METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Kesempatan Kedua


__ADS_3

Setelah semua yang terjadi di hari itu, Daniel hanya bisa menutup matanya, menikmati detik demi detik keajaiban yang Allah berikan kepadanya. Ya, bagi Daniel, Arya dan Rudi, hidup mereka saat ini adalah kesempatan kedua. Bagaimana tidak? Detik-detik dimana mereka akhirnya diselamatkan, adalah detik yang sama dimana nyawa mereka akan melayang. Jadi tidak berlebihan bukan, jika mereka merasa bahwa ini adalah bonus dan kesempatan kedua yang Allah berikan kepada mereka?


"Ahh, aku jadi rindu istriku," gumam Daniel sambil tersenyum penuh arti.


"Aku juga sudah tak sabar ingin menemui Lena," sahut Arya sambil membayangkan wajah istri cantiknya, yang kini telah menunggunya.


"Cih, kalian ini tidak peka ya? Nggak kasihan apa membiarkan jomblo keren ini hanya bisa menelan ludah mendengarkan apa yang kalian katakan?" Rudi menggerutu.


"Jangan salahkan bunda mengandung," celetuk Arya.


"Bisa kau jelaskan apa hubungannya?" Rudi semakin terlihat sebal.


"Tidak ada hubungannya," sahut Arya sambil tergelak melihat ekspresi Rudi yang begitu kesal melihat Daniel dan Arya mendramatisir kerinduan mereka kepada istri masing-masing yang baru saja mereka tinggalkan beberapa jam saja.


"Sudah-sudah. Fokus saja menyetir. Antarkan aku ke rumah sakit menyusul Ryan dan istriku, setelah itu kau antar Arya pulang," Daniel menengahi perdebatan.


***


Setiap manusia mempunyai kisah cintanya masing-masing. Ada yang lurus, ada yang berliku, semua sudah menjadi ketetapan Allah yang harus diterima dengan ketulusan hati dan ketundukan penuh kepadaNya.


Kata demi kata yang dieja oleh sepasang anak manusia pun akan melahirkan cerita demi cerita indah yang menjadi salah satu warna dalam drama hidup mereka. Merah atau kuning, hijau atau biru, semua tergantung bagaimana cara mereka memaknai cinta dengan berjuta makna yang ada di dalamnya.


Begitu juga dengan kisah cinta Daniel dan Naja. Kisah cinta mereka adalah kisah cinta terunik dalam sejarah percintaan umat manusia.


Ya, kisah cinta Daniel dan Nana berbeda dengan cerita Ryan dan Rani, ataupun Arya dan Lena, tak sama pula dengan kisah Johan dan Nina. Cara Naja dan Daniel dalam menyikapi perasaan cinta mereka pun berbeda dengan kebanyakan pasangan pada umumnya.


Seperti hari itu, di saat Rani sibuk bermesra dengan Ryan di dalam ruang perawatan itu, juga Johan yang sedang sibuk menikmati moment bercintanya bersama Nina setelah melakukan tugas yang panjang, atau Arya yang ingin bergegas bertemu dengan Lena untuk saling menguatkan setelah semua cobaan datang, Naja justru tak ambil pusing urusan suaminya dan terus fokus dengan benda pipih miliknya untuk melacak keberadaan Atmaja.


"Sayang!" panggil Daniel begitu dia sampai di depan ruang perawatan Rani.


"Bagaimana permainanmu hari ini, Sayang? Apakah menyenangkan?" Naja menoleh ke arah suaminya sebentar, kemudian kembali fokus pada benda pipih canggih miliknya itu.

__ADS_1


"Hampir saja kita tak bisa bertemu lagi untuk yang terakhir kali," canda Daniel, sambil mengingat rentetan kejadian bersama anak buah Atmaja tadi.


"Hus, ucapan adalah do'a. Makanya kalau ngomong yang baik-baik saja," cegah Naja.


"Apa kau tak mendengar dari earpeace milikmu?" tanya Daniel heran. Kini dia menyandarkan kepalanya pada bahu Naja, sementara Naja masih sibuk berkutat dengan benda pipih miliknya.


"Aku sengaja melepasnya tadi," jawab Naja seolah tak peduli.


"Kenapa?" Johan sungguh belum mengerti.


"Karena jika aku mendengar apa yang sedang kau lakukan dan tahu apa yang terjadi padamu, aku tidak akan bisa fokus terhadap tugasku pada tuan dan nonaku. Bisa dipastikan, aku akan mengkhawatirkanmu dan membuatku tak bisa mengerjakan tugasku," jelas Naja jujur.


"Tapi aku merindukanmu. Aku benar-benar merindukanmu, setelah aku hampir kehilangan nyawaku," bisik Daniel sambil berusaha merengkuh istrinya. Daniel bahkan tidak peduli ada beberapa pasang mata anak buahnya yang sedang berjaga di sekitar ruang perawatan Rani sedang mencuri-curi menatap moment kemesraan tuannya yang jarang diumbar di luar sana.


"Sabarlah sampai tuanku memberi izin aku untuk pulang. Nanti kau bisa melepas rindu sepuas hatimu," Naja memberi sebuah kecupan di kening Daniel, kemudian kembali menatap benda pipih yang sedari tadi masih berada dalam genggamannya.


"Cih, tuanmu itu kan kakakku. Biar aku masuk dan kuminta dia membebaskanmu dari tugas-tugasmu itu," Daniel berdiri hendak menghampiri Ryan.


"Janji apa?" Daniel tidak mengerti.


"Janji akan membiarkanku tetap setia kepada keluarga Dewangga," Naja mengingatkan.


"Idih, cuma memintamu bebas hari ini saja bukan berarti menyuruhmu mengingkari kesetiaanmu," protes Daniel.


"Tapi kan ...," sebelum Naja menyelesaikan kalimatnya, Daniel sudah menyela.


"Ssttt ..., biar ku telepon dia," Daniel memotong kalimat Naja sambil merogoh ponsel miliknya di saku celananya.


"Tidak usah, jangan ganggu mereka," cegah Naja.


"Biarkan saja. Aku juga tidak mau diganggu saat aku sedang ingin bersama istriku," oceh Daniel acuh.

__ADS_1


"Sayang, iiiihhhh," Naja berusaha merebut ponsel suaminya, tapi gagal.


Hingga tiba-tiba, terdengar suara pintu terbuka.


"Apa kau tak apa-apa Daniel? Bagaimana dengan yang lainnya?" Ryan yang muncul dari balik pintu, mencecar Daniel dengan banyak pertanyaan. Ryan benar-benar begitu khawatir dengan kondisi Daniel dan anak buahnya, mendengar percakapan mereka semua melalui earpeace yang masih terpasang di telinganya.


"Semua beres, cuma Charles dan Atmaja belum bisa dilacak," Daniel menjawab sambil menghampiri Ryan yang masih berdiri di depan pintu ruang perawatan Rani.


"Apa kau belum menemukan sesuatu, Naja?" Ryan mengalihkan pandangannya kepada Naja.


"Belum, Tuan. Mereka memasang keamanan berlapis. Saya blm selesai membobolnya dan mendapatkan informasi terkait Charles dan Atmaja," sahut Naja dengan wajah yang sudah terlihat begitu lelahnya.


"Kalau begitu kita bawa Rani pulang ke rumah saja. Biar tim dokter merawatnya di rumah, sama seperti Lena. Terlalu berbahaya jika Rani di rawat di tempat ini sementara kita belum bisa melacak keberadaan Atmaja," putus Ryan, tidak terlihat menerima sebuah masukan.


"Sebenarnya ada satu cara untuk memancing Atmaja keluar," cicit Daniel, yang segera mendapatkan tatapan penuh tanya dari Ryan juga Naja.


"Katakan!" Ryan tak sabar ingin mendengar Daniel menyampaikan apa strategi yang ada di kepalanya.


"Kenapa kita tidak menggunakan cara yang sama dengan cara yang Atmaja pakai untuk membuatmu menikahi putrinya?" Daniel terlihat sedikit berpikir bagaimana caranya menyampaikan ide gila itu kepada Ryan yang kini sedang menunggu Daniel untuk melanjutkan ucapannya.


"Maksudmu gimana, Niel? Tolong bicara yang jelas. Jangan setengah-setengah begini!" cecar Ryan, tak mengerti dengan apa cara yang dimaksud oleh Daniel.


"Sabar, Brother. Caranya cukup mudah walaupun sedikit beresiko," sahut Daniel lagi, masih berputar-putar dan enggan to the point dengan strategi yang dia usulkan.


"Ya ampun, Niel. Jangan berbelit. Ayo katakan bagaimana caranya kita memancing Atmaja keluar dari pelariannya?" Ryan mulai kesal dengan Daniel yang semakin membuatnya penasaran.


"Jadi begini ...,"


BERSAMBUNG


❤❤❤

__ADS_1


Mau lanjut? Kasih rate 5 dulu dong!


__ADS_2