
Di depan ruang itu Ryan berdiri beku, di balik air mata yang tak bisa tertahan saat melepas Rani memasuki sebuah ruang bersama dokter dan beberapa suster yang mendorong tubuh Rani menggunakan ranjang besi beroda, yang selalu mereka gunakan untuk memindahkan setiap pasien yang tiba.
Ryan terus saja merasa bersalah, karena saat penyekapan itu justru Ryan sedang terlalu larut dalam kesedihan, hingga dia lalai bahwa harta paling berharga dalam hidupnya sedang terancam bahkan hingga detik itu belum ada jaminan bahwa nyawa istrinya bisa diselamatkan.
Arya yang sangat mengerti apa yang dirasakan majikan sekaligus sahabatnya itu pun menepuk bahu Ryan dan mengajaknya duduk. Akhirnya Ryan duduk dengan pasrah, tubuhnya lunglai seolah merasakan apa yang sedang istrinya rasakan.
"Maaf, apakah nona yang tadi itu adalah Arania Levana?" tiba-tiba seorang perempuan setengah baya menghampiri mereka dan bertanya.
"Betul, dia adalah Arania Levana, istri dari Tuan Ryan Dewangga," jawab Arya. Sementara Ryan hanya mendengarkan perbincangan mereka dengan terus memejamkan matanya.
"Apakah boleh saya bertemu dengannya? Saya adalah ibu dari sahabatnya. Sudah lama kami tidak bertemu," tanya perempuan itu dengan ragu.
"Untuk sekarang tidak, Tante. Kami juga belum diizinkan masuk," jawab Arya dengan sopan.
Perempuan itu pun bisa mengerti, dan meninggalkan mereka setelah menitipkan pesan untuk Rani dan meninggalkan nomor telphonnya.
***
Hari itu, waktu terasa begitu lama berputar. Bahkan Ryan ingin sekali menghitung, sudah berapa kali putaran jarumnya sejak Rani berada di dalam, walaupun akhirnya dia tak mau menolehnya lagi. Karena semakin dihitung, jarum waktu terasa berputar semakin pelan.
Ceklek...
Tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka. Ryan dan Arya berdiri secara bersamaan, saat melihat dokter ke luar dari ruangan. Mama Davina, Mama Titania dan Papa Prabu yang baru saja datang pun langsung bergabung demi mendengarkan penjelasan dokter itu.
"Bagaimana kondisi istri saya dokter?" tanya Ryan, dengan wajah yang sangat tegang.
"Istri Anda tidak apa-apa, Pak Ryan. Dia hanya terlalu capek dan kekurangan cairan saja. Setelah diinfus dan istirahat cukup, semoga kondisinya pulih kembali," jawab sang dokter dengan tenang.
"Apakah saya boleh menemuinya, Dokter?"
"Tentu, Pak Ryan. Kami pindahkan ke ruang perawatan dulu agar bu Rani lebih nyaman." Jawab dokter itu, kemudian masuk kembali ke dalam ruangan.
Tak berapa lama, pintu di buka. Rani pun dipindahkan ke ruang perawatan president suite, diikuti Ryan beserta orang tua mereka dan juga Arya.
__ADS_1
"Kenapa panasnya masih tinggi, Suster?" tanya Ryan dengan nada khawatir.
"Obatnya masih bekerja, Pak. Butuh beberapa saat untuk menurunkan panasnya," jawab seorang suster dengan ramah.
"Yaelah, Boss. Obatnya masih otw," batin Arya dalam hati.
Rani pun tidak memberi respon, karena lelap tertidur. Mungkin karena pengaruh obat yang disuntikkan melalui selang infusnya, sehingga dia bisa tidur sepulas itu.
"Kalian semua pulang saja, biar Mama yang jaga Rani. Kamu juga pulanglah, Nak. Pasti capek setelah mencari istrimu seharian dan menunggunya sidang semalaman," ucap Mama Davina, sangat memahami bahwa menantunya belum tidur sama sekali sejak kemarin.
"Tidak, Ma. Ryan tetap disini menemani Rani. Mama dan semuanya pulang saja, istirahat. Nanti sore atau besok bisa datang kembali." Dengan mantab Ryan menjawab, seolah tidak ingin hal yang sama terulang lagi pada istrinya.
Semua pun akhirnya pulang ke rumah masing-masing. Setelah Arya memastikan semua penjagaan untuk nonanya sudah siaga, dia pun ikut pulang karena harus menghandel perusahaan selama Ryan menjaga istrinya di rumah sakit.
Hari itu pun terlewati begitu saja. Rani tidur sampai siang, di temani Ryan yang ikut tertidur di samping Rani.
"Mas," panggil Rani saat dia membuka mata dan mendapati suaminya masih tertidur pulas di sampingnya.
"Kamu sudah bangun, Sayang? Kenapa? Ada yang kamu rasakan? Mas panggil dokter ya?" jawab Ryan sambil memeriksa kening Rani untuk memastikan suhu tubuhnya.
"Terima kasih karena telah menemukan dan menyelamatkan Rani. Terima kasih juga karena telah menemani hari-hari Rani," ucap Rani, dengan mata berkaca-kaca. Dia masih teringat kejadian di gedung tua kemarin.
"Mas janji, ini tidak akan terulang lagi, Sayang. Mas akan selalu menjagamu." Ryan berkata sambil mengusap ujung kepala istrinya dengan sayang.
***
Keesokan harinya, mereka memulai pagi dengan sholat shubuh berjama'ah. Meskipun Rani menjadi makmum dengan tetap duduk bersandar di tempat tidur pasien, namun tidak mengurangi kekhusyukan mereka di pagi itu.
Tak berapa lama, Mama Davina datang. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan putri semata wayangnya itu, mengingat semua yang baru saja dialaminya.
"Kamu tidak ke kantor, Nak? Biar Mama yang menemani istrimu," ucap Mama Davina.
"Tidak, Ma. Arya sudah handel semuanya," jawab Ryan mantab. Entah kenapa Ryan jadi paranoid, dan khawatir berlebihan sejak kejadian penyekapan kemarin.
__ADS_1
"Baiklah. Kamu tidurlah biar Mama yang temani Rani," akhirnya Mama Davina mengalah.
Ryan pun mengangguk dan menuju sofa panjang di ruang itu hendak beristirahat. Namun saat dia akan membaringkan tubuhnya, tiba-tiba terdengar ketukan pintu, sebelum akhirnya terbuka.
Tak lama, seorang perempuan setengah baya muncul dari balik pintu, setelah Mama Davina mempersilahkan dia masuk. Perempuan itu adalah orang yang menyapa Arya dan Ryan di depan IGD tempo hari.
"Tante Safira?" tanya Rani kaget, melihat siapa yang datang.
"Rani!" seru Tante Safira melihat gadis yang sudah lama tidak ditemuinya itu.
Mereka berpelukan sangat lama, bahkan kini isakan tangis telah keluar dari mata mereka, seolah ada hal yang sedang mereka lampiaskan saat itu.
Meski Mama Davina tidak begitu nyaman dengan kedatangan Tante Safira, namun akhirnya dia ikut larut dalam isakannya saat melihat dua perempuan yang ada di depannya itu saling melepas rindu setelah lama tidak bertemu.
Ryan hanya menatap adegan di depannya dengan penuh tanda tanya. Hingga akhirnya, Ryan menghampiri mereka dan mengusap pelan punggung istrinya.
Sadar akan kehadiran Ryan, Rani pun melepas pelukannya kepada Tante Safira.
"Oya, Tante. Perkenalkan ini Mas Ryan, suami Rani," ucap Rani, sambil menghapus air matanya.
"Ryan, Tante." Ryan mengangguk sambil memperkenalkan diri.
"Panggil saya Tante Safira, Nak Ryan. Tante sudah banyak membaca berita tentang kalian di media," Tante Safira membalas perkenalan Ryan dengan hangat.
"Apakah keluarga Tante ada yang sakit? Saya lihat dari kemarin Tante berada di rumah sakit ini," tanya Ryan berbasa-basi.
Mendengar pertanyaan Ryan, tiba-tiba wajah Tante Safira berubah.
"Karena itulah, Tante menemui kalian," jawab Tante Safira dengan ragu.
Mendengar jawaban Tante Safira yang terhenti, Rani, Ryan dan Mama Davina hanya memandang perempuan itu sambil menunggu apa yang sebenarnya ingin dia sampaikan.
BERSAMBUNG
__ADS_1
🌷🌷🌷
Terima kasih sudah setia membaca novel Matafora Cinta Legislator Muda. Jangan lupa beri like, favorit dan comment juga vote-nya ya...