
Naja berniat menarik selimutnya lagi, begitu Daniel telah selesai menghukumnya berkali-kali.
"Eits, jangan tidur lagi," cegah Daniel sambil menyibakkan selimut itu hingga terjatuh ke lantai.
"Aku capek," Naja merajuk. Dia sungguh tau apa yang akan terjadi jika dia membiarkan selimut itu tak menutupi tubuhnya lagi.
"Memangnya apa yang kamu pikirkan? Kamu masih mau lagi?" Daniel tersenyum penuh arti.
"Memangnya tidak?" tanya Naja, kemudian menutup mulut dengan tangannya. Seketika wajah Naja memerah. Bahkan kini dia menenggelamkan wajahnya ke dalam dada bidang suaminya untuk menutupi rasa malunya yang luar biasa.
"Ha-ha-ha. Kalau kau mau lagi, baiklah akan kutunda lagi penerbangan kita," Daniel tergelak.
"Penerbangan kita?" Naja mendongakkan kepalanya, melihat wajah Daniel untuk memastikan bahwa tak ada yang salah dengan pendengarannya.
"Iya, Sayang," Daniel menganggukkan kepalanya, dan mengecup kening Naja dengan mesra.
"Memangnya kita mau kemana?" Naja mengernyitkan dahinya.
"Kita akan pergi berbulan madu. Bersiaplah," jelas Daniel, santai.
"Bulan Madu? Sekarang?" seru Naja sambil membulatkan matanya. Meskipun Naja adalah perempuan yang tidak terlalu ribet dalam urusan pribadinya, tapi setidak-tidak ribetnya tetap saja perempuan akan butuh waktu untuk menyiapkan semua kebutuhannya.
"Kau mau hanguskan lagi tiket kita yang kedua, atau ...," sebelum Daniel menyelesaikan kalimatnya, Naja sudah menyela.
"Eh, tidak. Tidak. Tidak. Aku akan bersiap sekarang juga," sela Naja. Dia sungguh tahu arah pembicaraan suaminya kemana. Hingga Naja pun langsung beranjak dari tidurnya dan berlari ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap pergi.
***
Maldives adalah sebuah negara kepulauan indah dan mempesona yang telah mendunia sebagai destinasi honeymoon super romantis yang terkenal dengan pemandangannya yang indah, juga pantai yang cantik dengan suasanya yang sangat romantis. Lokasinya yang diapit oleh perairan Samudera Hindia, membuat pulau eksklusif yang jauh dari keramaian itu tampak sangat indah dan menjadi salah satu tempat teromantis di dunia yang membuat banyak pasangan menjatuhkan pilihannya untuk berbulan madu di sana.
__ADS_1
Di tempat itulah saat ini Daniel dan Naja berada. Mereka menyewa sebuah guest house yang berlokasi di atas permukaan air laut dengan deburan merdu ombak lautnya, membuat bulan madu mereka menjadi lebih sempurna.
"Apakah kau menyukainya?" Daniel memeluk Naja dari belakang, begitu mereka sampai dan Naja langsung menuju balkon untuk menikmati pemandangan eksotik yang bahkan sebelumnya Naja sendiri tidak berani memimpikannya.
"Tentu saja. Ini adalah tempat honeymoon yang aku impikan, Tuan," Naja melihat suaminya sekilas, kemudian mengalihkannya kembali ke arah laut lepas yang ada di depannya.
"Kau panggil aku apa, Sayang? Tuan?" Daniel mengernyitkan dahinya. Setelah pertanyaan itu terlontar, Daniel segera menarik tubuh Naja hingga mereka berdiri saling berhadapan.
Naja tidak berani menatap pria di depannya. Biar bagaimanapun, rasa bersalah akan pengkhianatan yang pernah dilakukannya masih terekam jelas dan menjadi beban di hatinya. Jadi hanya sekedar berharap Daniel menjadikan dia sebagai istri sepenuhnya? Bahkan Naja tidak berani hanya untuk bermimpi saja.
"Aku ...," ucap Naja ragu.
"Apa?" Daniel menatapnya lekat.
"Hentikan memanggilku dengan sebutan formal seperti itu! Bukankah sudah kukatakan bahwa aku mencintaimu? Bukankah saat ini kau adalah istriku? Karena itu, sekarang aku memintamu. Panggil aku sayang," lanjut Daniel sambil menenpelkan dahinya ke dahi Naja.
Naja tersenyum hangat mendengar permintaan suaminya itu. Dia hanya mengangguk, setuju.
"Iya, Sayang," sahut Naja ragu.
Mereka pun tergelak bersamaan, seiring dengan pelukan yang saling mereka eratkan.
"Terima kasih karena telah membawaku ke tempat ini. Ini adalah tempat impianku. Aku suka. Sangat suka," ucap Naja sambil terus menenggelamkan diri dalam pelukan suaminya.
"Apa kau tahu kenapa aku memilih laut sebagai tempat berbulan madu bersamamu?" Daniel merenggangkan pelukannya, memindahkan tangannya di atas pundak istrinya dan menatap istri yang kini berdiri di hadapannya dengan penuh cinta. Naja hanya menggelengkan kepala, sambil membalas tatapan suaminya.
"Agar saat kau bertanya, masih berapa banyak lagi cintaku untukmu, aku bisa memintamu untuk menghitung setiap puncak gelombang laut yang berkejaran, hingga kau tak akan pernah mampu menghitungnya. Kau tau kenapa aku melakukan itu? Karena ku ingin kau tahu, bahwa sebanyak itu pula cintaku padamu, bahkan sampai kau dan aku bahkan siapapun tak akan pernah bisa menghitung betapa besar dan banyaknya cinta di hatiku untukmu," cicit Daniel, sambil mengapit dua pipi Naja dengan dua telapak tangannya.
Mata Naja berkaca-kaca mendengar ucapan suaminya. Saking bahagianya, tanpa sadar Naja mengecup bibir Daniel yang manis merekah itu begitu saja. Senyum Daniel langsung mengembang begitu sadar bahwa Naja berinisiatif menciumnya terlebih dahulu.
__ADS_1
"Karena itu, berjanjilah kepadaku," tutur Daniel kemudian.
"Berjanji? Untuk apa?" tanya Naja, tak mengerti maksud ucapan suaminya.
"Berjanjilah untuk menjadikan aku sebagai satu-satunya cinta yang ada di dalam hidupmu," pinta Daniel penuh harap.
"Iya, Sayang. Aku janji. Apakah kau juga akan melakukan hal yang sama kepadaku?" balas Naja, sambil menyodorkan jari kelingkingnya untuk membuat kesepakatan di antara mereka berdua. Daniel pun menyambut permintaan Naja dengan meraih jari kelingking Naja dengan jari kelingkingnya.
"Janji?" Daniel mengulang pertanyaannya.
"Janji," sahut Naja.
Lama, mereka pun saling pandang. Hingga desiran ombak yang bergelombang pun mengiringi hati yang saling berdesir dan membuat hasrat mereka menyala-nyala bagai api yang siap membakar apa saja yang diterjangnya.
Daniel merapatkan tubuhnya, dia lantas menyatukan semua yang ada pada diri mereka dan mendorong tubuh istrinya memasuki kamar romantis yang memang di hias khusus sesuai permintaan Johan untuk menambah gairah malam panjang kedua majikannya.
Dan ternyata benar. Mereka terus menyatukan degup jantung mereka, saling mencumbu keindahan dunia hingga langit pun merasa begitu cemburu melihat hal yang sedang dilakukan oleh dua orang anak manusia yang sedang dimabuk asmara.
Naja hanya bisa pasrah, menerima semua perlakuan manis yang diberikan suaminya. Hingga tarikan-tarikan nafas pun semakin bergelora, seiring dengan desahan tasbih yang terucap saat mereka sampai pada puncak kenikmatan yang luar biasa.
"I love you, My Dear," ucap Daniel setelah Daniel menyelesaikan hukumannya.
"I love you too, My Dear Husband," balas Naja penuh cinta.
Mereka pun segera menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka, kemudian mengistirahatkan raga setelah perhelatan panjang di atas peraduan, diiringi suara deburan ombak yang bergemuruh, seperti cinta mereka yang kian bergemuruh mengisi seluruh ruang kosong pada rongga-rongga jiwa yang mereka punya.
Ya, Begitulah cara mereka mengekspresikan rasa cinta yang sudah bergemuruh sekian lama. Cinta yang tidak hanya saling memberi, tapi juga saling menerima. Cinta yang mengganti sebuah pengkhianatan menjadi kata setia. Juga cinta itulah yang mengakhiri kata saling mengingkari dengan janji saling melengkapi.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Bintang 5 dulu dong guys. Jangan lupa, like , vote dan comment positifnya juga. Terima kasih. 😘