
Ryan berlari menuju kamar untuk menyusul istrinya dengan perasaan gelisah. Pasalnya, dia sudah berjanji pada Dokter Amanda untuk tidak membuat Rani marah, stress dan semacamnya demi menjaga kestabilan kesehatannya selama Rani mengandung anaknya. Tapi karena kebodohannya, juga karena perasaan cemburu buta yang menguasai dirinya, membuat Ryan lupa jika kondisi Rani adalah hal paling utama yang harus diperhatikannya.
Berjuta rasa bersalah pun kini merambati dirinya. Bahkan ingin sekali Ryan menyakiti tubuhnya sendiri jika itu bisa membuat amarah Rani hilang dan senyumnya kembali lagi. Meskipun akhirnya Ryan sadar, kesalahannya kali ini benar-benar sudah fatal.
Ryan semakin mempercepat langkahnya. Dengan terburu-buru, dia langsung membuka pintu kamar, tapi sepi. Belum ada satu menit Ryan melihat Rani masuk, tapi istri kesayangannya itu sama sekali tak ada di sudut manapun.
Jika sudah begitu, kamar mandi akan menjadi tempat pertama yang dipilih Ryan untuk mencari Rani. Dan ternyata benar, suara gemericik air yang terdengar, membuat Ryan bisa tersenyum senang.
Sepuluh menit kemudian, Rani keluar. Ryan yang menyadari bahwa kini istrinya itu sedang berjalan ke arah lemari pakaian pun segera menghampirinya dan memeluknya dari belakang.
"Hubby cinta kamu, makanya Hubby cemburu," mulut Ryan berbisik di telinga Rani, sementara tangannya terus mengelus perut istrinya yang sudah kian berisi itu.
"Rani juga cinta Hubby, tapi Rani tidak suka dicemburui, By. Ketika Hubby cemburu seperti itu, berarti Hubby tidak percaya sama Rani," sahut Rani datar. Tak ada lagi emosi dari nada bicaranya, yang membuat suaminya bisa tersenyum sedikit lega.
"Maafkan Hubby ya, Sayang. Hubby janji tidak akan mudah emosi lagi seperti tadi. Apa yang Hubby rasakan kepada Tede, Felix dan Hengky, mungkin sama persis dengan yang kamu rasakan kepada Meysie," ucap Ryan sambil menciumi leher istrinya yang jenjang.
"Kasus Rani dan mereka semua berbeda dengan kasus Hubby dan Meysie. Antara Rani dan Tede, mungkin pernah ada ikatan hati. Tapi biar bagaimanapun dia sudah pergi, By. Tidak ada satu alasan pun yang bisa membuat Hubby untuk cemburu atau tak enak hati. Sedangkan antara Rani dan Mas Hengky juga Felix, tak pernah ada ikatan sama sekali. Jika salah satu di antara mereka masih menaruh hati dan mengejar-ngejar cinta Rani, semua kesalahan ada di tangan mereka, bukan Rani. Berbeda dengan hubungan Hubby dengan Meysie. Kendatipun di antara kalian tak pernah ada ikatan hati, tapi Hubby pernah mencintai Meysie," protes Rani, yang sebenarnya tidak suka jika suaminya menyebut-nyebut nama Meysie lagi.
"Tapi seperti apa yang kamu rasakan ketika cemburu sama Meysie, seperti itu juga yang Hubby rasakan saat kamu didekati laki-laki lain," celetuk Ryan. Dia tidak berhenti dari aktifitas mencumbui istrinya yang sudah wangi karena baru saja mandi itu.
Rani menatap Ryan dari cermin, dia sedikit mengatur nafasnya, karena aktifitas Ryan mulai membuat dirinya menegang.
"Maafkan Hubby," Ryan mengucapkannya sekali lagi.
__ADS_1
"Hmmm," Rani mengangguk, dengan senyum tulus dari bibirnya.
Ryan pun membalikkan tubuh istrinya, dan mengusap lembut pucuk kepala Rani dengan tangannya yang besar.
"Jadi, istri manjanya Hubby ini sudah tidak marah lagi kan?" kini mata Ryan menatap dengan intens ke arah bibir Rani yang terlihat segar walau hampir tak pernah tersentuh lipstik itu. Ya, Rani memang hampir tak pernah menggunakan lipstik kemanapun dia pergi. Dia hanya memoleskan krim dan bedak saja setiap hari, tapi justru membuat kecantikan yang terpancar di wajahnya nampak sangat alami.
Usapan tangan Ryan kini menuju bibir ranum itu. Rani hanya membiarkan Ryan melakukan apa yang menjadi haknya, dan menanti apa yang akan dia lakukan selanjutnya.
"Boleh ya, Sayang?" bisik Ryan lembut, kemudian menarik lilitan handuk yang Rani kenakan, hingga dalam sekali tarik, handuk itu langsung mendarat dengan manis di lantai.
Rani hanya mengangguk malu, membiarkan suaminya menempelkan bibirnya ke bibir ranum miliknya, dan membiarkan kecupan-kecupan singkat itu berubah menjadi l*matan, setelah terdengar nafas Rani yang mulai memberat, seolah mengizinkan Ryan untuk bergerak lebih jauh.
Rani memejamkan matanya, menikmati setiap perlakuan suaminya dan segera membalasnya. Debaran di dadanya pun semakin mengencang, ketika tangan Ryan bergerak ke arah punggungnya dan sedikit menekannya, membuat tubuh mereka bisa menempel dengan sempurna.
Ryan mengerti arah ucapan istrinya, dia segera menanggalkan seluruh helaian benang yang masih menempel pada tubuhnya dan membopong istrinya ke arah ranjang, dengan tatapan intens yang sudah sangat sulit untuk dikendalikan.
Dengan lembut, Ryan pun menggelar tubuh Rani begitu saja di atas peraduan mereka, dan segera melakukan aktifitas yang menjadi hobbynya sejak dia menikahi Rani, hingga membuat halal apapun yang dilakukan oleh keduanya.
***
Rani mengerjapkan matanya, membiarkan bias cahaya yang masuk melalui celah tirai jendela kamar itu menyapa netranya dengan perlahan. Dia merapatkan selimutnya hingga ke arah leher, untuk menghalau rasa dinginnya mengingat saat ini dia tidak mengenakan sehelai benang pun yang mampu menutupi tubuh polosnya.
Namun menyadari bahwa matahari sudah mulai menampakkan pesonanya, mata Rani tiba-tiba mendelik.
__ADS_1
"Sudah jam enam pagi," teriaknya sambil mendudukkan tubuhnya.
"By, Hubby! Kita terlambat sholat shubuh," ucap Rani sambil menggerakkan tubuh suaminya, membuat Ryan menggerakkan tubuhnya dan menggeliat dengan begitu nikmatnya.
"Hmmm," setengah sadar Ryan justru menarik tubuh Rani hingga mereka kembali berpelukan dengan eratnya.
"Hubby, kita sudah terlambat sholat shubuh. Lihatlah matahari sudah naik, itu artinya kita sudah tidak boleh bermalas-malasan lagi," Rani menarik tubuhnya dengan paksa dan melepaskan diri dari kungkungan suaminya.
"Mau kemana?"
"Masih tanya lagi. Lihatlah ini sudah jam enam pagi, dan kita sudah terlambat sekali. Ayo mandi, lalu kita tunaikan kewajiban kita yang sudah sangat terlambat ini," seru Rani sambil menutup pintu kamar mandi.
Ryan terkekeh saja mendengar omelan istrinya, tapi melakukan apapun yang dia titahkan kepadanya. Dengan sigap Ryan menyibakkan selimutnya, dan segera saja dia dengan tubuh polosnya menyusul Rani ke kamar mandi untuk membersihkan diri bersama.
"Hubby ngapain masuk tanpa permisi?" Rani kembali berteriak, menyadari suaminya masuk ke kamar mandi tanpa menunggu istrinya menyelesaikan rutinitasnya.
"Mandilah. Masa tidur," jawab Ryan santai, sambil menutup pintu kemudian berjalan ke arah shower dimana istrinya sedang mengguyur tubuhnya di sana juga.
"Kenapa tidak menunggu sampai Rani selesai?" gerutu Rani.
"Bukankah katamu kita sudah sangat terlambat? Kita akan semakin terlambat sholat shubuh jika Hubby harus menunggumu menyelesaikan ritualmu dulu. Lagian juga kita sudah sering mandi bersama kan?" jawab Ryan enteng sambil mengusap seluruh tubuh Rani dengan sabun, dan memandikannya seperti seorang ayah yang sedang memandikan putrinya.
"Hubby, ayo buruan mandi! Kita sudah terlambat,"
__ADS_1
BERSAMBUNG