METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Dua Alasan


__ADS_3

Indra terus menggerutu kesal sepanjang perjalanan. Pasalnya, malam ini Zara telah sukses membuat dirinya menjadi bahan tertawaan oleh senior dan tuannya, bahkan dengan terang-terangan mereka bilang bahwa Indra begitu mudahnya telah jatuh cinta.


"Rupanya kau benar-benar ingin melihatku murka, Zara. Lihat saja, aku tak akan mengampunimu," ucap Indra sepanjang perjalanan dari kediaman keluarga Dewangga.


Mobil pun melaju dengan begitu kencangnya, karena Indra terus menekan pedal gasnya tanpa mau mengurangi kecepatannya. Apalagi malam yang semakin larut membuat jalanan lumayan lengang dengan lalu lalang kendaraan, membuat Indra dengan keluasa terus menambah kecepatan. Ya, semakin Indra teringat bayangan tuannya menertawainya, semakin dalam pula Indra menginjak pedal gasnya, sehingga mobil itu sepenuhnya menggambarkan betapa emosinya Indra.


Jarak yang biasanya ditempuh dalam waktu dua puluh menit pun akhirnya Indra taklukkan hanya dengan waktu separuhnya. Bahkan suara mendecit akibat pedal rem yang Indra injak secara mendadak begitu dia sampai di apartemennya, terdengar dengan sempurna, sesempurna kemarahan Indra kepada Zara.


Begitu mobil terparkir manis di tempatnya, Indra segera keluar dan berjalan menuju lift yang akan mengantarkannya pada apartemen miliknya. Namun ketika dia hendak menekan tombol angka sesuai dengan nomor lantai apartemennya, tiba-tiba Indra berubah pikiran. Dia justru langsung menekan nomor lantai apartemen Zara, dan begitu pintu lift terbuka, Indra segera keluar menuju pintu yang akan mengantarkannya kepada gadis itu.


Hanya dalam hitungan detik, Indra pun berdiri di sebuah pintu dan menekan beberapa formasi angka yang sudah dia hafal di luar kepala, hingga begitu pasword pintu Zara terkonfirmasi, pintu itu pun langsung terbuka dengan manisnya.


"Zara!" Indra langsung masuk dan berteriak memanggil-manggil nama Zara, namun tak ada sahutan dari gadis yang sedang begitu ingin ditemuinya itu.


Karena tak mendapatkan sahutan, Indra pun akhirnya mencari ke seluruh ruangan. Kamar utama adalah tempat pertama yang menjadi pilihan.


"Kosong," gerutu Indra kesal.


Karena tak mendapatkan gadis itu di kamarnya, akhirnya Indra beralih ke kamar tamu, dapur, juga dua balkon di kamar tamu dan kamar utama, tapi Zara tak juga Indra temukan di tempat-tempat yang dia periksa. Hingga akhirnya, Indra memutuskan untuk kembali ke kamar utama yang tidak lain adalah kamar Zara, kemudian menghempaskan tubuhnya hingga ditangkap sebuah sofa panjang di kamar itu dengan sempurna.


Karena tak juga menemukan Zara, akhirnya Indra pun memutuskan untuk memejamkan mata sembari menunggu gadis itu muncul sendiri di hadapannya. Namun baru beberapa detik Indra menutup matanya, tiba-tiba gemericik air terdengar dari telinganya, dan beberapa menit kemudian Zara keluar dan berdiri mematung di tempatnya ketika melihat Indra.


Indra yang begitu kaget ketika melihat Zara keluar dari kamar mandi hanya dengan sehelai handuk yang membalut tubuh polosnya itu pun hanya mampu membulatkan mata dan menelan salivanya.


"Sempurna," batin Indra dalam hati.


Bahkan kemarahannya yang begitu ingin dia luapkan kepada Zara sesaat tadi, kini hilang seketika melihat maha karya terindah dari Yang Maha Pencipta.


"Tuan! Anda sungguh tidak sopan. Bisakah Anda tidak masuk kamar seorang gadis dengan sembarangan?" umpat Zara saking sebalnya.


Mendengar ocehan Zara, membuat Indra mengingat kembali tujuannya mencari Zara. Kemarahannya pun kembali seketika, hingga ekspresi wajahnya jelas-jelas menampakkan suasana hatinya saat ini.


"Kau yang sungguh tidak sopan, Zara. Malam ini kau benar-benar memancing kemarahanku, dan membuatku tak berniat untuk mengampunimu," Indra mengeraskan suaranya sambil beranjak dan menghampiri Zara.


"Apa maksud Anda, Tuan?" suara Zara mulai bergetar, menyadari ada aura kemarahan pada sikap dan suara Indra yang ditunjukkan kepadanya.


"Kenapa kau mengirim pesan kepada tuanku dan dengan lancang memintanya agar menyuruhku untuk meninggalkan tempat itu heh? Kau benar-benar sudah siap menerima hukuman dariku? Baik jika itu yang kau mau, aku akan melakukannya sekarang," Indra menyeringai, hingga membuat Zara ketakutan.


"Dengarkan penjelasan saya, Tuan. Saya ...," belum sempat Zara menyelesaikan ucapannya, Indra sudah menerkam bibir Zara dengan bibirnya.


"Tuan, mmmm, sa .., mmmm," Zara sampai tak bisa berkata apa-apa, karena Indra menyerangnya dengan membabi-buta. Zara mencoba untuk mendorong tubuh Indra, tapi dia kalah tenaga. Dia juga berusaha mepaskan pagutan bibir Indra, tapi lagi-lagi dengan kuat Indra menekan tengkuk lehernya, sehingga Zara sama sekali tidak bisa menjauhkan bibirnya dari keganasan Indra.


Akhirnya, hanya tangisan saja yang bisa Zara keluarkan, sebagai bentuk ketidaksukaan Zara pada apa yang dilakukan oleh Indra. Bahkan, karena benar-benar takut kalau-kalau Indra akan melakukan lebih dari sekedar apa yang saat ini dia lakukan kepadanya, Zara sampai betul-betul terisak karena tangis dan rasa takut di hatinya yang luar biasa.

__ADS_1


Menyadari bahwa gadis yang sedang dia hukum dengan versinya itu betul-betul ketakutan, akhirnya Indra pun tak tega dan mengakhiri perlakuan tak senonoh yang dia lakukan kepada Zara.


"Maafkan saya, Tuan. Saya bisa jelaskan semuanya," dengan nafas tersengal, Zara berusaha menjelaskan kepada Indra walaupun air mata itu masih mengalir deras dari ujung matanya.


"Aaauggggt!" Indra berteriak kencang, sambil memukul tembok yang ada di sampingnya dengan begitu kerasnya.


Melihat Indra yang begitu murka, Zara pun bersimpuh di lantai sambil menangis sejadi-jadinya. Antara takut, marah dan merasa tak ada pilihan, Zara tergugu sambil memegangi ujung handuk yang masih bertahan menutupi tubuh polosnya.


Sadar dengan apa yang dilakukan Zara dan tak tega melihat kondisinya, Indra segera meraih selimut yang masih tertata rapi di tempat tidur, kemudian menariknya dan melilitkan selimut itu untuk menutupi tubuh Zara. Setelah tubuh Zara tertutup sempurna dengan selimut yang diberikan Indra, Indra pun menarik nafas panjang dan duduk tenang di sofa panjang yang tadi sempat di dudukinya.


"Hapus air matamu, dan katakan apa yang bisa membuatku mengampunimu!" Indra terlihat berusaha dengan keras, untuk mengendalikan emosinya.


Zara yang bisa melihat bahwa pria yang akhir-akhir ini menghantuinya itu mulai tenang pun, mengusap mukanya dengan kasar, demi menghapus sisa-sisa air mata yang masih menempel sendu di pipi putihnya itu.


"Duduk!" titah Indra dingin.


Zara tak berusaha protes. Dia tidak mau mendapatkan hukuman lagi, seperti yang Indra lakukan sesaat tadi, hingga dengan secepat kilat Zara berdiri masih dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya, menyisakan bagian muka dan kepalanya saja.


"Kau banyak berhutang penjelasan kepadaku, Zara," ucap Indra begitu Zara sudah duduk di sampingnya.


Zara masih terdiam, dan menata hati untuk bisa menatap pria yang telah mengambil ciuman pertama yang sebenarnya hanya ingin Zara berikan kepada suaminya suatu saat nanti.


"Jelaskan kepadaku!" Indra memasang ekspresi datar, seolah sesaat yang lalu tidak terjadi apa-apa di antara mereka berdua.


"Apa maksud ucapanmu itu, Zara?" Indra begitu kaget mendengar penjelasan Zara.


"Saat Tuan Felix melakukan transaksi apapun, dia selalu melakukannya di tempat umum, tapi membuat tempat itu benar-benar steril dari masyarakat umum Tuan. Makanya kedatangan Anda dengan begitu mudahnya bisa diketahui oleh anak buahnya," Zara mulai tenang dan berbicara seperti biasanya.


"Itu tidak masuk akal, Zara. Selain mejamu dan meja Felix, aku juga melihat begitu banyaknya tamu yang sedang makan malam di tempat itu," sanggah Indra, tak percaya begitu saja dengan ucapan Zara kepadanya.


"Semua yang makan di restoran itu, adalah anak buah Tuan Felix yang sengaja di pasang agar pertemuan itu terlihat alami dan seperti makan malam biasa saja, Tuan," terang Zara lagi.


"Buktinya aku bisa masuk hingga ke tempat parkir itu. Bagaimana jika orang lain selain diriku juga masuk dan ikut makan di tempat itu?" pancing Indra, ingin menggali lebih jauh bagaimana penjelasan Zara.


"Tidak akan bisa, Tuan. Di depan gerbang semua pengunjung sudah di hadang dan diinfokan bahwa restoran itu sudah dibooking dan tidak lagi menerima tamu. Saya yakin, tadi Anda bisa masuk karena Anda bilang hanya akan berada di parkiran dan menunggu teman Anda yang sedang berada di dalam," Indra terperanjat menyadari bahwa semua tebakan Zara benar.


"Hmmm," Indra terlihat manggut-manggut, sebagai jawaban bahwa dia mengiyakan semua perkataan gadis itu.


"Lalu apa yang kau lakukan tadi?" tanya Indra, mengingat saat-saat Zara terjatuh di pangkuan seorang pria, bahkan sesaat setelah itu sengaja menumpahkan secangkir kopi ke tubuh Felix dan membantu membersihkannya.


Zara terlihat mengerutkan dahinya sejenak, mencoba menebak lagi kemana arah pertanyaan Indra. Dia mencoba mengingat-ingat, kira-kira adegan mana yang menjadi fokus Indra dan menimbulkan banyak pertanyaan dalam benaknya.


"Saya yakin Anda melihat semua hal yang terjadi di dalam restoran itu, Tuan. Tapi part mana yang menarik perhatian Anda?" gumam Zara dalam hati.

__ADS_1


Hingga tiba-tiba, Zara mengingat sesuatu sebelum akhirnya membuka suara untuk menjawab semua pertanyaan Indra.


"Begitu Anda masuk dan mengawasi kami dari tempat parkir, Tuan Felix yang langsung mendapatkan laporan bahwa Anda datang langsung mengirim pesan kepada semua anak buahnya yang berada di lapangan untuk tetap bersikap wajar. Kami yang berada di dalam pun tetap makan seperti biasanya, agar Anda tidak curiga. Tapi di belakang itu, Tuan Felix mengirimkan sebuah pesan khusus kepada saya," jelas Zara dengan detail.


"Apa isi pesan khusus itu?" Indra benar-benar tidak sabar.


"Saya diminta berpura-pura terjatuh di pangkuan pria itu bagaimanapun caranya, agar Anda tidak bisa menangkap transaksi yang sudah berhasil Tuan Felix lakukan bersama dua orang itu, Tuan," sahut Zara sambil membenarkan selimut yang masih setia menghangatkan dan menutupi tubuhnya.


"Transaksi? Transaksi apa itu, Zara?" Indra tak juga mengerti.


"Saya sengaja membuat agar salah satu sepatu high heel yang saya kenakan patah saat digunakan untuk berjalan, sehingga saya bisa jatuh tepat di pangkuannya. Saat saya duduk di pangkuan pria itulah saya mengambil sebuah flashdisk dari kantong jasnya. Begitu flashdisk itu berhasil saya ambil, berikutnya dengan sengaja saya menumpahkan cangkir berisi kopi itu hingga mengotori baju Tuan Felix. Saat saya membersihkan bajunya itulah saya meletakkan flashdisk itu ke saku bajunya. Dan akhirnya, transaksi selesai tanpa Anda bisa mengetahui kapan transaksi itu dilakukan, karena saya yakin, pasti Anda lebih fokus kepada saya dan Tuan Felix, bukan pada trik-trik kecil yang saya lakukan," lanjut Zara sambil tersenyum penuh kemenangan.


"Baiklah. Kali ini kuakui kau memang cerdik, Zara," Indra mengikis sedikit rasa gengsi di hatinya.


"Terima kasih, Tuan," Zara mulai terlihat santai menanggapi setiap pertanyaan pria misterius di depannya.


"Jangan berbangga dulu, sebelum kau tahu apa isi flashdisk itu," Zara yang mulai melambung tinggi, kini merasa di jatuhkan lagi berkali-kali.


"Saya akan mencari tahu," tutur Zara mantap.


"Baik. Akan aku beri kau waktu. Tapi siapa dua orang yang bertemu dengan tuanmu itu, Zara?" Indra hampir melewatkan satu pertanyaan yang menjadi inti dari misi mereka malam itu.


"Saya belum tahu siapa sebenarnya mereka, Tuan. Yang jelas, mereka bukan salah satu dari sepuluh nama yang Anda sodorkan. Tapi dari gelagat dan apa yang mereka bicarakan kepada Tuan Felix, mereka berdua adalah orang kepercayaan di tiga perusahaan besar pemilik Green Canyon. Jadi ada tiga kemungkinan. Bisa jadi mereka adalah orang dalam dari perusahaan Dewangga, perusahaan Daniel, atau perusahaan Atmaja. Untuk mengetahui siapa mereka, saya harus minta semua data karyawan perusahaan," oceh Zara, panjang kali lebar kali tinggi.


"Hmmm. Kita bisa akses data itu dengan mudah, Zara. Yang membuat lama hanya satu, kau harus mencocokkan muka mereka satu per satu," sahut Indra sambil menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Dia mulai berpikir kira-kira siapa lagi yang berpotensi mengkhianati Ryan, Daniel dan Hengky, jika bukan sepuluh nama yang sudah dia prediksi sebelumnya.


"Tidak masalah buat saya," jawab Zara dengan begitu santainya, yang ditanggapi hanya dengan sebuah anggukan kepala oleh Indra.


"Satu penjelasan aku terima, Zara. Sekarang, katakan kepadaku, kenapa kau meminta tuanku untuk membuatku pergi dari tempat itu?" Indra memasang muka serius. Ingatannya kembali pada candaan kakaknya juga tuannya beberapa jam yang lalu.


"Anda harus pergi dari tempat itu, atau anak buah Tuan Felix akan menghabisi Anda saat kami benar-benar sudah menyelesaikan transaksi itu, Tuan. Lagian dua orang yang Tuan Felix temui tadi tak akan bisa keluar jika Anda masih mengawasinya di parkiran, karena saya yakin mereka berdua adalah orang-orang dalam," jelas Zara dengan begitu hati-hati. Dia benar-benar tak mau menerima kemurkaan Indra seperti yang dia dapatkan tadi.


"Tapi kenapa yang kau hubungi harus tuanku?" protes Indra, tapi tak menunjukkan emosinya.


"Ada dua alasan, Tuan," Zara menimpali dengan segera.


"Apa?" Indra terlihat bersiap mendengarkan alasan Zara.


"Yang pertama, karena peraturan pertama saya tidak boleh menghubungi Anda terlebih dahulu sebelum Anda menghubungi atau menemui saya. Yang kedua, Anda tidak membuat peraturan bahwa saya tidak boleh menghubungi langsung Tuan Ryan Dewangga. Jadi karena situasi malam tadi begitu sangat mendesak, terpaksa yang saya hubungi adalah Tuan Anda, yang sekarang juga merupakan tuan saya,"


Ucapan Zara yang terakhir itu merupakan pukulan telak untuk Indra. Dan kali ini, Indra sudah benar-benar kalah dari Zara, dan tak bisa lagi berkata apa-apa.


"Bodoh. Bodoh. Bodoh. Kenapa aku tak memikirkan hal itu," gerutu Indra dalam hati.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2