METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Flek Hitam


__ADS_3

Siang itu, terik mentari membakar seluruh penjuru kota. Dedaunan mulai lunglai karna dahaga, bumi pun seolah menceracau seiring dengan butiran peluh yang membasahi raga.


Lena yang tak tahan dengan panas yang terasa membara itu pun menarik tangannya dari genggaman Arya dengan tiba-tiba, kemudian berlari sepanjang parkiran rumah sakit demi segera sampai ke dalam mobilnya. Ya, sepasang suami istri itu baru saja menjenguk Daniel setelah semalam menjalani transplantasi kornea mata. Karna kondisi Daniel baik-baik saja, mereka yang hari itu didapuk untuk menemani Daniel pun akhirnya pulang dan meninggalkan Daniel hanya bersama Naja.


"Sayang, jangan berlari. Nanti kamu jatuh," Arya berteriak sambil menyalakan mesin mobilnya melalui sebuah remot kontrol dari tangannya.


"Panas, Kak. Deeba nggak tahan," Lena balik berteriak, tidak mendengarkan perkataan suaminya. Dia terus berlari hingga akhirnya bisa masuk ke dalam mobilnya, dan menikmati hembusan AC mobil yang sepoi-sepoi dan menyapu wajahnya yang sudah merah merona.


Semenit kemudian, Arya yang akhirnya ikut berlari di belakang istrinya itu pun menyusul Lena memasuki mobil mereka dan meraih sebotol air mineral, kemudian meneguknya hingga habis tak bersisa.


"Kak Tama habisin airnya? Kenapa tidak sisain buat Deeba," Lena mengerucutkan bibirnya.


"Bukannya kamu sudah masuk dan duduk manis lebih dulu? Kenapa kamu tak mengambilnya dan membiarkanku menghabiskannya?" sahut Arya sambil terkekeh.


"Deeba haus," rengek Lena.


"Ya sudah, aku belikan dulu. Bersabarlah sebentar. Oke?" Arya mengacak hijab yang dikenakan Lena dengan sayang, kemudian keluar lagi untuk membeli air mineral.


Lima menit berselang, Arya kembali dengan keringat yang membanjiri seluruh tubuhnya. Bahkan baju yang dia kenakan pun terlihat basah karena udara yang begitu panasnya.


"Buat Adeebaku tersayang," ucap Arya sambil menyerahkan sebotol air mineral ke tangan istrinya.


Dengan secepat kilat, Lena langsung meraih air itu, kemudian segera meneguk dan membasahi kerongkongannya yang begitu kering.


"Terima kasih," Lena meletakkan botol air mineral itu kemudian mengecup pipi suaminya.


"Hmmm, aku nggak akan cuci muka ahh, nanti bekas ciuman istri cantikku hilang," ucap Arya sambil memegang pipinya.


"Apaan sih?" Lena mencubit perut suaminya dengan gemasnya.


"Auuuw. Sakit, Sayang," teriak Arya, berpura-pura kesakitan demi menggoda istrinya.


"Awas ya, kalau Kak Tama cuci muka," cicit Lena.


"Main ancam ya sekarang?" Arya mencubit hidung mancung Lena dengan sayang.


"Salah sendiri nyebelin," Lena bersungut kesal.


"Ha-ha-ha. Nggak usah sok pura-pura ngambek. Ntar kalau lagi pengen, nyesel loh," Arya mengerling nakal.

__ADS_1


"Kak Tamaaa," teriak Lena sambil mendaratkan pukulannya ke bahu Arya.


"Ampun, Sayang. Ampun," Arya tergelak sambil memegangi dua tangan Lena yang terus memukuli bahu dan lengannya.


Hingga tiba-tiba, melodi indah dari tas Lena terdengar. Ya, itu adalah sebuah notifikasi pesan whatsapp yang masuk ke ponselnya.


"Sebentar ya, Kak?" Lena meminta izin.


"Sudah kubilang, jauhkan benda itu jauh-jauh darimu saat kau sedang bersamaku. Jarang-jarang kan kita bisa berduaan? Biasanya aku pulang larut malam dan berangkat pagi-pagi hingga kita jarang bisa seperti ini. Tidak bisakah kau bermain-main dengan ponselmu saat aku sedang tak bersamamu? Bukankah kau lebih punya banyak waktu untuk bersama dengan benda itu dari pada bersamaku?" protes Arya.


"Tapi kalau penting gimana?" Lena berusaha membela diri.


"Kalau penting, dia pasti akan menelponmu," sahut Arya sambil memindah gigi mobilnya kemudian menekan pedal gas hingga mobil itu melaju.


"Kak Tama marah?" Lena memandang lekat suaminya.


"Kenapa aku harus marah?" Arya tak sedikit pun melirik ke arah istrinya. Dia terus fokus ke depan, memperhatikan jalan yang dilaluinya.


"Karena Deeba memegang benda pipih itu saat bersama Kak Tama," lirih Lena.


"Sudah tahu kalau akan merusak mood-ku, kenapa masih melakukan hal itu? Dengar ya, Deeba. Kakak nggak suka ya, kamu terlalu asyik dengan benda itu dan malah mengabaikanku," Arya masih memasang muka masam.


"Iya, iya, Deeba minta maaf," akhirnya Lena mengalah.


"Masih marah?" Lena memastikan.


"Enggak," Arya masih terlihat cuek.


"Kok jawabnya singkat-singkat gitu?" tanya Lena penuh selidik.


"Nggak papa," mode yang sama masih Arya pakai, agar istri kecilnya itu benar-benar mampu menterjemahkan keinginannya.


"Tuh kan?" Lena bersungut kesal.


Lena menyandarkan kepalanya pada jok mobil, kemudian membuang pandangannya ke arah luar jendela. Keheningan pun tiba-tiba tercipta. Hingga tiba-tiba ...,


"Berhenti!" teriak Lena.


Arya yang tidak siap mendengar suara sekencang itu pun langsung menginjak pedal rem saking kagetnya, hingga mobil yang mereka tumpangi berhenti secara tiba-tiba. Untung saja tidak ada mobil di belakang mereka, sehingga tabrakan beruntun itu pun bisa terelakkan.

__ADS_1


Tubuh mereka terhuyung ke depan begitu mobil itu berhenti, bahkan sempat ada benturan fisik di area kepala Lena.


"Kamu ini apa-apaan sih, Sayang?" cibik Arya.


"Kak Tama ini yang apa-apaan? Deeba sudah penuhi permintaan Kak Tama. Tapi kenapa Kakak masih ketus saja sama Deeba?" usai mengatakan itu, Lena membuka pintu kemudian keluar dan berlari di bawah teriknya mentari yang membakar tubuh.


"Deeba! Sayang!" Arya yang tidak menyangka dengan reaksi istrinya, terus melajukan mobilnya dan mengikuti kemana Lena berlari. Sebelah kaca mobilnya sengaja Arya buka, agar Lena bisa mendengarkan ucapannya.


"Ayo naik, Sayang. Di luar panas," rayu Arya.


Lena masih diam saja. Kini dia berjalan dengan cepat di atas trotoar yang terletak di bahu jalan. Untung saja jalanan lurus dan di samping bahu jalan adalah pusat pertokoan, sehingga Lena tidak bisa masuk ke dalam gang.


"Deeba, jika kau tetap berada di luar, Kakak pastikan, mukamu akan terbakar matahari," Arya menakut-nakuti. Dia paling tahu, bahwa istrinya itu sangat menghindari panas matahari secara langsung, karena akan membuat mukanya memerah karena terbakar.


Mendengar penuturan suaminya, Lena memelankan langkahnya dan terlihat berpikir sejenak.


"Kau tidak percaya? Coba saja kau berkaca. Mukamu sudah sangat memerah. Kalau ini kau lanjutkan, dijamin flek hitam di mukamu akan segera muncul," mengetahui istrinya mula termakan omongannya, Arya semakin mengeluarkan jurusnya.


"Flek hitam?" Lena menghentikan langkahnya secara tiba-tiba, kemudian langsung masuk kembali ke dalam mobilnya tanpa aba-aba. Begitu dia duduk, segera saja dia mengeluarkan sebuah cermin kecil pada bedak padat yang selalu dibawanya kemana-mana.


"Semua ini gara-gara Kak Tama," gerutu Lena begitu mendapati mukanya sudah sangat merah.


"Kok aku? Kamu sendiri yang keluar mobil dan berlari kan?" sahut Arya, melayani ocehan istrinya.


"Siapa suruh Kak Tama diemin Deeba?" Lena memajukan bibirnya.


"Habis aku tidak suka kau duakan dengan benda canggih itu," keluh Arya.


"Tapi tadi kan Deeba sudah tidak memegangnya. Kenapa Kak Tama tetap cuekin Deeba?" protes Lena.


Melihat gelahat istrinya yang belum juga terkondisi, Arya pun menepikan mobilnya. Tidak mungkin mereka pulang sebelum pertengkaran kecil mereka terselesaikan, mengingat di kediaman Dewangga banyak sekali pasang mata yang akan memperhatikan mereka.


"Sebagai ucapan maafku, bagaimana kalau permaisuri cantikku ini kuantar ke dokter untuk perawatan?" Arya keluarkan senjata pamungkasnya. Dari pada istrinya itu terus ngambek dan nanti malam tak ada jatah untuknya, Arya lebih memilih untuk melakukan hal yang paling tidak disukainya, yaitu menunggui istrinya melakukan perawatan wajah yang bisa memakan waktu sampai dua jam lamanya.


"Bohong nggak?" Lena mulai luluh.


"Ayo kita ke sana sekarang juga," Arya mengembangkan senyumnya. Bahkan kini Arya kembali mengacak kepala yang tertutup rapat dengan hijab itu dengan begitu gemasnya.


"Yey, terima kasih," Lena langsung menghambur dalam pelukan suaminya.

__ADS_1


"Ternyata sesederhana ini cara melunakkan hatimu, Sayang. Ketakutanmu akan flek hitam membuat gengsimu terkalahkan," Arya tergelak dalam hati.


BERSAMBUNG


__ADS_2