
Sejak Ryan menikahi Rani, siapapun yang mengenal Meysie pasti tahu, bagaimana rasa sepi itu selalu bertamu dalam hati gadis cantik yang kini telah berusia 29 tahun itu. Ya, usianya memang tak lagi bisa dibilang muda, untuk ukuran seorang wanita. Di usianya itu, gadis lain tak akan lagi malu-malu menampakkan diri dan membuka hati untuk seseorang yang akan menjadi pengisi hatinya yang kering meronta.
Namun, dia lebih sering terlihat enggan jika ada laki-laki yang datang. Wajahnya pun selalu sayu, ketika orang tuanya menanyakan tentang sebuah kepastian hari pernikahan dan jodoh yang telah dia idam-idamkan.
Pagi itu, Meysie dan Ega menyelesaikan sarapan mereka dalam keadaan diam. Bahkan, perpaduan suara sendok dan garpu pun sama sekali tak terdengar, mengingat mereka sedang melahap taco yang mereka pegang di tangan.
"Ada saus yang mengotori bibirmu," ucap Ega sambil ******* habis sisa saus dari bibir Meysie yang kini menempel di ibu jarinya.
"Apa yang kamu pikirkan, Sayang? Apa kau pikir aku akan menciummu sekarang?" Ega kembali menggerakkan alisnya.
Meysie tak menghiraukan perkataan suaminya. Dia justru sibuk mengkondisikan hatinya agar tidak bergejolak luar biasa.
"Kenapa kamu harus memperlakukan aku sebaik ini, Bang?" batin Meysie dalam hati.
"Apa kau terkesima melihat ketampanan suamimu ini, Sayang?" Ega kembali menggoda.
"Ayo selesaikan sarapannya, Bang. Meysie sudah tak sabar ingin segera bertemu dengan mama dan papamu sekarang," Meysie mengalihkan topik pembicaraan.
Ega pun hanya tersenyum tipis melihat istrinya yang malu-malu tapi tetap bersikap manis. Sesuai permintaan Meysie, mereka segera melahap habis aneka makanan yang terhidang di atas meja, kemudian bergegas keluar dari resto menuju ke lobby utama.
Kini mereka telah berjalan bergandengan layaknya sepasang kekasih, yang membuat semua mata menatap kagum ke arah mereka. Secara fisik, mereka memanglah pasangan yang terlihat sangat serasi. Meysie yang cantik dan tinggi bak model, bersanding dengan Ega yang memang terkenal dengan ketampanannya.
Begitu sampai di lobby, supir pribadi keluarga Rahardian pun sudah menjemput mereka dengan mobil yang sama, dengan mobil yang dia kendarai saat dia menjemput Ega dan Meysie begitu mereka tiba di tanah Amerika.
"Silahkan Tuan, Nona," supir itu membuka pintu mobilnya dan mempersilahkan majikannya untuk masuk.
Ega dan Meysie pun masuk dan segera duduk dengan posisi ternyaman. Meski Meysie belum juga mencintai suaminya, tapi dia sama sekali tidak menolak segala perlakuan dan perhatian yang diberikan oleh Ega kepadanya. Meysie membiarkan semua berjalan sesuai dengan rencana Ega, agar cinta itu lama-lama akan tumbuh subur dalam hati Meysie dan mereka bisa hidup bahagia seperti layaknya sepasang suami istri pada umumnya.
__ADS_1
Sepuluh menit berselang, mereka telah sampai di sebuah rumah mewah yang terletak di salah satu tempat terindah di New York city. Ya, kini mereka sedang berada di New York City, sebuah kota metropolitan yang membuat kota ini bagaikan ibu kota. Ada banyak tempat wisata di kota ini yang sangat terkenal antara lain Central Park Zoo, Taman Luna Coney Island dan Museum Sejarah Alam Amerika. Bahkan, taman dan jembatan di kota besar ini saja sangat ikonik sehingga banyak orang yang mengabadikannya di berbagai sosial media.
"Silahkan Tuan, Nona," supir itu kembali membuka pintu mobilnya dan mempersilahkan majikannya untuk keluar.
Begitu Meysie keluar, matanya segera termanjakan pada rumah indah dengan hamparan tanaman buah di sepanjang rumah mereka. Rumah itu memang tidak sebesar rumah keluarga Dewangga, tapi kenyamanannya, juga melihat bagaimana kedua mertuanya sedang menyambutnya, membuat hati Meysie benar-benar merasa nyaman di tengah-tengah keluarga Rahardian.
Kini Ega sudah menggenggam tangan Meysie dan berjalan bersama menghampiri kedua orang tuanya.
"Pa, Ma," sapa Meysie sambil mencium punggung tangan mereka.
Mereka menyambut Meysie sangat hangat. Sebuah pelukan penuh kasih sayang pun mendarat dari dua orang yang benar-benar ingin Ega bahagiakan.
"Bagaimana kondisi kesehatanmu, Nak?" tanya Nyonya Rahardian penuh perhatian.
"Meysie sudah sehat, Ma," jawab Meysie sambil tersenyum manis kepada mertuanya.
"Syukurlah. Mama titip Ega ya, Nak. Sayangi dia sampai kalian menua," tutur Nyonya Atmaja lembut.
"Sebenarnya Papa sangat berharap kalian akan tinggal di rumah ini bersama kami. Tapi karena Ega kekeh ingin membeli rumah sendiri agar kalian bisa belajar hidup mandiri, Papa hanya bisa mendo'akan, semoga kalian bahagia dan terus saling mencintai hingga maut memisahkan," ucap Tuan Rahardian dengan gayanya yang berkarisma.
Meysie hanya menatap wajah suaminya dengan tatapan penuh tanda tanya besar. Namun karena Ega mengangguk dan tersenyum tipis ke arahnya, membuat dia tidak protes ataupun mengungkapkan ketidakberatannya tinggal bersama dengan kedua orang tua mereka itu.
Siang itupun begitu cepat berlalu, mereka berempat hanya menghabiskan waktu untuk mengobrol di ruang tamu. Hingga tiba-tiba, Nyonya Rahardian mengeluarkan sesuatu dari sebuah kotak yang terletak di atas meja. Ya, rupanya kotak itu memang sudah dipersiapkan khusus untuk Meysie.
"Kemarilah, Nak," Nyonya Rahardian menepuk satu bagian sofa di sebelahnya yang masih kosong.
Mendengar perintah mama mertuanya, Meysie hanya mampu menuruti apa yang dikehendaki mama mertuanya itu. Begitu Meysie mendekat, Nyonya Rahardian segera meraih tangan Meysie, mengambil sesuatu dari dalam kotak itu, dan memakaikan sebuah gelang cantik ke tangan indah Meysie.
__ADS_1
"Pakailah, jangan pernah lepaskan. Gelang ini adalah gelang turun menurun warisan keluarga Rahardian. Dulu Mama mendapatkan gelang ini dari ibunya Papa. Dan sekarang, Mama serahkan ini padamu, sebagai pengingat dan pengikatmu dengan keluarga ini," tutur Nyonya Rahardian panjang lebar.
"Terima kasih, Ma," jawab Meysie, sesaat setelah matanya mencoba bertanya dengan isyarat mata yang diberikan oleh suaminya.
"Ingat, pernikahan bukan hanya hubungan yang disahkan oleh agama dan negara, tapi juga sebuah perjanjian yang diikrarkan atas nama Allah Yang Maha Pencipta. Oleh karena itu, jangan pernah main-main dengan status barumu. Lakukanlah segala kewajiban dan hakmu, seperti layaknya seorang istri pada umumnya. Ingat! Sekarang, keridhaan Allah tergantung pada keridhaan suamimu terhadapmu," Nyonya Rahardian masih terus menasehati menantu kesayangannya itu.
Ega memang sudah menceritakan semuanya kepada kedua orang tuanya, sebelum akhirnya memutuskan untuk menikahi Meysie. Awalnya, tentu mereka menolak Meysie mentah-mentah, mengingat perjodohan mereka dulu gagal dan hubungan mereka tak bisa dilanjutkan ke pelaminan. Apalagi melihat kondisi Meysie waktu itu masih dalam keadaan koma, membuat mereka mempunyai sederetan alasan untuk tidak menyetujui permintaan Ega untuk menikah dengan Meysie. Tapi karena Ega terus meyakinkan dan menunjukkan kepada kedua orangtuanya bahwa cintanya kepada gadis itu sedemikian besar, membuat mama dan papa Ega pasrah dan menuruti semua kemauannya.
Makanya, begitu mendengar Meysie telah bangun dari komanya yang panjang, orang tua Ega meminta agar Ega membawa Meysie untuk hidup di Amerika bersama mereka.
Setelah seharian mereka berada di kediaman utama keluarga Rahardian, mereka pun akhirnya berpamitan.
"Baiklah, hati-hati di jalan. Bikinlah cucu sebanyak-banyaknya untuk Mama dan Papa," goda Nyonya Rahardian sambil mengerlingkan satu matanya.
"Oke, Ma. Mama tenang aja. Cucu Mama lagi otw," sahut Ega asal.
Muka Meysie pun kini sudah berubah menjadi merah padam, mendengar apa yang di obrolkan oleh seorang ibu dan anak itu di hadapannya.
"Baiklah, sana cepat pulang. Biar cucu Papa segera launching dan garis keturunan Rahardian bisa terselamatkan," timpal Tuan Rahardian sambil memukul kecil bahu anaknya dengan pelan.
Setelah berbasa-basi sebentar, mereka akhirnya pamit pulang. Sebelum sang menantu kesayangan pergi, Nyonya Rahardian pun memeluk erat Meysie dan membisikinya sesuatu.
"Setelah menerima gelang ini, kebiasaan seorang menantu di keluarga kami adalah menyerahkan diri seutuhnya kepada sang suami. Karena itu Mama sangat berharap, kau dapat menerima Ega sebagai seorang suami seutuhnya," bisik Nyonya Rahardian lirih.
Deg.
Tiba-tiba jantung Meysie berdetak tak beraturan.
__ADS_1
"Sudah siapkah aku menerima suratan nasib ini?" batin Meysie dalam hati.
BERSAMBUNG