita sholat," tutur Ryan lembut, kemudian membiarkan Rani mengambil wudhu, melafal do'a, lalu membasahi seluruh bagian tubuhnya hingga apa yang menjadi hajadnya untuk mensucikan diri di pagi-pagi buta seperti itu bisa dilakukannya.
Setelah selesai, mereka keluar dan menggelar sajadah untuk bersimpuh dan berkomunikasi dengan intens kepada Rabb Sang Maha Pencipta.
Tangan mereka segera terangkat, untaian demi untaian do'a pun beranjak diam-diam melintasi cahaya, mencari sinar mentari yang mampu menghidupi seluruh penduduk bumi. Hingga pinta demi pinta dari mulut dan hati mereka terucap, berharap Allah memberikan segala Berkah dan hidup penuh maslahat.
"Mas, ayo kita keluar," rajuk Rani manja. Bukan hanya bosan yang kini dia rasakan. Tapi jika Rani membiarkan mereka hanya berdiam diri di kamar itu berhari-hari, bisa dipastikan Rani akan kewalahan menghadapi Ryan yang terus mengajaknya berpetualang di peraduan.
"Mau apa sih, Sayang? Udah kita di sini aja," Ryan justru membenamkan kepalanya di leher jenjang milik istrinya.
"Tapi Rani laper," Rani mengerucutkan bibirnya. Sejak semalam, Ryan hanya memberi kesempatan Rani istirahat hanya saat sholat shubuh saja, diselingi sarapan yang diantar ke kamar hotel mereka. Selebihnya, Ryan tak kenal lelah menebar benih pada rongga tempat bertemunya dua sel telur yang mereka punya.
"Kita makan siang di sini lagi aja, Sayang. Kayak tadi pagi," dengan pasang tampang memelas, Ryan memohon.
"Rani bosen, Maas," rengek Rani, sambil bergelayut manja di pangkuan suaminya. Kini, tangannya melingkar manis di leher Ryan dan pelipisnya menempel pada pelipis pria yang dengan senang hati menerima segala perlakuan gadisnya yang kini mulai berani itu.
"Memang sayangnya Mas Ryan ini mau makan dimana sih?" tanya Ryan gemas. Dalam hitungan detik, tangannya sudah asyik mencubit-cubit pipi Rani kemudian menggoyang-goyangkannya hingga pipi gadis itu bergoyang ke kanan dan ke kiri.
__ADS_1
"Dimana aja, yang penting tidak di hotel. Boleh ya? Boleh ya?" Rani terus merajuk.
"Boleh enggak ya?" Ryan pura-pura berpikir keras, sementara Rani menatap pria yang sedang memangkunya itu dengan tatapan penuh harap.
"Boleh deh," akhirnya kata-kata yang ditunggu-tunggu Rani keluar juga dari mulut Ryan.
"Yey...," pekik Rani riang, hingga sebuah kecupan manis pun mendarat begitu saja di pipi Ryan yang segera melebarkan senyum mendapati perlakuan istrinya yang tanpa terduga itu.
"Eits, jangan senang dulu. Seperti biasa. Ada pajaknya. Dan kali ini, Mas minta pajaknya kamu bayar di muka," Ryan menyeringai penuh kemenangan.
"Pajak? Ohh, No. Kapan dia akan puas? Bukankah dia sudah melakukannya semalaman?" batin Rani dalam hati.
"Gimana?" Ryan memastikan. Matanya sudah mengerling nakal.
"Baiklah. Baiklah. Ambil pajaknya sebanyak yang Mas Ryan mau," Rani mengerucutkan bibirnya.
Ryan tergelak dengan ekspresi penuh kemenangan, mendengar jawaban istrinya yang terlihat sudah pasrah begitu saja. Tanpa aba-aba, dengan semangat empat lima Ryan langsung meminta Rani membayar lunas pajaknya.
Hingga semua sisi dinding kamar itu pun menjadi saksi, saat dua anak manusia itu mencurahkan segala cinta, asmara, dan ungkapan kebahagiaan yang terukir indah dan syahdu dalam setiap desahan nafas yang kini menjadi satu.
Kalimat-kalimat tasbih yang terucap, mengiringi setiap tarikan yang mereka buat. Ryan terus menceracau, membawa Rani berlari ke sebuah gurun, kemudian mengendap-endap di antara bunga yang tumbuh dan mekar hingga aroma yang keluar memanjakan setiap hirupan yang melenakan.
BERSAMBUNG
❤❤❤
Jangan lupa like, vote, comment positif dan rate 5. Terima kasih.
__ADS_1