
Daniel duduk terdiam. Sudah empat jam lebih Aghata berada di kamar operasi, namun belum ada tanda-tanda bahwa dokter akan segera keluar ruangan.
Saat itu Daniel duduk di sebuah bangku panjang, ditemani Johan yang tetap duduk setia tanpa ada satu kata pun yang dia ucapkan. Tak terlihat juga anak buahnya yang berjaga disana, entah karena Daniel menyesali perbuatannya, entah juga karena dia sedang ingin fokus terhadap kesembuhan ibunya. Yang jelas, Daniel merasa bahwa apa yang dilakukannya selama ini sia-sia. Bukankah pembalasan dendam itu dilakukannya hanya demi ibunya semata?
“Huhh,” Daniel menghembuskan nafasnya dengan kasar.
“Bertahanlah, Mom. Atau aku akan hidup dalam penyesalan,” batin Daniel dalam hati.
***
Sementara di sudut ruang yang lain, terlihat Prabu, Ryan, Rani, Arya, Lena, Naja dan Rudi duduk berjejer di depan ruang Intensive Care Unit (ICU). Untuk kedua kalinya setelah meninggalnya Azzura, Rani melihat suaminya terisak begitu sendu. Di dalam ruang itu, mereka melihat Titania terbaring lemah bagai seonggok robot, yang dipenuhi dengan kabel-kabel yang berseliweran di seluruh tubuhnya. Kabel infus dipasang di tangan kirinya, alat ventilator dimasukkan melalui hidung untuk membantu pernafasannya, kabel rekam jantung dan entah kabel-kabel apa lagi yang terpasang disana.
Di samping tempat tidur Titania, terdapat layar yang memperlihatkan kondisi detak jantung, tekanan darah, hingga kadar oksigen dalam darahnya. Di layar tersebut juga terlihat garis-garis yang menunjukkan grafik detak jantung Titania yang juga mengeluarkan suara sesuai detakan jantungnya, yang semakin menambah gurat cemas pada wajah Ryan dan semua yang berada disana.
“Nyonya Titania mengalami shok berat akibat rasa terkejut yang dialaminya. Hormon adrenalin yang dimilikinya mengalir dari sistem saraf otak menuju sel-sel otot jantung. Hal ini menyebabkan kontraksi hebat pada otot jantung. Kalau adrenalin yang masuk ke jantung terlalu banyak, otot jantung akan terus berkontraksi hebat dan tak bisa melemas kembali. Akhirnya, jantung akan berdetak dengan kecepatan yang tidak wajar. Karena itulah tubuh Nyonya Titania tidak mampu menerima pacuan jantung dahsyat seperti ini. Aliran darah ke seluruh tubuh pun jadi terhenti secara mendadak karena kegagalan fungsi jantung,” kata dokter saat menemui keluarga Dewangga sesaat sebelum dia mengecek kondisi Titania.
“Tapi istri saya tidak ada riwayat penyakit jantung, Dok,” Prabu menanggapi ucapan dokter itu dengan cemas.
“Ya. Memang fenomena ini tak hanya menyerang orang lanjut usia dan orang yang punya riwayat penyakit atau serangan jantung saja, Tuan. Semua orang berpotensi mengalaminya, termasuk orang dengan usia muda dengan segala kondisi kesehatannya,” lanjut dokter itu menerangkan.
“Tapi mama saya bisa sembuh kan, Dok?” tanya Ryan penuh harap.
__ADS_1
“Kami akan berusaha sekuat yang kami bisa. Tolong dari pihak keluarga bantu Nyonya Titania dengan do’a,” tutur dokter itu kemudian berlalu dari hadapan mereka.
***
Tiga hari telah terlewati, namun kondisi Titania tak mengalami perkembangan yang cukup berarti. Kondisi ini yang membuat Prabu dan Ryan sama sekali tak mau pulang hanya sekedar untuk membersihkan diri dan beristirahat sebentar. Hanya sesekali saja mereka tidur secara bergantian di ruang jaga yang telah di sediakan. Jika siang datang, Rani dan Naja kembali ke rumah sakit untuk membawakan makan, begitu juga dengan Arya dan Lena yang tak mau melewatkan waktu mereka begitu saja tanpa menemani Titania yang tak kunjung siuman.
Bagaimana dengan Aghata? Setelah mengalami masa kritisnya, akhirnya kondisi Aghata berangsur-angsur membaik.
“Antarkan Mommy menemui Ryan dan yang lainnya,” pinta Aghata datar. Dia masih menunjukkan sikap marah dan kecewanya kepada Daniel atas segala hal yang telah putranya lakukan. Daniel pun tak ada pilihan lain selain pasrah dan menerima apapun hukuman yang ibunya berikan.
“Tapi, Mom. Untuk apa Mommy menemui orang-orang itu lagi? Belum cukupkah penderitaan kita selama ini?” Daniel masih berusaha mengelak.
“Cukup Daniel, kau tak mengerti apa-apa. Antarkan Mommy menemui mereka, atau Mommy akan kesana sendiri,” ucap Aghata sambil berusaha beranjak dari ranjang pasiennya. Dengan menahan sakit, Aghata pun terus berusaha duduk dari posisi tidurnya, sehingga akhirnya Daniel membuang nafas kasar dan menuruti kemauan ibunya.
Setelah mengambil kursi roda, akhirnya Daniel membantu ibunya beranjak, sebelum akhirnya mendorong kursi roda itu keluar setelah Aghata berhasil duduk di atasnya. Johan yang terus berjaga di depan pintu ruang perawatan pun mengikuti dua majikannya berjalan dari belakang.
Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka pun sampai di depan ruang ICU dimana Titania masih terbujur sendu. Melihat siapa yang datang, Prabu segera menghampiri Aghata yang selama tiga hari ini bahkan sedikit terlupakan. Hanya informasi melalui pihak rumah sakit saja yang Prabu dapatkan, mengingat hubungan antara dirinya dan Daneil belum bisa mereka selesaikan.
“Aghata, kau tidak apa-apa? Apa lukamu masih sakit?” Prabu sedikit berjongkok di depan Aghata dan meraih tangannya.
“Berani-beraninya kau memegang tangan Mommy. Lepaskan!” Daniel sedikitt maju ke depan dan menghempaskan tangan Prabu dari tangan ibunya.
__ADS_1
Tak ada sedikit pun perlawanan dari Prabu mendapatkan perlakuan semacam itu dari Daniel. Waktu itu Prabu hanya memandang lekat istri keduanya itu dengan tatapan penuh harap dan seolah meminta sesuatu.
“Daniel! Tak cukupkah kau mencelakakan ibuku dan ibumu sendiri?” ucap Ryan murka.
Melihat sang papa diperlakukan seperti itu, Ryan langsung naik pitam. Dia beranjak dari duduknya dan langsung menghampiri Daniel dengan segala kemarahan yang dirasakannya, hingga Ryan mengangkat kerah baju Daniel begitu saja dan tanpa aba-aba satu pukulannya mendarat manis di bagian wajahnya. Daniel yang mendapatkan pukulan secara tiba-tiba hingga bibirnya pecah itupun tersungkur ke lantai, namun segera berdiri dan berbalik menghampiri Ryan hendak membalas pukulannya.
“Daniel, hentikan!” tiba-tiba Aghata berteriak.
“Biarkan dia, Tante. Ryan mau lihat seberapa kuat dirinya,” kini Ryan bersiap untuk benar-benar berkelahi dengan orang yang telah membuatnya hampir kehilangan mamanya.
“Besar juga nyalimu, anak manja,” seru Daniel sambil melayangkan satu pukulannya ke muka Ryan.
“Daniel! Mommy bilang hentikan!” Aghata berseru dengan tangisnya yang semakin menjadi.
Sementara Rani yang melihat suaminya jatuh tersungkur di lantai tak bisa menahan rasa terkejut dan tangisnya. Dia langsung menghampiri suaminya dan membantunya berdiri, kemudian segera menahannya ketika Ryan hendak membalas Daniel lagi dengan pukulannya. Di luar dugaan, Aghata menghampiri Ryan dan menenangkannya dengan meraih tangan Ryan dan mengecupnya.
“Mom...,” tutur Daniel, dengan ekspresi yang sulit diartikan.
“Apa yang Mommy lakukan?” kini Daniel mengacak rambutnya dengan kesal.
“Minta maaflah kepada mereka, Daniel. Tak seharusnya kau memendam kebencian sebesar itu. Bukan Tuan Prabu yang meninggalkan Mommy, tapi Mommy-lah yang memutuskan untuk pergi. Dan satu hal yang perlu kau tahu, Nak. Tuan Prabu memang suamiku, tapi dia bukan ayahmu,” tutur Aghata lirih.
__ADS_1
BERSAMBUNG