
Arya tersenyum lega saat melihat orang yang di jemputnya di Bandara sudah melambaikan tangan kepadanya. Setelah menaikkan barang bawaan mereka ke bagasi, Ryan memastikan Rani naik ke dalam mobil terlebih dahulu baru dia naik dan duduk di kursi penumpang bersama istrinya.
Sepanjang perjalanan, Arya tidak berani menoleh ke belakang, apalagi mengajak Tuan dan Nonanya berbicara. Arya cukup merasa berbahagia, melihat perubahan sikap Ryan yang sangat jauh jika dibandingkan dengan saat Ryan memutuskan untuk menyusul Rani ke Bali secara tiba-tiba tiga hari yang lalu.
Rani pun terlihat sangat jauh berbeda dengan dirinya yang selama ini di ketahui Arya. Jika selama ini Rani dikenal Arya sebagai gadis tegas, cerdas, mandiri, energik dan suka memberi perintah semaunya, saat itu di depan matanya sendiri Arya melihat Rani sebagai istri dari Tuannya yang manis, sedang bergelayut manja pada suaminya, jauh dari kesan tegas yang selama ini melekat dari seorang Arania Levana di benak Arya.
Hingga sepanjang waktu perjalanan pun mereka habiskan dengan cara mereka masing-masing. Arya memikirkan tentang apa yang sudah terjadi saat Tuan dan Nonanya berada di Bali, sedangkan Ryan hanya memeluk erat dan membelai wajah istrinya serta menciumnya berkali-kali. Sementara Rani, sudah tidak mampu menguasai matanya akibat rasa lelah yang mendera.
"Sudah sampai," ucap Arya riang, ketika mobil mereka memasuki pintu gerbang dan bersiap parkir di depan kediaman Ryan.
"Sstttt. Jangan berisik. Jika istriku bangun karena suaramu yang menggelegar itu, ku potong gajimu bulan ini tanpa sisa," Ryan memberi peringatan kepada Arya agar tidak berisik, mengingat Rani kini masih tertidur pulas di pangkuannya.
Arya mengangguk tanda mengerti. Dengan pelan, dia membuka pintu mobil hingga akhirnya turun kemudian membukakan pintu untuk Tuan dan Nonanya.
Ryan segera turun dengan menggendong istrinya. Sesampai di kamar, Ryan membaringkan Rani di ranjang kemudian menyelimutinya dengan penuh kelembutan.
Setelah memastikan Rani tertidur dengan nyaman, Ryan segera keluar dan turun menemui Arya yang saat ini masih menunggunya di ruang tamu.
Ryan menjatuhkan tubuhnya di sofa dengan kasar. Dia bersandar dan memejamkan mata, sesekali jarinya memijit bagian atas hidungnya seolah dengan itu apa yang menjadi kekhawatirannya akan hilang.
"Apakah ada masalah?" tanya Arya dengan kening berkerut, menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan Tuannya.
"Apakah kamu menemukan berita tentang Arania Levana hari ini?" Ryan balik bertanya dengan serius. Kini dia membenarkan duduknya sehingga tegak menghadap ke arah Arya.
Mendengar ucapan Tuannya, Arya segera mengeluarkan ponsel di sakunya dan memeriksa apakah ada berita tentang Rani hari ini atau tidak. Kening Arya berkerut.
"Arania Levana menjadi tranding topik berita hari ini hampir di seluruh media online. Apakah ini yang membuat kalian hari ini sampai Bandara lebih lambat?" jawab Arya, yang semakin membuat Ryan khawatir.
__ADS_1
"Tolong kamu ikuti perkembangan kasus itu. Selidiki juga pemilik kafe itu beserta dengan jaringannya. Aku takut jumlah mereka banyak dan ada orang kuat yang berada di balik mereka. Jangan sampai ada yang terlewat sehingga keberadaan mereka membahayakan Rani."
Arya hanya mengangguk. Dia harus mulai terbiasa dengan tugas-tugas yang diberikan Tuannya di luar hal yang biasa dia kerjakan semenjak kehadiran Rani di tengah keluarga Dewangga.
***.
Ryan segera naik ke lantai dua setelah meminta Arya pulang ke rumahnya. Dengan pelan, Ryan membuka pintu kamar dan melihat sekilas ke dalam, ternyata istrinya masih tertidur lelap.
Dengan pelan, Ryan masuk dan berjalan perlahan ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri kemudian berganti pakaian dengan baju santainya. Dia pun tersenyum tipis sambil mendekat ke arah Rani, melihat istrinya itu masih saja tertidur pulas sejak mereka keluar Bandara sore tadi.
Tanpa berpikir panjang, Ryan naik ke tempat tidur dan masuk ke dalam selimut yang menutupi tubuh Rani. Dia rapatkan tubuhnya dengan tubuh istrinya yang belum bergeming sejak Ryan membaringkannya di posisi itu.
Tiba-tiba Rani menggeliat, merasakan seperti ada yang datang mengusik tidurnya. Rani pun membuka mata dan melihat Ryan sedang memandanginya dengan senyum dan sesekali mengecupnya.
Melihat suaminya yang terus memandanginya itu, Rani hanya tersenyum dan memegang tangan suaminya dengan lembut, kemudian memejamkan matanya kembali.
"Apa kau bahagia?" bisik Ryan lirih. Entah apa yang ada di benaknya sehingga pertanyaan itu ingin sekali keluar dari mulutnya.
"Tentu saja Rani bahagia," jawab Rani sambil tetap memejamkan matanya yang belum bisa mengendalikan rasa kantuknya.
"Apa kau mencintaiku?" tanya Ryan sambil membuka hijab yang masih menutupi kepala istrinya.
Mendengar pertanyaan suaminya, tak ada jawaban yang keluar dari mulutnya. Rani justru sibuk menerka-nerka hatinya sendiri, apakah rasa nyaman saat berada di dekat suaminya itulah yang dinamakan cinta.
"Kenapa kamu diam, Sayang? Apakah kamu tidak mencintaiku?" Ryan berucap sambil membalikkan tubuh Rani demi melihat ekspresi istri kecilnya itu.
"Apakah Mas Ryan mencintai Rani?" tanpa menjawab pertanyaan yang ditujukan kepadanya, Rani justru balik bertanya.
__ADS_1
"Kenapa ditanya malah balik bertanya? Apa kau butuh bukti?" jawab Ryan sambil mengerlingkan matanya.
"Tidak," seru Rani kesal, mengetahui kemana arah pembicaraan suaminya. Kini wajah Rani sudah merona melihat suaminya yang selalu menatapnya dengan tatapan yang bahkan seperti ingin menerkamnya.
"Benar tidak mau?" Ryan terus menggoda istrinya yang semakin menggemaskan saat menahan malu.
"Benar," Rani mencoba untuk tetap bertahan.
"Cinta itu disini, disini, dan disini apakah kamu tidak bisa merasakannya?" ucap Ryan kemudian, sambil menunjuk beberapa area milik istrinya.
Rani terdiam. Dia mencoba menelisik perlakuan suaminya, apakah betul itu adalah wujud cinta? Ataukah hanya perasaan sayang dan rasa ingin melindungi hanya karena Rani adalah istrinya?
"Cinta itu juga ada disini, disini dan disini. Bahkan ada disini, disini dan disini. Apakah kau benar-benar tidak bisa merasakan kehadirannya?" lanjut Ryan, masih menunjuk ke bagian yang lain.
Rani masih terdiam. Jawaban mengenai bagaimana perasaannya juga perasaan suaminya, dan bagaimana hatinya juga hati suaminya masih menjadi tanda tanya besar.
Ryan pun seolah mengerti apa yang sedang berkecamuk di benak istrinya. Dengan setia dia akan menunggu sampai Rani bisa memberikan seluruh cinta untuknya. Cinta yang akan membalas seluruh cinta Ryan kepadanya, meski belum pernah sekalipun dia ucapkan dengan kata-kata.
Dan malam itu, mereka hanya saling memandang dalam diam. Namun ketika mata mereka saling bertemu, mereka saling mengerti apa yang menjadi keinginan mereka malam itu.
Hingga kamar itu pun untuk pertama kali menjadi saksi bisu, dua hati yang kini menjadi satu.
BERSAMBUNG
Hai Readers...
Jangan lupa tinggalin jejak ya. Kasih vote, like, comment dan favorit. jangan lupa juga kasih rate 5. Oke? Terima Kasih.
__ADS_1