METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Terbongkar


__ADS_3

"Aku berkhianat kepada tuanku karena aku ingin mempertahankan kesucianku dari kebuasanmu. Sedangkan dia? Perempuan ini menggadaikan kesetiaannya dan memilih berkhianat kepada tuannya, karena telah mengumbar kesuciannya dan menjadi budak akan nafsunya," Zara masih merasa jijik melihat ke arah Sesil, karena bayangan hal tak senonoh yang dia lakukan bersama Felix malam itu terus muncul di benaknya.


"Lalu, bagaimana dengan hair dryer itu? Dari mana kau tau jika laki-laki lain selain diriku menggunakannya untuk mengeringkan rambut mereka?" ceplos Indra.


"Apa? Masih membahas hair dryer? Nyambungnya dimana coba?" batin Zara sambil mengelus dada.


Sementara Sesil yang mendengarnya, tidak mengerti arah pembicaraan dua orang yang kini berada di hadapannya.


"Hair dryer?" Sesil mengerutkan dahinya.


"Lupakan soal hair dryer itu, Tuan. Itu sama sekali tak penting," Zara bersungut kesal. Bagaimana tidak? Di saat-saat seperti ini, Indra masih memikirkan masalah tak penting yang tak ada hubungannya sama sekali dengan persoalan yang sedang mereka hadapi.


Tak mau berurusan lebih lama dengan masalah hair dryer yang beberapa menit ini menjadi topik serius pembicaraan Indra, Zara justru beranjak dari duduknya kemudian menuju ke arah Sesil. Sedetik kemudian, dia melepaskan tali yang melilit tangan dan kaki perempuan yang sedang mengandung anak dari Felix Adinata itu.


"Jadi bagaimana, Nona? Jika kau memutuskan untuk membantu Tuan Ryan, maka kita akan mulai kerja sama kita. Kita mulai kelabuhi kekasihmu itu, dan kau aman. Tapi jika kau memutuskan untuk tetap di pihaknya, sekarang juga aku akan menelepon dia bahwa aku telah berkhianat, dan kau sudah berada di tanganku. Kau akan melihat, Nona. Betapa pria itu takkan peduli lagi padamu saat mengetahui bahwa kau tak lagi berguna untuknya," oceh Zara, sambil terus melepas ikatan tali itu.


"Tidak hanya itu, selain Felix meninggalkanmu, tuanku juga akan menjebloskanmu ke penjara karena telah membocorkan dokumen perusahaan. Semua akses dan jaringanmu juga akan di putus, sehingga setelah kau keluar dari penjara nanti, kau takkan pernah mendapatkan pekerjaan. Jadi sudah bisa terbayangkan, sebentar lagi kau akan menjadi gelandangan," Indra menimpali ucapan Zara, membuat Sesil bergidik ngeri.


"Auw," Sesil meringis, sambil sedikit memijit tangannya yang memerah karena tali yang terlalu kencang mengikatnya.


"Bagaimana?" Zara membiarkan Sesil berpikir di tempatnya, sementara dia dan Indra kembali duduk di atas sofa dengan menyedekapkan tangan dan menyilangkan kaki mereka. Ya, saat ini Zara dan Indra benar-benar kompak, memandang Sesil dengan tatapan lekat.


Sesaat, Sesil terdiam. Kini dia berpijak dalam dua cinta yang sama-sama besarnya. Antara Felix yang merupakan cinta sejatinya, atau kehidupannya dan juga anaknya.


"Benarkah Felix akan meninggalkanku jika aku tak lagi bisa memberikan data-data itu?" tanya Sesil dalam hati.


"Tapi bukankah sama saja? Jika aku tetap di pihak Felix, Tuan Ryan akan menghancurkan aku dan Felix sekaligus? Lalu bagaimana dengan anak ini?" batin Sesil lagi.


"Ahhh," Sesil menarik nafas panjang. Dia terlihat berpikir keras dan sedang menimbang-nimbang.


Zara dan Indra yang terus memperhatikannya itu pun mendengus kesal karena bosan.


"Kenapa saat menerima Felix dulu kau tak berpikir sepanjang ini, hingga begitu mudahnya kau serahkan dirimu itu kepadanya? Kamu ini cinta buta atau bodoh sih? Coba kamu pikir saja. Kenapa dia mendadak dangdut menghubungimu jika tidak hanya ingin memperalatmu?" kata Zara sinis.


"Apa kau benar-benar tak tahu, alasan kenapa kekasihmu itu begitu terobsesi untuk menghancurkan perusahaan Tuan Ryan? Secara pribadi ataupun bisnis, sebenarnya diantara mereka tidak ada masalah sama sekali. Masalah itu baru muncul ketika Tuan Ryan menikah dengan Nona Rani. Kau tau kan maksudku? Tuan Felix melakukan ini karena ingin mendapatkan nona kami. Jadi pertanyaannya, ketika dia berhasil, posisimu berada dimana, Sesil?" lanjut Zara, masih belum puas dengan ledekannya.


Sesil tak menghiraukan cibiran Zara. Karena biar bagaimanapun, ini terkait hidupnya, dan dia tidak bisa gegabah dalam mengambil keputusan.


"Selain seorang wanita hina seperti yang ada dalam otakmu, aku juga seorang calon ibu untuk janin yang kini ada di dalam rahimku. Keputusanku saat ini, akan menentukan nasib anakku seumur hidupnya," ucap Sesil, sukses membuat Zara diam seribu bahasa.


"Oke. Kau pikirkan baik-baik. Tapi sekali kau memutuskan untuk tetap berada di pihak Felix Adinata, begitu kau keluar dari apartemenku, aku tak bisa lagi menanggung keselamatanmu," timpal Indra dengan malas. Dia justru beranjak dari sofa nyamannya dan pergi meninggalkan dua gadis itu ke balkon kamarnya.


"Baiklah, biar dia pikirkan baik-baik, Tuan. Saya tidur dulu," Zara merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang itu. Dia melirik dengan malas ke arah Sesil, lalu memejamkan matanya begitu saja.

__ADS_1


Sesungguhnya, Zara dan Indra juga Ryan dan Daniel tidak sepenuhnya percaya dengan ucapan Sesil yang dengan mudahnya mengatakan akan mengkhianati Felix. Sejak awal, target Ryan memang hanya ingin mengetahui siapa dibalik bocornya rahasia perusahaan, sehingga ketika Sesil tak mau bekerja sama pun, sama sekali tak masalah untuk mereka. Ryan sudah punya rencana cadangan untuk menghancurkan Felix dengan caranya yang lain, dan menjebloskan Sesil ke penjara jika memang Sesil memilih setia dengan kekasihnya.


Hingga tiba-tiba, nada dering di ponsel Indra berbunyi, membuyarkan Sesil yang khayalannya sedang mengembara, juga Zara yang sudah mulai memejamkan mata.


"Ya, Tuan. Baik, Tuan. Kami segera ke sana," hanya kata itu yang bisa ditangkap Sesil dan Zara, dari panggilan telepon yang bisa mereka dengar dari mulut Indra.


"Ada apa?" Zara langsung beranjak dan menghampiri Indra.


"Tuan memanggil kita," sahut Indra serius.


"Lalu bagaimana dengan perempuan itu?" Zara terlihat memandang Sesil dan Indra secara bergantian.


"Kita lepaskan dia. Tuan sudah percaya sepenuhnya kepadanya," balas Indra, membuat Zara dan Sesil membulatkan mata seketika, begitu terkejut mendengar seorang Ryan Dewangga begitu mudahnya percaya dengan seorang pengkhianat seperti Sesil.


"Pergilah! Tuan Ryan menyuruhku melepaskanmu," Indra menatap Sesil sekilas lalu beralih menatap ke arah Zara.


"Ayo, Zara! Kita harus segera ke kediaman Dewangga," titah Indra.


Zara yang hanya menduga-duga bahwa Indra punya rencana, hanya menuruti perintah Indra dan langsung mengikuti Indra keluar dari apartemennya, meninggalkan Sesil seorang diri di kamar Indra.


Sesil bernafas lega, melihat Indra dan Zara meninggalkan tempat itu. Dia terlihat mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruang, seolah mencari sesuatu.


Hingga matanya tiba-tiba berbinar, saat menangkap sebuah benda yang saat ini sedang sangat dicarinya.


"Rupanya mereka meninggalkan ponselku di sini," Sesil tersenyum girang, kemudian langsung meraih benda pipih itu dan mengaktifkannya.


Ndret-ndret.


Lima belas menit berselang, ponsel Sesil terlihat bergetar. Dengan semangat empat lima, Sesil pun segera membuka pengunci layarnya dan membaca pesan dari seseorang.


"Baiklah, saatnya aku pergi," gumam Sesil dengan gayanya yang masih centil.


***


"Beritahu saya, apa yang sedang Anda rencanakan, Tuan!" Zara yang baru saja duduk di kursi sebelah pengemudi, langsung menatap Indra dengan tajam.


"Kau tak mendengar ucapanku tadi? Bukankah sudah kubilang, kalau Tuan menyuruhku melepaskan perempuan itu?" jawab Indra sambil menstater mobil dan memasang sabuk pengamannya.


"Saya mendengarnya, Tuan. Tapi apa yang akan kita lakukan selanjutnya? Apa sebenarnya yang Anda rencanakan setelah melepaskan perempuan itu?" cecar Zara menuntut jawaban. Dia sungguh yakin, rencana Indra tak berhenti hanya sampai melepaskan Sesil dan membiarkannya begitu saja.


"Kita lihat saja nanti," ucap Indra sambil melajukan mobilnya, keluar dari basement apartemennya.


Zara tak lagi banyak bertanya. Dia hanya diam sambil menebak apa yang akan mereka lakukan sekarang. Hingga tiba-tiba, Indra pun kembali menghentikan mobilnya, tepat di seberang jalan tak jauh dari apartemen yang beberapa saat yang lalu mereka tinggalkan.

__ADS_1


"Tuan ...,"


"Tunggulah sebentar, nanti kau akan tahu jawabannya, Zara," sebelum Zara kembali bertanya, Indra sudah memotong ucapan Zara.


"Huh, bisa mati penasaran aku. Sebenarnya, apa yang dia rencanakan?" batin Zara meronta.


Lima belas menit terasa sangat lama bagi Zara. Menunggu, tanpa tahu apa yang sedang mereka tunggu, sementara pria di sebelahnya hanya diam tanpa mau memberitahu apa yang akan mereka lakukan.


"Benar dugaanku," tiba-tiba Indra menggerutu sambil mengepalkan tangannya.


Zara yang kaget dengan suara Indra pun hanya bisa menatap Indra penuh dengan tanda tanya.


"Ada apa, Tuan?" tanya Zara penasaran.


"Kau tak lihat itu, Zara?" Indra menunjuk ke seberang jalan.


Zara pun mengalihkan pandangannya ke arah mana Indra menunjuk dengan jarinya.


Di titik itu, Zara melihat Sesil sudah berdiri dan terlihat sedang menunggu seseorang. Tak lama setelah itu, sebuah mobil berhenti tepat di depannya, kemudian Sesil masuk dan segera berlalu dari sana.


"Itu mobil Felix?" Indra menatap Zara penuh tanda tanya.


Zara hanya mengangguk pelan, menyadari bagaimana posisinya sekarang. Ya, posisi Zara sekarang benar-benar sudah jelas, seiring dengan posisi Sesil yang juga sudah jelas. Mengingat Sesil yang memilih menghubungi Felix setelah pengkhianatannya kepada Ryan terbongkar, secara otomatis pengkhianatan Zara kepada Felix juga terbongkar.


"Bersiaplah, Zara. Setelah ini kau yang akan jadi incaran," Indra berucap dengan jelas, sambil memandang ke arah Zara datar.


"Tidak masalah buat saya, Tuan. Toh kalau saya mati pun tak ada yang akan menangisi saya," sahut Zara dingin.


"Percuma kau mempertahankan kesucianmu untuk orang yang kau cintai, jika dia tak menangisimu saat kau mati, Zara," ucap Indra dengan asal. Setelah mengucapkannya, Indra kembali melajukan mobilnya.


"Tidak usah repot-repot memikirkan saya, Tuan. Saya hanya minta kepada Anda, tolong kuburkan saya setelah kematian saya, karena saat ini hanya Anda yang saya kenal," pinta Zara, tanpa ada rasa khawatir di hatinya.


"Akan aku pertimbangkan, Zara," jawab Indra tanpa mengalihkan pandangannya pada jalan yang sedang dilaluinya.


Zara pun biasa-biasa saja menanggapi jawaban Indra. Dia tidak merasa kecewa dengan keacuhan dan ketidakpedulian pria itu kepada dirinya. Bahkan, kini perhatian Zara justru fokus pada kemana Indra mengarahkan mobilnya.


"Kita tidak mengikuti mereka, Tuan?" Zara mengerutkan dahinya, menyadari bahwa mobil mereka semakin menjauh dari mobil yang ditumpangi Sesil dan Felix Adinata.


Indra tak menjawab pertanyaan Zara. Dia terus melajukan mobilnya, tanpa mau memberitahukan mereka akan kemana.


"Lalu kita mau kemana, Tuan?" tanya Zara lagi.


"Kita tak akan mengikuti mereka," akhirnya Indra membuka suara.

__ADS_1


"Kenapa?"


BERSAMBUNG


__ADS_2