METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Ibu Kandung Lena


__ADS_3

Lena mengecilkan suhu mobil dari alat pengatur suhu AC yang ada di depannya. Beberapa hari ini memang cuaca di luar sana terasa sangat panas, sehingga kebanyakan orang merasa enggan melakukan aktifitas di luar ruangan.


Di samping Lena duduk, Arya masih fokus menyetir sambil sesekali ikut menyenandungkan lagu mengikuti alunan musik yang terdengar dari MP3 player, setelah sebuah flashdisk dia tancapkan pada alat modulasi USB transmitter pemutar musik pada mobilnya.


Lena tersenyum bahagia memandangi suaminya yang terlihat sangat menikmati kebersamaan mereka kali ini. Benar apa yang dikatakan Arya, bahwa selama mereka berdua, seharusnya memang mereka betul-betul menghadirkan hati agar kebersamaan mereka terasa penuh arti. Jangan sampai mereka hanya bersama secara fisik, tapi hati dan pikiran mereka berkeliaran dimana-mana. Karena itulah Lena memutuskan untuk menuruti permintaan suaminya, tak kan pernah ada HP saat mereka sedang berdua, kecuali dalam keadaan darurat atau ada telepon penting.


"Kenapa melihat aku sebegitunya sih, Sayang? Kamu baru sadar kalau ternyata suamimu ini sangat tampan?" Arya menyeringai nakal.


"Mana ada," Lena membuang pandangannya ke sembarang arah, berusaha menyembunyikan wajahnya yang merona karena kepergok sedang memandangi dan mengagumi suaminya.


"Alah, ngaku aja apa susahnya sih? Kamu tak usah memandangku seperti itu. Semua yang ada padaku adalah milikmu. Kalau kamu mau, kau tinggal menikmati semua yang kupunya. Bukankah selama ini kau juga sudah melakukannya, heh?" Arya meraih dagu Lena dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya tetap memegang setiran mobil yang dikendarainya.


"Apaan sih, Kak," Lena malu-malu.


Arya hanya terkekeh melihat sikap istrinya yang menurutnya sangat lucu. Dan dia sangat bersyukur bisa mendapatkan keceriaan Lena akhirnya kembali, setelah beberapa bulan terakhir seolah keceriaan itu hilang, selepas mereka kehilangan putra mereka yang baru saja dia lahirkan.


"Kok Kak Tama malah ketawa-ketawa sendiri sih?" Lena memandang suaminya sambil mengerutkan dahinya.


"Aku mencintaimu," kata itu yang justru keluar dari mulut Arya. Bahkan kini tangannya sudah mendarat dengan indah di pucuk kepala istrinya, dan mengusapnya penuh dengan cinta.


"Deeba juga mencintai Kak Tama. Sangat. Deeba bersyukur, Allah mempertemukan kita dengan caraNya yang luar biasa setelah kita terpisah sekian lama," Lena meraih tangan suaminya yang masih berada di atas kepalanya, kemudian menggenggam dan mengecupnya.


Mendapat perlakuan seperti itu, senyum Arya mengembang. Begitu Lena mengecup tangannya, dia langsung menarik genggaman tangan itu dan balik mengecup tangan istrinya.


"Deeba jadi rindu Bunda," lirih Lena.


Bunda adalah pengasuh panti dimana Lena dan Arya dibesarkan dan dipertemukan. Bundalah yang sudah menjadi ibu pengganti bagi seluruh anak-anak panti. Bahkan demi anak asuhnya, Bunda rela melajang hingga usianya sudah tak muda lagi.


"Kapan-kapan kita jengukin Bunda di Panti. Oke?" tawar Arya, yang langsung disambut dengan anggukan semangat empat lima oleh Lena.


Hingga tak terasa, mereka telah sampai di sebuah klinik kecantikan, dimana Lena akan melakukan perawatan. Namun tiba-tiba, melodi indah dari tas Lena kembali berbunyi. Sekilas, Lena memandang suaminya dengan ragu. Bukan karena dia tak tahan untuk tidak memegang benda pipih yang hampir membuat semua orang kecanduan itu, tapi karena melodi yang terdengar adalah nada dering panggilan.


"Angkatlah!" Arya yang bisa menangkap kegalauan istrinya akhirnya berbicara.


"Apa boleh?" tanya Lena ragu.


"Kan aku sudah bilang, jika telepon penting, kau boleh mengangkatnya. Lihatlah siapa yang menelponmu!" sahut Arya lembut.


Sedetik kemudian, Lena sudah merogoh saku tasnya dan meraih ponsel yang beberapa saat lalu telah menjadi sumber keributan kecil antara dirinya dan suaminya itu. Sesaat, Lena mengerutkan dahinya.


"Kak, Bunda ...," kata Lena, yang lebih terdengar seperti sedang meminta izin itu.


"Angkatlah! Tidak biasanya Bunda telepon jika tidak penting," Arya terlihat antusias.


"Assalamualaikum, Bund,"


"Wa'alaikumsalam, Nak. Apa Bunda mengganggu?"


"Tidak, Bunda. Kebetulan sekali Deeba dan Kak Tama sedang membicarakan Bunda. Kami kangen banget sama Bunda,"


"Bunda juga kangen sama kalian berdua, Nak. Makanya Bunda telepon,"


"Ahh iya, Bund. Apa Bunda sedang berada di Panti? Atau Bunda di luar?"


"Bunda di Panti, Nak,"

__ADS_1


"Kalau begitu kami ke sana sekarang ya, Bund,"


"Masya Allah, terima kasih, Sayang. Bunda tunggu. Hati-hati ya, Nak. Assalamualaikum,"


"Insya Allah, Bund. Wa'alaikumsalam,"


Lena mengakhiri panggilannya dan menutup ponselnya dengan mata berkaca-kaca. Kerinduannya kepada wanita yang telah membesarkannya itu benar-benar sudah membuncah. Bagaimana tidak? Bundalah yang telah merawatnya sejak Lena yang baru saja dilahirkan dibuang oleh orang tua kandungnya. Jadi sangat wajar, jika Lena menganggap Bunda sebagai ibu kandungnya sendiri, sama seperti dia menganggap Mama Davina, mamanya Rani yang telah memberikan perlindungan dan pendidikan tinggi, juga kasih sayang seperti yang dia berikan kepada anak kandungnya sendiri.


"Kita langsung ke Panti," ucap Lena terbata.


"Mukamu?" Arya memandang ke arah istri yang masih duduk di sampingnya dan klinik kecantikan itu secara bergantian.


"Nggak jadi perawatan?" Arya kembali memastikan.


"Lain kali saja, ya. Deeba sudah janji mau langsung ke Panti menemui Bunda," sahut Lena mantap.


"Baiklah," Arya langsung menekan pedal gas nya lagi, setelah memberi sejumlah uang kepada tukang parkir yang membantunya memberi aba-aba hingga Arya bisa mengambil gerakan memutar dengan aman.


Lima belas menit kemudian, sampailah mereka di Panti Asuhan dimana mereka berdua dibesarkan.


"Kita turun? Di luar sana sangat panas. Dan lagi, di dalam panti tidak ada AC seperti di dalam mobil atau di dalam rumah yang kita tinggali saat ini," ucap Arya bermaksud meledek istrinya.


Deg.


Air mata Lena mengucur deras seketika.


"Ampuni aku, Ya Allah. Deeba sudah kufur nikmat ya, Kak? Bahkan dulu, kita bisa tinggal di tempat ini saja sudah sangat beruntung. Sekarang? Deeba terlalu banyak menuntut dan selalu merasa kurang saja dengan nikmat yang sedemikian besar sudah Allah berikan kepada Deeba. Bahkan Deeba masih sering mengeluh, padahal kehidupan kita sekarang sudah sangat enak, jauh jika dibandingkan dengan kehidupan masa kecil kita di tempat ini," cicit Lena sambil terisak.


"Tak ada kata terlambat untuk setiap pelajaran yang kita dapat. Yang penting setelah ini kita perbaiki diri dan menambah rasa syukur kita kepada Ilahi Rabbi," Arya mengambil selembar tisu di depannya, dan menghapus air mata istrinya. Lena pun mengangguk dan melengkungkan senyumnya mendengar petuah dari suaminya.


Setelah mendapatkan anggukan dari Lena, Arya pun bergegas mematikan mesin mobil, keluar, kemudian mengambil gerakan memutar dan membukakan pintu untuk istrinya.


Mereka berjalan menuju panti dengan berjuta memori yang mengingatkan hal-hal indah di masa kecil mereka, selama dulu mereka tinggal di sana.


"Tempat ini tidak banyak berubah," Arya yang lebih dulu meninggalkan tempat itu, begitu antusias melihat setiap sudut panti tanpa ada yang terlewati.


Lena hanya mengangguk, sambil terus menyeret suaminya masuk ke dalam, mencari Bundanya yang sudah sangat dia rindukan.


"Ruang ini juga masih sama," ucap Arya lagi, sambil memperhatikan aktifitas anak panti yang sedang berada di ruang itu. Hingga tak terasa, kristal bening itu menetes di pipi Arya.


"Deeba! Tama!" sebuah suara yang sangat mereka rindukan tiba-tiba memanggil mereka.


Arya langsung menyeka air matanya dan mengambil gerakan berbalik seperti yang dilakukan istrinya.


"Bunda!" Lena langsung memeluk Bunda erat untuk mengobati kerinduannya. Maklum saja, terakhir mereka bertemu memang sudah cukup lama, yaitu ketika Lena dan Arya menikah dulu.


"Bund," Arya mencium punggung tangan Bunda, begitu Lena melepaskan pelukannya.


"Bunda senang kalian datang, Nak," Bunda mengembangkan senyumnya, kemudian mengajak Lena dan Arya untuk masuk ke dalam ruangannya.


"Tempat ini masih sama ya, Bund," Arya membuka pembicaraan, begitu mereka duduk di ruang kerja kepala panti yang tak lain adalah Bunda sendiri.


"Sekarang makin jarang orang yang mau berdonasi ke tempat ini. Sebenarnya tempat ini sudah tidak layak untuk ditempati. Tapi karena tak ada dana untuk bisa memperbaiki, akhirnya kami bertahan dengan kondisi seperti ini," jelas Bunda parau.


Deg.

__ADS_1


Lena dan Arya saling bertatapan mata. Perasaan mereka saat ini, tentu sama. Mereka benar-benar merasa menjadi manusia yang tak pandai bersyukur, hingga tak peka pada sesama, termasuk pada tempat yang telah begitu berjasa dalam hidup mereka.


"Untuk itulah kami ke sini, Bund. Selain kami sangat merindukan Bunda, kami juga bermaksud memberitahukan kepada Bunda bahwa pekan depan kami akan mulai membangun tempat ini, agar adik-adik kami di sini bisa lebih nyaman dan bisa fokus belajar," tutur Arya spontan, yang sukses mengagetkan Bunda, termasuk Lena yang tidak menyangka bahwa reaksi spontan Arya akan sejauh ini.


"Benarkah, Nak? Alhamdulillah, terima kasih," mata Bunda tiba-tiba berbinar.


"Sudah menjadi kewajiban kami, Bunda," sahut Arya lagi, kali ini sambil menggenggam erat tangan istrinya. Lena yang mendengar penuturan suaminya hanya bisa memandang pria yang sangat dicintainya itu dengan tersenyum bangga.


"Oya, Nak. Sebenarnya ada yang ingin Bunda sampaikan kepada kalian, terutama kepadamu, Deeba," ekspresi Bunda tiba-tiba berubah serius.


"Deeba? Apa itu Bunda?" hati Lena tiba-tiba berdesir, tanpa tahu apa penyebabnya.


"Sebelum Bunda bicara, Bunda minta tolong. Apapun yang Bunda katakan nanti, tolong jangan dipotong dan dengarkan sampai bunda selesai bercerita. Bagaimana?" ucap Bunda masih dalam mode sangat serius.


"Baik, Bunda," Lena mengangguk, dengan degup jantung yang berpacu sepuluh kali lipat dari biasanya.


"Begini, Nak. Sehari yang lalu, seorang wanita datang menemui Bunda. Dia membawa bukti-bukti lengkap bahwa dia adalah ibu kandungmu," Bunda mulai bercerita.


"Jangan teruskan, Bund. Deeba ...," Lena tak mampu mengendalikan emosinya.


"Sssttt. Dengarkan bunda dulu," Arya menarik Lena mendekat, dan merangkul pinggangnya.


"Wanita itu menyebutkan secara detail bagaimana ciri-cirimu saat dia meninggalkanmu di tempat ini. Bahkan dia membawa sebuah kalung, dengan liontin yang sama dengan liontin yang waktu itu dia letakkan di samping kamu. Dari situlah Bunda yakin, bahwa dia adalah ibu kandung kamu. Dan sekarang, dia ingin sekali menemuimu, Nak," Bunda melanjutkan ceritanya.


"Untuk apa, Bund?" ucap Lena sambil mengusap air mata di pipinya dengan kasar.


"Waktu itu dia terpaksa melakukannya, Nak. Dia sudah menceritakan semuanya kepada Bunda. Dia benar-benar menyesali perbuatannya," Bunda mencoba menenangkan Lena.


"Terlambat, Bund. Dia tidak akan pernah bisa mengembalikan kebahagiaan Deeba yang telah dia renggut sejak pertama kali dia membuang Deeba," Lena begitu kekeh dan tak mampu menyembunyikan rasa bencinya kepada wanita yang telah tega meninggalkan dan membuangnya.


"Deeba, Bunda mohon. Setidaknya dengarkan penjelasannya. Ini juga tidak mudah buatnya," Bunda terus memberi pengertian pada Lena.


"Sayang ...," sela Arya.


"Deeba mohon, ini sangat sulit untuk Deeba. Sakit, Kak. Sakit sekali hati Deeba," tangis Lena akhirnya pecah. Bahkan kini, dia menenggelamkan dirinya dalam pelukan suaminya dan menangis sejadi-jadinya.


"Bund ...," Arya memandang Bunda dengan tatapan penuh permohonan.


"Bunda tidak memaksamu, Sayang. Tapi bunda mohon, pikirkan lagi baik-baik. Setidaknya bertemulah dulu dan dengarkan penjelasannya," Bunda masih sangat ingin mempertemukan Lena dengan ibu kandungnya.


"Biarkan dia menenangkan diri dulu, Bund. Setelah itu mungkin Deeba bisa memikirkan semuanya," Arya yang tidak tega melihat begitu hancurnya perasaan istrinya, berusaha untuk membuat negosiasi dengan Bunda.


"Iya, Sayang. Tenangkan dirimu dulu, dan pikirkan baik-baik permintaannya. Setidaknya kamu tahu bahwa ibu kandungmu masih hidup bukan? Bahkan kini dia berada sangat dekat denganmu, jika kamu bersedia menemuinya," ucap Bunda lagi.


Lena tak bergeming dan menyahut sedikitpun perkataan bundanya. Dia terus menyembunyikan wajahnya dibalik tubuh suaminya. Arya pun tak akan pernah memaksanya, dia begitu memahami perasaan istrinya karena dia sendiri juga bernasib sama dan merasakan apa yang dirasakan oleh Lena.


Karena Lena belum bisa diajak bicara, akhirnya Arya pamit pulang, dengan sebuah janji, akan menghubungi Bunda saat Lena sudah siap bertemu dengan ibu kandungnya. Bunda pun setuju dan membiarkan Arya dan Lena pulang, setelah mengusap kepala gadis yang telah dianggap sebagai putrinya sendiri itu dengan sayang.


"Kami pulang, Bund," pamit Arya, dengan Lena yang masih terus memeluknya.


Tak berapa lama, mereka pun masuk mobil dan segera meninggalkan panti dengan perasaan yang sungguh tak bisa diartikan dengan kata-kata lagi.


Tanpa Arya dan Lena tahu, seorang wanita paruh baya sedang memperhatikan mereka dari kejauhan dengan linangan air mata. Ya, dia adalah ibu kandung Lena, yang berada tak jauh dari ruang kerja Bunda dan telah mendengar semua percakapan diantara mereka.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2