
Rani menatap tajam. Entah karena kesal atau mencari jawaban, namun tatapan mata itu cukup menyiratkan bahwa hati pemiliknya sedang berkecamuk rasa yang terus dia tahan.
Mata itu fokus melihat pada mata Ryan dengan dalam, hingga membuat suami yang ditatapnya diam terpaku, menunggu kata-kata dari bibir yang masih juga terkatub rapat. Meskipun Ryan sangat tahu, bahwa mata istrinya berkata-kata dan bercerita tentang keinginan terdalam yang mungkin sangat sulit dia katakan.
"Jika memang yang kau mau adalah kita harus melepaskan proyek ini, maka akan Mas lakukan," Ryan yang tak juga mendengar istrinya menyampaikan keinginannya, berinisiatif untuk memulai pembicaraan terlebih dahulu.
"Baiklah," jawab Rani lirih. Ada senyum yang mengembang begitu saja mendengar jawaban suaminya. Rani sangat tahu bahwa mega proyek Green Canyon sangat berarti untuk Ryan. Artinya, ketika hanya demi Rani dia rela melepaskannya, berarti kata cinta yang diucapkan suaminya memang tulus dari dalam hatinya.
"Apapun akan Mas lakukan demi melihat senyummu," Ryan menarik tangan Rani yang masih bersandar pada kepala ranjang hingga menempel pada dada bidangnya. Sesaat, mereka larut dalam diam. Sejenak merasakan getaran cinta bersamaan dengan degup jantung mereka.
"Maksud Rani, baiklah Mas Ryan boleh lanjutkan proyek itu," tutur Rani sambil mengangkat wajahnya dan mengembangkan senyum manisnya kepada suaminya.
"Mas tidak mau kejadian dengan perempuan itu terulang lagi," Ryan meraih pipi istrinya dan mengulum bibirnya begitu saja.
"Siapa bilang Mas boleh bertemu dengannya lagi,"
"Terus?"
"Biarkan Mas Arya yang pegang proyek itu. Mas Ryan cukup pantau dari jauh saja. Seorang pemimpin yang baik itu, bukanlah orang yang terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa dirinya mampu tapi tidak percaya dengan yang orang lain lakukan. Justru pemimpin yang baik itu adalah pemimpin yang bisa percaya dan membuat orang yang dipimpinnya menjadi besar dan sehebat dirinya. Ingat juga, semakin sedikit kita memberi kesempatan kepada orang lain, maka semakin sedikit pula peluang kita untuk menjadi lebih besar," jelas Rani bak sedang berbicara di depan podium. Ryan hanya mendengarkan dan memandang setiap ucapan istrinya dengan takjub.
"Terima kasih, Sayang," Ryan bisa menangkap masukan sekaligus maksud baik istrinya dengan rasa yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Untuk urusan pekerjaan, istrinya itu memang paling kekeh dengan prinsip profesionalismenya. Jadi Ryan tidak kaget, dengan permintaan istrinya itu. Ryan bisa melanjutkan proyeknya tanpa harus turun langsung dalam setiap proses perencanaan maupun pelaksanaannya.
***
Kendati agenda bersama seluruh perusahaan pemegang mega proyek Green Canyon sudah selesai, Arya masih setia menunggu majikannya sampai sang nona siap melakukan perjalanan jauh untuk pulang dari kota Y ke kota X.
__ADS_1
Cerita romantis sepasang pengantin baru pun rela Arya lewatkan, mengingat Ryan belum memberikan waktu cuti barang sehari. Bagaimana tidak? Sehari setelah Arya menikah, justru yang satu minggu tidak masuk kantor adalah Ryan karena ulah istrinya yang tiba-tiba manja. Sekarang? Ada tragedi lagi yang dialami nonanya sehingga lagi-lagi dirinyalah yang harus menggantikan tuannya.
"Hemmm. Aku merindukanmu, Deeba," gumamnya lirih. Arya terus memandangi foto istrinya yang terpampang pada benda pipih yang kini dipegangnya. Tak tahan, dia melakukan panggilan video dengan segera.
"Assalamualaikum Kak Tama," sapa Lena dengan begitu cerianya. Sejak kecil, Lena memang dikenal sebagai gadis yang ceria meskipun kisah hidupnya tak seorang pun yang ingin seperti dirinya.
"Wa'alaikumsalam, Sayang," Arya langsung tersenyum begitu melihat wajah istrinya di seberang sana. Rasa rindunya semakin membuncah ketika istrinya itu menerima panggilan video dengan rambut panjangnya yang tergerai, juga baju tidur terbuka yang dikenakannya.
"Kak Tama belum tidur?" Lena mengerutkan keningnya, menyadari suaminya dari tadi hanya memandangnya, tanpa berkata apapun.
"Sebenarnya Kakak sudah tidur," jawab Arya berbohong.
"Terus?" kini Lena menatap suaminya serius.
"Sang Pencipta tiba-tiba membangunkan Kakak,"
"Iya, tiba-tiba Kakak terbangun dan ingat bahwa Kakak belum bilang cinta ke kamu," kini tawa Arya membahana, memenuhi seluruh penjuru kamar hotel yang menjadi saksi bisu kerinduannya terhadap Lena.
"I love you my dear wife," lanjut Arya, sambil meletakkan ibu jarinya ke bibirnya, kemudian mengarahkan ibu jari itu ke bibir istrinya yang nampak di layar handphone.
"I love you too my hubby," sahut Lena tampak malu-malu. Arya hanya tersenyum melihat ekspresi belahan jiwanya yang tampak merona.
"Apakah kau baik-baik saja, Sayang? Kamu tidak keluar-keluar dari apartemen kan, selama Kakak pergi?" cecar Arya yang menjadi begitu posesif terhadap istrinya. Entah kenapa, Arya selalu cemas terhadap keselamatan Lena sejak drama penyanderaannya saat Charles kabur dari persidangan.
"Deeba bosen. Kak Tama kapan pulang?" rajuk Lena manja. Kini dia sudah mengerucutkan bibirnya. Alhasil, warna merah merekah dan bibir kecil yang maju ke depan itu sukses membuat Arya semakin tak sabar menemui gadis yang sejak menikah selalu ditinggalnya berkencan dengan seluruh pekerjaan yang ada di depannya.
"Memangnya mau di kasih apa kalau suamimu ini pulang?" Arya mulai menggoda.
__ADS_1
"Apapun yang Kak Tama mau," Lena mengerlingkan matanya.
"Lihat saja kalau aku sudah sampai rumah. Akan kubuat kau menyesal karena telah menawariku seperti itu," cicit Arya dengan tatapan penuh hasrat.
"Siapa takut," tantang Lena, sambil merubah posisi tidurnya menjadi tengkurap, dengan mengganjal bagian atas perutnya dengan bantal, dan menggunakan kedua sikunya sebagai tumpuan.
Arya memalingkan muka melihat kelakuan istrinya. Posisi itu membuat Arya tak tahan lagi menahan kerinduan kepada gadis yang baru sekian minggu dinikahinya.
"Kakak kenapa?"
"Melihatmu seperti ini, membuatku berpikir bahwa aku harus segera pulang. Tapi, hanya jika nonaku sudah memungkinkan melakukan perjalanan jauh," suara Arya melemah, seolah dia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Maksud Kak Tama Rani sakit?" Lena tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya. Waktu Arya berangkat ke Kota Y, suaminya itu hanya bilang ada tugas mendadak dari Ryan. Dia tidak bercerita kalau sebenarnya Arya diminta menggantikan Ryan karena Rani menyusulnya dan keguguran.
Arya yang diminta Rani dan Ryan untuk menyembunyikan soal keguguran itu dari siapapun, akhirnya bercerita kepada Lena tentang Rani yang tiba-tiba manja, hal nekat yang dilakukannya dengan membawa mobil sendiri demi menyusul suaminya, kejadian bersama Meysie hingga akhirnya soal keguguran yang dialaminya.
"Kasihan Rani. Dia pasti kecewa berlipat. Sudah melihat suaminya bermesraan dengan mantan pacarnya, harus kehilangan bayinya pula," gerutu Lena.
"Ryan bukan orang seperti itu. Tenanglah. Mereka sudah baik-baik saja dan telah menyelesaikan semuanya. Tapi...," Arya menggantungkan kalimatnya.
"Tapi apa, Kak?" selidik Lena penuh tanda tanya. Kini dia dibuat semakin penasaran melihat suaminya yang justru menarik nafas panjang.
"Atas permintaan Rani, Ryan memintaku memegang mega proyek ini, untuk menghindari Meysie dari Atmaja group yang juga terlibat di dalamnya. Itu artinya, kamu akan sering Kakak tinggal-tinggal. Apakah kau tak apa-apa?"
BERSAMBUNG
❤❤❤
__ADS_1
Jangan lupa like dan vote juga comment positifnya ya guys. Terima kasih.